
"Jawab pertanyaanku atau aku tidak akan pernah mencabut dekretku! SIAPA KEPARAT YANG SUDAH MEMPERMALUKAN PENASIHAT AGUNG NEGERI INI?!"
Svenson memekik dengan geraman tertahan. Tanggannya gemetar meski dirinya terlihat cukup tenang.
Ia marah. Murka. Bajingan mana yang berani melangkahi kuasanya dengan menyentuh Caroline-nya? Tidak ada yang boleh melukai Caroline selain aku. Akulah yang akan membunuh gadis itu. Kiranya, itulah yang Svenson pikir.
Alih-alih menjawab, Svenson malah mendapati gadis tersebut menepis tangannya. "... mencabut?" dengan pandangan teramat terluka, tetapi Svenson tahu bahwa kalimat yang akan gadis Dellinger itu muntahkan sangat tidak koherensif.
Panglima Hanes yang sejak tadi geram dengan tingkah Svenson menyela. Berharap sang raja tidak melakukan hal yang lebih jauh. Caroline sedang dalam pemulihan. Gadis itu harus banyak istirahat. Bukan malah terjebak permainan tikus dan kucing atas keegoisan mereka masing-masing.
"My Majesty, kalau boleh saya berpendapat, untuk sementara Lady Lin biarkan dulu beristirahat. Mohon maaf bila ini terdengar lancang. Dalam situasi seperti sekarang, putri masih harus menenangkan dirinya agar semua terlihat jernih."
"My Lords, hentikan ...." Caroline mengambil posisi duduk. Memperbaiki letak selimut di pangkuannya, ia menatap Svenson yang tengah memandangnya dengan angkuh. Menarik napas, Caroline berpikir, kapan pria ini bakal memasang wajah manis yang ramah seperti dulu?
"Apa Anda yakin, bahkan jika aku menjawabnya, akankah sesuatu bisa berubah?" Ya, tepat seperti itu. Tepat seperti yang tidak dia inginkan. Dellinger—maksudnya—Caroline harusnya mengiba. Meminta pengampunan atas nyawa para penyihir Northwind.
Namun, dia tidak akan mengatakan apa pun meski mata rembulannya berbicara lebih banyak, bahkan jika pria di depannya ini berniat melubangi jantungnya untuk mati dalam satu tikaman.
Caroline melanjutkan, "Di antara mencari tahu siapa yang telah membuat penasihat lalai ini menjadi seperti ini, dengan mencabut apa yang telah Anda kemukakan, jawabannya tentu sudah Anda ketahui."
Svenson termangu beberapa saat. Baru sadar, bahwa dia mengizinkan Caroline membaca pikirannya meski hanya lima detik. Dan dalam kurun sesingkat itu, gadis itu berhasil memutar arah, berbalik menikamnya.
"Kau ... menantangku?" nada suaranya akhirnya terkontrol, tetapi tidak bisa menyembunyikan bahwa dia tengah muntab.
"Mana berani hamba ini berpikir begitu, My Majesty. Kemurahan hati Anda, sungguh hamba tidak berani mendambakannya."
Bohong.
Sejak awal, yang Caroline Dellinger inginkan hanyalah dicabutnya dekret. Terlepas dari apa yang gadis itu lakukan dengan menyeret Ludger ke hadapannya, dia tidak akan pernah mencabut dekretnya kecuali satu—pengakuan Caroline—bahwa dia telah hancur.
Meski begitu, Caroline berani meludahinya tepat di wajah, mengatakan secara gamblang perangai rajanya. Pemimpin Negerinya. Sebuah penghinaan secara verbal.
Svenson mengeratkan kedua tangannya, diikuti Panglima Hanes yang hampir melepaskan mantra penenang pada sang raja. Takut kalau-kalau terjadi tindakan lebih ekstrem sehingga menambah luka murid kesayangannya.
.
Memang seperti ini. Malam beringsut menjadi sepi. Sepi berubah menjadi belati. Dan belati hanya menghantarkan sembilu.
Angin berbisik melalui celah-celah ventilasi ruangan yang didominasi aroma kayu cendana. Dibakar di bawah perapian, menghangatkan sekaligus menenangkan jiwanya yang hampir tersesat.
Caroline baru saja meneguk herbal yang Panglima Hanes berikan. Suplemen terbaik demi memulihkan aliran kekuatan spiritualnya sebagai seorang penyihir.
Dia meneguk teh Chamomile di sisi lain nakas; beraroma wangi dengan rasa khas apel dan bunga. Teh yang biasanya sering dipanen di sekitar dataran tinggi Northwind ini membuatnya sekali lagi merasakan perasaan miris. Pasalnya, Northwind berada dalam keadaan kritis, tetapi dia belum bisa membuat kemajuan apa pun.
Perkamen di atas meja menerangkan bahwa kian hari, pemberontakan beringsut ke wilayah ibukota. Jika terus begini, penggulingan takhta bukanlah sesuatu yang sulit, mengingat pincangnya badan parlemen kerajaan sendiri.
Kubu oposisi anti penyihir telah bergerak, tanpa tahu kapan, penyihir putih bisa saja dibunuhi.
