
"kamu harus mulai terbiasa dengan keberadaanku nam. tidak perduli seberapa kesal atau jengkel nya kamu dengan kehadiranku. aku akan tetap mengganggu mu sampai kamu akan terbiasa dan menerima sendiri keberadaanku. karena memang inilah tujuanku sejak awal.!" tegas louis tanpa mengalihkan pandangan nya dari sosok kecil di hadapan nya "jujur saja nam. aku tidak pernah sekalipun mengejar siapapun di dalam hidupku. dan aku tidak tahu bagaimana sebenarnya cara mendekati seorang gadis, tapi dengan mu, aku sangat ingin mengejar mu. mendapatkan mu tanpa mau tahu seberapa sulit nya usaha ku untuk dekat dengan mu. jika kamu berpikir aku sangat egois. aku akan akui itu. tapi aku tidak perduli akan hal itu selagi aku masih belum bisa mendapatkan apa yang aku inginkan." tekan louis dengan sorot mata tajam nya memandang nam.
".............."
"apa kamu takut denganku..??" tanya louis yang tiba-tiba penasaran akan nam memandang dirinya
"emm... aku takut pada phi." jawab nam dengan tegas. walau dalam hati nya dia sama sekali tidak merasa takut akan lelaki di depan nya ini. mungkin pada awal nya iya, perasaan takut dan juga terganggu. tapi entah kenapa perasaan itu menghilang begitu saja dari perasaan nam. dan saat ini nam hanya ingin menjawab berkebalikkan dengan apa yang di rasa nya. karena jika dia mengaku dia takut, nam berharap pria ini akan berhenti mengganggu nya.
"..........." senyum louis semakin mengembang mendengar jawaban nam "bagus jika kamu takut padaku. karena aku akan semakin berusaha untuk merubah perasaan takut mu menjadi sesuatu yang tidak akan pernah kamu perkirakan di dalam hidup mu." tekan louis dengan kepercayaan diri nya. louis mengambil langkah lebih dekat, meraih tangan nam dan menyerahkan tas itu ke tangan nam, tanpa nam mampu merespon untuk menolak karena terlalu terkejut dengan tindakan pria di depan nya. jarak antara tubuh louis dan nam hanya beberapa inci saja.
"aku meralat ucapanku barusan. aku tidak memberikan mu ini secara gratis. kamu bisa membayarku kembali dengan membelikan ku makanan. ahhh.. bukan kah kita memiliki janji minggu depan untuk bertemu. kamu bisa mentraktirku saat kita bertemu minggu depan." kata louis dengan senyuman licik nya
"kenapa aku harus melakukan itu.? lagi pula aku tidak ada niatan untuk bertemu dengan mu kembali." balas nam
"tapi aku yang selalu ingin bertemu dengan mu." tegas louis tidak perduli jika saat ini gadis ini semakin menaruh kesal pada nya "berapa kali harus phi tekan kan kalau phi sangat tertarik dengan mu, phi sebenar nya malas harus kucing-kucingan seperti ini saat mendekati mu. tidak kah kamu bisa melihat semua tindakan yang phi lakukan, kalau phi selalu berterus terang dan bergerak cepat." kata louis yang membuat nam terdiam. diam nya nam seakan dia membenarkan akan semua usaha louis yang seakan tidak memikirkan apapun selagi dia bisa mencapai tujuan nya
"jika phi mau. bisa saja phi langsung datang ke rumah mu setiap malam untuk bertemu dengan mu langsung. atau lebih nekat lagi phi langsung terbang ke phuket untuk menemui orang tua mu. bukan kah lebih bagus jika aku lebih dulu mengambil hati orang tua nya baru ke anak gadis nya.."
mata nam seketika langsung terbelalak setelah mendengar segala niatan louis. banyak hal memang yang membuat nam selalu berpikiran kalau pria ini sangat aneh pada awal nya. tapi mendengar perkataan nya barusan membuat nam semakin terkejut karena pihak lain sudah menyelidiki latar belakang keluarga nya. tidak heran jika louis selalu mengancam akan datang langsung ke rumah nya, karena awal nya nam sempat berpikir kalau itu hanya gertakan. tapi setelah ucapan louis barusan nam benar-benar mulai merasa takut jika louis benar-benar nekat mendatangi rumah nya. dan bertemu dengan nine..!
