
Ke esokan hari nya.
sekitar jam 7 pagi nam sudah bangun dari tidur nya. dia melihat ke sosok meen yang masih tengah terlelap di samping nya. tadi malam meen mengantar nya pulang dengan yang lain. bahkan mereka semua juga memutuskan untuk menginap disana menemani nam sampai nine kembali yang entah jam berapa nine kembali ke rumah itu.
dengan perlahan nam turun dari tempat tidur nya dan bergegas turun ke lantai bawah. dimana di lantai itu masih ada ke-3 pria yang tertidur di lantai dengan menggunakan kasur busa yang entah mereka dapat kan dari mana, karena nam sendiri tidak tahu kalau di rumah nya ada kasur busa seperti itu.
nam melewati tempat itu menuju ke kamar nine. membuka pintu dengan pelan, mengintip ke dalam kamar itu apakah nine sudah pulang. senyum nam mengembang begitu melihat sosok yang familiar tengah berbaring dengan di tutupi oleh selimut di seluruh tubuh nya.
"nine.." panggil nam pelan berjalan ke tempat tidur, duduk di ujung kasur, meraih selimut dan membuka nya sampai wajah nine terlihat "jam berapa kamu pulang..?" tanya nam memperhatikan raut wajah nine yang terlihat begitu sangat lelah
"mmm..." sahut nine membalik kan tubuh nya "aku baru pulang.." jawab nine serak masih dengan mata terpejam
"kamu dari mana. bukan nya semalam kamu bilang akan pulang cepat." tanya nam memperhatikan seluruh tubuh nine, sampai pada titik dimana nam langsung mengerutkan kening nya begitu melihat leher dan dada saudara nya di penuhi dengan tanda merah "apa yang kamu lakukan semalam nine.? kenapa banyak sekali tanda merah ini di badan mu..?" nam langsung mendorong pundak nine agar terlentang. dimana kemeja yang nine kenakan tidak sepenuh nya terkancing.
"apa..?" tanya balik nine yang mulai membuka mata nya dengan berat. pandangan nine langsung mendapati sosok adik nya yang sudah merengut memperhatikan tubuh nya
"tanda itu..?" nam menunjuk pada dada bidang nya
"ini bukan apa-apa. jangan terlalu di pikirkan" jawab nine bangun dari tidur nya dan duduk dengan bersandar di kepala tempat tidur "jam berapa kamu kuliah.." tanya nine mencoba mengalihkan pembicaraan
"jam 10. kamu tidak ke kampus"
"hari ini aku malas. sekarang kamu mandi, aku akan mengantar mu ke kampus dan kembali ke rumah untuk tidur" nine meraih kepala nam dan mengelus rambut nya dengan sayang.
"............"
"ada apa..?" tanya nine yang masih mendapati wajah nam cemberut "aku tidak melakukan hal yang bodoh nam, aku berani bersumpah." jelas nine yang sudah tahu kalau adik nya sudah menaruh curiga atas perbuatan nya tadi malam
"kamu tidak bohong kan.." tanya nam menegaskan lagi
"apa aku pernah berbohong pada mu."
"mmm... aku akan mandi." nam beranjak dari duduk nya dan berjalan keluar dari kamar nine. meninggalkan nine yang langsung menguap ngantuk. karena nine memang sampai di rumah sekitar 1 jam yang lalu. dimana nine meninggalkan apartemen win sekitar pukul 5 pagi.
nine bangkit dari tidur nya, berjalan menuju ke cermin besar yang ada di dalam kamar nya. membuka semua kancing kemeja nya untuk melihat dengan jelas bekas-bekas yang sudah jane tinggal kan. tidak terlalu buruk pikir nine, karena setidak nya tanda yang dia buat di tubuh jane jauh lebih mengerikan dari pada yang ada di tubuh nya sendiri.
"setidak nya aku sudah puas.." ucap nine berjalan ke arah kamar mandi. karena dia juga harus menyegarkan mata nya untuk bisa mengantar nam. walau sebenarnya dia sendiri sangat mengantuk dan juga sangat lelah, tapi mengantar nam adalah sebuah kewajiban yang tidak bisa dia abaikan.