Tidak. Dia tidak pernah bermaksud menyerah. Yang perlu dia lakukan adalah melobi raja sekali lagi, dengan bukti-bukti autentik.
.
Berita tentang penyergapan sang penasihat kerajaan mencuat, aula pertemuan pagi mendadak riuh. Berani meletakkan tangan pada milik raja sama halnya dengan mencari kematian. Namun, tidak sedikit pihak yang berpendapat bahwa raja yang sekarang tidak lagi memiliki empati pada Dellinger. Terlalu muskil bagi The Majesty Svenson memedulikan abdinya itu di tengah konflik yang tidak ada habisnya.
"... kalian mendengarku?" Svenson memutar pandangannya, geram dengan anggota parlemen yang sejak tadi hanya saling berbisik, seolah-olah dia hanyalah bintang cadangan.
"My Majesty, maafkan kelancangan kami. Namun, penasihat kerajaan sedang dalam masa pemulihan." Seorang duke berbicara, takut kalau-kalau kalimatnya menyinggung sang raja.
"Kenapa kau sangat peduli pada penasihat kerajaan saat rajamu ada di sini, Lord Grissham?" Svenson menggulingkan penglihatan, "kenapa tak kau tunggui dia jika kau memang khawatir?"
Semua mata mendelik takut. Beringsut lebih kecil untuk melakukan penghambaan.
Lengan singgasana diketuk keras-keras tiga kali, membuat lantunan penghambaan mendadak hening, "Bagaimana pendapatmu, Lord Grissham?" jelas. Dia berniat mengusir, tetapi Duke Grissham bersikukuh. Bersujud pada rajanya itu.
"Maafkan kelancangan hamba, My Majesty."
Panglima Hanes meremas kedua jemarinya. Menatap the majesty dan Duke Grissham bergantian. Gelisah.
"Oh, My Lord. Menurutmu hukuman apa yang setimpal dengan kelancangannya?"
"... My Majesty, maafkan kelancanganku. Namun, Lord Grissham telah mengakui kesalahannya. Terlebih, rapat harus segera dilanjutkan."
Svenson mengernyit, mengetuk jari-jemarinya secara bergantian, menimbang-nimbang. "Baiklah." Ujarnya, "... jadi, bagaimana?"
Panglima Hanes menghela napas kesekian kali. Sejak absennya penasihat kerajaan, Svenson selalu meminta pendapat dari pihak oposisi anti penyihir.
"My Lords, jika itu adalah perwira, maka pelucutan senjata adalah hal yang rasional."
Hanes membelalakkan mata. Membantah, "My Majesty, kita tidak bisa melakukan tindakan gegabah."
Svenson mencengkeram sisi singgasana. "My Lord, tidakkah kau berpihak kepadaku?" kemudian menghela napasnya panjang. "My Lord, kita tidak bisa hidup selamanya dengan mengandalkan kekuatan sihir yang mungkin bisa membinasakan kaumku."
Panglima Hanes hampir membantah sekali lagi, urung karena Svenson terlanjur bicara lebih dulu "—sungguh, aku hormat kepadamu sebagaimana aku menghormati ayah. Jadi ... aku mohon padamu." Jelas. Svenson menyinggung pembumihangusan Woodlands. Mempertegas bahwa sebagai orang kepercayaan raja, penopang kejayaan Northwind sejak beberapa dekade, Hanes memiliki tempat tersendiri yang masih Svenson hormati. Namun kali ini, dapat dikategorikan sebagai—perintah bungkam.
.
Semakin berjalan, suara-suara bising Izarus samar-samar terdengar. Seakan tempat yang akan dia tuju adalah pusat teramai kastel ini.
Caroline menghentikan langkah di depan pintu besi. Tepat di samping kanan, patung Alpa secara tiba-tiba membuka mulut dengan suara berderak.
Sebuah kunci.
Apakah mendiang Raja Gerardo sengaja melakukannya?
Dia hendak mengambil kunci, tetapi Alpa kembali menutup mulutnya.
Tentu tidak akan semudah yang dia bayangkan. The highness tidak akan lalai. Kemudian sengaja membuat patung Alpa demi keamanan. Namun, dia adalah penyihir. Gugusan sihir yang memantrai Alpa, dapat dengan mudah dia patahkan. "Maafkan hamba, My Highness."
Pintu besi terbuka, kemudian garpu lilin bercabang lima di berbagai sudut menyala. Menerangi kamar rahasia milik mendiang Raja Gerardo.
Tepat setelah Svenson meninggalkan ruang kerja untuk menghadiri pertemuan, dia menyelinap. Dia ingin tahu, apakah ada informasi terkait Osca Roscoe yang ditinggalkan raja.
Mengetuk-ngetuk seluruh dinding, lantai, hingga balik meja. Siapa sangka bahwa praduganya perihal konstruksi Izarus benar adanya. Sebuah jalan terbuka dari balik lantai di bawah meja kerja sang raja, yang kemudian mengantarkannya ke tempat ini.
Secara keseluruhan, tempat ini lebih mirip dengan perpustakaan tua. Rak-raknya menjulang, hanya terdapat satu meja dan satu kursi sebagai satu-satunya ornamen lain.
