
Di rumah. nam sedang duduk di ruang tamu sembari menonton televisi. suasana rumah itu begitu terang, semua lampu yang ada di setiap sudut rumah di biarkan menyala tanpa ada satu pun lampu yang mati. tadi sore nam menolak untuk ikut dengan nine ke bar karena dia ada tugas yang harus di selesaikan malam ini juga. jadi dia membiarkan nine untuk pergi dan kembali sebelum tengah malam. jika hanya tinggal sendirian. jika beberapa jam nam masih bisa dan tidak merasa takut. tapi jika untuk semalaman tinggal di rumah itu sendirian nam tidak akan bisa.
"beb... kamu belum tidur..?" sapa nine yang baru saja masuk ke dalam rumah dan mendapati adik nya tengah duduk sembari memeluk bantal 2 sekaligus "kamu belum ngantuk, ini sudah tengah malam.."nine mengambil posisi duduk di sebelah nam, merebahkan tubuh nya di sandaran sofa sedangkan tangan nya meraih tubuh nam dan memeluk nya
"nine... berapa gelas yang kamu minum. bauuu.." nam protes begitu tubuh nine menempel ke tubuh nya. aroma alkohol yang begitu menyengat tercium dari tubuh kakak nya "apa kamu menyetir dalam keadaan mabuk seperti ini nine..?" tebak nam marah
"aku tidak mabuk tuaeng. hanya bau nya saja begini, tapi aku masih sepenuh nya sadar." jawab nine masih tetap memeluk nam dengan erat (tuaeng= panggilan sayang untuk pasangan) "minum beberapa gelas tidak akan membuatku mabuk, phi chai mu ini sangat hebat dalam minum.." nine menyunggingkan senyuman manis nya ke arah nam (phi chai= kakak laki-laki)
"mandi sana. jangan tidur dengan bau alkohol begini. " usir nam mendorong tubuh nine menjauh dari nya. tapi semakin nam mendorong nine, semakin nine mempererat pelukan nya "phi nineee..... phi nine lepas." protes nam meronta yang sia-sia
"biarkan phi memeluk mu sebentar nong." rengek nine semakin menyembunyikan wajah nya di pelukan nam. mendengar ucapan nine, nam langsung berhenti meronta dan membiarkan saudara laki-laki nya memeluk nya dengan leluasa "apa kamu menyukai mobil nya." tanya nine pelan. tidak beranjak sedikit pun dari posisi nyamannya
"emm.." angguk nam menatap televisi
"kamu bisa memakai nya kemana pun kamu mau pergi. jika nanti phi tidak bisa mengantar mu kamu bisa menggunakan mobil itu"
"tapi dari mana kamu mendapatkan uang untuk membeli mobil itu. apa kamu menjual narkoba." celetuk nam dengan santai. nine yang mendengar tuduhan adik nya langsung mengangkat wajah nya melihat nam
"bagaimana bisa kamu punya pikiran sejelek itu terhadap phi mu sendiri" gerutu nine melepas pelukan nya untuk duduk tegap di samping nam
"kamu bisa melakukan apa saja yang di luar nalar nine." nam menoleh ke nine dengan tatapan datar nya.
"............." melihat perubahan ekspresi di wajah nam saat ini membuat bulu kuduk nine langsung merinding
"jangan pernah melakukan suatu hal yang akan merugikan mu sendiri nine. tidak perduli seburuk apa pergaulan mu di luaran sana, aku tidak akan berkomentar atau melarang mu. tapi aku tidak akan tinggal diam jika kamu mengorbankan masa depan mu untuk hal yang sia-sia."
"aoohhh.... aku merinding.." nine langsung menggosok lengan nya sendiri dengan ekspresi takut. mengisyaratkan kalau dia benar-benar merinding setelah mendengar nasehat dari adik tercinta nya yang sangat jarang di dengar nya.
