The Tale Of Northwind

The Tale Of Northwind
Chapter 7 : Setangkai Krisan Yang Layu



Matahari belum terlihat, koridor Kastel Izarus masih sepi, tetapi pria itu sudah berkeringat. Langkah kakinya cepat. Dia harus melaporkan apa yang dia temukan secepatnya sebelum istana beraktivitas.


Tadi malam, dia sudah mengirimkan surat pada sang majesty. Meminta waktu temu sebelum fajar.


Dia masih mengatur napas ketika di depan, Raja Northwind telah duduk di singgasana; tidak sabar menunggu apa yang hendak pria itu katakan.


Osca segera berlutut. Menunduk, menyilangkan satu tangan di dada, "My Majesty, mohon maaf atas kelancangan saya, tetapi ada hal penting yang harus saya sampaikan."


Svenson mengangkat sebelah tangannya. Namun, Osca tak segera melanjutkan. Pria itu meneguk ludah sekali, meremas tangannya sendiri sebelum mengeluarkan setangkai bunga krisan dari balik pakaiannya.


Svenson dibuat bingung. Jelas dia tidak menugaskan Osca hanya untuk membawa pulang setangkai krisan layu.


"Saya menemukan ini di atas tumpukan batu, di bawah pohon cemara yang ada di bukit desa." Osca menunduk, melirik lamat-lamat kaki sang majesty yang bergerak.


Svenson terbangun dari singgasana dengan satu gerak cepat. Dia jelas tahu apa maksudnya, "Simbol makam," gumamnya nyaris tidak terdengar.


"Kemungkinan ada yang selamat dan sengaja membuat simbol tersebut!" mata Svenson melebar.


Seingatnya, Caroline dan Hanes mengatakan jika Woodlands sudah luluh lantah terbakar api. Wabah mematikan telah menyerang satu desa. Membuat belahan jiwanya turut pergi dari sisinya selamanya.


Jadi, bagaimana bisa ada yang selamat?!


"Apa kau yakin dengan apa yang kau laporkan, Osca?" tanya Svenson dengan nada berat, matanya menyipit. "kau tahu bahwa aku memerlukan sebuah bukti nyata selain setangkai bunga yang kau bawa sekarang."


Osca membungkuk sekali lagi. Dia tidak pernah salah dalam tugas penyelidikannya.


Svenson berjalan sedikit cepat ke arah Osca.


"Kau berani mempertaruhkan nyawamu demi laporanmu ini, Osca Roscoe?"


"My Majesty ...."


"Berdirilah dan katakan dengan jelas! Apakah kau berani?!"


Osca Roscoe berdiri, menatap sang Majesty dengan tatapan teguh, "Tidak hanya nyawa, tetapi darah dan raga ini akan saya serahkan untuk My Majesty."


Svenson menggertakkan gigi. Mengambil setangkai bunga Krisan yang dibawa Osca. Menggenggamnya erat. "Temukan dia secepatnya!"


Osca mundur satu langkah, sekali lagi memberi hormat, "Yes, My Majesty." Sebelum pergi secepat mungkin.


Menyisakan Svenson yang menggeram dalam diam. Langkahnya begitu berat menuju singgasana. Dadanya sesak, kedua matanya memanas.


Livy, wanita yang dia cintai, yang akan menjadi permaisuri dan menjadi ibu dari anak-anaknya. Bisakah Svenson berharap? Bahwa orang yang selamat itu adalah belahan jiwanya? Cinta dan hidupnya?


.......


.......


...|Dua hari lalu|...


Kabut dini hari masih tebal. Osca beserta rombongannya hampir tiba di tanah Woodlands. Udara terasa tidak bergerak. Bahkan tak ada embusan angin sekali pun; tanda bila tempat ini tak lagi memiliki peradaban. Hanya suara hentakan kaki kuda lah yang terdengar waspada.


Waktu berlalu cepat ketika matahari mulai meninggi, menghilangkan dinginnya kabut.


Hening. Tak ada lagi suara hentakan kaki kuda. Semua berhenti hanya untuk berduka pada tanah Woodlands. Asap hitam masih sedikit terlihat dari sisa pembakaran desa itu. Tidak ada lagi yang tersisa, semua melebur menjadi abu, kecuali tanah dan bebatuan. Miris. Para prajurit termasuk Osca mengheningkan cipta. Berdoa pada Yang Kuasa agar mereka mendapat tempat di Nirwana.