Dia meniup debu di salah satu sisi paling bawah rak, memunculkan selarik tulisan yang membuat kedua matanya tercengang.
Itu bukanlah kumpulan buku yang dikumpulkan dari berbagai penjuru dunia. Melainkan catatan pribadi Raja-raja Northwind sejak kerajaan agung ini berdiri; pemikiran, gagasan, termasuk pandangan terhadap dunia.
"My Lord, tidakkah kau berpihak kepadaku?"
Dia mendongak ke arah langit-langit; berlukis Dewa Ares yang menunggangi kuda perangnya di atas awan. Namun, bukan itu, melainkan suara yang baru saja dia dengar tepat berada di atas sana.
"My Lord, kita tidak bisa hidup selamanya dengan mengandalkan kekuatan sihir yang mungkin bisa membinasakan kaumku."
Seketika, dia mencengkeram kedua sisi gaun beledunya. Memejamkan mata sejenak, berusaha menulikan pendengaran atas kecaman sang raja.
Debu di rak bagian kanan kembali ditiup, kali ini memperlihatkan daftar kasus-kasus lama sampai sebelum kematian Raja Gerardo. Catatan perang, dan dokumen-dokumen penting hasil penyelidikan raja. Entah terkait seseorang atau wilayah.
Terdapat dua buku yang menjadi tulisan mendiang Raja Gerardo. Perang besar yang sering diceritakan Panglima Hanes, yang menjadi dongeng tidurnya kala itu, benar-benar terjadi di masa ayahanda the majesty.
Perang penaklukkan dataran Eastdean, Westground hingga ke titik Northwest. Seperempat belahan dunia berhasil dikuasai di masa kejayaan Gerardo.
Caroline membuka halaman demi halaman. Meski dikategorikan arsip lama, secara keseluruhan catatan tersebut mencakup peristiwa secara berurutan dan terperinci. Bahkan perkiraan sampai aktualisasi keuntungan, kerugian, dan dampak benar-benar akurat.
Menyibak bagian belakang, Caroline dapat menemukan daftar korban dan tawanan perang. Jari jemarinya menelusur satu per satu bab dalam buku itu. Tetapi nama Osca Roscoe tidak ditemukan.
Dia perlu membuka catatan lain Raja Gerardo, mengumpulkan apa pun terkait takhluknya Westground beberapa dekade lalu. Berburu waktu.
Satu fakta yang paling mengejutkan dalam catatan adalah; bahwa Raja Gerardo membawa hidup-hidup keturunan terakhir kerajaan Westground. Dia yang berjuluk—kilat putih dari barat.
"...?" matanya membelalak tidak percaya.
Dia masih dalam keterkejutan ketika suara the majesty kembali terdengar, "Hukum mereka yang melawan perintah Raja!" yang spontan membuatnya semakin menegang.
.
Danau Iris, hutan bagian timur Northwind
Caroline melempar batu kecil ke sekian kali. Gencatan senjata antara penyihir dan pihak kerajaan naik menjadi satu tingkat lebih berbahaya. Bahkan meski keadaan di sini masih tenang, warna biru danau tidak lagi bisa menenangkan.
"Hah," dia menghela napas. Melempar batu sekali lagi. Pasalnya, apa yang baru saja dia temukan tidak dapat serta merta diambil. Catatan raja terdahulu tidak boleh koyak atau jika ketahuan, dia akan terkena hukuman berat.
Surya mulai berada di kaki langit ketika dia berlalu. Menelusuri jalan utama hanya untuk menemukan kerumunan warga.
"Ada apa ini?" Caroline turun dari kuda. Lantas mendapat penghormatan sebagai bangsawan Dellinger. "My Lady ...."
Kerumunan itu membelah, tidak ada yang berani mendekati seorang wanita bersimpah darah. Lalat yang berdatangan, menandakan bahwa kematian wanita itu sudah lama dan mulai terjadi pembusukan pada jasadnya.
Caroline hendak membalik tubuh itu, tetapi dia mendapatkan sebuah kejutan. Samar-samar, denyut nadi wanita itu terasa berdetak.
"Aku akan membawa mayat ini ke biro kerajaan untuk ditangani." Senyumnya membubarkan kumpulan warga. Dan ketika mereka menghilang dari pandangan, senyum itu pun ... menghilang.
Siapa yang berani melukai seseorang di tanah Northwind?
.
"Minumlah," Caroline meminumkan seduhan tanaman herbal pada wanita yang tidak diketahui namanya ini. Setelah membersihkan dan menjahit kembali luka di perutnya, kemudian mengganti pakaiannya dengan yang lebih layak, wanita itu terus memejamkan mata.
Dilihat dari pembusukan luka dan beberapa ruas jarinya yang hilang, kemungkinan wanita itu disiksa hingga hampir mati kemudian melarikan diri hanya untuk ditikam.
Jika ingin menyembuhkan luka sefatal itu, sihir tidak bisa banyak membantu. Caroline memerlukan obat dari tabib kerajaan.
.......
......Bersambung......