The Twin'S Love Story

The Twin'S Love Story
mengejar.





malam ini suasana halaman belakang rumah itu kembali ramai. nine, bas, win sedang duduk dengan santai di kursi kayu sembari berbincang dengan seru. sedangkan gun, pria itu tengah sibuk dengan perapian nya. dimana gun yang bertugas untuk membakar semua bahan-bahan yang ada di meja itu, di temani nam yang hanya membantu memberikan bahan-bahan yang gun butuh kan.


"phi meen kenapa tidak datang phi gun..?" tanya nam sembari memberikan piring untuk gun meletakkan daging hasil bakaran nya


"aahh.. meen sedang ikut orang tua nya ke acara perjodohan." jawab gun sembari tertawa geli dengan nasip meen


"perjodohan..." ulang nam sedikit terkejut


"eemm... orang tua meen sering membawa anak gadis nya ke acara makan malam, yang ujung-ujung nya hanya membahas bagaimana jika 2 perusahaan besar itu di satukan. harga saham yang akan naik tinggi. dan masih banyak lagi bisnis-bisnis yang akan mereka peroleh jika berhasil menjodohkan meen dengan lelaki pilihan orang tua nya." jelas gun dengan lancar. karena memang sudah sangat biasa untuk mereka mendengarkan keluhan meen setiap kali selesai mengikuti acara perjodohan itu.


"lalu bagaimana dengan phi meen..?' nam mulai penasaran dengan perasaan meen


"apa kamu belum melihat sifat asli meen." gun menoleh ke arah nam yang langsung menggelengkan kepala nya dengan tidak tahu "di lingkaran kita ber-5. tidak ada satu pun yang memiliki sifat atau pikiran yang waras. jika nine di sebut bajingan. maka meen versi wanita nya. suatu saat kamu akan tahu sendiri bagaimana meen bersikap gila."


"nam.. ponsel mu terus berdering sejak tadi." teriak win dari dalam rumah sembari memegang ponsel nya di tangan nya. melihat layar kecil itu dimana menunjukkan nama orang yang menelfon nya 'PHI' layar itu menunjukkan nama phi sedang menelfon nam "halooo..." jawab win begitu menggeser layar untuk menjawab panggilan itu


[.............]


"halooo...??" sapa win lagi karena tidak ada tanggapan dari si penelfon "nam. phi menelfon, tapi tidak ada suara apapun.." ucap win menghampiri nam untuk menyerahkan ponsel nya


"kenapa phi win.." nam bertanya begitu win menyodorkan ponsel nya


"phi menelfon. tapi tidak ada suara apapun" katra win menunjuk ke layar ponsel itu.


"phi..." ulang nam mengerutkan kening nya bingung. tapi begitu pandangan nya tertuju ke layar ponsel nya, mata nam langsung terbelalak dengan terkejut. karena win sudah mengangkat panggilan dari orang yang sudah mengganggu nam seminggu lebih ini


"phi siapa nam..?" tanya nine yang mulai penasaran dengan panggilan itu


"mmm... phi senior di fakultas phi nine, aku ke kamar dulu sebentar" nam menjelaskan dengan singkat sebelum berjalan ke dalam rumah menuju ke kamar nya.


di dalam kamar nam langsung duduk di tempat tidur nya dengan terus menatap layar ponsel nya yang masih dalam mode panggilan berlangsung "halo..." ucap nam akhir nya mengeluarkan suara nya


[halo nong nam. selamat malam.] sapa louis akhir nya begitu berhasil mendengar suara lembut wanita yang sedang di incar nya selama semingguan lebih ini


"..........."


[bagaimana kabar mu..? apa *di rumah mu sedang ada acara, phi dengar barusan disana*cukup berisik..?] tanya louis yang memang mendengar beberapa obrolan dari win dan nine


"ada urusan apa phi menelfon..?" tanya nam


[tentu saja phi merindukan mu. sudah cukup lama kita tidak bertemu sejak terakhir kali kita berpapasan] louis langsung berterus terang dengan tujuan nya


"................"


