
Tetesan air memecah keheningan. Menetes secara bergantian melalui lubang kecil di bagian atap.
Svenson hampir membuka suara ketika guntur membelah langit, menciptakan kilatan mengerikan di balik gelapnya malam. Memantulkan wajah sang Penasihat Kerajaan yang meringkuk di sampingnya. Mengabaikan fakta bahwa beberapa puluh menit lalu, perempuan itu menyelamatkan nyawanya.
Laki-laki tersebut tidak tahu bagaimana mereka bisa berakhir seperti ini. Semua di luar kendali ketika dalam pelarian, langit meneteskan peluh; menghujani tubuh mereka. Mengamuk, melemparkan kilat, dan seolah belum cukup, angin menerjang hingga memaksa keduanya untuk menepi.
Rasa terkejut Svenson belum hilang ketika lagi-lagi dia harus berada dalam posisi seperti ini. Saling berimpitan dengan masing-masing pundak yang menempel erat.
Svenson beranjak. Dia harus keluar dari situasi ini, mencari penginapan untuk bermalam. Namun, baru dia bergeser sejauh lima inci, niatnya terpatahkan lagi oleh gemuruh di atas sana.
"Badai di Northeast datang secara mendadak. Jika Anda ingin keluar, setidaknya tunggu sampai mereda." Ujar Caroline pelan. "My Majesty ...."
Perempuan itu tidak ada niat apa pun. Suaranya melirih, tetapi di telinga Svenson, kalimat barusan seperti singgungan.
"Bagaimana bisa kau berada di sini?"
Caroline menoleh hanya untuk mempertemukan matanya dengan sepasang samudra kelam. Menyorot dingin di bawah kegelapan.
"Saya hanya kebetulan berada di Northeast, dan secara tidak sengaja menemukan Anda sedang kesulitan." Jawab Caroline tenang.
Wajah Svenson mengeras. "Apa yang Penasihat Raja sedang ingin lakukan di sini? Mencoba melangkahi kuasaku, lagi?"
Svenson terdiam. Meski Svenson mengucapkannya disertai senyum samar, Caroline tahu bahwa laki-laki itu sedang memprovokasinya.
"My Majesty, maaf atas kelancangan saya. Namun, saya di sini untuk urusan pribadi." Ujarnya cerdas. Kalimatnya meyakinkan, tidak ada keraguan.
Svenson dibuat berpikir. Caroline bukan tipe orang yang akan dengan mudah membuka bibir atau sekadar menunjukkan emosinya.
"Benarkah?" Svenson balik menatap, menaikkan sudut bibirnya ke atas. Tatapannya yang semula keras, melunak. Menatap dengan pandangan datar yang dibayangi oleh aura menantang. "aku tidak bisa membedakan yang mana kebohonganmu atau bukan," dia memberi jeda ....
"Bahkan, jika kau memberitahuku kebohongan, aku tetap akan percaya. Bukankah itu yang sudah kau lakukan, Lady Lin?"
Sisi lain Caroline terpukul. Jelas dia tahu apa yang Svenson maksud, karena peristiwa itu sangat membekas di masing-masing hati mereka dengan artian yang berbeda.
"Kalau begini, apa yang harus aku lakukan?" Svenson meratap, rautnya berubah. "menghukummu, atau sesuatu semacamnya?"
Tanpa bisa Caroline kendalikan, kepalanya berpaling. Dia hendak memejamkan mata, menghela napas, sebelum gerakan Svenson yang tiba-tiba membuat suaranya seperti tersangkut di tenggorokan.
Svenson menyentuh wajahnya, menuntunnya untuk menghadap ia kembali.
Muka mereka hanya sejengkal berjarak.
"Aku sedang berbicara, Lin. Perhatikan sikapmu." Ujarnya bersamaan datangnya kilatan dari langit.
Caroline menurunkan tangan Svenson, menyingkirkannya dengan satu gerak lembut. "My Majesty, hamba tidak akan lari atas apa yang telah hamba lakukan, tidak akan pernah juga menyesalinya. Bukankah, jawaban ini yang Anda inginkan?"
Svenson mengatupkan gigi rapat-rapat. Menahan gejolak yang sulit diterjemahkan.
Awalnya, dia hanya ingin membuat Caroline berbicara dengan memprovokasinya, tetapi malah dia yang merasa dipancing. Seperti saat ini, ketika kedua mata birunya sudah bergetar lantaran emosi, mata jernih Caroline justru tidak goyah. Memperjelas dinding pembatas di antara mereka; dulu dan sekarang.
Padahal Svenson ingat betul, bagaimana perempuan itu dahulu menatapnya. Namun, sosok yang berada di hadapannya ini terasa lain, seolah-olah mereka memang dua eksistensi yang berbeda.
.
