The Twin'S Love Story

The Twin'S Love Story
keberuntungan atau sekedar sial




"bagaimana semalam..?" tanya meen melirik ke arah nine yang sedang menyantap makanan nya dengan sangat lahap


"menurut mu sendiri bagaimana." balas nine yang hanya menyunggingkan senyum puas nya ke arah teman-teman nya


"jangan di tanya lagi. kalian sendiri bisa menyimpulkan dengan semua tanda merah yang di dada bajingan ini.." celetuk gun dari ruang tengah, menoleh ke arah nine yang berada di meja makan sendirian. dengan keadaan nine yang hanya mengenakan celana pendek. membiarkan tubuh kekar nya tanpa pakaian, sekaligus memamerkan jejak-jejak perbuatan nya semalam.


"win apa kamu menyalakan cctv di kamar itu..?" tanya nine dengan tenang


"kenapa memang nya." win menjawab masih berbaring di samping bas


"apa kalian merekam nya..?" meen tampak terkejut setelah nine membahas cctv "jangan melakukan hal yang konyol. phi jane seorang model. jika sampai video itu bocor kalian akan menghancurkan karir orang lain" oceh meen menunjuk ke semua teman nya satu persatu


"tidak ada video. aku sudah menyuruh orang mematikan semua cctv apartemen itu sejak sebelum nine datang, jadi tenang saja" win menjelaskan.


"aahhh... sayang sekali.." keluh nine dengan menghela nafas berat. menyayangkan karena dia tidak bisa melihat bagaimana aksi nya semalam dengan super model itu.


"ada apa dengan ekspresi itu.?" tanya gun yang memperhatikan ekspresi tidak puas nine.


"tidak apa-apa. Hanya saja jika ada video nya aku ingin menyimpan untuk diriku sendiri."


"ngomong-ngomong nine. Apa kamu tidak mau menceritakan detail kejadian nya..?" bas bangun dari tidur nya. Berjalan menghampiri nine "aku hanya penasaran bagaimana kamu memperlakukan model itu. Lihat saja sekarang dada mu. Apa kamu sengaja membiarkan model itu membuat tanda itu, atau kamu sendiri yang tidak menyadari yang dia lakukan.?" tanya bas yang membuat nine terdiam sejenak.


"entah. Aku juga baru menyadari nya saat nam mempertanyakan nya tadi pagi." jawab jujur nine. Setiap kali nine membawa teman kencan nya berhubungan intim. Nine tidak pernah sekalipun membiarkan mereka meninggalkan jejak dimana pun. tapi entah kenapa dia malah membiarkan jane mengambil alih tubuh nya walau hanya sesaat semalam.


"apa kamu begitu menikmatinya semalam." tebak bas yang langsung di balas dengan tatapan sengit oleh nine


"aku selalu menikmati berhubungan *** dengan siapapun. Dan bagaimana dengan hadiah ku..?" nine mengalihkan pembicaraan dengan membahas imbalan atas taruhan mereka.


"tenang saja nine. Aku sudah memesankan mobil yang kamu mau. Tagihan nya tinggal aku kirim ke mereka ber-3." meen menjawab


"oke. sekalian alihkan nama nya ke nam, biarkan nam yang memiliki nya. kalian tidak akan pulang.." tanya nine berjalan menuju kamar nya


"apa kamu mengusir kita." win menggerutu tapi tidak tersinggung


"ini sudah sore. Lagi pula aku akan keluar untuk menjemput nam"


"kalau begitu kita jemput nam ramai-ramai." gun mengusulkan. sedangkan yang lain nya langsung mengangguk setuju


"tinggal lah di tempat lain. Aku akan menyusul setelah mengambil nam."


Nine langsung mengenakan baju. Tidak terlalu rapi tapi cukup membuat beberapa wanita akan menoleh ke arah nya dengan penasaran. Saat jam menunjukkan pukul 15:25 sore nine langsung mengemudikan mobil nya kembali ke wilayah kampus. Memarkirkan mobil nya di tempat dimana tadi pagi dia menurunkan adik tercinta nya.


Tidak lama nine menunggu nam langsung muncul dan langsung masuk ke dalam mobil.


"bagaimana kuliah mu cantik.." tanya nine begitu nam duduk dengan ekspresi wajah datar nya


"biasa ajah.." jawab nam singkat "nine bisa antar aku ke supermarket. stok makanan di rumah mulai habis"


"tentu saja. Ayo kita ke mall belanja." ajak nine mengemudikan kembali mobil nya meninggalkan area kampus


"swalayan di dekat rumah aja. Kenapa harus jauh-jauh ke mall.." nam mengerutkan kening nya


"yang lain sudah menunggu disana. Sekalian kita pergi makan." nine menoleh ke arah nam, tersenyum sembari mengelus kepala nam dengan lembut "oh iya. tadi siang mae menelefon ku sampai 8 kali. Tapi aku lupa menelefon balik" (mae= mama. Pho= papa)


"tadi pagi pho telefon. Terus tanya kamu dimana, jadi aku bilang kalau phi nine sedang tidur di rumah.." kata nam dengan santai menoleh ke arah nine


