![TRUE LOVE [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/true-love--tamat-.webp)
(。;_;。)
Kemarin siang Tania sudah diijinkan pulang oleh dokter. Kondisinya sudah jauh lebih baik dari hari sebelumnya. Walupun sudah diizinkan pulang, dokter Andi tetap memantau perkembangan kondisi kesehatan Tania melalui Gamma.
Hari ini adalah hari Sabtu, hari dimana pernikahan Citra akan diselenggarakan. Jujur saja Tania ingin melihat prosesi pernikahan mamanya. Namun apa daya dirinya tidak bisa hadir melihat prosesi pernikahan sang mama, pasalnya mamanya sudah memperingati dirinya sejak ia dirawat di rumah sakit untuk tidak hadir ke acara pernikahan tersebut. Jika Tania nekat untuk datang, mamanya mengancam akan mengusir Tania dari rumah.
Tin..tin..
Suara klakson yang cukup memekakkan telinga terdengar di depan rumah Tania. Tania mengintip dari balik korden kamarnya. Terlihat seorang lekaki duduk manis di atas jok motornya sambil bersedekap, lelaki itu mendongak menatap ke arah Tania berada.
Tak salah lagi lelaki itu adalah Gamma. Tania melihat jam yang ada di nakasnya, baru pukul 07.00. Kalau Tania tidak salah ingat, Gamma berkata akan menjemputnya jam 08.00, tetapi sekarang Gamma datang lebih awal satu jam dari yang ia katakan.
Tania belum melakukan persiapan sama sekali, dirinya bahkan belum mandi. Dia bingung akan beralasan apa kepada Gamma, dia sedikit malu karena jam segini belum mandi. Persetan Gamma akan meledeknya. Salahkan Gamma yang menjemputnya lebih awal.
Tania segera turun ke bawah untuk membukakan pintu untuk Gamma. Dia saat ini sedang dirumah sendiri, karena mamanya sudah pergi sejak sehabis shubuh dan Bu Mina ikut bersama mamanya.
"Yuk berangkat," ucap Gamma tepat di depan muka Tania saat pintu terbuka.
Tania reflek memundurkan kepalanya. "Aku belum siap-siap, bahkan mandi aja belum," jawabnya dengan suara yang cukup pelan, khawatir pria di hadapannya akan menertawakan nya.
Gamma terkekeh pelan. "Lo jam segini belum mandi?" tanya Gamma dengan muka meledek.
Tania sedikit mengerucutkan bibirnya. "Kan kamu bilangnya jam 08.00, sekarang masih jam 07.00. Jam di rumah kamu rusak ya?"
Gamma mengacak rambut Tania gemas. "Iya gue yang salah, laki-laki emang selalu salah di mata betina. Yaudah sana buruan mandi!Gue tunggu di sini."
Setelah itu, Tania segera kembali ke dalam rumah dan bersiap-siap. Baru beberapa langkah, Gamma bersuara lagi. "Enggak usah dandan! Lo udah cantik kok dari sananya," teriak Gamma dari arah luar.
Tania merasakan pipinya sedikit panas. Atas dasar apa seorang Gamma berkata seperti itu padanya. Tak mau ambil pusing, Tania segera menyiapkan dirinya untuk pergi bersama hari ini.
Untuk saat ini, Tania berharap ia bisa melupakan sejenak masalah yang ada di hidupnya.
(。;_;。)
"Kita mampir ke suatu tempat dulu ya," ucap Gamma saat mulai melajukan motornya.
"Terserah kamu, emang kita mau kemana aja?"
Gamma sedikit menoleh ke arah spion untuk melirik Tania. Gadis yang sedang dia bonceng hari ini auranya terlihat sedikit berbeda, tidak seperti biasanya yang hanya diam dan terlihat murung.
"Ada deh, lihat aja nanti. Gue jamin lo bakal bahagia dan nyaman di sana nanti," jawab Gamma.
Tania menganggukkan kepalanya. Lalu dia membuka kaca helmnya, seketika angin menerpa wajah dan meniup kencang rambutnya. Tania tersenyum lebar merasakan udara hari ini yang membuatnya bisa sedikit melupakan beban hidupnya.
Gamma yang melihat hal itu hanya tersenyum tipis. Entah karena apa, dirinya merasa lega melihat Tania bisa lebih ceria daripada biasanya dan bisa melupakan sejenak masalah yang sedang menimpanya. Walaupun Gamma tidak bisa menjamin setelah ini Tania akan tetap merasa bahagia atau tidak. Yang terpenting bagi Gamma kali ini adalah bisa melindungi dan membuat Tania senang.