"aku sedang tidak bercanda nine." protes nam karena nine menanggapi ucapan nya sebagai candaan belaka
"heheee... jangan merengut" nine meraih kepala nam dan mengelus rambut adik nya dengan sayang "aku tidak sebodoh itu. lagi pula mobil itu aku dapatkan dari anak-anak, aku menang taruhan jadi mereka harus memberiku mobil itu sebagai imbalan nya." jelas nine dengan pelan "apa kamu mengkhawatirkan ku selama ini..?" tanya nine dengan senyum menggoda ke arah nam
"bodoh. tentu saja aku mengkhawatirkan mu, bagaimana bisa kamu menanyakan sesuatu yang sudah pasti." jawab nam mengalihkan pandangan nya dari nine ke televisi sembari mengembungkan pipi nya karena malu
"hahahaaa..... naraaakkkkk..." nine langsung memeluk kembali tubuh nam dengan gemas setelah menangkap wajah nam yang memerah karena malu. (narak= imut,lucu)
malam itu terasa begitu tenang dan hangat di dalam rumah itu. ke-2 saudara kembar itu terus berpelukan sampai tengah malam lewat. membicarakan hal-hal kecil tentang masa lalu mereka ber-2, menghidupkan kembali masa-masa manis yang tanpa ada sedikit pun rasa pahit di kehidupan yang sudah mereka jalani.
jarang ada moment dimana mereka berdua duduk bersama sembari membicarakan hal-hal kecil tapi begitu manis untuk di bahas berdua. dimana kebanyakan mereka hanya berargumen tentang ketidak cocokkan pendapat masing-masing. jarang juga ada perkelahian dan hampir tidak pernah. karena mereka berdua saling mengerti dan tahu bagaimana sifat satu sama lain. jadi jika yang satu mengatakan tidak maka yang satu lagi akan menurut. karena mereka sama-sama tahu kalau mereka tidak akan memberikan keputusan yang akan membuat yang lain terluka. singkat nya mereka ber-2 sama-sama menginginkan yang terbaik untuk satu sama lain.
.....................
ting...
ting......
ting.........
3 pesan masuk berturut-turut ke dalam ponsel nam. tapi nam tidak mau repot-repot untuk segera membuka pesan itu. karena nam sudah tahu siapa yang sedang mengirim pesan pada nya sepagi ini. sudah seminggu lebih dia menerima pesan yang selalu menanyakan bagaimana kabar nya. apa yang akan dia lakukan hari ini. menanyakan segala aktivitas yang akan nam lalui seharian. bahkan untuk hal yang tidak begitu penting nam juga menerima pesan itu.
ada 146 total pesan yang dia terima selama seminggu ini. hampir setiap hari nya ada 10 lebih pesan yang di kirim louis ke ponsel nam. tapi dari sekian banyak nya pesan itu tidak ada satu pun yang di balas oleh nam.
ting......
"dari operator.." jawab nam dengan malas
"oh yah. rajin sekali operator mengirimi mu pesan berturut-turut sepagi ini." goda nine tersenyum ke arah nam
"berisik.."
"baik tuan putri. silahkan turun dan belajar dengan rajin, nanti sore phi akan menjemput mu kembali." nine yang langsung keluar dari mobil bergegas ke arah pintu satu lagi untuk membukakan pintu untuk nam, mempersilahkan adik tercinta nya turun dari dalam mobil
"phi nineeee...." protes nam dengan cemberut. nam tidak menyukai setiap kali nine memperlakukan nya dengan berlebihan di depan umum. terutama di area universitas. karena nam tahu sebagian mahasiswi atau mahasiswa yang ada di fakultas nya mengidolakan saudara nya. jadi dia tidak mau menjadi bahan obrolan orang di belakang nya yang menganggap nya sebagai kekasih nine
"arai..." (arai= apa)
"aku bisa buka pintu sendiri." gerutu nam dengan cemberut turun dari dalam mobil
"hahahaaaa..... mau aku beri pelukan semangat tuaeng." goda nine yang sudah merentangkan kedua tangan nya siap untuk memeluk nam
"berhenti bertingkah menyebalkan seperti itu. aku tidak menyukai nya" nam mengoceh dengan wajah cemberut
"hahaa... oke, oke. berhenti manyun seperti itu. masuk sana" nine mengelus kepala nam dengan sayang
"mmm...." sahut nam berjalan menuju ke gedung fakultas nya. sedangkan nine langsung kembali masuk ke dalam mobil nya dan langsung menuju ke gedung fakultas nya sendiri.
sedangkan di tempat lain. di sebuah gedung yang memiliki 30 lantai, perusahaan besar yang sudah memasuki pasar internasional dan memiliki lebih dari 10,000 pekerja yang tersebar di beberapa anak perusahaan nya di berbagai negara.
hari ini sang pewaris tunggal dari pemilik perusahaan bergengsi itu tengah duduk sembari menatap ke ponsel nya dengan wajah tanpa ekspresi. hari ini louis memutuskan datang ke kantor walau sebenar nya hari ini dia di jadwal kan untuk istirahat 1 hari karena baru semalam dia kembali ke bangkok setelah melakukan perjalanan bisnis yang sangat singkat. tapi tipe seperti louis tidak akan patuh walau pun orang tua nya sendiri yang memberi perintah itu. dia tetap datang ke kantor melakukan pekerjaan nya seperti biasa nya.
