The Twin'S Love Story

The Twin'S Love Story
aku bersama mu.






ke esokan pagi nya. nam terbangun lebih lebih pagi dari biasanya. pandangan nya langsung tertuju pada sosok nine yang tertidur di sebelahnya. nam menatap wajah saudara nya dengan memikirkan bayangan akan kejadian semalam. kejadian saat dia hilang kendali dan tidak mengingat saudara nya sendiri. kejadian itu tergambar jelas di ingatan nam. bagaimana dia mengamuk dan menyakiti kakak nya. sampai dimana nine mengembalikan pikiran waras nya kembali.


"maaf phi.." ucap nam pelan sembari mengelus rambut nine dengan rasa bersalah. sudah 6 bulan berlalu sejak penyakit nya tidak lagi kambuh. apalagi sampai hilang kesadaran seperti semalam. selama setahun ini nam selalu menekan dengan sekuat tenaga menahan rasa ketakutan nya akan segala hal. bukan hanya akan kegelapan yang membuatnya paling mudah hilang kendali. tapi juga akan orang-orang di sekitarnya. nam selalu merasa ada hal aneh di dalam dirinya sendiri, yang tidak bisa dia jelaskan pada siapapun. sisi lain dari dirinya yang selalu menyakinkan nya kalau orang-orang di sekitarnya akan menyakitinya kembali. pikiran negatif itu selalu bermunculan di pikiran nya. bahkan yang lebih parah nya terkadang pikiran negatif itulah yang mengambil alih kesadaran nam seutuhnya. seperti yang terjadi semalam.


sejak nam di nyatakan sembuh oleh dokter yang merawat nya sejak kejadian itu. orang tua nam masih dengan rajin mengirim nam untuk menemui psikiater setiap bulan nya. karena panic attack nam masih beberapa kali kambuh walau tidak sesering saat dia masih dalam perawatan. tapi sejak dia pindah ke bangkok. nam tidak lagi mau menemui dokternya. dan orang tua nam menyetujui nya selagi nam masih tetap meminum obat nya secara rutin. tapi sudah hampir sebulan ini nam tidak lagi meminum obat nya, dan itu tanpa sepengetahuan nine.


"kamu sudah bangun.." ucap nine melihat ke arah nam


"hmm.." angguk nam yang langsung beranjak duduk


"phi lapar..." keluh nine menarik kembali selimut untuk menutupi tubuh nya


"aku akan membuat sarapan. phi tidur dulu nanti aku bangunkan saat sarapan nya sudah selesai."


"terima kasih tuaeng.." kata nine yang kembali memejamkan mata nya untuk melanjutkan tidur nya.


nam berjalan meninggalkan kamar nya ke lantai bawah. saat menuruni tangga pandangan nam tertuju pada orang-orang yang tengah tertidur pulas di atas kasur yang di gelar di ruang tengah. posisi tidur ke tiga lelaki itu saling menindih kaki satu sama lain. pemandangan yang sudah biasa di lihat oleh nam hampir setiap pagi nya saat teman-teman saudara nya menginap di rumah mereka.


mata nam melihat ke sisi lain. mencari sosok meen yang tidak di lihat nya. sampai nam melihat pada arah kamar nine yang terbuka dan menemukan sosok meen yang tengah tidur pulas dengan kondisi selimut yang tergeletak di lantai. dengan pelan nam meraih selimut itu dan menutupi tubuh meen agar tidak merasa dingin.


setelah menyelimuti tubuh meen, nam menutup kamar itu dan langsung menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk semua orang. memasak nasi dan mengeluarkan beberapa bahan dari dalam kulkas. ada udang yang akan nam goreng dengan bumbu bawang putih. dan juga beberapa irisan daging yang akan di tumis, serta sup sebagai menu pelengkap nya.


"apa yang akan kamu masak..??" tanya nine yang berjalan menuju dapur dengan kondisi rambut berantakan serta wajah yang masih terlihat sangat mengantuk.


"ada udang dan daging. aku sedang menyiapkan bumbu untuk daging nya." jawab nam pelan


"biar phi bantu.." nine mendekat untuk membantu memasak yang lain selagi nam menyiapkan bumbu dasar nya.  kedua saudara itu saling membantu membuat sarapan dalam keheningan. mereka hanya terfokus pada apa yang sedang mereka kerjakan, walau sesekali saling menoleh untuk melihat satu sama lain. nine menatap ke arah adik nya dengan perasaan iba. apalagi saat melihat kedua mata nam yang membengkak akibat tangis histeris nya semalam.


