The Twin'S Love Story

The Twin'S Love Story
pertemuan yang di rencanakan.





"jadi kamu akan menemui nya kembali..?" tanya meen setelah nine menceritakan kalau jane menghubungi nya sejak kemarin dia memberikan nomor ponsel nya. Dan pada malam hari nya jane langsung menelfon nine untuk mengajak nya kembali bertemu. nine yang melihat kalau ini adalah peluang bagus untuk kembali bisa bermain-main dengan sosok super model itu, langsung dengan senang hati menerima ajakan pertemuan itu kembali.


"bukan kah ini jackpot untuk ku." jawab nine dengan bangga


"apa kamu bisa membawaku juga..?" pinta bas yang merasa iri dengan keberuntungan ke-2 nine


"apa kamu ingin menonton nine melakukan pertunjukan." oceh meen melirik bas dengan menggelengkan kepala nya


"jadi jam berapa kamu akan menemui phi jane..?" tanya gun


"nanti sore. sebenar nya phi jane mengajak bertemu kembali di bar. tapi aku menyarankan agar aku yang akan datang ke tempat nya. jadi dia mengirimiku alamat apartemen mewah nya." jelas nine


"kamu akan menginap." tanya meen yang mengkhawatirkan nam jika nine tidak akan pulang


"aku akan kembali sebelum tengah malam. aku sudah berbicara dengan nam tadi pagi dan nam tidak keberatan selagi aku tetap kembali pada waktu nya."


"apa kamu membutuhkan ku untuk menemani nam sampai kamu kembali." usul meen dengan senang hati


"tidak perlu. bukan kan kamu ada janji dengan phi pakin." ucap nine karena malam sore ini meen juga ada janji akan pergi dengan kakak sepupu nya


"aku bisa mengganti ke hari lain. phi kin tidak akan keberatan.."


"tidak perlu. pergilah berkencan. nam akan baik-baik saja selama beberapa jam. lagi pula aku tidak akan lama." tekan nine yang membuat semua teman-teman nya mengerti.


sore hari nya saat nine sudah menyelesaikan kuliah nya dan juga sudah mengantar nam kembali ke rumah, nine langsung pergi menuju ke alamat yang jane berikan. di sepanjang jalan mengemudi menuju tempat itu ekspresi wajah nine terlihat begitu tenang. mengingat kembali obrolan nya malam kemarin. dimana nine menyinggung jika jane menghubungi nya secepat itu karena ingin membahas ganti rugi yang sudah nine janjikan saat mereka bertemu pada sore kemarin.


tidak banyak obrolan yang mereka bicarakan. karena jane langsung berterus terang ingin nine menemui nya kembali untuk membahas soal biaya ganti rugi yang sudah nine janjiikan.


sekitar 30 menit kemudian nine tiba di sebuah gedung apartemen mewah. yang terletak di jantung ibu kota bangkok. nine langsung menuju ke resepsionis dimana jane sudah menitipkan sebuah kartu akses agar nine dengan mudah naik ke lantai apartemen nya.


ting...ting....ting....


nine berdiri di depan pintu apartemen itu dan menekan bel. sampai tidak menunggu lama sang pemilik tempat itu membuka pintu nya dan keluar dengan penampilan cantik nya seperti biasa. "bukankah kamu bisa langsung masuk ke dalam tanpa harus menekan bel." ucap jane menatap sosok lelaki gagah di hadapan nya yang masih mengenakan putih hitam seragam universitas nya.


"ooww.. itu tidak sopan untuk seorang mahasiswa sepertiku untuk langsung masuk ke dalam rumah orang lain tanpa seizin pemilik nya." jawab nine dengan senyum mengembang di wajah nya


"bicara mu seakan-akan kamu benar-benar seorang pelajar." sindir jane yang mempersilahkan nine untuk masuk ke dalam rumah nya.


di dalam nine langsung di bawa jane ke ruang tamu. mempersilahkan nine untuk duduk dengan nyaman selagi jane sendiri pergi ke arah dapur untuk mengambilkan minuman untuk nine. di saat jane tidak terlihat, nine langsung beranjak dari duduk nya dan berjalan menuju dinding kaca tempat itu yang langsung memperlihatkan suasana kota bangkok. dimana nine mengingat kembali ucapan jane waktu itu kalau apartemen nya juga memiliki pemandangan yang sangat bagus saat malam hari.


