
Kastel Izarus,
"Aku tidak ingat kalau kau sudah sembuh, Lady Lin." Suara Svenson menghentikan langkah Caroline. Gadis itu cepat-cepat menyembunyikan obat yang dia ambil dari tempat penyimpanan para tabib kerajaan.
Berbalik, Caroline menjinjing ujung gaunnya dengan salah satu tangan menyilang di dada. "My Majesty."
Namun, Svenson tidak merespons apa pun. Hanya diam tanpa mengalihkan pandangan darinya.
Sungguh, Svenson yang berada dalam ketenangan sangat lebih berbahaya. Caroline tidak tahu apa yang sang raja rencanakan setelah perintah mutlak pagi ini.
"Anda masih melakukan rutinitas Anda, My Majesty?" dia mencoba memecah keheningan. Entah penglihatannya yang keliru, atau dia yang salah menafsirkan, samar, dia melihat sang raja tersenyum—pias.
"Seperti yang kau lihat." Iris Svenson berpaling, menatap bulan yang memancarkan sukmanya melalui jendela besar Izarus. Memantulkan bayangan gelap di bawah kakinya.
"Dulu, bukankah kau mengatakan ada seorang dewi yang memeluk kelinci tinggal di sana?"
Caroline tercengang. Dia tidak tahu bahwa Svenson mengingat momen kecil kala itu di antara kebencian yang mengikis.
"Maafkan hamba yang kurang pengetahuan saat itu."
"Bagaimana dengan saat ini? Apakah kau telah mengetahui lebih banyak?" nada suaranya selembut sutra, bahkan senyuman itu masih setia di sana. Jelas, Caroline tahu kalimat sang raja memiliki kandungan oposisi.
"Apa yang hamba ketahui tidaklah lebih banyak dari Anda, My Majesty."
"Benar. Caroline yang aku kenal harusnya selalu seperti ini." Svenson memberi jeda, "... Caroline yang aku kenal, tidak akan pernah membiarkanku terluka."
Tubuh Caroline tidak bisa untuk tidak gemetar. Matanya memanas mendengar kalimat yang tersirat nada putus asa itu. Seolah-olah hidup Svenson saat ini hanyalah menanggung dosa karena orang yang paling dipercaya telah membunuh kekasihnya. Dosa yang kemudian dia gubah menjadi gugusan dendam, menopang kedua kakinya untuk tetap berdiri. Untuk tidak membiarkan orang lain menginjaknya seperti yang Caroline lakukan pada Woodlands.
Mata Caroline terpejam sejenak. "Lakukan apa yang harus Anda lakukan, bahkan jika itu berarti menjatuhkan hukuman pada hamba ini."
Svenson berjalan lebih dekat. "Hukuman seperti apa maksudmu, Lin? Apakah melukai dirimu sendiri termasuk hukuman dariku?"
Caroline dibuat bingung. Lidahnya mendadak kelu ketika secara tiba-tiba sang raja menyentuh pergelangan tangannya. "Aku tidak ingat pernah mengizinkanmu terluka. Dosamu, kelak aku yang akan menghakiminya. Jadi ... jangan pernah terluka sampai pedangku menembus dadamu. Jangan terluka sampai aku bisa memenggal kepalamu."
... dan, jangan salahkan aku tentang apa yang mengikutimu. Karena aku ... tidak akan pernah mencabut dekretku."
Kedua mata Caroline hampir berkaca-kaca, tetapi dia bahkan tidak bisa melihat ekspresi Svenson ketika mengatakannya. Rajanya itu menunduk, menyapukan jari jemari besarnya di sana. Terasa hangat dan dingin di saat yang bersamaan.
.
Suara jam berderik dari detik ke detik. Tawa dan lolongan saling menyahut dalam telinga wanita yang tidak diketahui namanya itu. Desingan suara pedang serta rantai yang diseret, membuatnya berkeringat dingin, gelisah. Kemudian dia terbangun hanya untuk melampiaskan ketakutannya.
"Nona, tenanglah! Tidak ada siapa pun di sini." Caroline melempar mantra penenang pada wanita itu. Namun, meski sudah tenang, wanita tersebut tidak bisa berhenti menggigil. Beringsut memeluk lutut di sudut ranjang.
Ini sudah dua hari sejak Caroline membawanya. Setelah lukanya mulai pulih, wanita itu sering meracau. Ketakutan pada suara sekecil apa pun, bahkan suara jam sekali pun. Dia histeris ketika pintu terbuka, diam ketika Caroline ada, tetapi gila ketika berada dalam keheningan di mana suara jam menjadi satu-satunya simfoni dalam ruangan.