Svenson memijit lembut pelipisnya. Membuka mata hanya untuk melihat sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah gubuk.
Ini aneh. Dia merasa semalam akan menjadi malam yang panjang bagi keduanya dengan saling melontarkan racun. Dia tidak tahu kapan kantuk menyerang, hingga terlelap—lebih tepatnya—siapa yang tidur lebih dulu.
Namun pagi ini, dia sudah menemukan dirinya berbagi sisi dengan Caroline. Embusan napas teratur yang keluar dari bibir ranum itu terdengar jelas. Sangat nyata beriringan dengan desiran aneh dalam dirinya. Harusnya, desiran itu terasa meledak-ledak, membara dan tidak terkendali, seolah hanya dengan merasakannya, dia bisa tetap berdiri. Menapaki puncak demi menggilas perempuan keparat itu.
Ini kali pertama Svenson berada di situasi ini sejak beberapa tahun belakang; melihat wajah Caroline dalam jarak dekat—terlebih—sedang terlelap. Bersandar di bahu, mengapit salah satu lengannya erat. Bersandar di bahunya.
Svenon belum pernah melihat Caroline menurunkan kewaspadaan. Bahkan dia sangsi apakah Caroline menghabiskan malamnya dengan cara tidur yang benar.
Entah kenapa, segala sesuatunya terasa lebih ... berbeda. Dan entah bagaimana, secara naluriah dia mengulurkan tangan; berniat menyibakkan anak rambut perempuan itu, seketika tiba-tiba dia merasakan pergerakan.
Caroline membuka mata, mendongak hanya untuk membuat kedua matanya membelalak.
Perempuan itu sama terkejutnya dengan dirinya ketika mendapati posisi mereka sangat dekat.
Segera memisahkan diri, tetapi seperti biasa, Caroline tidak banyak membuat ekspresi meski matanya sedikit bergetar seperti lilin yang sedang ditiup angin.
"My Majesty—" Baru saja Caroline akan berucap, Svenson beranjak berdiri. Memotong kalimat gadis itu.
"—sudah pagi. Selesaikan urusanmu dan kembali ke Northwind,"
Caroline menggulung kembali lidahnya, menelan kata-kata yang hendak diucapkan.
"Ini perintah!"
.
"My Majesty!" Osca tidak bisa untuk tidak terkejut. Pasalnya, semalaman The Majesty Svenson menghilang, dan ketika kembali, raut muka beliau terlihat sangat tidak bersahabat.
"Maafkan saya karena tidak bisa menjaga Anda kemarin." Osca yang hendak membungkuk, seketika ditahan oleh Svenson.
"Aku baik-baik saja."
Osca berdiri, menatap Rolf. Memberi kode untuk mengikuti Raja mereka masuk ke ruangan yang sudah dipesan.
"Anda akan kembali?" Rolf menuangkan teh, mendorong cangkirnya pelan ke arah The Majesty.
"Ya. Hari ini juga." Svenson memejamkan mata, mengabaikan kepulan uap hangat di sisi kanannya.
Maka, sebelum matahari meninggi, Svenson dan rombongannya kembali ke Northwind secepat mungkin. Memburu waktu. Mencegah orang itu berkeliaran atau lepas darinya.
.
Svenson menumpu tangannya. Gulungan perkamen yang sebelumnya dia lihat di ruang kerja sang ayah, kini terbuka lebar di hadapannya. Entah sudah berapa kali matanya menelusuri setiap kata dan kalimat yang tertulis di sana.
Gerardo—sang ayahanda—yang ingin menjalin hubungan diplomatik dengan Northeast sangat berkebalikan dengan dirinya yang menginginkan tanah syahbandar laut itu tunduk.
Mengingat laporan yang diberikan Rolf kemarin, kemungkinan Northeast sangatlah mudah untuk diatasi. Negara itu terlalu banyak celah. Dia bahkan bisa dengan gampang merebutnya mengingat keadaannya yang seperti itu. Dan setelah dia berhasil, seperti janjinya, ia akan melenyapkan semua penyihir Northeast. Gebrakan pertamanya untuk si Pengkhianat Dellinger.
Sumpahnya pasti akan dia pegang teguh. Tidak akan ada penyihir di masa kekuasaannya mendatang, tanpa terkecuali. Keparat itu harus merasakan akibat karena telah lancang melangkahi kekuasaannya dengan membakar Woodlands.
Dan jalan satu-satunya adalah, menemukan orang itu yang kebetulan berada di sana.
Bagai melempar dua burung dengan satu batu.
Svenson mencengkeram kedua sisi meja, menarik bibir sedikit ke atas. Tersenyum culas dengan kilat kepuasan.
Northeast akan menjadi miliknya, dia pastikan itu.