"bukan kah aku tidak bohong tentang pemandangan nya." ucap jane yang kembali dengan membawa segelas jus untuk nine yang di letakkan di atas meja


"tentu saja pemandangan nya sangat bagus, letak dan harga tempat ini sendiri sudah sangat mahal." jawab nine menghampiri jane. mengambil posisi duduk berhadapan. "apa phi tinggal disini..?" tanya nine melirik sekitar. memperhatikan keseluruhan isi dari tempat jane


"tidak. aku tinggal di rumah yang satu lagi dengan adik ku. tempat ini aku gunakan jika aku ingin menyendiri." jawab jane menatap nine


"jadi. saat ini phi sedang ingin menyendiri.? apa aku sedang mengganggu waktu istirahat mu..?" nine membalas tatapan tajam jane


"............"


"aku tidak akan lama disini phi. jadi mari kita hentikan obrolan tidak berguna ini, dan langsung pada inti nya saja. apa yang ingin phi tanyakan padaku..?" tegas nine pada tujuan utama nya datang kesini.


"aku tidak ingin bertanya apa-apa. aku hanya ingin melihat kembali wajah lelaki yang sudah meninggalkan ku begitu saja, setelah apa sudah dia lakukan pada tubuhku." ucap jane pelan.


"heheeee...." nine tertawa kecil mendengar keluhan jane tentang kejadian panas malam itu "phi sangat salah jika ingin mengeluh atau menyalahkan ku untuk apa yang kita lakukan berdua." ucap nine beranjak dari duduk nya dan beralih untuk duduk di samping jane. menyandarkan punggung nya ke sandaran sofa dengan nyaman, dengan satu tangan yang langsung meraih pinggang jane, menarik tubuh kurus itu agar lebih dekat dengan nya "karena seingatku. phi lah yang lebih dulu memintaku untuk melakukan semua adegan hebat itu." bisik nine tepat di telinga jane. membuat seluruh bulu kuduk jane seketika merinding


"..........."


jane tidak bisa berkata apa-apa lagi. karena ucapan pemuda ini benar ada nya. semua kejadian malam itu berawal dari ajakan jane yang lebih dulu memintanya. tanpa paksaan. dan jane tahu itu. saat ini jane hanya ingin meluruskan kegundahan di hati nya. perasaan kecewa dan sakit karena merasa di telantarkan begitu saja setelah semua yang mereka lakukan pada 1 malam itu.


"jangan memeluk ku seperti ini." protes jane berusaha melepaskan ke-2 tangan nine


"kenapa aku tidak boleh memeluk mu phi. bukan kah phi menyukai saat aku memperlakukan mu seperti ini.." jawab nine pada fakta yang membuat jane kembali terdiam. jane tertegun. dia tidak menyangka jika mabuk nya akan mengungkapkan segala keserakahan nya. dan yang semakin membuat jane tidak percaya. perlakuan nine hampir semua nya hal yang jane sukai. dan nine mengingat akan hal itu


"nong..." protes jane masih berusaha melepaskan diri nya dari pelukan nine


"apa phi tidak merindukan sentuhanku..?" tanya nine melepaskan pelukan nya. membiarkan jane sedikit menjauh dari jangkauan nya


"jangan berbicara omong kosong. kenapa aku harus merindukan mu." jawab jane dengan salah tingkah


"aahhh.... seperti nya hanya aku saja disini yang begitu merindukan aroma tubuh mu phi." akui nine dengan membuat wajah kecewa nya "apa phi benar-benar tidak merindukan ku..?" tanya nine lagi. kali ini nine dengan percaya diri kembali mendekati tubuh jane. membuat sosok itu tersudut pada ujung sofa, yang tidak memungkinkan untuk jane kabur kemana-mana lagi. nine meraih satu tangan jane, sedangkan satu tangan nya lagi mengelus wajah cantik jane sampai pipi putih itu berubah kemerahan. "bukan kah phi menyuruh ku datang kesini karena phi sangat merindukan ku..."


"............" jane benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa lagi. dia di buat tidak berkutik oleh lelaki yang hanya di temui nya dalam waktu satu malam itu. pertemuan singkat, tapi begitu melekat di hati dan ingatan jane. Jane sendiri tidak mengerti kenapa dirinya begitu terobsesi dengan kencan satu malam itu. Mereka tidak terlalu banyak berbicara. tapi yang membuat jane sangat berkesan adalah bagaimana lelaki ini membuat nya begitu sangat menikmati dan menyukai semua setiap tindakan yang nine lakukan. Jane mulai terobsesi oleh perlakuan manis nine di ingatan mabuk nya.


"apa aku boleh melakukan hal itu kembali phi..?" bisik nine meminta izin dengan suara lembut. Mata nine tidak lepas dari memandang wajah cantik jane. mengagumi wajah cantik itu. Terlepas dari fakta kalau nine mendekati jane hanya untuk bahan taruhan saja. Nine tetap di buat kagum oleh sosok cantik ini.