Kadang, Caroline menemukannya duduk lemas dengan air mata bercucuran. Seolah-olah dia lelah berteriak dan pasrah terhadap kesakitan yang memeluk seluruh raganya.
Adakah yang dia lewatkan di sini?
Caroline tahu, dalam biro eksekusi, tawanan atau pihak tertuduh akan disiksa sampai melakukan pengakuan. Rasa sakit yang menyayat bertujuan menyuplai kejujuran. Namun, terlalu rancu jika wanita itu adalah tawanan Northwind. Luka wanita itu sangat berbeda dari luka yang disebabkan oleh biro eksekusi.
"My Lady, apakah Anda di dalam?" suara seseorang membuat wanita itu beringsut untuk bersembunyi.
Caroline tahu itu pastilah utusan Panglima Hanes. Pembawa pesan. Karena tidak ada pihak lain yang mengetahui kediaman kedua ini selain gurunya itu.
"Lady, Lord Hanes memberikan ini pada Anda. Katanya, sandinya sudah Anda ketahui. Silakan diperiksa apakah aku mencoba membukanya atau tidak."
Caroline tersenyum, kemudian memberikan sebuah simpul tali pada utusan Hanes itu. "Bawa ini pada My Lord, dia akan tahu aku sudah menerimanya."
Utusan itu undur diri sesuai perintah Caroline.
Simpul tali bukanlah tanpa maksud. Panglima Hanes selalu mengajarkan kewaspadaan, termasuk menyihir seseorang untuk melupakan sepotong peristiwa demi keamanan. Menerima tali tersebut, berarti menyetujui terpotongnya ingatan mengenai lokasi kediaman ini.
Duduk di antara remang lilin, Caroline akhirnya membuka gulungan perkamen sihir itu. Surat itu berisi informasi mengenai keputusan paling rahasia sang raja.
Tidak. Tidak bisa dibiarkan. Dosanya, hanya dia sendiri yang akan menanggungnya. The majesty tidak harus melakukan tindakan ekstrem seperti penyerbuan.
.
"My Lord, bagaimana ini bisa terjadi?" Caroline segera menemui Hanes yang sedang menyiapkan alat tempur. "My Lord, bagaimana kau menyetujui semua ini?"
Hanes hampir menangis. Dia meletakkan segala senjatanya untuk duduk memegangi pelipis. "My Lady, the majesty memintaku untuk tidak mengikutsertakanmu dalam pertemuan. Bahkan, jika kau hadir, kita tidak bisa mengubah apa pun. Suara terbanyak parlemen akan selalu menjadi suara mutlak. Siapa yang berani menentangnya?"
Caroline kehilangan kata-kata. "Daerah mana yang akan the majesty serbu pertama?"
Hanes menunjuk peta yang berada di atas meja. Sebuah sekolah sihir terkemuka di Northwind; Royal Antelopus yang didirikan oleh Raja Northwind kesepuluh. Berada di ketinggian dua ratus meter dari permukaan laut, Royal Antelopus memiliki geografis yang sempurna.
"Bisakah kau berjanji satu hal padaku, My Lord?" Caroline menatap peta dalam tatapan teguh. "Evakuasi seluruh murid menuju pegunungan di wilayah Northwest sebelum pasukan kerajaan berangkat. Gunakan rute bawah tanah untuk menghindari tentara kerajaan."
"Pasukan kerajaan akan berangkat lusa. Setelah membuat persiapan, aku akan mengirimkan utusanku hari ini juga." Panglima Hanes berjanji.
.
Bertolak dari Kastel Izarus, Caroline kembali ke tempat di mana dia meninggalkan wanita itu.
Menyepak kuda, dia memacu membelakangi arah batang surya terbenam.
Angin berembus pelan, membawa aroma anyir ketika dia tiba di kediaman pribadinya. Tidak ada lagi napas manusia selain dirinya seorang.
Memutar knop pintu, dia mendapati tempat persinggahannya telah porak-poranda, tetapi bukan itu. Tujuannya adalah ... memastikan keadaan wanita tak bernama itu di lantai dua. Namun yang dia dapati lebih mencengangkan. Wanita itu telah meregang nyawa.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" dia menyentuh lengan kanan wanita itu. "apa ini?" selembar koyakan kain dia temukan.