30 menit jarak waktu yang nine butuh kan untuk sampai di kampus. dimana nine memarkirkan mobil nya tepat di depan gedung fakultas nam. "nanti siang kabari lagi jam berapa kelas mu selesai. kamu mengerti nam." ucap nine mengingatkan nam
"ehmm.. aku tahu." angguk nam mengerti dan bergegas keluar dari dalam mobil di ikuti nine yang juga keluar dari dalam mobil nya "kenapa kamu ikut turun."
"aku ingin memeluk mu.." kata nine dengan senyuman yang sudah mengembang. dan meraih tubuh nam ke dalam pelukan nya
"apa kamu sengaja melakukan ini. orang-orang akan menatapku dengan curiga nanti nya.." protes nam di dalam pelukan hangat nine, tapi tidak berontak sama sekali.
"biarkan. biar semua orang berpikiran kalau kamu adalah kekasihku. jadi tidak akan ada yang berani macam-macam dengan mu." jelas nine melepaskan pelukan nya dan menatap wajah nam dengan perasaan sayang
"pulang lah dan tidur.."
"aku kembali. segera hubungi aku jika ada apa-apa, ingat itu."
"pergi lah..." usir nam mengerutkan kening karena sebagian pelajar yang sedang berjalan sudah menoleh ke arah nam dan nine
"heee.. aku pergi, I LOVE YOU BEB.." teriak nine dari dalam mobil menggoda nam di depan banyak nya orang dan bergegas meninggalkan tempat itu. meninggalkan nam yang hanya bisa pasrah dengan tatapan penasaran beberapa orang terhadap nya.
nine dan teman-teman nya cukup terkenal di fakultas lain, terutama di kalangan para wanita. kelompok nine adalah satu-satu nya selompok yang memiliki paket lengkap. karena semua nya terdiri dari pria yang good looking dari segi apapun, dan yang membuat para gadis-gadis semakin iri adalah. hanya ada 1 wanita di kelompok mereka yaitu meen. dan tidak ada yang bisa masuk ke dalam kelompok itu sebesar apapun usaha orang lain untuk bisa bergabung dengan mereka.
dan jika nine berani mengantar seorang wanita langsung ke kampus, apalagi dengan ucapan cinta nine yang bisa di dengar semua orang. tentu saja gosip kalau nine sudah memiliki kekasih akan langsung tersebar luas.
dari kejauhan terdapat sebuah mobil mewah yang sedang terparkir di pinggir jalan. dimana pengendara nya sedang menatap ke arah luar dengan senyuman yang terus mengembang dengan apa yang di lihat nya.
yup.. orang itu adalah louis. yang sengaja datang ke tempat itu hanya untuk memastikan kembali kalau memang gadis yang di penasari nya memang belajar di fakultas itu. dan tentu saja penantian nya dari jam 7 pagi membuahkan hasil di jam 9 siang. dimana louis melihat namtan keluar dari mobil saudara nya. melihat bagaimana interaksi singkat saudara kembar itu.
louis juga sudah meminta bantuan pete untuk membantu nya bertemu dengan namtan, mengarang cerita kalau pertemuan mereka nanti akan terkesan itu hanya kebetulan belaka.
tok..tok..tok...
louis menoleh ke seorang pria yang tengah berdiri di samping mobil nya, melambaikan tangan nya mengisyaratkan agar segera menurunkan kaca mobil nya
"apa kamu akan mengintai sepanjang hari disini..?" tanya pete yang kebetulan sampai di kampus dan mendapati mobil yang di kenal nya
"lalu apakah kamu akan membawaku mengelilingi kampus mu." jawab louis balik bertanya
"turunlah. ayo kita ke cafetaria sambil mengobrol sebentar" ajak pete
"apa kamu akan mentraktir ku.." goda louis tertawa sembari keluar dari dalam mobil nya.
"apa kamu seorang pengemis. gajiku mengajar saja tidak ada 10% dari harga pakaian mu " protes pete langsung membawa louis ke arah cafetaria yang ada di gedung fakultas nya.
sepanjang jalan dimana para mahasiswi yang menyapa pete dengan sopan terus menatap ke arah louis dengan penuh ketakjupan. siapa yang tidak akan memandang pada lelaki yang datang ke gedung kampus dengan mengggunakan pakaian dari brand merk ternama. dimana jika di total semua harga yang sedang louis pakai hampir mencapai 500 ribu baht. orang-orang yang melihatpun bisa mengetahui kalau lelaki seperti louis pasti dari keluarga yang sangat berada.