"apa phi menyelidiki latar belakang keluarga ku..?" tanya nam mengerutkan kening nya kesal
"ehm.. " angguk louis mengakui
"untuk apa..? bukankah itu terlalu menyeramkan untuk menyelidiki privasi orang lain." marah nam
"bukan kah aku tidak melakukan apapun. meski aku mengetahui semua latar belakang keluarga mu, aku juga tidak melakukan apapun yang menyinggung atau menakuti mu. selama ini aku selalu bertindak atas dasar apa yang kamu izinkan." jelas louis
"................."
"tidak bisakah kamu memberikan ku sedikit saja kesempatan itu nam. aku tidak meminta hal yang begitu sulit, hanya sedikit saja kesempatan agar aku lebih leluasa untuk mendekati mu." pinta louis dengan tulus menatap nam
"....... kenapa harus aku phi..? kenapa phi tidak melakukan semua nya pada orang lain." gumam nam seakan lelah menanggapi ke gigihan louis
"karena aku hanya tertarik padamu. semua yang ada pada dirimu membuatku sangat tertarik. dan kenapa bukan orang lain. aku tidak tahu. karena yang aku tahu hanyalah aku menginginkan mu." tegas louis akan kata-kata nya
"............"
drrrrttt....drrttt.....
nine memanggil.....
"huffttt...." nam menghela nafas berat sebelum menerima panggilan nine "iya phi nine..!" jawab nam dengan masih melirik ke arah louis
[apa kamu sudah selesai berbelanja nya nam..?]
"sudah phi. sebentar lagi aku akan kembali ke kampus."
[tidak perlu ke kampus nam, kamu bisa langsung datang ke restoran, phi dan yang lain akan langsung pergi makan. nam langsung menyusul kesini. phi akan mengirim alamat nya.]
"mmm... baik kalau begitu."
[hati-hati mengemudinya..]
"apa kamu akan pergi sekarang...?" tanya louis yang mendengar semua pembicaraan 2 saudara ini
"phi menguping..!"
"oohhh... kamu bicara di hadapan ku nong. tentu saja phi bisa mendengar apa yang kamu bicarakan dengan saudara mu."
"..............."
nam mengabaikan penjelasan louis. dia kembali melihat pada kantong belanjaan yang kini tengah di pegang nya, nam memang menyukai dress ini saat pertama kali melihat nya, awal nya nam berpikir nanti dia akan kembali dan membeli nya bulan depan saat mama nya mengirim uang bulanan nya kembali. karena harga dress ini terbilang cukup mahal. 3x jatah uang bulanan nya. jika dia menggunakan uang tabungan nya akan sangat sayang jika menggunakan tabungan hanya demi 1 potong dress. walau akan sah sah saja jika nam menggunakan kartu kredit yang di berikan orang tua nya untuk membeli apapun.
"kalau begitu terima kasih." ucap nam memberikan wai pada louis "aku akan pulang sekarang.." pamit nam
"kapan kita akan bertemu kembali..?" tanya louis menghadang jalan nam
"saat aku mau." jawab nam cepat dan langsung mengambil jalan lain dan bergegas melarikan diri dari hadapan louis.
nam bergegas menuju ke area parkiran dan segera meninggalkan mall menuju ke tempat dimana nine dan teman-teman nya sedang menunggu. tempat itu adalah sebuah restoran yang cukup besar dengan 2 lantai dan juga area parkiran yang cukup luas untuk menampung puluhan mobil. nam memarkirkan mobil nya tepat di sebelah mobil meen dan mobil gun. dan segera berjalan menuju ke dalam restoran itu.
brruukkkk.......
"aaahhhhhhhh..."