Jika itu tergenggam teramat erat, korban pasti tidak ingin membuatnya lari.
Menyentuh pakaian koyak dan darah korban, bibir Caroline merapal mantra, menembus beberapa jam lalu ketika wanita itu masih hidup.
.
Wanita itu adalah wanita yang berada di usia dua puluh lima sampai tiga puluh tahun. Setiap pukul sembilan pagi, ia akan datang ke suatu tempat di bawah tanah.
Di sana, dia memberi makan, bersikap acuh tak acuh pada sesosok pria yang memohon pertolongan.
"Aku akan membayarmu begitu kau mengeluarkanku dari sini." Pria itu mengguncang sel hingga menimbulkan suara gaduh.
"Jika kau sampai pergi, aku yang akan mati."
Caroline mengernyit. Dia mengenali suara ini.
Pria itu melanjutkan, "Jika sama-sama mati, tidakkah mengulur kematian adalah hal yang lebih baik? Bahkan, meski kau tidak membebaskanku, jika aku dibunuh, kau yang menjadi selanjutnya."
Wanita itu menendang sel. "Tidak bisakah kau tidak mengatakan omong kosong? Tuanku tidak akan melakukan itu padaku."
Tunggu. Tuanku?
Terdengar suara tawa memenuhi ruang sempit itu. "Konyol sekali." Pria itu menjulurkan tangannya. Mencoba meraih rambut pirang si wanita. "Kau bangga hanya karena dia memberimu pakaian dan uang?"
Aku katakan satu fakta padamu. Kau bisa memercayainya atau tidak, terserah padamu. Tuanmu itu adalah seorang pengkhianat kerajaan."
"Omong kosong?!"
"Jika kerajaan tahu kau adalah kaki tangannya, menurutmu apa yang akan the majesty lakukan? Satu wilayah bisa dihanguskannya dalam satu malam. Bagaimana denganmu?" pria itu meniup tangannya. "Fiuh ... Tepat seperti itu."
Caroline tercengang. Pembumihangusan? Tidakkah pria itu membicarakan Woodlands? Sedangkan tidak ada orang lain yang mengetahui fakta ini kecuali satu orang; pria yang menjadi kakak kekasih sang raja. Pria yang menghilang dalam malam tragedi di Northeast, dan pria yang mati mengenaskan di hadapan Svenson sendiri—Ludger.
Jadi, bukan suatu kebetulan bahwa wanita itu ditemukan di wilayah Northwind. Kemungkinan, wanita itu dalam pelarian ke biro kerajaan untuk melaporkan pengkhianatan. Karena faktanya, wanita itu memang tidak berbohong. Karena setelah Ludger berhasil kabur, seseorang yang membunuh wanita tersebut datang. Mengeluarkan sebuah jam yang kemudian digunakan sebagai pendulum hipnotis.
Caroline mengernyit melihat penyiksaan manusia melebihi hukum biro eksekusi. Wanita itu sadar ketika tubuhnya dicambuk. Karena hipnotis, dia tidak bisa berteriak. Bahkan jika berusaha berteriak, tenggorokannya tidak akan lagi mengeluarkan suara.
Seseorang itu meninggalkan tempat perkara ketika merasa puas. Dilihat dari cara berjalan dan postur tubuhnya, dipastikan seorang pria.
Namun, ada satu hal yang aneh. Gerakan itu, belati yang digunakan tidaklah asing. Seingatnya, hanya ada beberapa belati unik di dunia. Dan hanya beberapa tempat yang sanggup membuatnya.
Caroline memutus kontak dengan penglihatannya. Tersengal-sengal. Pasalnya, belati itu adalah belati yang digunakan untuk menyembelih Ludger di hadapan raja. Dan orang yang memilikinya di dunia ini hanyalah—Osca Roscoe.
.
"My Majesty," Osca membungkuk dengan salah satu lutut menumpu karpet merah yang mengubungkan pintu kebesaran aula Kastel Izarus dengan singgasana raja.
"Adakah sesuatu yang mengusikmu, Sir Osca?" Osca terenyak dengan kalimat dan nada pertanyaan Svenson. Pasalnya, dia diperintah menghadap raja secepatnya setelah membereskan persenjataan dalam penyerbuan.
Menyadari ada keanehan, Osca segera berdiri ketika suara Panglima Hanes menghentikan pergerakannya. "Kau di sini, Osca?"