Motor Gamma berhenti di depan gerbang sebuah bangunan yang bertuliskan PANTI ASUHAN KASIH IBU. Kemudian Gamma menyuruh Tania membuka lebar gerbang yang tidak terkunci di depannya.
Tania mengikuti Gamma dari belakang. Gamma menengok ke arah Tania, kemudian menyuruh gadis itu berjalan di sampingnya. Gamma mengajak Tania menuju halaman samping panti asuhan tersebut.
Saat Gamma dan Tania sampai, pemandangan yang pertama kali mereka lihat adalah anak-anak kecil sedang bermain bersama dengan gembira. Senyum polos terpampang di wajah anak-anak panti tersebut. Mereka tersenyum seolah tidak ada sesuatu yang terjadi pada mereka.
Tiba-tiba seorang gadis kecil berumur 3 tahunan mendekat ke arah Tania. Gadis itu memeluk boneka kucing yang warnanya sudah sedikit kusam.
"Hai kakak cantik," sapa gadis kecil itu kepada Tania.
Tania menunduk lalu duduk mensejajarkan tingginya dengan gadis kecil itu. "Hi cantik, nama kamu siapa?" tanya Tania ramah lalu mengelus lembut kepala gadis kecil itu.
"Namaku Kinara, kalau kakak?" gadis kecil itu menatap Tania dengan raut muka berbinar.
"Nama kakak adalah Tania,"
Kinara kemudian mendongak ke arah Gamma yang daritadi melihat interaksinya dengan Tania.
"Kak Gamma kok enggak pernah bawa kakak baik ini kesini?" tanya Kinara pada Gamma.
Gamma kemudian menggendong Kinara dan mengajak Tania untuk mendekati anak-anak yang sedang bermain bersama di halaman.
"Kan Kinara tahu kalau kakak belum lama tinggal di Indonesia dan kenalan sama kalian di sini. Kak Gamma juga belum lama kenal sama Kak Tania. Kinara mau kalau Kak Gamma sering ngajak Kak Tania main kesini?"
Kinara mengangguk semangat sebagai jawaban. Kemudian gadis kecil itu turun dari gendongan Gamma lalu bergabung dengan anak lainnya.
Gamma menggandeng Tania masuk ke dalam panti asuhan tersebut.
Seorang wanita paruh baya datang menghampiri Gamma dan Tania. Gamma kemudian menyalami tangan wanita tersebut, kemudian diikuti dengan Tania.
"Ini Bu Asti, dia yang punya panti asuhan ini," ucap Gamma memperkenalkan Bu Asti kepada Tania.
Tania tersenyum pada Bu Asti. "Saya Tania temannya Gamma, Bu."
"Saya kirain kamu pacarnya Gamma," jawab Bu Asti dan tersenyum jail menghadap Gamma.
Gamma hanya menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal sebagai respon.
"Oiya, Bagas dimana Bu? Gamma kangen sama anak itu," tanya Gamma pada Bu Asti.
"Bagas ada di kamarnya, dia semalam nangis dan enggak mau tidur karena ingat sama orangtuanya," jawab Bu Asti lalu mengajak Gamma dan Tania menuju kamar Bagas.
Mereka masuk ke dalam kamar Bagas. Terlihat anak kecil itu sedang duduk dan terlihat murung. Bu Asti kemudian mendekat ke arah Bagas.
"Bagas sayang, ada yang kangen nih sama Bagas," kata Bu Asti pada anak kecil yang bernama Bagas itu.
"Siapa Bu?"tanya anak itu sambil menengok ke kiri dan kanan.
" Hi Bagas, tau kan aku siapa?" ucap Gamma lalu mengacak rambut keriting Bagas.
Bagas kemudian tersenyum mendengar ucapan Gamma. Ia kemudian meraba-raba tangannya untuk mencari posisi Gamma. "Kak Gamma kapan kesini? Oiya, terakhir kakak kesini kakak bilang bakal bawa teman kak Gamma kan? Mana temannya kak?"
Gamma menoleh dan memberi kode Tania supaya lebih mendekat ke arahnya. Tania menengok kepada Bu Asti, wanita pemilik panti itu mengangguk kemudian pamit undur diri untuk mengawasi anak-anak yang sedang bermain.