"kamu bilang kalau aku bolos kelas..?" nine langsung melebarkan mata nya


"aku tidak bilang. Aku hanya bilang kalau phi nine sedang tidur di rumah.." nam menunjukkan senyum nya ke arah nine


"bukan kah itu sama saja nam." nine langsung ftustasi. Dia sudah menyangka kenapa mama nya yang sangat jarang menelefon nya, bisa ada panggilan tidak terjawab sebanyak itu "pasti pho sudah bilang yang tidak-tidak ke mae. Aku yakin itu." nine langsung frustasi. jika sudah menyangkut orang tua nya nine tidak bisa berbuat apa-apa. orang tua nine memang membebaskan nya melakukan apapun yang ingin nine lakukan. tidak pernah memarahi atau menegur setiap tindakan nine di luar rumah. tapi tidak jika sudah menyangkut akademi. tidak ada toleransi apapun yang membenarkan anak-anak nya membolos atau membuat nilai ujian mereka jelek. jadi selama ini nine selalu tenang tidak ada gangguan karena nine selalu memperlihatkan hasil ujian nya yang selalu di atas rata-rata.


".............." nam tidak menghiraukan gerutuan nine. Sebalik nya nam sibuk memandang ke luar kaca dengan tatapan kosong


"kamu harus membantuku mencari alasan nanti malam. Aku yakin mae akan menelefon lagi untuk memarahiku.." nine mencoba menjacari bantuan dari adik tercinta nya. karena hanya nam yang bisa membuat ocehan mama n ya sedikit berkurang.


"emm...."


20 menit kemudian mobil nine tiba di parkiran mall. Mereka segera bergegas menuju ke restoran dimana teman-teman nine sudah menunggu. Restoran yang tepat berada di depan supermarket.


"kamu sudah sampai." meen menyapa nam, menarik tangan nam agar duduk di kursi di sebelah nya "bagaimana kuliah mu..?" tanya meen dengan perhatian


"lancar phi.." jawab nam pelan


"panggil saja meen. Kita semua bahkan seumuran."


"apa kamu sudah makan nam." gun bertanya dengan perhatian


"nanti phi. Aku mau belanja keperluan rumah dulu." jawab nam beranjak dari duduk nya


"ayo phi temani.." nine menawarkan diri


"tidak usah. aku bisa belanja sendiri, kamu tunggu disini saja." tolak nam menyakinkan saudara nya


"ok. aku akan memperhatikan mu dari sini.."


Nam langsung pergi ke area swalayan. Mengambil trolly dan mulai mengisi dengan bahan-bahan kebutuhan sehari-hari nya. Berbeda dengan nine yang sangat suka bepergian di luar. Pergi ke berbagai restoran untuk sekedar mencari makan. Nam lebih suka menyiapkan sendiri makanan nya. Walau tidak sejago mama nya dalam memasak, tapi nam cukup terampil dalam membuat makanan. Dan semenjak ada nya nam di bangkok. Nine mulai terbiasa kembali menikmati makanan buatan adik nya.


Drrttt.... Drrrttt......


Mae memanggil....


[kamu dimana sayang..?] hena bertanya ke putri nya dengan suara lembut


"sedang berbelanja mae.."


[sendirian..? dimana anak pemalas itu sekarang. Apa orang itu masih belum bangun dari tidur nya..?]


"phi nine ada di restoran depan mae. Aku menyuruh phi menunggu disana.." nam me jelaskan


[berikan telefon mu pada nya sayang. Anak itu benar-benar memancing emosi. Telefon mae sampai sekarang masih belum barani dia angkat] Nam menjauhkan ponsel nya dari telinga nya, membiarkan ocehan mama nya terus berlanjut sampai dia kembali ke tempat nine dan teman-teman nya duduk


"apa..?" tanya nine saat nam kembali duduk di depan nya dengan menyodorkan ponsel nya ke depan nine


"mae..." jawab nam datar. Dan tentu saja nine langsung terkejut saat melihat nama yang terdaftar di panggilan itu


"kenapa kamu memberikan nya padaku nam..!" gerutu nine dengan suara yang amat kecil.


"mae bilang kamu tidak mengangkat telfon mu."


[APA KAMU INGIN MAE MEMBLOKIR SEMUA KARTU MU NINE..?] suara keras terdengar dari ponsel nam. Dan tentu saja teman-teman nine langsung menoleh ke arah nine serempak


"hahaaa... maeee..." nine langsung membuat suara manis untuk menyapa mama nya "aku merindukan mu maeee..." rayu nine dengan sikap yang sangat jauh bertolak belakang dengan keseharian nya


"rasa nya aku ingin muntah.." win berkomentar setelah mendengar suara menjijikkan dari nine


"diam.." bentak nine pelan ke arah win mengancam


[apa kamu bolos kelas lagi nine. Sudah yang keberapa kali nya ini.? Apa kamu benar-benar ingin mae menarik semua uang saku mu..?] ancam hena dengan suara tegas nya