"nam..." panggil nine dengan pelan


"iya phi.." jawab nam menoleh ke arah nine


"sudah berapa lama kamu tidak meminum obat mu..?" tanya nine yang membuat wajah nam terkejut.


".............."


"phi tidak marah. phi mengerti karena ada kala nya nam tidak mau meminum obat itu lagi. tapi melihat bagaimana nam semalam, phi ingin nam kembali meminum obat itu dengan rutin. phi tidak memaksa nam, tapi phi tidak mau nam hilang kendali seperti itu lagi dan menyakiti tubuh nam sendiri. jika nam memukul phi, phi tidak akan keberatan. tapi phi tidak mau nam melakukan hal-hal yang akan berakibatkan fatal nanti nya." ucap nine dengan begitu pelan. tanpa penekanan agar nam bisa dengan gampang mencerna ke khawatiran nya.


"maaf phi..." ucap nam dengan suara gemetar nya. wajah nam tertunduk, tidak berani menatap ke arah nine


"phi tidak sedang menyalahkan nam. phi hanya ingin nam tahu kalau phi sangat mengkhawatirkan nam." nine meraih pundak nam, menarik tubuh itu untuk di peluk nya.


"jangan beritahu mae phi. aku tidak mau mae kembali mengkhawatirkan ku.." mohon nam terisak di pelukan kakak nya.


"ehm.. phi tidak akan memberitahu mae dan pho. asalkan nam mau ikut dengan phi untuk bertemu dengan dokter kembali.." setuju nine dengan sebuah syarat


"..............."


"hanya bertemu dan mengobrol sebentar. phi jamin tidak akan lama. sembari kita meminta obat untuk kamu minum kembali.." bujuk nine mengelus pundak nam dengan sayang


"aku.... takut phi.." ucap nam dengan ragu-ragu. mendengar nam merasa takut membuat nine semakin mengeratkan pelukan nya


"bukan kah ada phi disni."


"phi akan ikut dengan ku...??" tanya nam melepaskan pelukan nya untuk melihat wajah nine ragu


"tentu saja. phi tidak akan membiarkan nam sendirian menemui dokter. kalau perlu phi akan mengajak anak-anak untuk ikut juga agar lebih ramai.." goda nine membuat nam tersenyum


"ehmm.." angguk nam menyetujui ajakan nine. walau masih terlihat dengan sangat jelas ke khawatiran di wajah itu


"bagus. phi akan meminta meen membuatkan janji untuk kita."


di saat kedua saudara itu tengah berbicara. pria-pria yang berbaring di tengah ruang tamu diam-diam mendengarkan pembicaraan kedua saudara itu dalam diam. win, gun dan bas sudah membuka mata mereka sejak nam turun dan memasuki kamar nine. hanya saja mereka berpura-pura tertidur agar nam tidak merasa kembali takut seperti semalam saat nam melihat mereka dengan linglung.


"phi akan membangunkan mereka dulu.." ucap nine berjalan menuju teman-teman nya "gun bangun.. sarapan dan bereskan semua kasur-kasur ini.." kata nine menyenggol kaki gun dengan kaki nya sebelum berjalan kembali menuju kamar nya sendiri. membuka pintu dan mendapati sosok meen yang sedang duduk memainkan ponsel nya dengan bersandar di kepala tempat tidur. "kamu sudah bangun.. ayo sarapan." ajak nine meninggalkan kamar nya kembali ke arah dapur


"apa yang kamu masak nam.." tanya win berjalan ke meja makan, menarik kursi untuk dirinya duduk


"udang, daging sama sayur phi. dan ada juga telur mata sapi untuk tambahan." jelas nam meletakkan semua hasil masakan nya di tengah meja untuk sarapan semua orang


"ayo kita sarapan phi. aku dan phi nine sudah memasak." nam tersenyum ke arah meen


mereka semua akhir nya duduk berkumpul di meja makan, menikmati sarapan sederhana itu dengan tenang. sesekali berbincang untuk menambah suasana nyaman di ruangan itu. nam yang selalu setia menjadi pendengar setiap kali perdebatan mulai menambah keramaian di sekitar nya, seakan tidak merasa terganggu dengan pertengkaran atau perdebatan di antara kelompok itu.