"Hi Bagas, aku Tania temannya Kak Gamma," ucap Tania memperkenalkan dirinya pada anak laki-laki itu.
"Hi Kak Tania," jawab Bagas dengan jari yang menggenggam telapak tangan Gamma.
"Kata Bu Asti semalam Bagas enggak mau bobok ya?"tanya Gamma pada Bagas dan diangguki anak tersebut.
"Bagas sayang kan sama Bu Asti?"tanya Gamma lagi dan Bagas lagi-lagi mengangguk.
"Sekarang Bagas bobok ya, Kak Gamma dan Kak Tania bakal jagain Bagas disini," ucap Gamma.
Bagas kemudian merebahkan dirinya dan mulai mencari posisi ternyamannya. Gamma mengelus dahi Bagas hingga perlahan nafas anak itu mulai teratur.
Perlakuan Gamma ke Bagas tidak lepas dari pandangan Tania. Gadis itu semakin yakin bahwa Gamma adalah orang baik, ia tidak pernah memandang seseorang dari status sosial orang tersebut. Gamma menoleh kearah Tania dan pandangan mereka bertemu, sesaat tatapan keduanya terkunci.
Tania lalu sadar dan memutus tatapannya pada Gamma. Keduanya salah tingkah.
"Bagas tidak bisa melihat sejak lahir, orangtuanya adalah keluarga yang tidak mampu, mereka kesulitan untuk merawat Bagas, bahkan mereka untuk makan saja sangat susah. Namun, suatu hari nasib malang menimpa keluarga Bagas. Kedua orangtua Bagas dibunuh oleh sekelompok preman, bapaknya di bacok hingga meninggal sedangkan ibunya di perkosa oleh sekelompok preman tersebut dan berakhir ditusuk hingga meninggal juga. Pada saat kejadian itu Bagas baru berusia 3 bulan, dia aman dan selamat dari kejadian itu karena pada saat sebelum kejadian Bagas disembunyikan oleh ibunya di dalam kardus bekas mie instan. Kemudian tak lama setelah kejadian itu, seorang tetangga Bagas mengantar anak ini kesini. Lalu anak ini di asuh oleh Bu Asti. Walaupun dia tidak bisa melihat, tetapi dia adalah anak yang cerdas. Saat pertama kali aku kesini dan bertemu dengan Bagas, aku merasa hidupku beruntung dan aku bersyukur Tuhan masih mengijinkan aku untuk bertemu dan mengenal orangtuaku,"ucap Gamma panjang lebar dan membuat Tania meneteskan airmata mendengar kisah Bagas.
Setelah mendengar cerita tentang Bagas, Tania menjadi faham bahwa dirinya lebih beruntung dari Bagas. Ia masih bisa melihat dan mengenal mamanya walaupun mamanya tidak pernah menganggap kehadirannya.
Sebuah tangan menghapus airmata Tania yang mengalir di pipinya.
"Udah enggak usah sedih, sekarang kita pamit sama anak-anak lain dan Bu Asti. Setelah itu kita ke tujuan awal kita pergi, yaitu nonton."
(。;_;。)
Setelah memarkirkan motornya, Gamma langsung mengajak Tania menuju gedung bioskop. Tania hanya nurut dan mengikuti ajakan Gamma. Ia tidak tahu laki-laki disampingnya ini akan mengajaknya menonton film apa.
Sepanjang pemutaran film, tangan Gamma tidak lepas dari genggaman Tania. Film yang mereka tonton kali ini bergenre horror. Jika Tania tahu maka dia akan menolak tegas ajakan Gamma.
Gamma tak berhenti menahan senyum melihat ekspresi Tania yang lucu. Gadis disebelahnya ini hanya menutup rapat matanya sambil mulutnya komat-kamit merapalkan doa sepanjang film diputar dari awal hingga akhir.
Tania walaupun terlihat cuek, ternyata ia adalah cewek penakut. Setelah mereka meninggalkan studio, Gamma tidak berhenti mengejek Tania.
"Dasar penakut lo, padahal enggak ada hantunya cuma suara doang masa gitu aja takut. Kalah lo sama anak kelas 6 SD di depan kita tadi," ledek Gamma dan tidak dihiraukan Tania.