".........."


melihat jane yang hanya diam. Nine menganggap jika itu adalah sinyal kalau jane mempersilahkan dirinya melakukan apapun yang nine inginkan. Maka tanpa membuang waktu lagi nine langsung mendekatkan wajah nya ke wajah jane. Menempelkan bibir nya pada bibir pink jane perlahan-lahan.


Sedangkan jane. Dia langsung memejamkan matanya saat lelaki muda ini mulai menciumi bibir nya dengan perlahan. Begitu lembut sampai-sampai jane tidak lagi memikirkan apapun. Pikiran yang sebelum nya terus berkecamuk di dalam hati nya kini hilang begitu saja. Menunjukkan jika ini lah yang jane inginkan selama beberapa minggu ini gelisah.


dua tubuh itu kini makin erat. Nine meraih tubuh jane untuk di tempatkan di pangkuan nya. Dimana ciuman intens itu terus terjalin tanpa berhenti sedikitpun.


"ehmm...." desah jane melingkarkan keduan tangan nya pada leher nine. Memeluk nine untuk semakin mempererat pelukan nya.


Drrtttt.....ddrrrttttt.....


"hmmm... Phi..." keluh nine berusaha menghentikan ciuman jane karena ponsel nya yang tiba-tiba berdering. Tapi sayang nya jane tidak membiarkan nine untuk menghentikan aktivitas mereka yang baru saja mulai memanas. "sebentar phi.. Aku harus melihat panggilan ini dulu.." nine menjauhkan wajah nya dari leher jane. Sehingga jane langsung memasang wajah cemberut nya tidak senang


"abaikan saja panggilan nya.." protes jane yang kembali mulai menciumi area leher nine dengan penuh nafsu


"sebentar phi..." nine merogo kantong celana nya. Membiarkan jane terus melakukan apa yang ingin dia lakukan. Begitu ponsel di tangan, nine langsung melihat kalau itu panggilan dari nam.


"ada apa tuaeng..!" jawab nine dengan suara lembut nya. Yang sontak ucapan nine barusan membuat jane diam seketika. kata-kata sayang yang nine ucapkan pada sang penelfon memancing rasa penasaran jane. Membuat jane menghentikan aktivitas nya dalam sekejap demi melihat wajah nine.


[*huhuuuuuuu....p..phiiii*i...n..i..neeee...huhuuuuuuu...] tangis nam terdengar begitu ketakutan di telingan nine


"nam.. Ada apa..? Kamu kenapa..?" teriak nine dengan sangat khawatir begitu mendengar suara tangis gemetar adik tercinta nya


[huhhuuuuuu.... huuuuuu]


"nam... nam kamu kenapa..??" teriak nine dengan sangat khawatir


[hhuuuhhuuu....hhuuuu..... *A..aa..ku..uu ta..k..uuu...ttt phiiiii... Hhuuuuu*uuu...] rengek nam


nine langsung menggendong tubuh jane dan menduduk kan tubuh model itu di sofa seperti semula. beranjak dari duduk nya, dimana nine yang semakin panik saat adik nya mengeluh ketakutan. "nam.... Nam...?? Naamm..??" panggil nine saat panggilan nya yang tiba-tiba mati seketika


"apa ada masalah..?" tanya jane begitu melihat ekspresi wajah khawatir dan ketakutan pada sosok nine


"................"


Nine tidak menanggapi pertanyaan jane. Melainkan nine terus sibuk untuk menelfon kembali nomor nam yang sudah tidak aktif. "saaatttttt....." teriak nine dengan frustasi. Tidak kehabisan akal nine langsung menghubungi teman-teman nya satu persatu


"meen. Tolong datang ke rumah sekarang juga, nam menelfonku sambil menangis ketakutan. aku takut dia kenapa-napa. hubungi yang lain juga untuk segera datang ke rumah, tapi jangan ada satupun yang mendekati nam lebih dulu jika kondisi nya tidak baik-baik saja." pinta nine dengan tangan yang mulai gemetar


[*oke. kebetulan aku tidak jauh dar*i daerah rumah mu.] jawab meen dengan mengerti


"aku mohon tolong cepat meen." mohon nine dengan sangat frustasi


sedangkan jane, model itu hanya duduk di sofa sembari melihat pemandangan di depan nya dengan rasa penasaran. nine sama sekali tidak menjelaskan atau memberitahunya apapun. karena saat ini sosok nya tengah terlihat begitu frustasi mondar-mandir dengan terus menatap pada layar ponsel nya.