"Apakah ada sesuatu mendesak, My Lord?" Osca memberi hormat, mundur sedikit ke belakang. Mempersilakan atasannya itu.
"The Majesty memiliki hal penting yang akan disampaikan," Hanes menatap Svenson, tetapi the majesty sama sekali tidak memahami maksud situasi ini.
Svenson baru akan menyanggah tepat saat pintu kebesaran itu terbuka, dan Caroline melenggang di atas karpet merah. Membawa nampan yang dilapisi kain merah berajut lambang kebanggaan Northwind. "Izinkan aku yang menyampaikannya, My Majesty ...."
"Apa yang sedang kau rencanakan?"
Caroline meletakkan satu lututnya, menjunjung tinggi apa yang dia bawa.
"Apa ini, Lady Lin?" Svenson meraih pin kerajaan itu. Menunjukkannya pada Hanes. "Apakah kau mengenali ini, My Lord?"
Hanes tampak ragu. Memandang Caroline dengan pandangan syarat akan pertanyaan, yang langsung dibaca oleh the majesty.
Jadi, sebelum Carolibe menjawab, sang raja lebih dulu memotong. "Tidakkah ini milikmu, Sir Osca?" sambil menunjukkan gambar belati serupa miliknya.
Osca menggigit bibir dalam diam.
"Aku tidak tahu trik apa yang sedang penasihat kerajaan mainkan, tetapi ... tidakkah kau berusaha menyanggah semua ini?" nada suara Svenson melantun, menggema di benak semua pihak.
"Tidak ada yang bisa disanggah, My Majesty. Ingatkah Anda, ketika pengejaran Ludger, terdapat tiga belah pihak?" Caroline menekankan.
"Aku bertanya padamu, Sir Osca." Yang mengundang senyum sumbang Caroline. "Menurutmu, apakah mungkin kau yang bahkan setara dengan Panglima Hanes bisa dengan mudah ditaklukkan?"
Svenson tak sabaran, "Bagaimana pendapatmu? Apakah kau mudah ditaklukkan?" bertanya pada Osca minta jawaban pasti. "Jika benar begitu, apakah penasihat kerajaan sedang berbicara bahwa aku salah memilih orang?"
Desiran angin membisukan ruangan raja malam itu. Panglima Hanes menatap cemas kedua belah pihak. Putri Caroline, dan tentu saja—Osca —yang notabene salah satu prajurit kepercayaannya.
"Aku tidak!" nada Caroline menegas. "Kau sendiri tahu bahwa pihak Northeast tidaklah memiliki persenjataan yang memadai. Satu-satunya hal tabu adalah ... bahwa pergerakan yang dilakukan timmu telah terbaca."
"Kau ingin mengatakan bahwa terlukanya Sir Osca adalah kesengajaan? Bagaimana kau membuktikannya?" Svenson menuntut. Suaranya naik satu oktaf. Ada emosi yang tersirat. Pikirannya berkecamuk saat ini.
Caroline menatap barang bukti, melanjutkan. "Jika tidak, bagaimana kau menjelaskan penculikan Ludger di saat kau berhasil menangkapnya?"
"Lady Lin, tidakkah tuduhanmu keterlaluan—?"
Suara Svenson menggantung manakala Caroline menyodorkan sobekan kain kepadanya.
Svenson Langsung memahami. Pandangannya seketika bergulir pada panglima yang berdiri tepat di sisinya.
"Sobekan kain ini, aku tidak tahu di mana kau memungutnya, Lady. Tapi, bisakah Panglima Hanes membantuku mengetahui trik apa yang ada di dalamnya?" Hanes mendekat. Permisi untuk menerawang kejadian dari sobekan kain itu. Namun, suara the majesty,"... Lady Lin," menghentikan langkahnya sejenak.
"Jika apa yang kau lakukan hanyalah tuduhan semata, kau tahu apa yang akan aku lakukan."
Caroline menunduk, menampilkan senyum terbaiknya. "Nyawa hamba milik Anda, My Majesty."
Hanes mengerahkan kekuatannya. Membaca kilasan lalu untuk menemukan versi gugusan dari fragmen yang diceritakan oleh Caroline.
Kembali tegak, Caroline melihat nampan agung kerajaan Northwind dijatuhkan oleh Panglima Hanes. Tubuh yang masih perkasa di usia lima puluhan itu mendadak limbung, nyaris tidak bisa berpijak. Menimbulkan bunyi nyaring yang melengking-lengking. Bahkan, jelaga hitam Hanes tidak lagi bisa menyembunyikan mendung yang bergugus di pelupuknya.