Gamma mengajak Tania kesebuah tempat makan yang ada di dalam mall tersebut. Sejak keluar dari studio, Tania sama sekali tidak bersuara. Hal itu membuat Gamma bingung. Gamma menusuk-nusukan jarinya ke pipi Tania, namun Tania segera menepis tangannya.
"Tania cantik, baik, lucu, gemesin kayak anak marmut, maafin gue dong. Gue tadi cuma bercanda, enggak serius kok ngeledekin lo. Maafin gue ya," ucap Gamma dengan muka yang dibuat melas agar bisa membuat gadis dihadapannya luluh dan mau memaafkannya.
Tania tidak tega melihat ekspresi Gamma. Walaupun cara merayu cowok dihadapannya ini sangat menyebalkan. Mana ada merayu tapi disamakan dengan anak marmut.
"Iya aku maafin," ucap Tania karena tak tahan dengan ekspresi Gamma.
"Gitu dong, kan cantiknya nambah," jawab Gamma senang dan mencubit hidung Tania pelan.
Ada apa dengan Gamma hari ini, berulang kali cowok itu mengatakan bahwa dirinya cantik. Tania sampai tidak habis fikir dengan Gamma.
(。;_;。)
Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00. Tidak terasa sudah seharian penuh Gamma dan Tania bermain bersama. Setelah makan tadi, Gamma menjak Tania untuk bermain di timezone, mereka memainkan seluruh permainan yang ada disana.
Setelah puas bermain, Gamma kemudian mengantarkan Tania pulang.
Sesampainya di rumah Tania, terlihat ada sebuah mobil terparkir manis di garasi rumah Tania.
Gamma bertanya kepada Tania siapa pemilik mobil itu, karena selama ini Gamma tidak pernah melihat ada mobil di rumah Tania. Namun, Tania hanya menjawab tidak tahu. Tania sendiri pun baru kali ini melihat mobil tersebut.
Gamma menstandarkan motornya, kemudian Tania turun dan menyerahkan helm kepada Gamma. Setelah itu Gamma pamit pulang ke rumah.
Saat memasuki rumah, di ruangtamu ada seorang gadis seusianya dan seorang pria paruh baya sedang bercanda dengan mamanya. Tania melangkah masuk pelan-pelan supaya tidak mengganggu mereka. Tania yakin, gadis dan pria itu adalah keluarga barunya.
"Eh, cewek itu siapa, Ma?" tanya gadis seumurannya itu kepada Citra.
"Oh dia itu anaknya Bu Mina, pembantu di rumah ini. Biasa jam segini baru pulang karena habis cari orderan," jawab Citra kepada anak tirinya.
Perasaan Tania campur aduk, ingin rasanya ia menangis dan berkata kepada mereka semua kalau dia bukan anak Bu Mina. Dia adalah anak Mama Citra.
Dia kemudian berlari menaiki tangga dan masuk ke kamarnya. Saat ia masuk ke kamarnya, kondisi kamarnya sudah berubah. Kasur butut yang biasa ia gunakan untuk tidur berubah menjadi kasur busa yang mewah.
Pintu kamar Tania diketuk dari luar dan terdengar suara Bu Mina meminta ijin untuk masuk. Tania kemudian mempersilahkan Bu Mina untuk masuk.
Bu Mina langsung memeluk Tania erat. Tania yang tak siap menerima pelukan Bu Mina sedikit terhuyung ke belakang.
"Neng yang sabar ya, kamar ini bakal di pakai saudara tirinya Neng. Dia namanya Zara,"ucap Bu Mina setelah melepas pelukannya kepada Tania.
"Iya Bu, tapiii Tania tidur dimana kalau kamar ini dipakai sama Zara?"
Bu Mina tidak tega untuk menjawab pertanyaan Tania.
"Emm..anu.." ucap Bu Mina ragu-ragu.
"Anu apa Bu? Tania tidur dimana?"desak Tania.
"Emmm...di anu Neng..aduh saya enggak enak mau bilang,"
Tania memegang kedua tangan wanita di depannya untuk memohon.
"Kamu tidur sama Mina, kalau enggak mau kamu bisa tidur di gudang bareng sama tikus dan kecoa. Kamar ini akan dipakai oleh anak saya. Oh satu lagi, selama suami dan anak saya tinggal disini kamu harus meyakinkan mereka kalau kamu anaknya Mina dan jangan pernah kamu memanngil saya mama," ucap Citra yang tiba-tiba datang.
Degg
Cobaan apa lagi yang akan menerpa Tania?
(。;_;。)