Svenson membuka perkamen kosong, menuliskan satu perintah untuk dilaksanakan Osca; pencarian Ludger Winifred, membawanya kembali ke Northwind dalam keadaan hidup-hidup.
.
Bulan tertutupi oleh awan. Semilir angin musim gugur berembus, berbisik pada dedaunan. Menghantarkan harum khas di indra penciumnya.
Panglima Hanes sedang membuat laporan militer malam ini, ketika jendela besar yang berada di belakang punggungnya tiba-tiba terbuka. Menyibak tirai beludru berwarna merah.
Dia hendak menutupnya kembali, saat secara tidak sengaja netranya melihat salah satu intelijennya keluar istana. Osca sudah kembali, yang artinya besar kemungkinan, The Majesty akan bergerak atau sesuatu yang berhubungan dengan itu.
Perkamen dengan plakat emas adalah perintah rahasia. Setelah kepulangan mereka dari Tanah Syahbandar, itu berarti ada sesuatu yang sudah ditemukan.
Barang bukti.
Dan dalam hal ini, tidak ada bukti konkret selain makhluk hidup—manusia.
Hanes membelalak. Kedua tangannya yang memegang jendela, bergetar. Bahkan di saat angin masih menerpa wajah, satu peluh berhasil menetes menuruni dahinya. Semua kemungkinan berkejaran dalam benaknya.
Dia mengusap wajah gusar, meraih jamnya untuk dibuka tutup beberapa kali. Mencari ketenangan yang tidak dia yakini. Satu keputusan harus segera dibuat.
Dia harus memberitahu Caroline perihal ini, secepatnya.
.
Matahari sudah meninggi sekitar pukul sembilan pagi. Caroline menyusuri lorong Izarus Castle, hendak menemui The Majesty untuk memberikan berkas harian.
Sudah tiga hari semenjak kembalinya mereka dari Northeast, dan tiga hari ini pula dia mulai mengendus gelagat aneh sang Raja.
Svenson absen dalam afternoon tea hari kemarin. Laki-laki itu lebih sering berada di dalam ruangan, mengerjakan semua urusan negara hingga larut. Namun, ini justru menjadi sebuah tanda tanya besar mengingat apa yang terjadi di Northeast. Tujuan dan hasil yang diperolehnya, patut dipertanyakan.
Karena semua terasa begitu tenang. Seperti keheningan sebelum badai.
Caroline tidak bisa berhenti untuk tidak khawatir. Sesuatu pasti sudah luput dari analisanya.
"My Lady, mengantarkan berkas lagi?" Hanes menyapa, membungkuk padanya.
"Seperti yang Anda lihat."
"The Majesty sangat sibuk beberapa hari belakangan." Hanes menatap cemas. Jelas ada yang ingin dia utarakan.
"Anda terlihat tidak baik, My Lord. Adakah sesuatu yang mengganggu Anda?"
Mata Hanes bergerak gelisah. Berusaha menemukan kalimat yang pas untuk diutarakan. "My Lady, Anda tentu tidak lupa dengan perjalanan Anda tempo hari, 'kan?" suara Hanes memelan, sangat lirih nyaris seperti berbisik.
Caroline mengernyit. Jenderal Hanes belum pernah seberbelit ini kecuali dia sedang ragu.
"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tidak memiliki bukti nyata pula. Namun, kau bisa memegang kata-kata bahwa ...." Hanes memberi jeda, mendekat ke arah Caroline. Meraih pergelangan si putri Edvard sambil menatapnya lembut.
"kemungkinan, ada yang luput dari kejadian Woodlands. Kita tidak melakukan pencatatan jiwa sebelumnya, jadi kita tidak tahu apakah masih ada Woodlanders yang tersisa. Semua melebur menjadi abu, hampir tidak mungkin mengidentifikasi korban satu per satu."
Barulah Caroline tersadar di mana letak titik fatalnya. Baru saja, secara tidak langsung Hanes mengatakan bahwa masih ada Woodlanders yang selamat.
Kepergian Svenson, ketenangan yang menyesakkan adalah salah satu dari gencatan yang laki-laki itu rencanakan. Dan dengan menempuh perjalanan, menemukan bukti konkret, itu tidak ubahnya menguak bangkai ke permukaan.
"My Lord, ini kesalahanku." Caroline memejamkan mata. Mengatur deru napasnya yang mulai memburu.
"Bukan begitu. Kita hanya harus mencari tahu, membuktikan apakah asumsi ini benar atau tidak." Ujar Hanes bijak.
Caroline menatap Hanes, memikirkan langkah paling efisien dan cepat. "Kalau begitu, bisakah Anda membantuku?"
Hanes mengangguk, menyanggupi permintaan Lady Lin untuk mengirim pasukan ke Northeast secara diam-diam, mengejar Osca yang katanya akan melakukan perjalanan ke sana.
.......
.......
.......
...Bersambung...