
"kamu mau kemana...?" teriak jane meraih lengan nine saat nine hendak bergegas pergi meninggalkan tempat itu
"aku harus pergi." jawab nine melepaskan tangan jane dari lengan nya dan langsung berlari meninggalkan ruangan itu dalam sekejap, tanpa menoleh lagi ke arah sosok model itu yang terus memandangnya, meninggalkan jane yang mematung ditempat nya dengan kekecewaan di raut wajah nya.
saat ini nine langsung mengemudikan mobil nya dengan kecepatan di atas rata-rata. membunyikan klakson ke setiap kendaraan yang menghalangi jalan nya. tidak perduli jika dia menyenggol kendaraan lain, atau yang lebih serius nya akan di ikuti oleh mobil patroli polisi setempat. karena saat ini pikiran waras nine sudah tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.
20 menit waktu yang nine butuhkan untuk bisa sampai ke daerah perumahan nya. tepat saat nine hendak menuju ke rumah nya, nine melihat 2 mobil yang tengah terparkir dengan sembarangan di tengah jalan masuk ke rumah nya. dan itu mobil milik pakin dan gun. nine keluar dari mobil nya, berlari menuju ke halaman rumah yang sudah dalam kondisi gelap gulita. tidak ada satu pun cahaya dari rumah nya.
"kamu sudah sampai..?" ucap win berpapasan dengan nine saat hendak keluar dari dalam rumah
"nam. bagaimana dengan nam..?" tanya nine dengan khawatir
"meen dan phi pakin sedang berusaha mencari nya di dalam. aku dan gun sedang mencari dimana seklar lampu rumah ini."
"ada di samping rumah. tolong segera nyalakan lampu nya win." nine langsung berlari ke dalam rumah nya yang begitu gelap. menyalakan senter dari ponsel nya untuk membantu nya mencari jalan menuju ke lantai 2. "nam.. nam kamu dimana nong..??" panggil nine yang memasuki kamar nam. mencari sosok adik nya ke setiap sudut ruangan itu. tidak ada, nam tidak ada di kamar nya. maka nine langsung menyusuri ke seluruh ruangan di lantai 2. setiap sudut rumah itu nine susuri tanpa mau melewatkan satu pun tempat.
"NINEEEEEEEEEE....." teriak meen dari lantai bawah dengan sangat kencang. tepat saat meen berteriak lampu rumah itu kembali menyala dengan terang seperti semula
nine berlari kembali ke lantai bawah. dimana sudah ada gun dan win yang juga baru saja bergegas masuk ke dalam rumah karena teriakan meen. "dimana..?" tanya nine saat melihat sosok meen yang berdua dengan pakin di area dapur
"di bawah meja.." ucap meen dengan pelan. menunjuk ke arah meja makan.
nine mengerutkan kening nya ke arah yang di tunjuk meen. berjalan perlahan mendekat ke arah meja panjang itu, menunduk dan mendapati sosok adik kecil nya tengah meringkuk dengan tubuh gemetar di bawah meja ini. seolah-olah nam sedang bersembunyi dari ketakutannya. nam memeluk lutut nya rapat-rapat, menyembunyikan wajah nya ke sela-sela ke dua lutut nya.
"nam... nam.." panggil nine berjalan ke arah sisi lain dimana nine bisa meraih tubuh adik nya
"AAAAAAAaaaaaaaahhhhh........" teriak nam langsung histeris saat nine menyentuh tubuh nam pelan. semua orang yang ada di ruangan itu langsung terkejut dengan suara teriakan tiba-tiba nam "aaahhhhh....aaahhhhhhh" histeris nam dengan ketakutan saat nine berusaha mendekatinya
"tenang.... tenang nam.. ini phi... ini aku phi nine..." bujuk nine berusaha memegang tubuh nam yang terus meronta. menolak untuk di sentuh oleh siapapun.
"aaaaahhhhh.... aaaahhhhhhh........" histeris nam semakin menjadi-jadi. nam seakan tidak sadar dan tidak ingat lagi jika orang yang tengah berusaha untuk menenangkan nya itu saudara kembar nya. saat ini pikiran nam sudah tertutup oleh ingatan akan masa lalu kelam nya kembali. dimana nam hanya ingin berusaha untuk mempertahankan dirinya dari sosok orang yang berusaha berbuat jahat pada tubuh nya "aaaahhhh..." histeris nam memukul nine dengan sekuat tenaga. berusaha melepaskan dirinya dari pelukan sosok jahat yang akan kembali menyakiti nya.
