
Usai mendapat dukungan dari Petinggi Penyihir Kerajaan, Svenson segera mengadakan rapat bersama orang-orang kepercayaannya untuk membahas strategi menghadapi pasukan Northeast.
Svenson, Osca, dan Hanes telah berkumpul di ruang kerja sang raja sembari menunggu kedatangan satu orang lagi. Rolf yang merupakan kapten dari tim penyelidikan Northeast diminta menghadap untuk menjelaskan salah satu kelemahan kota pelabuhan itu.
Pintu terbuka, dan seorang laki-laki muda berambut hitam dan berkulit pucat melangkah memasuki ruangan. Rolf memberi hormat kepada sang Raja dan segera menyampaikan laporannya.
"Kami mendapatkan banyak informasi mengenai kelemahan Northeast. Hanya dengan beberapa kantung emas, mereka memilih untuk membelot dan berada di pihak Northwind." Mata Rolf tertutup dan menyunggingkan senyum ganjil. "jika semua berjalan lancar, maka kemenangan sudah dipastikan berada dalam genggaman kita."
Svenson mengangguk paham, ia memerintah Rolf untuk pergi lalu melangkah pasti menuju jendela besar istana.
Osca dan Hanes saling bertukar pandangan. Namun, mereka masih tetap duduk di tempat semula, menunggu titah yang akan diberikan oleh raja mereka.
"Osca, segera persiapkan persenjataan dan kabarkan kepada prajurit kita, bahwa tiga hari lagi kita akan pergi berperang!"
"Baik, My Majesty."
Usai kepergian Osca, sang raja muda berbalik menatap Hanes yang berdiri tak jauh darinya. Raut wajahnya terlihat letih dengan gurat cemas yang jelas Svenson ketahui penyebabnya. Pemuda pirang itu melangkah mendekat, menepuk pelan pundak sahabat sang ayah sebelum meremasnya pelan.
"Kau tahu, Sir Hanes, ini semua bukanlah salahmu."
Hanes membalas tatapan Svenson sebelum ia berpaling dan mencoba menahan helaan napas lelah. Pria itu menggeleng pelan. Ada rasa bersalah yang berusaha ia sembunyikan sejak lama.
"Oh, My Majesty ... aku merasa begitu tak berdaya. Bagaimana bisa aku menghadap King Gerardo dan Lord Edvard nantinya."
Svenson malah terkekeh pelan, "Aku masih membutuhkanmu di sisiku, Sir Hanes. Aku akan kesulitan jika kau menemui ayahanda begitu cepat."
"Apa yang bisa ku lakukan, ketika membujuk Lady Lin dan para Dewan Parlemen pun aku tak mampu."
Kedua iris Svenson kembali menyipit tajam. Hatinya selalu saja memanas ketika nama Caroline dan para Dewan Parlemen terdengar di telinganya. Mereka bagai tombol pemicu di kepalanya, membuat ia teringat kembali bagaimana tindakan yang mereka lakukan telah membuatnya kehilangan orang yang ia cintai.
Svenson mendengus kesal, berbalik dan kembali menatap hamparan teritori kerajaan. Dari kejauhan, ia dapat melihat desa-desa yang berada dalam perlindungan Northwind. Membuatnya kembali teringat, masa-masa indah ketika berada di Desa Woodlands bersama Livy, kekasihnya.
Jika saja para penyihir yang mengatasnamakan Dewan Parlemen tidak mengikuti perintah dari Caroline Dellinger untuk membakar Woodlands, maka sudah dipastikan sekarang Svenson sedang berdiri menatap teritori kerajaannya bersama Livy sebagai permaisuri. Gadis cantik berambut pirang itu akan mendampinginya sepanjang waktu, saat Svenson membutuhkan dukungan moril dan semangat seperti sekarang.
Keputusan tepat ia meminta para penyihir putih, terutama para Dellinger untuk turut andil dalam peperangan. Svenson akan memastikan bahwa mereka kelak akan mati di medan perang. Ketika Northeast berada dalam genggamannya, maka ia tidak perlu lagi ragu untuk melenyapkan para penyihir Dellinger dari kerajaannya.
Kedua tangannya mengepal kuat saat ambisi itu tertanam ke dalam benaknya.
"Setelah itu kau selanjutnya, Lin." Bibir itu berdesis pelan kala Svenson menggumamkannya dengan nada penuh kebencian.
.