"maaf... maaf khun." ucap nam cepat dengan meminta maaf pada orang yang tidak sengaja di tabrak nya. nam melihat pada sosok wanita yang tengah memegang lengan nya dengan sakit "maaf khun.." ucap nam lagi dengan penuh penyesalan
"it's ok. aku tidak apa-apa.." jawab jane dengan ramah tapi tetap memegang lengan nya yang berusaha menahan sakit dan tidak terlalu mempermasalahkan insiden ketidak sengajaan itu
"aaaaaa.... khun jane..." tebak nam dengan mata penuh kekaguman melihat sosok cantik jane di hadapan nya. nam memang tidak terlalu mengikuti berita soal selebritas, tapi sejak dia bergaul dengan meen. nam jadi sering mendengar meen selalu membahas sosok sang artis ini. jadi mau tidak mau nam jadi tahu dan juga ikutan mengagumi sosok cantik yang kini ada di hadapan nya ini.
"sawatdee kha.." sapa jane dengan ramah begitu orang yang menabrak nya ternyata mengenal nya
"sawatdee kha phi." balas nam dengan memberikan wai dengan sopan. "phi sangat cantik.." puji nam dengan tiba-tiba.
"hahaaa... khopkhun na kha" ucap jane berterima kasih atas pujian nya
"tuaeng....??" panggil nine yang muncul entah dari mana dan berjalan mendekat ke arah nam yang tengah berhadapan dengan jane.
".............." kening jane seketika langsung mengerut saat sosok pria yang di kenal nya memanggil sayang sosok perempuan di hadapan nya.
"kamu sedang apa.? kenapa tidak langsung ke dalam..?" tanya nine merangkul pinggang nam dengan tatapan nya melirik ke sosok jane sekilas
"aku baru sampai. tapi barusan aku tidak sengaja menabrak phi jane." jawab nam pelan
"apa kamu terluka...?" tanya nine dengan khawatir memperhatikan kondisi tubuh sang adik. dan tentu saja tindakan ini sengaja nine buat untuk di pertontonkan pada sosok wanita yang kini tengah memperhatikan drama di hadapan nya
"aku yang menabrak phi jane. jadi yang terluka mungkin phi jane phi nine." tegas nam dengan kelakuan saudara nya
"aaahhhh...." nine tersenyum manis ke arah nam, sebelum beralih menatap pada sosok jane "apa anda terluka khun..?" tanya nine menatap jane dengan senyuman manis di wajah nya
"tidak apa-apa. tidak ada yang terluka di tubuhku." jawab jane pelan tanpa mengalihkan sedikit tatapan nya dari sosok nine
"syukurlah. aku takut jika kekasihku membuat tubuh seorang model terluka. itu akan sangat di sayangkan.." tekan nine pada kata-kata tertentu. sebuah kata yang sengaja nine perjelas untuk mengingat perbuatan nya pada model itu beberapa minggu kemarin
"untuk saat ini mungkin tidak ada. tapi.... jika nanti atau besok muncul memar di tubuhku apa kamu akan bertanggung jawab atas insiden ini..?" tanya jane dengan wajah dingin nya menantang nine
"tentu saja."
"bagaimana cara aku meminta pertanggung jawaban..?" tantang jane
"kamu bisa menghubungiku." nine menjulurkan tangan nya ke arah jane, isyarat jika jane setuju nine akan memberikan nomor telfon nya. jika biasa nya orang lain yang begitu sangat ingin memiliki nomor kontak sang model. kini berkebalikan. orang biasa yang menawarkan sendiri nomor nya untuk jane simpan jika dia ingin meminta ganti rugi atas suatu luka yang tidak terlalu serius. bahkan jika jane mengalami luka pun, jane tidak akan meminta uang sepeserpun pada orang lain. tapi keadaan nya kali ini berbeda. jane sangat ingin berurusan kembali dengan sosok pria di hadapan nya ini.
"kamu bisa mencatat nya disini." ucap jane yang langsung menyerahkan ponsel nya pada nine
"hubungi akun jika khun jane memerlukan ganti rugi." nine mengembalikan ponsel itu dan segera merangkul nam dan membawa nya menuju tempat teman-teman nya berada.
"apa kamu mengenal phi jane sebelum nya nine..?" tanya nam dengan curiga
"aku hanya sekali bertemu dengan nya di bar." jawab nine dengan santai
"apa kamu yakin..?" nam merasa tidak puas dengan jawaban nine
"jangan mencurigaiku tuaeng." protes nine dengan ekspresi wajah sedih
...****************...