The Twin'S Love Story

The Twin'S Love Story
perjanjian







"nine....nine... bangun." jane menepuk lengan nine pelan. membangunkan lelaki yang sudah tertidur dengan sangat nyenyak sejak beberapa jam yang lalu. sudah sekitar setengah jam lebih sejak jane menghentikan mobil nya di depan penginapan, dia sengaja tidak membangunkan nine karena nine terlihat sangat lelap dengan tidur nya. jadi sembari menunggu waktu untuk membangunkan nya, jane hanya berdiam diri dengan memandangi wajah polos nine saat tertidur.


"mmhh... " desah nine membuka mata nya dengan malas. kelopak mata nya dia paksakan untuk terbuka untuk melihat sosok yang membangunkan nya "apa sudah sampai. ugh... perut ku lapar sekali, seharus nya phi memberiku makan dulu sebelum menculik ku seperti ini." gerutu nine menatap jane dengan memamerkan senyum nya menggoda nya


"keluar sekarang. kamu terlalu nyaman tidur selama berjam-jam.." celetuk jane sinis keluar dari dalam mobil, di susul oleh nine yang juga langsung keluar.


"sudah malam. berapa lama aku tertidur..??" tanya nine melihat pada jam tangan nya yang sudah menunjukkan pukul 7 malam "di culik seperti ini membuatku nyaman sampai lupa waktu" nan terkekeh karena dia benar-benar menikmati waktu tidur nya barusan


nine memperhatikan sekeliling nya. dimana dia tengah berada di sebuah resort mewah, nine tahu jika jane membawa nya ke provinsi kancahanaburi, karena nine sangat hafal dengan sepanjang perjalanan yang membawanya menuju kesini. tapi untuk penginapan mewah ini nine belum tahu sama sekali.


"apa yang kamu lakukan berdiri disana, ayo masuk" teriak jane dari ambang pintu menatap ke arah nine yang hanya berdiri di halaman depan memperhatikan sekitar nya


"baik khrab.." nine berjalan menyusul jane masuk ke dalam penginapan


jane memesan sebuah resort mewah untuk dirinya dan nine beristirahat malam ini. setelah dia menyelesaikan pekerjaan nya tadi siang jane langsung meminta adik nya untuk mengosongkan jadwal nya untuk dua hari kedepan. karena dia belum menerima kabar apapun dari pria brengsek ini sejak dia kembali di tinggalkan begitu saja, makanya jane berinisiatif mengunjungi kampus nya dan membawa nine pergi.


"apa phi tidak berencana ingin memberiku makan.? aku belum makan apapun sejak siang ini" nine langsung merebahkan tubuh nya di sebuah sofa besar yang terletak di tengah-tengah ruangan dengan nyaman "setidak nya phi harus menjadi penculik yang baik hati padaku."


jane hanya melihat ke arah nine sebentar sebelum meninggalkan nine sendirian di ruangan itu. jane berjalan menuju ke kamar untuk mengistirahatkan tubuh nya sebentar setelah mengemudi selama 3 jam dari bangkok ke kanchanaburi. sebenarnya jane ingin menyuruh nine untuk mengambil alih kemudi, tapi saat nine menelfon teman nya karena mengkhawatirkan kekasih nya membuat emosi nya tiba-tiba meluap.


tok..tok..tok...


"ada apa.." jawab jane dengan pelan


"apa aku boleh masuk.." teriak nine dari balik pintu


"sopan sekali ucapan mu. masuk lah." balas jane.


nine membuka pintu itu dengan pelan. masuk ke dalam dan mendapati sosok jane yang tengah berbaring di ranjang dengan tubuh sudah di tutupi oleh selimut. nine berjalan mendekat dan duduk di ujung tempat tidur dengan tatapan nya tidak lepas dari sosok jane.