[hehee... phi hanya ingin mendengar suara mu. hari ini phi hanya mengirimimu pesan di pagi hari, makan nya phi langsung menelfon mu karena takut kamu akan berpikiran negatif lagi tentang phi, makannya phi memutuskan untuk menelfon mu langsung..] jelas louis menggoda nam


"phi tidak perlu menelfon atau mengirim pesan lagi. itu tidak perlu" jawab nam berterus terang


[kenapa tidak perlu. bagaimana phi bisa semakin dekat dengan mu jika phi tidak melakukan apa-apa. ini satu-satu nya usaha yang bisa phi lakukan. walau sebenarnya phi sedikit kecewa juga karena kamu tidak pernah mau untuk *membalas satu pesan pun yang sudah phi kirim*selama ini.] keluh louis dengan nada suara memelas [tapi tidak apa-apa, kamu tidak perlu terlalu memikirkan keluhan phi, dengan kamu hanya membaca saja phi sudah sangat senang..]


"..............."


nam hanya terdiam mendengarkan setiap celotehan louis yang tidak berhenti. nam merasa setiap kali mereka ber-2 berhadapan atau berkomunikasi seperti sekarang ini, louis selalu tahu apa akan nam pikirkan. atau lebih tepat nya louis seakan bisa membaca jalan pikiran nam seperti apa. begitu juga dengan semua isi pesan louis yang hampir semua pesan nya adalah segala keluhan nam tentang louis.


[apa di rumah mu sedang ada acara..? apa itu teman-teman saudara mu yang aku lihat ke restoran waktu itu.] tanya louis mengalihkan pembicaraan dengan membuka topik obrolan lain [apa boleh phi datang ke rumah mu untuk ikut bergabung.?]


"tidak boleh.." tolak nam dengan tegas. dan tentu saja jawaban ini sudah di prediksi oleh lelaki pintar seperti louis


[huuuhh... kalau kamu melarang ku datang ke rumah mu, bagaimana cara nya aku bisa bertemu dengan mu langsung.] protes louis mencoba peruntungan nya kembali [kamu harus mencari solusi nya. karena jika tidak ada cara lain aku akan tetap datang ke rumah mu untuk menemui mu langsung] dan inilah cara lain louis menjerat nam agar dia bisa bertemu dengan wanita polos ini untuk yang kesekian kali nya


"kenapa harus aku yang memikirkan nya..!" protes nam dengan kening yang sudah berkerut


[karena kamu yang selalu melarangku untuk tidak datang ke rumah mu. dan lagi bagaimana cara nya aku bisa bertemu dengan mu..?] tuntut louis meminta pertanggung jawaban nam


"...........! kenapa phi begitu sangat ngotot ingin bertemu dengan ku. kita bahkan tidak punya urusan apapun untuk saling bertemu.." protes nam dengan keberatan dan juga dengan nada suara nya yang sedikit kesal "terlebih lagi aku tidak suka jika phi terus memaksa ingin datang ke rumah ku."


[siapa bilang phi tidak punya urusan. bukan kah phi sudah memberitahu mu kalau phi sedang melakukan pendekatan dengan mu secara pribadi. jika kita tidak sering-sering bertemu bagaimana bisa phi mendekati mu.] jelas louis dengan sangat detail dan meyakinkan nam akan tujuan nya


".............."


" iya phi sebentar." jawab nam menjawab panggilan nine


[apa saudara mu memanggil..?] tanya louis


"emm..." angguk nam menjawab louis


[pergilah. aku tunggu pertemuan kita minggu depan di siam jam 12 siang...] louis langsung mematikan panggilan nya tanpa menunggu tanggapan dari nam.


nam mematung di tempat. bagaimana dia bisa selalu tidak bisa menolak atau melakukan apapun setiap kali berurusan dengan louis. hampir semua nya lelaki itu yang menentukan kemauan nya, tanpa membiarkan nam menolak atau membuat keputusan nya sendiri. kalau di pikir-pikir bukan kah dia yang di rugikan selama berhubungan dengan louis. mulai dari taruhan nama, taruhan nomer telfon. bahkan barusan orang itu juga yang sudah menentukan mereka akan bertemu minggu depan.