"nam... ini phi... nam..." teriak nine masih berusaha menenangkan tubuh itu. memeluk tubuh nam dan membawa nya ke dalam pelukan nya dengan erat. semakin nine menahan tubuh nam di dalam pelukan nya, semakin jadi berontakan nam dengan tubuh gemetar nya.
disaat nine tengah berusaha untuk membuat nam tenang dalam pelukan nya. ke empat sosok teman nine tengah berdiri dengan mematung menyaksikan bagaimana sosok nam yang kembali mengalami histeris akan trauma berat di dalam hidup nya. melihat dengan mata kepala mereka sendiri, dimana sosok teman brengsek mereka kini tengah berusaha membuat adik tercinta nya sembuh dari tantrum dan ketakutan nya. nine tidak bisa menahan air mata nya saat dia terus mendekap sosok nam di dalam pelukan nya. mencegah nam menyakiti tubuh nya sendiri atau tubuh nine sendiri
"tidak akan ada yang menyakitimu disini nam. ini phi. phi tidak akan menyakiti mu nam.." ucap nine begitu tubuh nam mulai tenang di pelukannya. "phi sangat menyayangimu nam.." ungkap nine mengelus punggung nam dengan sayang
"hhuuuu.... hhuuuu...." isak nam masih terus menggigil
"phi minta maaf.. maaf karena meninggalkan mu sendirian di rumah." sesal nine
"p..ph..iii..phi.. ni..nee...." panggil nam dengan terbata-bata
"ehm.. ini phi nine. ini phi nam. phi yang memeluk mu" ucap nine dengan senyum menatap mata adik nya. sedangkan nam juga menatap sosok yang tengah memeluk nya dengan begitu erat
"huuuu... hhuuuu...hikkss... phi nine.. hhuuuuu... hikss...hikss..." tangis nam kembali histeris memeluk sosok kakak nya dengan penuh ketakutan. menumpahkan perasaan takut nya yang beberapa saat lalu tengah menyerang kembali perasaan nya.
"tidak apa-apa.. phi disini... phi selalu menjaga nam, jadi jangan takut akan apapun." ucap nine berusaha menenangkan nam kembali.
"huhuuuu... huuuu.... aa..ku... ta..kuutt.. phiii... huuuu...uuuu..." tangis nam memeluk nine dengan begitu erat.
"hhuuuu... uhuuuuu......"
sekitar 30 menit yang nine butuhkan untuk kembali membuat adik nya kembali merasa tenang. dan saat nam sudah mulai kembali merasa nyaman dengan diri nya, nine langsung menggendong tubuh nam di dalam pelukan nya. membawa nam untuk beristirahat di kamar nya.
"nam...!" panggil meen dengan suara yang pelan saat nine hendak berjalan menuju ke lantai 2. nam menoleh ke arah yang memanggilnya dengan ekspresi linglung. mata nam melihat ke semua orang yang tengah berdiri menatap ke arah nya. melihat suasana yang seperti ini kembali membuat tubuh nam menggigil seperti semula. tangan nam reflek langsung memeluk leher nine dengan lebih erat lagi, menyembunyikan wajah nya di dada bidang nine dengan ketakutan.
"jangan dulu meen.." halang pakin menarik tubuh meen yang hendak ingin menghampiri nam untuk memeriksa kondisinya "bawa ke atas. dan berikan obat penenangnya nine.." ucap pakin yang terlihat mengerti dengan kondisi nam
"baik phi.." jawab nine kembali berjalan menuju ke lantai 2.