"pesan lah makanan jika kamu lapar. pihak resort akan menyiapkan nya untuk mu." ucap jane dengan suara pelan karena nine datang kesini untuk kembali mengoceh masalah perut lapar nya


"mmm...." sahut nine seolah tidak lagi tertarik pada rasa lapar nya yang sebelum nya dia permasalahkan "seharus nya phi memberitahuku untuk menggantikan mu menyetir. sekarang phi lelah sendiri kan" nine menggeser posisi duduk nya lebih dekat ke tubuh jane. meraih salah satu tangan jane dan memijat tangan kecil itu secara perlahan.


jane terdiam memandang nine yang dengan lembut memijat jemari nya secara perlahan. perasaan nyaman kini mulai jane rasakan saat melihat sosok nine yang hanya diam tanpa mengoceh apapun dan hanya terfokus pada kedua tangan nya.


memang pijatan nya tidak seenak pijat profesional, tapi dengan nine melakukan hal yang seperti ini membuat jane tidak lagi bisa menyembunyikan senyuman bahagia nya.


"bagaimana pijatanku.? apakah cukup bagus..?" tanya nine melihat ke arah jane


"ehmm... lumayan."


"kalau begitu phi harus membayar tenagaku... hehhee" canda nine menggoda jane


"......... berapa phi harus membayar mu..??" jane menanggapi dengan tersenyum kecil "sebutkan saja, phi memiliki banyak uang untuk membayar tenaga mu." jane menantang nine


"hahaaa... aku juga tidak kekurangan uang sedikitpun phi. walaupun aku masih belum bekerja, tapi aku cukup memiliki uang walau tidak sebanyak punya mu." jawab nine pelan "ngomong-ngomong apa sekarang phi sedang memamerkan harta mu padaku..?" nine langsung mengerut kan alis nya ke arah jane


"itu kenyataan. apa yang harus di pamerkan jika semua orang sudah tahu fakta itu." kata jane


drrrttt... drrttt.....


"hmm.. ada apa nam." jawab nine dengan senyuman tulus di wajah nya. senyuman yang membuat jane mengerutkan kening nya karena senyuman yang di lihat nya saat ini sangat berbeda dengan senyuman yang selalu nine berikan pada nya


[phi nine sedang dimana..?] tanya nam pelan


"phi sedang ada urusan di luar bangkok. malam ini phi tidak bisa pulang ke rumah" jelas nine


[phi meen membawaku ke rumah nya. disini juga ada phi gun, phi win dan phi bas. mereka semua ada disini] nam memberitahukan pada nine kalau teman-teman kakak nya sedang berkumpul semua di rumah meen


"aahhh... phi tadi menyuruh meen menjemputmu untuk menemanimu malam ini, karena phi mungkin tidak akan kembali ke bangkok, jadi phi meminta meen untuk tetap bersama mu. dan untuk yang lain mungkin mereka juga ingin menjaga mu menggantikan phi" ucap nine yang membuat nam langsung terdiam "nong...?" panggil nine saat nam tidak mengeluarkan suara apapun selama beberapa saat


[apa ini tidak menyusahkan semua orang phi. sebenar nya aku bisa tinggal sendirian di rumah jika hanya untuk satu malam saja.]


"kenapa kamu selalu memiliki pikiran seperti itu. tidak ada yang pernah merasa kamu repotkan. baik phi maupun teman-teman phi. jadi berhenti berpikir kamu merepotkan semua orang." nine mengucapkan kata-kata nya dengan tegas


disaat nine tengah fokus dengan perbincangan nya dengan nam. ada jane yang terus mengerutkan kening nya setiap kali mendengar nine selalu menunjukkan rasa kehawatiran nya yang sangat besar terhadap orang yang tengah di telefon nya. karena tidak mau lebih lama mendengarkan percakapan mereka berdua maka jane hendak bangun dari tidur nya dan meninggalkan kamar ini agar nine lebih leluasa berbicara dengan kekasihnya.


"mau kemana..?" tanya nine pelan meraih tangah jane kembali saat jane hendak pergi


"tidur di kamar lain..!" jawab jane dengan sinis


"tetap disini." nine menarik tubuh jane sampai akhir nya jane kembali duduk di sebelah nine. meraih pinggang jane untuk di peluk nya dengan erat. seakan-akan nine melarang untuk jane pergi kemana pun pada saat ini


"apa kamu gila. aku tidak mau mendengar obrolan manis mu dengan pacar mu" marah jane mengerutkan kening nya ke arah nine. mencoba melepaskan tangan kekar nine dari pinggang nya. tapi rangkulan nine terlalu kuat untuk bisa di lawan jane.


