The Twin'S Love Story

The Twin'S Love Story
kesempatan





drrrttt.... drrttttttt.......


nine memanggil..


"ada apa.." tanya louis saat nam tengah fokus melihat ke layar ponsel nya "apa itu saudara mu..?" nam langsung mengangguk dengan tebakan louis "angkat lah. kamu bisa keluar untuk menjawab nya." ucap louis dan nam langsung beranjak dari duduk nya berjalan meninggalkan ruangan itu


"ada apa luk." tanya ingka pelan


"phi chai nya menelfon." jawab louis


sedangkan di luar ruangan itu nam terlihat begitu ragu untuk mengangkat panggilan kakak nya. bukan karena nam takut tapi dia tidak tahu harus beralasan apa saat ini jika di tanya dimana keberadaan nya. mengingat dirinya belum meminta izin saat pergi


"iya phi.." ucap nam menjawab panggilan nine dengan setenang mungkin


[kamu dimana. meen datang ke rumah untuk menjemput mu. tapi meen bilang tidak ada siapapun di rumah. apa kamu sedang di luar..?] tanya nine pelan


"emm.. aku sedang di luar phi. tadi siang aku pergi ke mall untuk mencari beberapa buku yang aku butuhkan." ucap nam dengan jantung yang berdetak dengan begitu cepat. gugup karena ucapan kebohongan mengalir begitu saja dari mulut nya


[ahhh.. seharus nya tadi kamu bilang saat phi pergi jadi phi bisa mengantar mu dulu. jadi sekarang kamu masih disana. phi akan menyuruh meen untuk menjemput mu]


"eemm.. aku masih disini phi"


[baiklah. meen akan menelfon mu saat sudah berada di depan mall.]


panggilan pun berakhir. nam langsung melihat pada jam di layar ponsel nya yang menunjukkan pukul empat sore. jarak dari rumah ke mall sekitar 30 menit jika lalulintas padat. jadi dia harus segera bergegas meninggalkan tempat ini secepat mungkin untuk kembali ke mall.


nam kembali ke dalam ruangan dan mendapati suasana yang sangat hening dan canggung. tatapan semua orang langsung tertuju kepada nya dengan serempak.


"ada apa..?" tanya louis yang langsung mengetahui perubahan ekspresi nam saat sedang gugup


"ehmm... phi.." nam kembali duduk di sebelah louis dan menatap nya "aku harus pergi." nam mengucapkan nya dengan takut-takut, sembari meremas kedua tangan nya, menunjukkan pada louis kalau saat ini dia benar-benar gugup


"apa ada masalah..??" tanya louis menatap nam dengan lembut


"mmm... teman phi nine akan menjemputku ke mall yang tadi. jadi aku harus segera kembali kesana sekarang juga." jelas nam dengan mengangguk kan kepala nya.


"apa kamu tidak meminta izin saat pergi untuk menemuiku..?" tebak louis yang langsung tahu dari ke khawatiran yang di tunjuk nam


"........" nam terdiam. membenarkan tebakan louis secara tidak langsung "maaf...." nam menundukkan kepala nya dengan menyesal


"tidak perlu meminta maaf" louis mengelus rambut nam dengan lembut, membuat nam seketika mengangkat kepala nya seperti semula dan mendapati louis yang tengah menunjukkan senyum manis ke arah nya "ayo. phi antar kamu kembali kesana." ajak louis membuat nam terpaku seketika


"phi tidak marah...?" tanya nam pelan


"kenapa phi harus marah. kita bisa membuat janjji temu lagi nanti kan."


"emm.." nam mengangguk mengerti dan tanpa penolakan saat louis merencanakan pertemuan kembali dengan nya


"ayo bangun."


