
"phi sudah siap.." tanya nam begitu turun dari lantai atas dan mendapati saudara nya sudah berpakaian dengan rapi
"phi tiba-tiba harus datang ke kampus. senior phi menelfon dan menyuruh phi datang sekarang untuk memantau anak-anak baru berlatih." ucap nine ke arah nam dengan menyesal "tidak apa-apa kan jika kita pergi membeli kado mae nanti sore atau nanti malam."
"emm... tidak apa-apa phi, kita masih memiliki lima hari untuk membeli kado nya." jawab nam pelan
"khopkhun na khrap..." ucap nine berterima kasih dengan memberikan wai ke arah nam "phi akan pergi sekarang, tapi phi meninggalkan mobil jika kamu merasa bosan di rumah dan ingin pergi."
"aku tidak akan kemana-mana. phi jangan mengkhawatirkan ku"
"baik lah. phi pergi.." pamit nine berjalan meninggalkan rumah dengan cepat
rumah itu kembali hening. nam kembali berjalan ke lantai atas dan merebahkan kembali tubuh nya di tempat tidur seperti tadi. menatap seisi kamar nya dalam diam, sebelum merogo ponsel yang di sembunyikan nya di bawah bantal. satu pemberitahuan pesan masuk.
(aku akan menunggu mu di lobby mall siang ini. jika kamu tidak datang aku akan langsung menuju ke rumah mu sore ini juga)
"huffttt.... selalu saja mengancam" gerutu nam mematikan lagi layar ponsel nya dan memejamkan mata nya
1 jam kemudian nam kembali meraih ponsel nya untuk melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 1 siang. nam masih tidak mau beranjak dari tempat tidur nya. dia berencana akan seharian bermalas-malasan sampai nine pulang ke rumah. tapi perasaan tidak enak di hati nya semakin menjadi setiap kali dia melirik ke arah ponsel nya. mengingat semua pesan-pesan yang louis kirim kepada nya hari ini.
"apa aku harus menemui nya..! aku sudah mengambil baju yang sudah dia bayar, jika aku menemuinya dan mentraktir nya makan apa dia akan menganggap lunas." pikir nam bingung "jika aku tidak pergi bagaimana jika nanti sore dia benar-benar datang kesini dan bertemu dengan nine." pikir nam yang sama sekali tidak mau nine bertemu dengan pria itu. walau pada kenyataan nya louis memang mengganggu nya, tapi nam tidak mau jika nine melakukan hal yang tidak-tidak pada louis. karena sejauh ini louis tidak pernah melakukan hal yang membuatnya takut "sebaik nya aku pergi.."
akhir nya nam bergegas bersiap-siap dan meninggalkan rumah dengan berjalan kaki meninggalkan komplek dan menaiki angkutan umum yang akan membawa nya langsung ke mall yang sudah di beritahu oleh louis sendiri. butuh waktu sekitar 1 jam lebih untuk nam bisa sampai di tempat itu, sebenarnya jika nam menggunakan mobil dari rumah nya, jarak tempuh nya hanya memakan waktu sekitar 25 menit. tapi karena nam memilih menggunakan angkutan umum maka memakan waktu lebih lama.
hari sudah menunjukkan pukul 2 siang lebih. dan keadaan lobby mall saat ini lumayan padat dengan pengunjung yang baru datang maupun yang akan pergi. nam berdiri di pinggir pintu masuk dengan bingung. dia melihat sekeliling mencari sosok pria yang entah masih ada disini atau sudah pergi. karena waktu janjian mereka sendiri sudah lewat 2 jam.
"apa kamu mencariku...??" bisik louis di belakang telinga nam. nam sontak langsung memutar badan nya dengan cepat dan mendapati sosok louis dengan pakaian kasual nya
"phi masih disini." ucap nam pelan
"tentu saja. bukan kah phi sudah memberitahu mu kalau phi akan menunggu sampai kamu datang. tapi jika kamu tidak menepati janji hari ini, phi akan langsung menuju ke rumah mu." ucap louis dengan senyuman cerah di wajah nya "tapi sayang nya kamu datang kesini. padahal aku sedikit berharap kamu tidak datang, supaya aku punya kesempatan untuk mengunjungimu di rumah.."
"aku sudah beberapa kali bilang kalau phi tidak boleh datang ke rumah ku.." protes nam dengan kening berkerut. tapi tidak ada sedikitpun perasaan kesal di batin nya dengan bercandaan louis
"phi ruu." jawab louis dengan nada suara yang sangat lembut (ruu= tahu)
".............."
"jadi mau kemana dulu kita sekarang..?" tanya louis menatap nam
"aku ingin membayar baju yang sudah phi berikan padaku." kata nam berterus terang
"nanti saja kamu bayar nya. sebaik nya kita cari makan dulu. sekarang phi sangat lapar, phi belum makan apapun sejak pagi ini." ucap louis membuat nam kembali mengerutkan kening nya terkejut "phi tidak sabar ingin bertemu dengan mu sejak pagi. jadi phi berencana akan makan saat bertemu dengan mu saja." kata louis dengan jujur
"jika aku tidak datang.." ucap nam dengan spontan
"aku yang akan datang ke rumah mu untuk makan bersama." celetuk louis
"phi tinggal pilih dimana phi ingin makan. aku yang akan membayar nya, bukan kah ini yang phi inginkan"
"phi bebas memilih dimana pun restoran nya..?" tanya louis memastikan ucapan nam
"ayo kita pergi ke restoran pilihan phi." ajak louis membimbing nam menuju ke area parkiran vip mall. begitu sampai di depan sebuah mobil mewah nam langsung menghentikan langkah nya dengan bingung "ada apa nong..?" tanya louis menoleh ke arah nam dan berjalan kembali mendekati nam
"kita akan kemana..??" tanya nam pelan
"bukan kah kita akan pergi makan."