"luk....." teriak seorang wanita paruh baya yang membuka pintu ruangan tanpa mengetuk terlebih dulu. berjalan dengan senyuman cerah nya menuju ke meja kerja louis "luk....." panggil nya lagi begitu sudah duduk di kursi di depan louis. tidak perduli sang pemilik ruangan memberi nya izin untuk duduk atau tidak (luk= anak-nak)
"huufftttt.... ada apa..!!" louis langsung mendesah sembari menatap ke arah wanita cantik yang belum berusia 50 tahun di hadapan nya ini, yang tidak lain adalah mama nya sendiri.
"mae khitheung na kha.." ucap nya langsung menunjukkan wajah sedih nya, mencoba mencari belas kasihan dari putra tercinta nya (khitheung= rindu)
"aku sedang bekerja mae. apa yang mae inginkan datang kesini." tanya louis yang sama sekali tidak terpengaruh oleh ekspresi menyedihkan yang di buat mama nya "apa pho juga ikut..?"
"pho entah sedang kemana. tadi lelaki tua itu menyuruh mae untuk datang sendiri ke ruangan mu. mae pikir sekarang dia sedang menuju ke ruangan semua staf lama nya.." gerutu ingka cemberut karena di tinggal oleh suami nya sejak mereka baru memasuki gedung
"lalu ada urusan apa mae datang kesini. Aku sedang sibuk. Lebih baik mae cepat pergi cari dimana pho berada, apa mae tidak takut kalau pho saat ini sedang menemui karyawan yang cantik, sexy dan muda..?" ucap louis yang sedang berusaha mengusir mama nya dengan menjadikan papa nya sebagai tumbal keisengan nya.
"ouihhh.... Ada apa dengan mulut jahat mu itu. Bagaimana bisa kamu menjelekkan pho seperti itu di depan mae." gerutu ingka manyun pada putra nya sendiri. sedangkan louis hanya menunjukkan senyum puas nya melihat mama nya kesal.
"cepat katakan. ada urusan apa mae kesini."
"hehee... kamu benar-benar tidak sabaran. mae hanya ingin memberitahu mu kalau nanti malam kamu harus kembali ke rumah karena malam ini pho sudah mengundang teman lama nya untuk berkunjung sekaligus makan malam bersama kelurga kita, jadi kamu harus ada di rumah sejak sore hari, mae tidak mau mendengar alasan apapun. jika kamu masih berani tidak pulang ke rumah. ingat. mae akan melakukan hal yang akan kamu sesali nanti nya." cerocos ingka panjang lebar dan tanpa jeda sedikit pun.
"apa ini perjodohan lagi..?" tebak louis langsung pada inti nya. melihat bagaimana mama nya yang memaksa nya untuk berada di rumah hanya demi salah satu teman papa nya akan berkunjung. tentu saja ini bukan acara pertemuan atau makan malam biasa. louis sudah sangat faham dengan segala jenis alasan dan rencana licik ke-2 orang tua nya
".............." ingka terdiam.
"kapan mae akan berhenti melakukan hal yang sia-sia seperti ini." tanya louis beranjak dari kursi nya, berjalan mendekat ke arah mama nya dan langsung duduk di ujung meja menghadap ke ingka dan langsung meraih ke-2 tangan mama nya untuk dia genggam dengan erat. louis menatap wajah mama nya dengan senyuman manis. senyuman yang menunjukkan kalau dia begitu menyayangi wanita di hadapan nya ini.
"sampai kamu akan setuju untuk segera menikah." jawab ingka pelan dengan nada suara yang lembut
"bukan kah sudah aku bilang berkali-kali. aku akan menikah. tapi dengan pilihan ku sendiri mae, yang mae lakukan ini hanya buang-buang waktu."
"mae tidak perduli ini akan buang-buang waktu atau tidak. selama kamu tidak menunjukkan kalau kamu sudah memiliki pasangan mae akan terus menjodohkan mu dengan siapapun. sebenar nya apa yang kamu lakukan selama ini luk. bagaimana bisa seorang yang setampan dan semanis ini tidak kunjung memiliki pacar. wanita seperti apa yang sedang kamu cari..??" ingka memandang wajah putra nya dengan penuh kebanggaan sekaligus rasa frustasi dengan nasib jomblo yang di pegang putra nya.