[suara siapa itu phi..? apa phi sedang bersama dengan seorang perempuan..?] nam bertanya saat di tidak sengaja mendengar ocehan jane


"teman phi. dia sedang marah karena sedang lapar" jawab nine dengan senyum mengejek ke arah jane


"brengsek. lepaskan aku. aku mau pergi.." teriak jane marah memukul dada bidang nine dengan kuat


"baik lah kalau begitu biarkan phi selesaikan dulu urusan phi disini, nanti phi hubungi nam lagi. tapi nam harus ingat, segera hubungi phi jika ada apa-apa, atau nam bisa memberitahukan pada meen. meen bisa di andalkan dalam hal apapun. kamu mengerti nam.!" nine mengingatkan nam dengan lembut dan tanpa lelah


[aku tahu phi. phi selalu berbicara seperti ini setiap saat] gerutu nam tapi tidak ada sedikitpun di benak nam marah akan kecerewatan saudara nya terhadap dirinya


"hahaaa.... phi bawel karena phi sangat menyayangimu. tidak ada hal terpenting di dunia ini selain phi ingin selalu menjaga mu dengan baik. kamu tahu itu kan" ungkap nine mengutarakan betapa besar rasa sayang nya terhadap saudara kembar nya


"................." jantung jane tiba-tiba berdegub dengan sangat kencang begitu mendengar pengakuan cinta nine terhadap wanita nya.


[aku tahu. phi selalu memberitahuku akan hal ini ribuan kali. aku hampir bosan mendengar nya]


"hahaaa.. baik lah. selamat malam dan tidur dengan nyenyak." nine mengakhiri panggilan nya dan memasukkan lagi ponsel nya ke dalam saku celana nya.


"lepaskan aku bajingan.." marah jane memukul perut nine menggunakan siku nya dengan keras.


"ughh.." rintih nine sakit tapi tidak melonggarkan sedikit pun pelukan nya pada tubuh jane "mau pergi kemana sih phi. bukan kah disini bersama ku lebih nyaman." nine menggoda jane dengan mengangkat tubuh jane menggunakan satu tangan nya ke dalam pangkuan nya. jane sempat terkejut karena tidak terpikirkan oleh nya jika nine mengangkat tubuh nya dengan begitu mudah nya.


"aku akan pergi ke kamar sebelah." jane menjawab dengan sedikit gugup karena sekarang nine melingkarkan kedua tangan nya di perutnya. memeluk erat seluruh tubuh jane.


"untuk apa ke kamar yang lain. bukan kah kita jauh-jauh datang kesini itu agar phi bisa berduaan bersama ku setiap saat"


"................"


"jangan membuang waktu untuk hal yang tidak penting. phi dan aku bukan anak remaja lagi yang harus mengungkapkan bagaimana awal dan akhir untuk kebutuhan masing-masing." nine menghirup aroma tubuh jane dari belakang "aku tidak menyukai bermain-main seperti remaja yang ingin coba-coba. kita berdua sudah melakukan **** berkali-kali walau dalam waktu semalam saja. dan jika aku boleh menebak. aku yakin jika phi tidak bisa melupakan apa yang sudah aku lakukan untuk mu pada malam itu." ungkap nine panjang lebar mengungkap kan kebenaran akan hubungan mereka berdua


jane menggigit bibir nya saat mendengar kebenaran dari mulut nine langsung. semua nya benar, selama hampir sebulan ini jane selalu memikirkan akan malam itu dengan nine. walau jane sudah berusaha dengan sangat keras menghilangkan kenangan itu dari kepala nya dengan menambah segala pekerjaan, agar membuat nya semakin sibuk. tapi lagi-lagi wajah tampan dan menawan nine selalu terpatri di benak nya.


"bukan kah ucapanku benar." nine membalikkan tubuh jane agar menghadap ke arah nya secara langsung. jane yang malu setelah ketahuan akan rahasianya hanya menunduk dengan wajah memerahnya.