Berjalan memasuki Woodlands lebih dalam, hanya ada kengerian yang terasa. Angin berembus kencang, menerbangkan butiran abu ke udara.


"Sir, apa yang harus kami lakukan?" tanya seorang prajurit.


"Berpencar dan temukan apakah masih ada yang tersisa!" Osca menarik pelana kuda, berpencar dari rombongan.


Hingga sampailah ia di sisi barat Woodlands; Bukit Cemara. Di bawah pohon cemara yang kehilangan daunnya, Osca menemukan tumpukan batu dengan setangkai krisan di atasnya.


"Bagaimana bisa?" gumam Osca sulit percaya.


Pria itu yakin seharusnya tidak ada korban yang selamat. Namun dengan adanya simbol makam, berarti masih ada Woodlanders yang tersisa.


.......


.......


...|Perbatasan Northwind|...


Barisan manusia begitu panjang. Gerbang sudah dibuka bahkan sebelum penduduk Northwind membuka mata.


Satu persatu pendatang diperiksa dengan ketat. Mulai dari membuka tudung atau topi yang menutupi wajah, hingga barang bawaan.


Semakin siang, barisan semakin padat. Berdesak-desakan.


Dia melihat dari kejauhan. Dia menatap gerbang agung Northwind dari balik tudung hitamnya. Mengeratkan tangan, kemudian berbalik menjauh. Tenggelam di antara deretan manusia.


Osca melirik sekilas, tetapi orang yang dia lihat melalui ekor mata, telah menghilang.


"Apa pria yang barusan sering datang ke negeri ini?" tanya Osca pada salah satu prajurit. Pakaiannya telah diganti. Tidak ada yang menyangka bahwa ajudan sang majesty akan berada di sini.


"Yang mana? Ada banyak orang yang datang. Kami tidak mungkin mengingat semuanya."


"Tudung hitam, tatapannya seperti ini. Berdiri tepat di sebelah sana." Osca menjabarkan.


"Kalau orang itu, dia memang sering di sana. Berkunjung sebentar lalu keluar lagi," si prajurit mengingat-ingat, "lagi pula, daripada kau memperhatikan orang lain, tidakkah lebih baik kau periksa barang-barang di depanmu?"


.


Rolf Aloysius Marthen menginjak tembakau yang baru saja dia buang, menurunkan topinya sebelum masuk ke sebuah toko yang terletak di persimpangan Saber Street, Northeast.


Sekilas, toko tersebut terlihat seperti toko biasa. Struktur bangunannya didominasi oleh bata merah yang sengaja dibuat terlihat. Menjulang, sedikit condong ke depan dengan plakat kecil yang menggantung di bagian depan, tepat di atas pintu; Under Sword.


Rolf menyentuh satu, memainkan ujung jarinya; mengukur ketajaman pedang. "Barang ini bagus, hanya perlu memipihkannya tiga sampai lima mili maka akan sangat sempurna."


Sang pemilik toko mendengus. Menghentikan kegiatan mengasah belati, "Jangan disentuh!"


"Aku hanya menyarankan hal baik dan kau mengusirku setelah aku memberikannya? Sangat tidak terpuji, Sir Nicholas.”


"Hnn ... pedang dengan ketebalan seperti itu tidak efisien jika untuk rakyat biasa. Kecuali kau ingin mereka menemui kematian." Rolf sedikit terkekeh.


"Aku hanya membuat sesuai pesanan," dalih sang pemilik toko. "bukan salahku apakah mereka akan hidup atau mati. Aku hanya menjual senjata."


Rolf tersenyum. Kail yang dia lemparkan telah diambil. Sir Nicholas adalah pembuat senjata dunia bawah. Pria itu tidak akan benar-benar memperlihatkan apa yang orang lain ingin lihat, tidak akan mendengar dan didengar hanya jika seseorang bisa membegal lidahnya.


"Terlalu banyak yang kau jual. Tidak seperti biasanya." Ucap Rolf memukul telak Sir Nicholas. Pria bertubuh jangkung dengan luka gores yang melintang di wajah itu menggebrak meja.


