
" namaku louis. senang berkenalan dengan mu nam.." ucap louis begitu nam menyebutkan nama nya sendiri.
"..........."
"apa kamu ingin kembali bertaruh dengan ku.. kali ini taruhan nya adalah nomor ponsel mu." usul louis dengan tiba-tiba. dan tentu saja nam langsung mengerutkan kening nya dengan tawaran louis yang kalau di pikir-pikir itu malah membuat nam sendiri yang merasa rugi
"aku tidak mau.." tolak nam dengan cepat
"hahaa... kalau kamu tidak mau, berikan aku nomor telfon mu sekarang juga." pinta louis menyodorkan ponsel nya ke hadapan nam
"aku tidak mau memberikan nya." nam menggelengkan kepala nya "bukan kah tahu namaku saja sudah cukup buat phi."
"tentu saja tidak. mengetahui nama mu untuk mempermudah ku memanggil mu saat kita berpapasan di kemudian hari nya. sedangkan untuk nomor telfon mu itu untuk mempermudah ku untuk berkomunikasi dengan mu kedepan nya. itu jelas untuk kebutuhan yang berbeda." jelas louis
"tapi kita tidak memiliki kepentingan apapun untuk berkomunikasi."
"siapa bilang. tentu saja ada. dengan memiliki nomor mu tentu saja mempermudah phi untuk menanyakan kabar mu. atau apa kamu lebih suka phi datang langsung ke rumah mu untuk menanyakan langsung kabar mu.?'
"mai dai. phi tidak boleh datang ke rumah ku." larang nam dengan cepat (mai dai = tidak boleh) karena jika orang di depan nya ini benar-benar nekat mencari tahu dimana alamat rumah nya, itu akan membuat nine mengamuk.
"kalau kamu tidak mau phi datang langsung. maka berikan phi nomor telfon mu, agar phi gampang menghubungi nam.."
"......,...."
"begini saja. phi akan mengusulkan kembali seperti semula. ayo kita kembali bertaruh. jika kita kembali bertemu dengan tidak sengaja di kemudian hari, kamu harus memberikan phi nomor telfon mu. apa kamu setuju..?" louis menarik kembali ponsel nya dan berganti dengan mengulurkan satu tangan nya. menunggu nam menyetujui kesepakatan mereka berdua.
"apa yang kamu lakukan disini. aku mencari mu kemana-mana.." oceh pete yang langsung menarik bangku di samping louis
"sawatdee kha.." sapa nam memberikan wai ke arah pete dengan sopan.
"ooo.. sawatdee khrap nong." balas pete "apa orang ini mengganggu mu nong." tanya pete ke arah nam
"mai phi." nam langsung menggelengkan kepala nya dengan sedikit terkejut karena ternyata louis benar-benar bukan seorang penguntit seperti yang di pikirkan nya. melainkan teman dari dosen nya sendiri.
"kalau begitu aku permisi dulu phi." pamit nam langsung merapikan barang-barang nya yang ada di atas meja dengan cepat.
"tunggu dulu." larang louis yang juga beranjak dari duduk nya begitu nam bergegas untuk pergi "bagaimana dengan kesepakatan kita..?" tanya louis dengan cepat. dan tentu saja membuat nam yang hendak pergi langsung membeku dan melirik ke arah louis dan pete secara bergantian
"lakukan seperti apa yang phi ucapkan tadi." jawab nam dan langsung bergegas pergi meninggalkan ke-2 pria itu.
Louis langsung tersenyum puas dengan setuju nya nam, dan tentu saja langkah ini semakin membuat nya lebih bersemangat lagi. "ada apa dengan senyuman mengerikan itu..?" tanya pete yang sudah menatap teman nya dengan pandangan bingung "apa yang kamu rencakan kali ini. Kenapa kamu harus bermain-main dengan anak polos itu." tanya pete dengan rasa penasaran
"aku tidak sedang main-main. Aku hanya sedang menuruti rasa penasaranku."
"kita lihat saja nanti." jawab louis pada pete. karena sebenarnya louis sendiri tidak begitu yakin dengan apa tujuan nya melakukan semua ini. seperti apa yang pete bilang, kalau louis memang sedang membuang-buang waktu. meninggalkan pekerjaan yang sangat penting demi sebuah nama dan nomor telfon yang tidak masuk akal jika di pikirkan lagi.
..........................
di tempat lain.
"ayo minum obat phi.." ucap prim yang masuk ke dalam kamar jane dengan membawa nampan yang berisikan makanan dan beberapa obat untuk jane. prim meletakkan nampan itu di meja samping tempat tidur dan menatap pada saudara nya dengan tatapan iba sekaligus marah pada orang yang sudah membuat phi nya menjadi seperti ini
"maaf prim." ucap jane dengan suara serak
"maaf untuk apa. cepat bangun makan dan minum obat, setelah itu phi bisa kembali istirahat." prim membantu jane untuk bangun dari tidur nya. menyandarkan tubuh lemah itu di kepala tempat tidur. "apa kita harus melaporkan ini ke polisi..?" tanya prim yang membuat jane tersenyum
"atas dasar apa.." jane meraih obat yang di berikan prim yang meminum nya
"tentu saja pelecehan. pemerkosaan dan apa saja yang bisa di jadikan alasan untuk kita menuntut orang itu karena sudah membuat phi seperti ini." oceh prim dengan menggebu-gebu
"tidak ada pelecehan atau pemerkosaan disini seperti yang kamu sebutkan."