"ada apa nam..? kenapa muka mu terlihat bingung begitu..?" tanya nine yang sudah berdiri di ambang pintu dengan menatap ke arah nam


"mmm... tidak apa-apa phi" jawab nam beranjak dari duduk nya dengan meletakkan ponsel nya di dalam laci dan berjalan ke arah nine, merangkul lengan kekar nine untuk membawa nya kembali ke bawah.


begitu sampai di halaman belakang, meen yang sudah tiba langsung melambaikan tangan nya ke arah nam.


"jadi apa kamu akan menerima nya kali ini..?" tanya bas sembari menikmati makanan di piring nya


"hmm... tidak buruk juga kalau hanya untuk bersenang-senang." komen meen


"lalu. bagaimana dengan pria bernama pakin itu." celetuk win


"phi pakin tetap berada di urutan pertama. tidak ada yang bisa mengalahkan phi chai ku." tegas meen tanpa ragu "tapi jika hanya untuk bersenang-senang aku bisa mempertimbangkan phi louis.." tambah meen dengan tawa licik nya


"apa pria ini sangat tampan." bas penasaran


"hmm.. untuk wajah nya bisa di bilang di atas rata-rata. postur tubuh nya cukup tinggi dan bagus untuk di pamerkan pada orang-orang. dan kelebihan dari phi louis yang paling menonjol, tentu saja ada pada kekayaan nya. tidak heran jika orang tua ku terus saja menyanjung nya selama di perjalanan." jelas meen mendeskripsikan sosok louis "jika aku tidak cinta mati dengan phi kin, aku mungkin akan mengejar phi louis dengan keras"


"hmmm.." nine hanya mengangguk kan kepala nya dengan ucapan panjang lebar meen. sedangkan nam yang hanya duduk dan menyimak alur percakapan di depan nya hanya bisa menebak-nebak tentang segala nya. walau pada awal nya nam sedikit familiar dengan nama louis yang meen sebutkan. karena lelaki yang baru saja menelfon nya juga mempunyai nama yang sama.


"phi nine.." panggil nam pelan


"hem.. ada apa." jawab nine menoleh ke arah nam


"besok siang aku ingin ke icon siam untuk melihat barang." izin nam



"apa ada yang ingin kamu beli." tanya nine pelan


"tidak. aku hanya ingin mencari kado untuk mae." ucap nam yang membuat ekspresi wajah nine terbelalak terkejut.


"ULANG TAHUN MAE.." teriak nine dengan spontan. nine benar-benar sudah melupakan ulang tahun mama nya yang akan berlangsung dalam beberapa hari kedepan. jika nam tidak sengaja mengatakan ingin mencari kado mungkin nine akan mengalami hal buruk ke depan nya karena sudah melupakan hal hal penting.


"ayo kita ke phuket untuk merayakan ulang tahun khun mae nine.." ajak meen dengan bersemangat


"bagaimana dengan kado..? apa yang akan kamu beli..?" tanya nine dengan panik karena dia tidak tahu apa yang akan dia berikan pada mama tercinta nya


"aku belum tahu. besok aku ingin jalan-jalan dulu untuk melihat kado apa yang pas untuk mae.." jawab nam


"besok phi akan menemanimu." nine menawarkan diri


"besok kita sibuk sampai malam. kita akan memantau persiapan untuk acara bulan kampus, bukan kah kamu sudah menyetujui untuk bergabung sebagai panitia pada senior.." gun mengingatkan janji nine.


"aaiiisshhh... aku lupa tentang acara sialan itu" gerutu nine kesal


"aku bisa pergi sendiri phi. lagi pula aku hanya pergi untuk melihat-lihat dulu.." ucap nam


"kamu ingin aku temani nam." meen menawarkan diri nya


"hei.. jika aku tidak bisa pergi itu berarti kamu juga tidak bisa pergi." ceplos nine


"aku kan tidak mendaftar pada kegiatan membosankan itu" ceplos meen mengangkat bahu nya dengan santai


"bajingan ini sudah mendaftarkan kita semua pada acara itu. jadi tidak ada dari kita semua yang bisa membolos kali ini.." gerutu gun yang membuat meen langsung mengerutkan kening nya dengan kesal ke arah nine


"kalian pikir aku akan membiarkan kalian lolos begitu saja, sedangkan aku harus bertempur dengan anak-anak baru itu sendirian.." nine menatap ke semua teman nya dengan ekspresi puas.


"sialan nine.." maki meen