"bukan kah kita akan memilih restoran yang ada di dalam mall..?" tebak nam gugup
"tidak. tadi kamu sendiri yang membebaskan phi untuk memilih restoran dimana pun. jadi phi memutuskan kita akan makan siang di restoran favorit phi" louis berjalan kembali ke arah mobil nya untuk membukakan pintu penumpang untuk nam duduk
sementara nam mematung di tempat nya seketika. perasaan ragu dan takut mulai dia rasakan saat melihat sosok louis tengah berdiri di samping mobil nya. menunggu dirinya datang dan masuk ke dalam mobil mewah itu. sosok nine kini terlintas di benak nam. dia takut untuk ikut dengan orang asing, tapi dia tidak tahu bagaimana caranya untuk menolak ajakan louis untuk satu mobil dengan nya. tubuh nam tiba-tiba menjadi kaku. kaki nya begitu berat untuk melangkah agar dia bisa memutar kembalikan tubuh nya dan kembali ke dalam mall.
"nong..." panggil louis dengan suara pelan
".................."
"nam.... kamu baik-baik saja...?" panggil louis yang sudah berada di depan nam, menyentuh pundak nya untuk menyadarkan nam yang tiba-tiba mematung "apa kamu sakit..?"
"hmmm...." sahut nam setelah kesadaran nya kembali. setelah beberapa detik barusan pikiran nya sempat kosong
"phi tanya apa kamu baik-baik saja..? wajah mu tiba-tiba pucat." tanya louis dengan khawatir
"tidak bisakah kita makan di mall ini saja phi.." pinta nam memohon dengan suara bergetar. Wajah nya menunjukkan kalau dia ketakutan
"phi tidak akan membawa mu kemana-mana nam. hanya ke restoran yang tidak jauh dari sini. jadi jangan takut." louis meyakinkan nam akan tujuan nya membawa nam bersama nya "phi tidak akan pernah berbuat hal yang akan membuat mu takut. phi berjanji dan berani bersumpah." tekan louis lagi yang membuat raut wajah nam sedikit menjadi lebih tenang
"phi bisa bersumpah..??" tanya nam menatap louis
"phi berani bersumpah." louis mengangkat tangan nya untuk bersumpah. dan setelah sumpah yang louis janjikan nam langsung mengangguk dan berjalan menuju ke arah mobil.
louis mengendarai mobil nya dengan pelan. walau sesekali pandangan nya tertuju ke sosok gadis yang tengah duduk dengan tenang di samping nya. nam terus melihat ke arah jalanan. melihat tempat-tempat yang di lewati mobil yang di tumpanginya. sedikit kewaspadaan seandai nya louis mengingkari janji nya, jadi nam tahu saat dia akan menelfon nine dan memberitahukan tempat-tempat yang sudah di lewati nya
15 menit kemudian mobil itu memasuki sebuah kawasan sebuah hotel mewah dengan bintang 5 yang mereka miliki. tubuh nam kembali tegang saat louis menghentikan mobil nya di depan lobby dan membukakan pintu untuk nya segera turun.
"ayo turun.." ajak louis.
nam terdiam sesaat. pikiran nya kembali berkecamuk dengan segala hal. nam keluar dari dalam mobil dengan setengah kesadaran nya, menatap ke gedung tinggi dan mewah itu dengan penuh ketakutan. nam mengikuti sosok tinggi itu menuju ke lobby hotel. dimana petugas yang berjaga langsung menyambut pria itu dengan begitu sopan. mereka berbincang sesaat, tapi pandangan louis terus tertuju ke arah nam yang kini mematung di tempat nya.
"nam... kamu baik-baik saja..?" tanya louis mengerutkan kembali kening nya begitu mendapati sosok kecil di depan nya kembali pucat seperti sebelum nya. tapi kali ini seluruh tubuh nam gemetar. keringat dingin mulai bercucuran di wajah nya. "nam...??" panggil louis menyentuh pundak nam untuk menyadarkan sosok kecil itu
"a..ku... mau.. pu...lang....." mohon nam dengan air mata mengalir di wajah nya.
"..........." louis seketika terkejut begitu air mata mengalir dengan deras di wajah nam. tubuh itu bergetar dan wajah nya memutih. seakan sangat ketakutan akan sesuatu yang louis tidak tahu apa penyebab perubahan drastis itu terjadi pada sosok nam. "nam.. phi tidak akan membawamu kemana-mana. kita disini hanya akan makan di restoran yang ada di hotel ini. hanya itu saja.." jelas louis yang seakan mengerti apa ketakutan utama nam saat dirinya membawa gadis itu ke sebuah hotel mewah
"hiks...hiksss......." nam menutupi wajah nya dengan kedua tangan nya. isakan tangis nya semakin menjadi-jadi
"nam. bukan kah phi sudah berjanji padamu tadi, phi tidak akan berbuat jahat apapun padamu." louis membujuk nam "jangan takut. Tidak ada yang akan menyakiti mu." louis tidak menyangka jika nam akan setakut ini hanya dengan dia membawa nya ke hotel. walau tujuan nya kesini untuk makan, siapa yang akan tahu kalau pikiran gadis ini akan bertolak belakang dengan niatan nya.
Di saat louis tengah berusaha untuk membujuk dan menenangkan nam. Ada orang lain yang tengah memperhatikan mereka berdua sejak louis dan nam pertama kali memasuki area hotel. Orang itu berjalan mendekati mereka dengan penasaran senang.
"luk.....!!" panggil ingka dengan senyuman cerah di wajah nya
"mae......" louis langsung mengerutkan kening nya pada sosok yang tidak dia harapkan pertemuan nya hari ini.