Namun Rolf menarik tangannya, mengusapnya pelan sambil berbicara, "Dua ratus. Apakah aku salah tebak?"


Sir Nicholas memejamkan mata, menggigit bibir dalam-dalam.


Sir Nicholas mengangguk. Mengundang tatapan intens pria bermarga Marthen tersebut.


Rolf jelas tahu Sir Nicholas tidak akan membuat kesalahan dengan apa yang dia jajakan. Namun dengan jumlah sefantastis itu, kemungkinan asumsinya adalah benar. Bahwa seseorang telah memasok senjata dalam tempo singkat. Dan pihak yang memerlukan senjata di negeri damai Northeast hanyalah satu; kerajaan.


"Aku tidak tahu kalau standar Northeast begitu rendah," Rolf bergumam. "para prajurit tidak akan berani turun ke garis depan dengan membawa risiko seberat itu."


"Kenapa harus takut? Yang mereka lakukan hanya perlu membawa senjata, menang atau kalah tidak akan berpengaruh."


Menarik. Seorang prajurit yang tidak takut mati sangatlah terpuji, tetapi mereka yang tidak memedulikan kemenangan perlu dipertanyakan. Umumnya, prajurit adalah salah satu landasan militer. Hal dasar yang bahkan orang awam tahu. Namun dengan kesembronoan tadi, jelas dapat ditarik kesimpulan bahwa Northeast menyepelekan keadaan mengingat negeri tersebut tidak pernah terjamah perang, jajahan, atau krisis moneter.


Jika dikalkulasi sejak jaman Raja Gerardo di Northwind, pundi-pundi yang dikumpulkan Northeast hingga detik ini bisa membeli sebuah negara. Namun infrastruktur, militer, hingga pengelolaan gelombang urban tidak ada peningkatan pesat. Terlalu banyak celah.


Kalau begini tidak perlu disibak lagi, karena karakterisasi pimpinan sudah bisa dinilai.


.......


.......


Osca berjalan cepat di koridor istana. Hari sudah hampir malam. Tujuan Osca hanyalah kamar The Majesty.


Dua penjaga menyilangkan tombak mereka. Melarang Osca masuk tanpa izin.


"Katakan pada My Majesty, aku ingin menemuinya!"


Perintah Osca disanggupi salah satu penjaga.


Pintu telah di buka. Osca masuk dengan tergesa. Membungkuk hormat pada sang Raja Northwind yang berdiri di depan jendela. Menatap rumah-rumah rakyatnya.


"My Majesty, saya menemukan seseorang yang mencurigakan di gerbang perbatasan," Osca menghela napas sejenak, memberi jeda. "saya sangat menyesal mengatakan ini. Saya sudah mengerahkan beberapa orang untuk melakukan pengejaran, tetapi kami kehilangannya." Osca buru-buru membungkuk. Tidak berani mengangkat kepala atas kecerobohannya.


Svenson memejamkan matanya pelan dan mengembuskan napas dengan keras.


"Kau kehilangannya?!"


"Dia menuju ke Northeast." Ucap Osca tanpa ada keraguan.


"Apa kau tahu wajahnya seperti apa?" Svenson menatap Osca, "dan bagaimana bisa kau tahu dia ada di mana sedangkan kau kehilangan jejaknya?" Svenson meragukan.


"Persembunyian terbaik adalah tempat di mana tidak ada yang disembunyikan," ujar Osca penuh kepercayaan, "percayalah padaku, My Majesty."


Svenson terdiam. Osca mungkin lalai, tetapi sejauh ini tidak ada yang cacat darinya.


"Kirimkan kabar pada Rolf, besok malam kita berangkat ke Northeast!" perintah Svenson mutlak.


"Yes, My Majesty."


.


Northeast. Kota pelabuhan yang terletak di semenanjung timur laut yang menjadi pusat perdagangan dunia. Tempat di mana para urban datang atau singgah.


Di kedai minuman, Rolf mendapat surat resmi dari Raja Northwind. Misinya menjadi ganda. Beruntung karena misi awal sudah dia selesaikan.


"Carilah orang yang mencurigakan. Laporkan padaku beserta ciri-cirinya!" perintah Rolf pada beberapa bawahannya di belakang.