"eehhh.... ada apa luk..??" tanya ingka dengan ekspresi bingung saat melihat kedua orang yang tengah di tatap nya tiba-tiba berdiri "apa kalian akan pergi..? bukan kah kita akan makan bersama, kenapa tiba-tiba pergi..?" ingka dengan cepat beranjak dari tempat duduk nya dan berlari kecil menuju ke arah nam "apa ada masalah nong..??" tanya ingka meraih lengan nam dengan wajah khawatir


"aku minta maaf. tapi aku harus segera pergi" ucap nam dengan pelan ke arah ingka


"ada apa luk,,?" ingka langsung beralih menatap louis menuntut penjelasan


"tidak ada apa-apa mae. phi chai nam tiba-tiba menyuruh nam segera pulang. dan jangan banyak bertanya karena itu membuat nam akan semakin gugup." jelas louis yang membuat ingka langsung menutup rapat-rapat mulut nya


"mae khothod. mae tidak akan bertanya apa-apa lagi. tapi bisa kah mae kembali bertemu dengan nam lagi. mae masih belum menanyakan apapun pada nam..?" ingka menatap nam dengan penuh harap


"baru saja aku mengingatkan untuk jangan banyak bertanya, tapi mae malah berencana membuat list pertanyaan." celetuk louis yang langsung mendapatkan tatapan sinis dan mengancam dari mama nya


"..............."


"heheheee...." joe terkekeh melihat louis yang langsung ciut hanya dengan ancaman kecil dari istri nya


"apa kamu mau bertemu kembali dengan mae..?" tanya ingka menggenggam kedua tangan nam dengan erat. sedangkan nam masih konsisten dengan wajah bingung nya setiap kali ingka menuntut sesuatu dari nya


"aku... aku tidak tahu.." jawab nam dengan suara yang kecil, bahkan hampir tidak terdengar


"tidak apa-apa. jangan terlalu terbebani dengan ucapan mae barusan. tapi mae senang sekali bisa bertemu dengan nam hari ini. meski kita tidak banyak berbicara, hanya melihat nam saja sudah membuat mae senang." ungkap ingka dengan tulus memandang nam


"kalau begitu aku akan membawa nam pergi dulu." louis mengajak nam segera meninggalkan ruangan itu menuju ke tempat parkir. menyisakan 2 orang tua yang tengah duduk kembali ke kursi mereka sendiri dengan memandangi hidangan mewah yang belum tersentuh sama sekali.


"seperti nya aku harus menyuruh mereka untuk membungkus semua makanan ini." joe menghela nafas berat saat beralih melihat ke arah istri nya yang masih memiliki senyum indah di wajah nya "apa kamu begitu bahagia bertemu dengan gadis itu." tanya joe yang juga tidak bisa menahan senyum nya melihat bagaimana bahagia nya ekspresi istri nya saat ini


"tentu saja aku sangat bahagia. kamu sangat tahu kan phi kalau saat-saat seperti ini yang sangat aku nantikan" jelas ingka menatap suami nya dengan mata berbinar


"tapi seperti nya dia belum menyukai apapun yang ada pada anak tersayang mu. jadi jangan terlalu menaruh harapan besar dengan mereka berdua akan bersama." joe mengingatkan istri nya agar tidak kembali kecewa suatu saat nanti


"apa phi tidak bisa melihat nya..? sorot mata louis itu sama persis seperti mu phi. louis mewarisi sifat nya saat ini itu dari mu. dan aku hanya kebagian merawat kalian berdua selama ini. jadi jika louis sudah menemukan target nya, anak itu akan mengincar sampai kapan pun" ingka menghela nafas berat dengan nasip nya


"hahaha... apa kamu sedang protes sekarang" joe segera merangkul tubuh istri nya


"sudah terlambat jika aku ingin protes. maka itu jangan berani-berani kamu membentak anak ku."