perasaan nyaman mulai nam dapatkan dengan kelompok kakak nya. tidak ada lagi kecanggungan atau perasaan takut saat berada di dekat mereka. walau ada saat-saat nam sedang ikut berkumpul di wilayah kampus, dan mendapati tatapan dari beberapa pihak yang seakan tidak menyukai nam ikut dalam kelompok nine. tapi meen atau yang lain nya selalu berusaha membuat nam untuk tidak memperdulikan tatapan orang lain atau gunjingan siapapun terhadap nya.


"nong...??" panggil nine yang melihat adik nya tiba-tina melamun dengan tatapan kosong


"hmmm...." sahut nam menoleh ke arah nine


"apa kamu tidak enak badan..?" tanya nine


"tidak phi. aku baik-baik saja."


"jangan melamun.." kata nine mengingatkan adik nya. nam mengangguk mengerti dan melanjutkan menikmati sarapan nya dalam diam "jadi kalian akan ikut dengan ku minggu depan ke phuket.." nine menoleh ke arah teman-teman nya


"tentu saja. kita semua juga butuh liburan." win menjawab


"kami juga sudah menyiapkan kado untuk khun mae." meen manambahkan


"datang saja dan tidur di rumahku, tapi jangan merepotkan orang tuaku. atau kalian akan mati jika membuat keributan." ancam nine yang membuat semua nya senang dan mengangguk mengerti "ngomong-ngomong aku belum membeli apa-apa untuk mae.." keluh nine menghela nafas berat


"aku akan membeli nya untuk phi." jawab nam


"apa yang akan kamu beli...?" tanya nine penasaran


"aku ingin membelikan mae sebuah perhiasan satu set. tapi harga nya terlalu mahal. tabunganku tidak cukup jika aku membeli nya sendiri, jadi aku berencana ingin meminta phi membeli barang itu denganku." ucap nam pelan.


"beli saja seperti yang kamu mau. nanti phi akan mentrasfer uang nya padamu. jika kurang kamu tinggal bilang pada phi." setuju nine yang membuat nam mengangguk mengerti "kapan kamu akan membeli nya."


"minggu besok. jika phi tidak ada acara phi bisa ikut dengan ku untuk membeli nya."


"baik. minggu besok phi akan menemanimu." setuju nine


...........................................


2 hari kemudian...


nam tengah berbaring di kamar nya dengan memainkan ponsel nya. membuka akun IG nya sendiri yang tidak ada postingan foto apapun. nam hanya menggunakan akun itu untuk melihat foto-foto yang di post oleh teman-teman baru nya di fakultas nya dan juga teman-teman nine.


senyum nam terus mengembang saat melihat semua postingan meen dengan kakak sepupu nya. moment kebersamaan yang meen tunjukkan pada semua orang. dan nam tahu betapa meen sangat menyukai kakak sepupunya itu karena meen sendiri sudah menceritakan pada nam bagaimana hubungan kakak beradik itu.







sedangkan postingan lain ada juga bas, gun dan win yang juga mengupload kegiatan kecil mereka.





ting.......


alis nam mengerut saat dia melihat sebuah pesan masuk dari nomor baru. dan nam sudah sangat hafal dengan angka dari nomor asing tersebut.


(jangan lupa dengan janji temu kita siang ini)


sebuah pesan yang di kirim oleh louis. sebenarnya nam tidak melupakan perjanjian yang louis buat sendiri dengan menyuruh mereka bertemu pada hari ini. hanya saja nam tidak begitu tertarik untuk pergi menemui lelaki itu. apalagi hari ini nam juga akan pergi dengan nine untuk membeli kado untuk mama nya.


(kamu memiliki hutang janji yang harus di bayar hari ini. jangan coba-coba untuk mencari alasan untuk menolak janji kita)


pesan baru kembali masuk yang membuat nam langsung menghela nafas berat. "apa orang itu memiliki indra lain. kenapa dia seperti tahu dengan semua yang aku pikirkan" gerutu nam heran dan meletakkan ponsel nya di bawah bantal. seakan tidak perduli dengan pesan masuk atau apapun lagi.