Hanya satu perintah, dan semua bawahannya mulai menyebar menjalankan misi.


Rolf melanjutkan acara minumnya. Meneguk minuman yang terasa membakar di tenggorokan sambil menajamkan telinga. Mendengar bualan demi bualan.


Dia mau meminta tambahan minuman ketika seorang pria berambut pirang bergegas pergi meninggalkan meja bartender.


"Apa yang dia lakukan? Pergi tanpa minum satu teguk?" Rolf menyipitkan mata, jelas curiga.


"Orang datang tidak hanya untuk minum, Sir." Sang bartender mengambil minuman, menuangkannya lagi ke gelas kosong milik Rolf.


"Tepat sekali. Aku juga tidak datang untuk melihatmu diam." Rolf mengacungkan sekantung keping emas.


Sang bartender berdeham sejenak.


Dan ketika sang bartender selesai bicara, Rolf meletakkan kantung tersebut kemudian bergegas pergi dengan segaris senyum tipis.


.


Keesokan harinya, Svenson bersama Osca diam-diam meninggalkan istana kerajaan. Berpakaian layaknya pengelana. Ditemani empat prajurit pilihan, mereka menuju Timur Laut; Northeast.


Dengan kecepatan penuh, Svenson tidak sabar menemui seorang Woodlanders. Batinnya penuh harap bahwa orang itu adalah Livy. Namun bisakah harapan itu terkabulkan jika Osca berkata dia melihat seorang pria dan bukan wanita?


Svenson menarik pelana kuda lebih keras, mengarahkan si kuda ke kecepatan maksimal.


Dan dalam dua hari satu malam, Svenson berserta rombongannya telah memasuki gerbang Northeast. Berbekal satu karung lada hitam dan beberapa rempah, mereka berhasil menyusup dengan aman.


Rolf telah menyambut. Membawa mereka melewati beberapa gang sempit dan kotor, kemudian berakhir di sebuah kedai minuman tempat dia beristirahat.


Svenson melirik sekitar. Osca yang sadar bahwa pembicaraan sang raja memasuki tahap rahasia, memerintahkan bawahannya untuk berjaga.


"Seperti yang saya pikirkan. Northeast memiliki terlalu banyak celah, My Majesty," ucap Rolf penuh keyakinan. "mereka memasok senjata dengan kualitas rendah dalam jangka singkat. Padahal pemasukan mereka bisa membeli separuh Northwind, tetapi dari segi infrastruktur dan pengelolaan, semua terlalu lemah. Tidak ada kemajuan yang signifikan. Jika kita bandingkan dengan Northwind, maka dapat dikatakan Northeast memiliki kemunduran."


"Terutama militer. Prajurit di sini dapat dikatakan memiliki loyalitas rendah. Orang awam menyebutnya prajurit bayaran. Karena hanya orang seperti mereka yang mampu berdiri di garis depan dengan senjata seperti saya sebutkan tadi."


Svenson tak bergeming. Dia masih menautkan kedua tangan di depan wajah, menerawang. "Bagaimana dengan yang lain?"


"Saya rasa, saya telah menemukan orang yang Anda cari ...," bisik Rolf pelan. "dia sering datang. Berbicara pada orang-orang tentang pembakaran desa. Sesekali bertanya pada bartender, bagaimana sebuah desa berakhir hanya dalam satu malam?" Rolf menatap Osca yang mengangguk.


"Belakangan ini, hanya ada satu desa yang tak lain adalah Woodlands. Jika orang ini bukan seorang Woodlanders, tidak mungkin dia tahu bagaimana keadaan di sana hingga bisa bercerita."


"Kapan?"


"Tepat setelah saya mendapati surat Anda."


"Bagaimana ciri-cirinya?" tanya Svenson memastikan.


"Berambut pirang. Rambut bagian depannya menutupi mata, memanjang sampai dagu dan rambutnya diikat di atas kepala dengan mata kanan yang tertutup." Rolf menjabarkan.


Svenson membeku. Dia tahu ciri-ciri orang yang Rolf sebutkan. Namun dia tidak ingin percaya. Bagaimana bisa?!


Dia harus memastikannya sendiri. Jika memang benar orang itu masih hidup.


.............


.......


......Bersambung......