"oohh... Mae, hanya hari ini. Semalam aku terlalu mabuk." nine beralasan


[siapa yang menyuruh mu mabuk-mabukan sampai melupakan kuliah mu. Jangan kamu pikir mae tidak tahu semua kelakuan mu disana yah nine. Jangan hanya tahu main-main dan menghabiskan uang saja kelakuan mu disana]


"kuu khothod na mae. nine janji tidak akan bolos kelas lagi..." nine merayu mama nya dengan memelas ( kuu/phom/chan= aku. khothod= maaf)


nam dan yang lain hanya duduk diam menyaksikan nine yang sedang di ceramahi oleh mama nya. bagi teman-teman nine pemandangan ini adalah hal yang langka untuk mereka lewatkan. dimana nine di omeli oleh mama nya seperti anak kecil yang tidak bisa membantah sepatah katapun.


di saat semua nya tengah memfokuskan pandangan mereka ke arah nine. hanya nam yang sedang melihat ke arah lain, tidak tertarik mendengarkan nine yang sedang di omeli mae nya. sampai dimana pandangan nam tertuju ke sebuah meja yang tidak jauh dari tempat nya duduk. sosok pengunjung yang sedang menatap ke arah nya dengan senyuman lebar. nam tidak bisa menyembunyikan keterkejutan nya saat mata mereka saling memandang satu sama lain.


orang itu adalah louis. dimana louis sedang berada disana dengan kenalan nya. tepat sebelum nam sampai di tempat itu louis sudah berada di restoran itu lebih dulu. dan saat nam datang dan bergabung dengan teman-teman nya louis langsung bersemangat, karena keberuntungan kembali berpihak padanya kembali.


"phi nine. aku akan kembali berbelanja." ucap nam yang langsung di jawab dengan anggukan, karena nine masih duduk mendengarkan mama nya yang belum selesai menceramahi nya


nam berjalan kembali ke dalam swalayan. mengabaikan meja louis yang terus menatap ke arah nya. mengambil kembali trolly belanjaan nya untuk berkeliling, mengumpulkan barang-barang yang belum di ambil nya tadi. nam berjalan menuju ke bagian sayur, mengumpulkan sayur mayur dan beberapa daging ke dalam trolly nya.


"kita bertemu lagi nam..!" suara louis terdengar dari belakang nam "jangan berpikiran kalau kali ini aku sedang membuntuti mu.." louis menegaskan kembali pertemuan tidak sengaja mereka lebih dulu ke arah nam, melihat ekspresi nam yang terus mengerutkan kening nya saat mereka bertatapan tadi sampai saat ini.


"..........."


"apa kamu benar-benar berpikiran kalau aku sedang membuntuti mu sejak tadi pagi..?" ucap louis mengerutkan kening nya


"aku tidak mengatakan apa-apa." nam menjawab dengan pelan, tapi ekspresi nya masih menunjukkan ketidak puasannya karena bertemu kembali dengan pria ini.


"ekspresi wajah mu tidak bisa bohong." louis langsung menimpali ucapan nam


".............."


"apa kamu sedang belanja bulanan." louis langsung mengalihkan pembicaraan dengan melihat ke isi trolly nam yang menumpuk "apa mereka teman-teman mu..?"


"mmm..." sahut nam mendorong kembali trolly nya meninggalkan tempat itu dan tentu saja di buntuti louis di samping nya


"apa pria itu saudara mu..?"


"mmm..."


"siapa nama nya..?" louis terus bertanya tentang hal apapun mengenai kehidupan nam, mengikuti nya ke setiap tempat yang nam tuju tanpa merasa bosan karena tidak terlalu di hiraukan oleh gadis itu


"sebenar nya mau phi apa.? Kenapa phi terus mengikutiku kemana pun..?" tanya nam akhir nya yang mulai kesal. Berhenti berjalan dan menghadap langsung ke sosok louis untuk menuntut jawaban


"aku hanya ingin menagih janji. Bukan kah kita sudah memiliki kesepakatan tadi pagi..!" jawab louis dengan memamerkan senyum lebar nya ke nam


"........."


"kenapa kamu gampang sekali lupa."


"bukan kah itu di lain hari..?" tanya nam yang sedikit bingung


"aku tidak bilang seperti itu. Perjanjian nya kan kalau kita bertemu lagi dengan tidak sengaja kamu akan memberiku nomer telefon mu. Dan sekarang ini kan kita bertemu kembali tanpa di sengaja.."


"..............."


"atau kamu tidak ingin memberikan nya.?" tebak louis karena nam kembali terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu "jangan beralasan juga kalau ponsel mu sedang di pegang saudara mu.."


"aku memang tidak memegang ponsel sekarang."


"atau kamu ingin aku bertanya langsung ke saudara mu. Aku bisa menghampiri nya sekarang juga.." louis menawarkan diri menghampiri nine


"mai dai. Phi tidak boleh datang ke nine.." teriak nam langsung memegang ujung baju louis saat louis benar-benar hendak pergi menuju ke tempat nine berada "aku bisa memberikan nya. Dimana aku harus mencatat nomor ku"


                                                                                 ***************