"apa itu tidak apa-apa phi..??" tanya meen menatap ke arah pakin dengan sangat ingin tahu
"tentu saja tidak baik-baik saja. nine harus segera membawa adik nya kembali melakukan pemeriksaan." jawab pakin dengan menghela nafas berat
semua orang terdiam di tempat mereka masing-masing. seakan-akan mereka juga merasakan perasaan sakit seperti yang sedang nine alami saat ini melihat adik nya seperti itu. pakin mendekat ke arah meen dan merangkul pundak adik nya saat menyadari meen tengah menangis. menumpahkan rasa iba yang sudah di tahan nya sejak menyaksikan insiden nam mengamuk kepada kaka nya. tidak hanya meen yang menangis, win dan gun juga menyembunyikan mata mereka yang berkaca-kaca..
di lantai 2. nine sudah membawa tubuh nam berbaring di tempat tidur nya. memegang tangan adik nya dengan erat seolah-olah nine tidak akan pergi kemana-mana "apa kamu masih merasa takut..?" tanya nine menatap wajah nam
"ehmm..." angguk nam dengan jujur
"tidak apa-apa. phi disini bersama nam. malam ini phi akan menemanimu disini." ucap nine yang langsung mengambil posisi untuk tidur di sebelah nam. menarik tubuh nam ke dalam pelukan nya
".............." nam meringkuk saat nine memeluk tubuh nya dengan erat. menutupi tubuh mereka berdua dengan selimut tebal "nam.. khothod phi.." ucap nam dengan suara serak nya
"maaf kenapa. nam tidak melakukan salah apapun." jawab nine mengelus rambut nam dengan sayang
"............"
"ayo tidur..." ajak nine membuat nam memejamkan kedua mata nya
di bawah. masih ada win, gun dan bas. sedangkan meen berada di luar rumah dengan pakin. membawa pakin kembali ke mobil nya karena harus segera kembali ke rumah sakit. "segera diskusikan dengan nine untuk pengobatan adik nya. phi akan membuatkan janji untuk nya." ucap pakin menatap wajah meen yang masih merah karena tangis nya barusan
"aku akan bicara dengan nine.." jawab meen pelan dengan lemas
"kenapa kamu begitu sangat sedih..?" pakin berjalan lebih dekat ke arah meen. Mengelus rambut adik nya dengan sayang "kamu tidak biasa nya menangis seperti ini." tambah pakin menyentuh wajah meen dengan kedua tangan nya. Memperhatikan kedua mata meen yang membengkak
"hanya 2 bulan aku mengenal nam. aku sudah menganggap nam seperti adik ku sendiri walau kenyataan nya kita seumuran. saat melihat nya seperti itu membuat hatiku sakit.." ucap meen ke arah pakin "hampir setiap hari aku selalu bersama dengan nam. aku seperti memiliki adik lain yang bisa aku ajak mengobrol dan melakukan hal-hal yang aku suka dengan nya. melihat nam setiap hari nya selalu ceria, tapi di dalam hati nya dia menyembunyikan semua rasa frustasi dan takut nya sendiri..."
"jangan sedih. bawa nam untuk terapi. dengan begitu kamu membantunya untuk sembuh." kata pakin pelan
"emm.." angguk meen mengerti "apa phi akan langsung ke rumah sakit..?" tanya meen bergerak memeluk pakin, menempelkan wajah nya di dada pakin dengan nyaman
"phi akan pulang ke rumah dulu." ucap pakin memeluk kembali tubuh nam
"aku merindukan mu phi...." ungkap meen menghirup aroma tubuh pakin. menunjukkan perasaan nya dengan terang-terangan. "maaf karena aku mengacaukan kencan kita." ucap meen mengangkat wajah nya untuk menatap wajah lelaki yang begitu di cintai nya dengan penyesalan.
sudah lebih dari 2 minggu sejak terakhir mereka bertemu. karena pekerjaan pakin yang terlalu sibuk, membuat meen tidak bisa menemui pakin baik di rumah maupun di rumah sakit. ada kala nya meen sengaja menginap di apartemen pakin agar bisa bertemu walau hanya sebentar. tapi tetap saja waktu tidak membiarkan mereka bertemu. dan hari ini pakin ada waktu sebentar untuk di habiskan dengan meen selama beberapa jam. tapi karena kejadian ini meen harus meminta maaf pada pakin karena dia harus tetap tinggal di rumah nine bersama dengan teman-teman nya.
"tidak apa-apa. phi akan meluangkan waktu untuk kita minggu depan." janji pakin dengan mengerti "masuk ke dalam, phi akan pergi." pakin melepaskan pelukan nya. membiarkan meen untuk kembali ke dalam rumah lebih dulu, dan baru dia meninggalkan tempat itu.
*********************************************************************