True Beauty

True Beauty
Bangga



"Ok dan teruntuk peringkat pertama lulusan terbaik di tahun ini adalah SAFANA NASYA "kepala sekolah menyebutkan nama-nama lulusan terbaik mulai dari urutan ke lima siswa-siswi yang nilainya mencapai di atas rata-rata, dan lulusan terbaik tahun ini jatuh kepada fana ,


"Alhamdulilah yah Allah"ucap syukur fana


"ciee selamat yah fan emang sahabat gw yg paling keren deh"Mira memberi selamat kepada fana sembari memberi pelukan singkat ,yah karna mereka yang memang duduk saling berdampingan,


teruntuk Laras yang namanya telah di panggil sebagai siswa terbaik urutan ketiga jadi jagan salah


jika Laras tidak ada bersama mereka,


"makasih yah mir"


" yaudah aku ke atas dulu "


"iya sono buruan


setelah semua urusannya selesai pertemuan antara orang tua dan fana yang asik berfoto , mengobrol dan banyak nya ucapan selamat dari teman-teman fana


teruntuk Bella dan gangnya kali ini tida membuat onar karena sudah di peringatkan oleh kepala sekolah agar tidak ada keributan di acara ini terlebih fana datang bersama dengan istri dari pemegang saham terbesar di sekolah ini


...


"mamah" panggil fana menghampiri mamah Rani yang tengah mengobrol dengan salah satu orang tua siswa lain yang ternyata adalah teman sosialita nya


"eh sayang sini nak,, selamat yah sayang mamah bangga sama kamu nak"mamah Rani memeluk dan memberikan fana ciuman di kedua pipinya


"makasih mah fana juga bangga bisa punya mamah seperti mamah"


"iya sayang gmn urusannya uda selesai semua kan?"tanya mamah rani


"Uda kok mah


"yaudah ayo sayang , bentar lagi papah sampai katanya dia mau ngajak kita ke suatu tempat"


"papah jemput kesini mah?


"iya sayang


"ini anak saya jeng ines namanya fana" mamah Rani memperkenalkan fana sebagai putrinya


"loh bukannya kamu fana anaknya Bu Saputri yang sekolah disini hanya karena biayasiswa kan ,dengar-dengar juga beberapa bulan lalu ibu Saputri Uda meninggal dunia,kok sekarang kamu bisa sama jeng rani


"iya tante ibu Saputri itu bunda saya dan memang benar bunda beberapa bulan lalu sudah meninggal dunia"jawab fana seraya menundukkan wajahnya dengan mata berkaca-kaca bukan sedih karena ucapan ibu itu barusan tetapi kembali teringat dengan mendiam bundanya yang dimana seharusnya beliau lah yang ada bersamanya saat ini,


"turut berdukacita yah, untung aja ada orang baik seperti jeng rani yang mau nampung kamu apalagi kan kamu ini anak art dia" ucap Bu Ines yang terkesan menghina fana secara terang-terangan


"iya Tante makasih, alhamdulilah saya bersyukur dapat bertemu mamah Rani orang yang sangat baik dan mau menerima saya di keluarga beliau" tutur kata fana tulus memuji kebaikan hati mamah Rani yang sudah mau menerima fana di keluarga nya selama ini,


"awas aja loh yah jeng kalau terlalu di baik-baikin malah ngelunjak lagi sering terjadi solnnya apalagi kan ini bukan anak dari kalangan kita-kita ini loh jeng"Bu Ines memberi saran yang malah terkesan menghina fana di mata rani


"terimakasih loh jeng ines untuk sarangnya tapi saya harap jeng ines tida menyamakan pandangan antara jeng ines dengan saya terhadap orang-orang yang kurang mampu jelas kita berbeda dan untuk putri ku fana saya cukup percaya dengannya bahkan saya sangat bangga dari sekian banyaknya murid lulusan tahun ini anakku menjadi satu-satunya lulusan terbaik,"mamah Rani menekankan kata terakhirnya "jadi orang tua mana yang tida bangga memiliki anak seperti fana putriku saat ini"lanjut nya lagi


belum sempat Bu Ines berbicara


"mah gimana acara nya masih lama ga?"papah radit yang baru saja datang menghampiri


"Uda kok pah ini baru aja kita mau keluar tapi di ajak ngobrol bentar dulu sama jeng ines"


"pah "fana mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangan papah radit yang langsung di sambut papah radit, sudah menjadi kebiasaan fana sejak masih bekerja menggantikan bundanya bekerja sebagai art ,


"selamat yah nak papah bangga sama kamu "ucap papah radit memegang kedua pundak fana dan langsung mendekap fana penuh kasih sayang


"Makasih pah "jawab fana masih berada di dekapan papah radit


adegan barusan sukses membuat mata Bu Ines membola seolah tak percaya dengan kedekatan fana dan keluarga yang cukup terpandang itu


"kalau uda selesai semua kita jalan sekaran "papah radit melepaskan dekapannya mengajak istri dan anaknya untuk segera meninggalkan gedung sekolah,


"yaudha kalian duluan aja nanti mamah nyusul"pintah mamah Rani