Suaranya tercekat, ingin sekali bertanya, tetapi Osca lebih dulu menarik belatinya. Mengacung tepat di jantung sang raja.
Hanes tidak lagi bisa berkutik. Terlalu terkejut akan fragmen yang menamparnya. Kenyataan lebih mengerikan untuk dicerna, sedangkan kebaikan Osca terlalu rancu jika dianggap sebagai ilusi.
Caroline menahan diri untuk tidak melepaskan mantra pada Osca. Salah langkah sedikit saja, nyawa the majesty bisa menjadi taruhan.
Ketegangan berubah mengerikan. Bisu menjadi satu-satunya gurindam pilu. Karena the majesty justru menahan mata belati dengan tangannya sendiri. "Osca Roscoe?" membuat tetes merah mengalir melalui sela-sela jari telunjuk dan tengahnya. Menahan Osca untuk tidak menikamannya."Kau mencoba berkhianat kepadaku?"
"Northwind-lah yang lebih dulu berkhianat." Mata Osca memerah, tampak ada gurat keraguan dalam lintas netranya. Svenson mencebik. "Kau mau menyalahkanku? Takdir bergulir atas kehendak yang terkuat. Itulah hukumnya."
"Apakah Anda yakin Anda adalah yang terkuat?"
Hening sejenak. Ucapan Osca menyulut tidurnya sang pemilik Northwind. Dalam satu gerak cepat, raja bergelar Heather II itu mendorong Osca dengan tendangan mematikan yang membuatnya terpelanting hingga telentang. Lantas, menginjak dada Osca seperti menginjak seekor rayap.
"My Majesty?!" suara Carolibe akhirnya memekik melihat rajanya telah mengacungkan pedang tepat di depan leher Osca.
Ini tidak baik. Jika Osca mati, maka menguak lebih dalam agak terlalu mustahil.
Caroline mencoba mendekat, tetapi Svenson memaki. "Diam di tempatmu, Caroline Dellinger!" jelas, menyebut nama lengkap, berarti putra Briana ini memang tidak sedang main-main. Mata kebiruan yang diwariskan oleh the highness hanya tersirat kegelapan, haus akan darah.
Osca terkekeh, menyadari bahwa sang Grim Reaper dalam balutan jubah Northwind tengah menghitung waktu mundur. Dia tidak akan bisa lari—tepatnya—tidak akan pernah. Kematian selalu mengintainya sejak kedua kakinya menapak di Negeri Bulan Sabit ini, bagaimana pun dia bernaung.
"My Majesty, izinkan aku mengatakan satu hal pada—mu." Svenson semakin menekan dadanya hingga dia nyaris tidak bisa bernapas. Menolak untuk mendengar. "Ma—ti atau tidaknya aku, tidaklah mengubah apa pun."
"Jangan katakan apa pun!"
"... sa—satu-satunya yang berubah kelak adalah ...."
"Tutup mulutmu!"
"... diri...."
"Tutup mulutmu, Biadab!" hentakan menyakitkan menekan dadanya. Osca terbatuk. Tersengal-sengal. "I—ngatlah kata-kataku ini, My Majesty. Bahwa—yang berada di depan matamu, bukanlah istana surgawi. Yang berada di sampingmu, bukan hanya cendekia penuh ab—"
"—uhuk! ...di." jantung Osca telah ditembus. Darah segar menguar dari bibirnya yang terbuka. Tangannya terkulai lemas, jatuh ke lantai seperti daun yang baru gugur. Nyawanya menghilang dari kerongkongan.
Svenson melepaskan pedangnya, menikmati setiap genangan merah yang menggenang memenuhi lantai, membasahi bawah kakinya.
Mereka yang melawan perintah raja harus mati. Mereka yang tidak beradab harus segera dikirim ke abyss. Dan takhta akan selalu menjadi takhta. Menopang sang penguasa di atas menara surga.
.
Malam itu, satu nyawa telah tiada, dan bisu pun menyaksikannya. Kemudian menghantarkannya pada iblis di neraka.
Satu hal yang tersisa. Sebuah kutukan yang masih mengapung di udara.
.......
.......
..."Lihatlah baik-baik, mereka bahkan begitu dekat."...
.......
.......
..."... teramat dekat, sedekat nadi dan jantungmu."...
.......
.......
.......
......Bersambung...
...