Sudah dua hari berlalu semenjak Caroline menjadi tawanan Istana. Para pelayan datang ketika matahari berada di atas kepala dan hendak tenggelam. Mereka membawakan makanan, selimut dan juga sekantung besar air untuk membasuh diri. Selain itu, terkadang Hanes dan pamannya; Shamus, juga sesekali datang untuk menengok dan memberi informasi tentang apa yang tengah terjadi.
Perempuan berparas cantik itu memandang langit-langit gua sembari mencoba memikirkan kembali penyerangan tentara hitam. Ia merasa ada sesuatu yang ganjil dari penyerangan itu.
Mengapa mereka selalu ada di waktu yang tepat?
"Ketika mereka menyerang di Northeast, bagaimana mereka bisa tahu kalau raja akan bergerak dalam kelompok kecil?" Caroline menggumamkan peristiwa yang terjadi ketika ia mengikuti pemuda itu diam-diam. "jika bukan karena Sir Hanes yang memberitahuku, aku tidak akan tahu hal itu. Apakah mungkin, ada seseorang yang memata-matai Svenson selain diriku?"
Caroline menghela napas pelan, tidak ingin berpikir terlalu jauh. Namun, melihat rentetan kejadian serta poin-poin ganjil, membuatnya menarik satu kesimpulan. Ada pihak ketiga di antara mereka, seorang pengkhianat yang mencoba mengadu-domba dirinya dengan Svenson. Tapi, siapa?
.
Suara langkah menuruni tangga mengalihkan atensi Caroline. Gadis berambut biru gelap itu sontak berdiri ketika mendapati Svenson sudah ada di depan jeruji besi.
Pemuda pirang tersebut memandangnya dalam diam, kedua pasang iris safirnya masihlah tetap keras dan dingin. Namun, ada segelitik perasaan yang mampu Caroline tangkap dari pancaran mata pemuda itu.
Caroline melangkah mendekat tanpa melepaskan kontak matanya. Ketika ia sudah berada begitu dekat dengan jeruji besi sebagai pemisah jarak, Svenson membuka mulut.
"Apa kau masih memegang janjimu?"
Ingatan Caroline dengan cepat berputar pada sepuluh tahun silam, ketika keduanya masih sepasang bocah polos tanpa mengenal penghianatan, kebencian, apalagi cinta. Masih segar dalam ingatannya, masa ketika mata biru jernih ini pernah memandangnya lurus dan tulus.
"Aku tak tahu, tapi ketika berada di dekatmu, hatiku menjadi sangat tenang, Lin."
"Jika Pangeran tidak keberatan, aku akan selalu berada di sisimu. Kita akan terus bermain bersama agar Pangeran tak merasa gelisah."
"Apa itu artinya, kau berjanji untuk selalu ada untukku?"
"Ya, janji yang akan kubawa sampai mati. Hehehe ...."
Svenson memalingkan wajah, sudut hatinya kembali tercubit. Ada rasa senang ketika ia tahu bahwa Caroline tidak melupakan janji itu. Namun, ada pula rasa kecewa, ketika ia mengingat apa yang menjadi tujuannya kemari, dan menemui Caroline. Sepasang samudra itu kembali menatap rembulan di depannya.
"Lalu mengapa kau bertindak sejauh itu? Membunuh kaumku, dan mengkhianatiku?"
"Jawaban hamba tetap sama, My Majesty." Ucap Caroline yang kini kembali memasang raut datar, yang entah sejak kapan membuat Svenson muak dan ingin menghancurkannya.
"Itu bukan jawaban!" suara berat sang penguasa kembali terdengar tinggi.
"Hamba melakukan semua hanya demi Northwind dan dirimu. Anda cukup memercayai itu, My Majesty."
"Persetan! Kau ingin aku percaya begitu saja?!" suara melengking terdengar kala kepalan tangan Svenson memukul jeruji besi. Akan tetapi, sekali lagi gadis di depannya ini tak tersentak walau sedikit. "aku tidak butuh kau melakukan tindakan di luar batas statusmu, Dellinger!"
Keduanya saling pandang, memancarkan ketetapan hati yang saling bertubrukan. Sekali lagi tak ada yang mau mengalah, membiarkan hati mereka saling bergesekan hingga melukai satu sama lain.
Svenson berteriak marah, emosinya bergejolak pada rasa yang telah bercampur aduk hingga ia tak tahu lagi warna hatinya. Tanpa menoleh lagi, pemuda pirang itu melangkah lebar-lebar meninggalkan Caroline yang masih bergeming dengan raut datar yang ia pertahankan sebisa mungkin.