"bagaimana bisa tidak ada. lihat kondisi phi sekarang." marah prim dengan mata berkaca-kaca membentak jane "bukan kah semalam aku sudah memperingatkan mu agar berhati-hati. kenapa bisa jadi seperti ini.. hiks..." tangis prim pecah
"kenapa kamu menangis. memang nya aku sedang sekarat. aku hanya menderita sakit di sekujur tubuh dan juga demam, bukan nya lumpuh nong." prim mengelus lengan adik nya agar lebih tenang
"tapi orang itu sudah melecehkan phi.." bentak prim tidak terima
"tidak seperti itu. aku juga menyetujui tindakan yang di lakukan nya. jadi berhenti menyalahkan orang. tidak ada yang memaksa ku semalam. aku ikut dengan kesadaran ku sendiri" jane menegaskan kembali. karena memang dia sendiri tidak menyalahkan nine atas apa yang terjadi pada tubuh nya saat ini.
"aku tidak mengerti dengan phi." gerutu prim bangkit dari duduk nya dan bergegas meninggalkan kamar jane. karena jika dia terus berada disana prim akan hanya semakin marah pada jane
setelah kamar itu kembali sunyi. jane memandang dirinya sendiri di pantulan cermin. wajah pucat, dengan kondisi tubuh yang di penuhi dengan bekas merah dan kehitaman di hampir seluruh tubuh nya. senyum jane mengembang saat dia berusaha merebahkan kembali tubuh nya, dimana dia kembali merasakan sakit pada setiap sendi tubuh nya. Sakit yang tidak bisa jane jelaskan. jujur saja ini bukan kali pertama jane tidur dengan lelaki. saat dia kuliah dia juga pernah tidur dengan mantan kekasih nya, tapi itu sudah bertahun-tahun yang lalu. dan tidak pernah lagi sampai tadi malam. dimana kurang nya pengalaman nya, atau memang bocah lelaki itu yang terlalu pintar dalam hal di atas ranjang.
Sekitar 2 jam yang lalu. Dimana waktu masih menunjukkan pukul 10 siang. Jane terbangun dari tidur nya dengan perasaan yang tenang. Memandang langit-langit di kamar itu sekaligus mengingat apa yang sudah terjadi semalam.
semua gambaran kejadian semalam langsung memenuhi ingatan kuat jane. bagaimana dia memohon kepada nine, bagaimana nine memperlakukan nya dengan sangat brutal, menekan dirinya seperti tidak ada kata ampun. Semua itu terekam sangat jelas di kepala jane. Sampai saat dia melihat ke sekeliling dan mendapati suasana sunyi di sekitar nya.
"apa aku di tinggalkan begitu saja." gumam jane memaksa bangun dari tidur nya. sampai saat jane hendak menggerakkan tubuh nya jeritan kuat pun langsung memenuhi ruangan itu. rasa sakit mengalir di seluruh tubuh nya. membuat air mata jane mulai menggenang. jane membuka selimut yang masih menutupi seluruh tubuh nya. begitu selimut itu di buka, jane langsung mendapati tubuh telanjang nya sudah di penuhi dengan bekas jejak cinta dan juga gigitan. pemandangan ini jelas membuat jane hanya bisa diam. dimana perlahan air mata mulai mengalir di wajah pucat nya. tubuh jane mulai gemetar seiring tangisan nya yang semakin menjadi dan menutupi wajah nya dengan tangan gemetar nya.
setelah cukup lama membiarkan tangis nya pecah. kini jane sudah bisa mengendalikan emosi nya kembali. sosok kecil itu mengertakkan gigi nya saat turun dari tempat tidur. meski kaki nya gemetar dan setiap langkah nya begitu sakit, jane tetap berusaha berjalan menuju ke kamar mandi. memasukkan tubuh nya ke dalam rendaman air hangat. "apa dia seorang monster. atau titisan anjing. bagaimana bisa dia meninggalkan begitu banyak bekas mengerikan seperti ini di tubuh seorang model.." gerutu jane kesal sembari menyentuh satu persatu bekas gigitan atau bekas hisapan kuat di seluruh tubuh nya.
"lucu. apa anak itu bisa di sebut seorang pelajar. bagaimana bisa dia begitu sangat berutal" jane membenamkan seluruh tubuh nya ke dalam genangan air. membiarkan pikirkan nya kembali berkecamuk dengan membayangkan kembali seluruh kejadian semalam.
saat mabuk jane cenderung akan bersikap di luar kebiasaan nya. tapi bukan berarti jane akan melupakan semua tindakan nya keesokan hari nya. jane hanya tidak sadar akan tindakan nya saat mabuk. seperti saat ini. dengan ingatan yang sangat jelas jane membayangkan bagaimana dia begitu menikmati kejadian semalam. harus jane akui, kalau nine tidak bisa di samakan dengan pelajar-pelajar lain nya yang sangat lugu. nine melakukan segala hal seakan dia begitu sangat tahu dan faham bagaimana dia bisa menyenangkan lawan main nya. walau akhir nya seperti sekarang ini. dengan banyak nya bekas di tubuh nya. dan juga perasaan sakit seperti habis terlempar dan di banting bolak balik. itu tidak menutupi kalau jane sendiri menyukai semua perbuatan nine semalam.
"apa aku seorang masokis." desah jane begitu keluar dari dalam air dan beranjak untuk menyudahi berendam nya