"apa kamu tidak akan mengajar." tanya louis saat mereka sudah sampai di cafetaria. dimana tempat itu sudah di penuhi oleh para pelajar yang sedang mencari sarapan.
"nanti siang. apa kamu ingin aku pesankan sesuatu" tanya pete sembari melihat ke sekeliling menatap ke kedai para penjual "makanan disini paling enak di banding gedung yang lain"
"pesankan aku kopi" kata louis menatap ke satu tempat dengan senyuman lebar nya. dimana saat louis baru memasuki wilayah cafetaria pandangan louis langsung menangkap sosok familiar. dimana sosok nam yang tengah duduk sendiri di meja ujung, dimana tidak ada seorang pun yang duduk di sekitar gadis itu "aku akan kesana dulu pete.." kata louis meninggalkan pete dan berjalan menuju ke sosok itu.
siapa yang akan menyangka jika sosok louis akan rela meninggalkan pekerjaan nya hanya demi bisa menemui sosok gadis yang baru kemarin di temui nya. tidak ada kesan yang begitu spesial atas pertemuan itu. hanya karena alasan penasaran yang membuat nya rela mendatangi sosok itu.
begitu dia sudah berada di depan meja, dimana nam sedang duduk menatap ke buku pelajaran nya, megabaikan piring makanan yang di beli nya
"apa aku boleh duduk disini.." ucap louis dengan suara lembut
"bo......"
"hai...." sapa louis dengan senyum mengembang sembari melambaikan tangan nya ke arah nam "kita bertemu lagi. aku boleh duduk disini kan..?" tanya louis lagi yang langsung duduk di kursi di depan nam.
Dan tentu saja ekspresi wajah nam terlihat begitu terkejut. Bagaimana tidak. Sosok pria di hadapan nya saat ini adalah pria aneh yang di temui nya kemarin. dan bagaimana bisa dia kembali bertemu dengan nya di cafetaria kampus nya.
"mmm... bagaimana.. phi.. bisa sampai di kampus ku..?" tanya nam dengan takut-takut "..... apa.. phi.. benar-benar seorang penguntit..?" nam mengerutkan kening nya mulai merasa takut jika benar-benar orang di hadapan nya ini seorang penguntit
"hahaaaa.... apa kamu masih berpikir kalau aku seorang penguntit." louis tidak bisa menahan tawa nya dengan pola pikir gadis di hadapan nya. bagaimana bisa nam berpikir dia seorang penguntit dengan pakaian yang di kenakan nya saat ini. bahkan sejak tadi dia menginjakkan kaki nya di gedung fakultas ini louis bisa menyadari tatapan kagum semua orang terhadap nya. tapi kenapa dengan gadis ini berbeda. itu yang louis pikir kan
"lalu kalau bukan. bagaimana bisa phi tahu gedung fakuktas ku, dan tahu kalau aku sedang disini..?" tuntut nam dengan sedikit waspada.
"bagaimana cara nya yang jelas phi bukan seorang penguntit. dan yang terpenting bukan nya kemarin kamu sudah berjanji akan memberitahukan nama mu jika kita bertemu kembali..?" louis mengingatkan nam akan perjanjian tidak sah nya kemarin
"............"
"kamu sudah setuju kemarin.."
"aku tidak menjawab apa-apa kemarin. itu semua phi yang bicara" protes nam karena memang seingat nya dia tidak menjawab apa-apa akan taruhan ini
"setidak nya dengan kamu hanya diam berarti kamu sudah setuju."
"............." nam melirik ke sekitar nya. dimana orang-orang yang sedang hendak mencari sarapan langsung tertuju ke arah nya. berbisik seakan mereka menemukan sesuatu yang cukup menarik untuk di gosipkan pada sekitar nya. dan tentu saja situasi seperti ini selalu membuat nam merasa risih.
"jangan perdulikan orang-orang di sekitar." ucap louis yang menyadari ketidak nyamanan nam
"jadi apa mau phi..?" tanya nam akhir nya menatap louis
"ayo kita berkenalan secara resmi." ajak louis menjulurkan tangan nya ke hadapan nam
".......... namtan......" ucap nam akhir nya membalas jabatan tangan louis.
****************