Mengapa begitu sulit untuk mengerti satu sama lain? Padahal hati mereka telah mengenal sejak dulu.
Mengapa begitu sulit menyampaikan sesuatu yang seharusnya begitu gampang dilontarkan? Ketika bibir telah terbuka untuk berucap, akhirnya, malah kembali tertutup dan menelan segala pahit kenyataan.
Kenyataan bahwa kini mereka berbeda, dengan dua punggung yang saling menjauh.
.
Di pagi buta, Kerajaan Northwind telah terjaga. Bersama ratusan pasukan berseragam lengkap, serta para panglima dengan baju zirah kebanggaan Kerajaan Bulan Sabit berbaris rapi di depan gerbang Kerajaan. Svenson berdiri di balkon, memandang lurus ke arah timur laut di mana kota Northeast berada.
Hari ini adalah hari besar di mana ia akan menaklukan Northeast. Sebuah langkah awal untuk meraih kejayaan Northwind, dan ambisi kecilnya.
Pemuda pirang itu kembali memasuki kamarnya di mana para dayang telah berdiri menunggu dengan baju zirah raja. Kedua iris samudra itu memandang lekat-lekat baju zirah berlapis emas dengan sebuah lambang bulan sabit di tengahnya. Jemari panjangnya menyentuh bagian dada dari pakaian pelindung yang selama ini menemani para pendahulunya di medan perang, dan menyelamatkan raja sebelumnya berulang kali.
Sekelebat ingatan dulu hadir tanpa ia minta, ketika acap kali dirinya hendak mengikuti sang ayah ke medan perang. Maka dia dengan segera akan berlari menuju gazebo putih, tempat Caroline membaca buku di dekat kolam ikan buatan. Svenson akan mendatangi penyihir muda itu dengan baju zirahnya dan meminta sang gadis untuk menyentuh lambang bulan sabit sebagai perwujudan doa demi keselamatannya di medan perang.
Caroline yang dengan senyuman hangat itu akan mengangguk dan menyentuh dadanya dengan kedua mata terpejam. Bibir mungilnya akan berucap lembut, mengucap doa yang bagai sebuah rapalan mantra di telinga. Sebuah mantra yang akan membuatnya tenang, dan merasa sangat aman.
"Aku selalu di sisimu, Pangeran. Kembalilah dengan selamat!"
Para dayang tersentak pelan, ketika sang raja menyambar baju zirah dengan kasar. Rahang pemuda itu mengeras, ia memakai baju zirahnya dengan cepat dan usai berpakaian, Svenson melangkah lebar-lebar meninggalkan kamarnya.
Tujuannya, dungeon. Tempat Caroline berada saat ini.
.
Caroline tersentak pelan ketika suara langkah berat disertai gemerincing logam terdengar. Ia menoleh, dan terkejut melihat Svenson kembali berdiri di depannya dengan baju zirah keemasan yang sudah sangat ia kenali.
Gadis itu sontak berdiri, wajah putihnya terlihat pucat ketika ia menyadari bahwa laki-laki itu akan pergi berperang.
"My Majesty!"
Caroline melangkah tergopoh, netra peraknya menatap lekat-lekat pelindung dada sang penguasa dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kabut kecemasan di sorot mata gadis itu. Caroline tahu betul kebiasaan yang telah mereka lakukan selama ini.
Tanganya mulai terulur, hendak menyentuh baju zirah sang Raja. Namun, sebuah tepisan keras Caroline terima dari sang sahabat. Atensinya kini beralih dan terkejut ketika mendapati sepasang mata dingin yang menatapnya tanpa minat.
"Siapa bilang aku ingin kau menyentuhnya?"
"A-apa?"
Segaris senyum sinis telah terukir di paras rupawan Svenson. Sembari bersedekap, ia memandang remeh sang Penasihat Kerajaan. "Aku datang kemari untuk memperlihatkanmu, bahwa tanpa adanya dirimu, aku bisa melangkah maju. Lihat baju zirah yang dulu ayah pakai, sekarang aku mengenakannya."
Jubah kemerahan itu berkibar ketika Svenson berbalik. Ia memunggungi Caroline dan kembali berujar. "Aku tidak membutuhkanmu, Lin."
.......
.......
.......
...Bersambung...