"hehee... anak mu itu juga anak ku tuaeng. walau terkadang sifat nya membuatku ingin menyingkirkan nya.. heheee" canda joe mencium pelipis ingka dengan sayang


di tempat lain.


nine kini tengah berada di sebuah mobil mewah. duduk di sebelah pengemudi yang akan membawanya ke suatu tempat yang tidak di ketahui nya. nine dengan ekspresi wajah tenang memandang ke jalanan, walau sesekali menoleh ke arah pengemudi cantik yang sama sekali tidak mengeluarkan suara apapun sejak dia menaiki mobil ini.


sekitar jam 3 sore tadi fakultas nine di buat heboh karena kedatangan seorang super model yang tiba-tiba berdiri di depan gedung fakultas arsitek. orang-orang yang berlalu lalang saling bergantian memotret sosok itu dari berbagai arah. seakan tidak perduli dengan yang terjadi di sekeliling nya, jane dengan santai nya berdiri di depan mobil nya sembari menatap satu persatu untuk mencari sosok yang beberapa menit yang lalu dia hubungi.


"apa phi sedang melakukan jumpa fans di kampus ku.." ledek nine saat muncul dari belakang mobil jane


"masuk ke mobil.." ucap jane dengan sinis melewati nine begitu saja dan masuk ke dalam mobil nya. bahkan jane tidak melihat sedikitpun pada sosok jangkung itu


".... apa...." nine mengangkat bahu nya bingung. tapi tetap berjalan mengikuti instruksi model itu menuju mobil dan membuka kursi penumpang. duduk sebentar sampai mobil itu melaju tanpa mengatakan sepatah kata pun


"sebenarnya kita mau kemana ini..? phi tidak boleh menculik seorang pelajar seperti ini." canda nine mengarahkan tubuh nya ke arah jane agar bisa menatap model itu dengan leluasa. senyum nine terus mengembang memandangi sosok cantik di depan nya "setidak nya aku harus tahu tujuan kita phi. berapa lama rencana phi akan menculik ku. karena aku harus menghubungi seseorang di rumah agar dia tidak khawatir jika aku tidak pulang malam ini.."


"apa kamu mengkhawatirkan pacar mu juga saat kamu tengah tidur denganku.." ucap jane dengan sinis


"hahaaaa.. apa saat ini phi tengah menggerutu tentang pacarku." ledek nine dengan senyuman puas


"..............."


"kalau begitu biarkan aku menelfon temanku dulu.." nine segera meraih ponsel nya dan memanggil nomor meen


[dimana kamu sekarang. kenapa hanya kamu yang tidak ada di lapangan, apa kamu kabur lagi..?] oceh meen membuat nine tertawa kecil


"aku sedang di culik saat ini. jadi aku mau meminta tolong padamu." adu nine melirik sekilas ke sosok jane


[di culik..!! orang gila mana yang mau menculik pria seperti mu. lagi pula dari suaramu kamu terdengar begitu bersemangat]


"hahaaa... nanti aku beritahu saat kita bertemu. tapi sebelum itu aku mau meminta tolong pada kalian semua untuk menjaga nam. aku mungkin tidak akan pulang malam ini, jadi tolong salah satu dari kalian ada yang menemani nam di rumah. jangan biarkan nam sendirian seperti waktu itu lagi." pinta nine dengan serius


[baiklah. jika kamu tidak pulang lebih baik aku membawa nam untuk tinggal bersama ku di rumah.] usul meen yang langsung di izinkan oleh nine [setelah selesai aku akan langsung ke rumah mu]


"oke. terima kasih meen sayang ku. aku akan membalas budi mu suatu saat nanti" canda nine membuat meen tertawa lepas


[aku menginginkan koleksi tas terbaru. jangan lupa itu khun nine] balas meen sebelum menutup panggilan nya


setelah panggilan itu selesai nine langsung menyimpan kembali ponsel nya dan melihat kembali ke jalanan dengan tenang. nine tidak lagi mau mengganggu sang pengemudi yang seperti nya sedang memiliki emosi yang belum stabil. jadi berdiam diri adalah solusi untuk nya saat ini. sembari nine memperhatikan arah tujuan yang akan membawa nya.