
Osca menghampiri kedai minuman di mana dia bertemu Rolf sebelumnya. Akan tetapi pria berwajah pucat itu tidak ada di sana.
Lelaki bermasker tersebut mengeluarkan satu keping perak, memutarnya ke udara sebelum diberikan kepada bartender yang bertugas, "Buatkan aku minuman!" katanya yang dibalas anggukan oleh sang bartender.
Dia mencoba beristirahat sejenak, menikmati minumannya sebelum kembali melanjutkan tugas. Namun, siapa sangka kalau seekor kelinci akan berani menabrakkan dirinya sendiri ke dinding?
Orang itu ada di sana. Pria seperti yang Rolf gambarkan beberapa hari lalu, duduk menikmati minuman di meja panjang yang sama dengan dirinya, tepat di posisi paling ujung. Hanya berjarak empat kursi dari tempatnya duduk.
Pupil Osca menatap dengan awas setiap pergerakan yang dilakukan orang tersebut. Setiap detiknya, tanpa celah.
Orang itu menandaskan minumannya lalu memberi dua keping perunggu pada bartender sebelum beranjak pergi dengan pergerakan mata yang tidak biasa, mengawasi sekitar seolah-olah dia adalah pencuri.
Osca memberi isyarat pada anak buahnya untuk bersiap, mengikuti orang itu dengan pergerakan hati-hati karena jarak di antara mereka tidak terlalu jauh.
Ludger mendengar lebih dari satu langkah mengikuti dari belakang. Kadang cepat, terburu-buru, atau secara tiba-tiba menghilang. Refleks, dia pun menaikkan tudung, berjalan lebih cepat. Dan kelompok itu bergerak dengan kecepatan sama.
Satu dua langkah, pikiran Ludger berakhir dengan lari.
Menyadari ini, Osca menyebar pasukannya, mengepung dari berbagai sisi.
Aksi kejar-kejaran tidak terelakkan. Dan Ludger merupakan pelari ulung. Kecepatannya seperti Antelop, melompat dengan ringan melewati tong-tong kayu di sepanjang gang.
Menyusuri lorong panjang hingga menembus pasar. Menarik apa pun sejauh tangannya menggapai, menghalangi lawan.
Pekikan histeris, makian, terlontar dari para pedagang. Bahkan para penarik gerobak di sepanjang jalan berlari kocar-kacir. Takut kena serang.
Ludger melompat ke salah satu atap sambil sesekali melihat belakang. Menghindari jarum kecil yang dilemparkan ke udara. Dia hampir saja terkena serangan di area vital jika tidak secara tepat waktu mengibaskan jubah lusuhnya, menciptakan banyak lubang di berbagai sisi.
Merasa pertarungan di atas kemungkinan akan merugikan, Ludger melompat turun. Memasuki gang kecil yang hanya muat dilewati satu orang.
Pasukan Osca dipaksa bermain. Wilayah Northeast jelas bukan berada di bawah pengawasannya. Ada banyak sekali gang atau celah sempit yang tidak dia ketahui. Terlebih mengejar di bawah hanya akan memperlambat gerakan. Jadi yang bisa mereka lakukan adalah mengikuti dari atas, menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan serangan.
Ludger berhasil memanfaatkan situasi dengan baik. Namun, sepandai-pandainya tupai melompat, pada akhirnya akan jatuh juga.
Dia tidak tahu berapa banyak orang kerajaan yang diutus untuk meringkusnya. Pasukan Osca sudah bersiaga di setiap jalan keluar. Bergerak sesuai insting, bukan informasi. Menyergap Ludger tepat saat pria itu baru saja keluar.
Ludger membelokkan kaki depan, mengunci pergerakan. "Siapa kalian?!"
"...."
"Aku tanya sekali lagi, siapa kalian?!" tatapannya waspada, bersiap mengambil sesuatu dari balik jubah.
"Apakah kalian utusan Kerajaan? Jadi Kerajaan juga ingin menangkapku kemudian menghanguskanku?" Ludger berteriak, kalap.
Lagi-lagi tidak mendapat jawaban, Ludger menyerang. Mengeluarkan dua bilah belati di kedua tangan.
Baku hantam tak terelakkan. Ludger menendang dua prajurit, memukul mundur sejauh tiga meter. Menciptakan ruangan lebih untuk kembali lagi menyerang. Bergerak lebih cepat, menyayat pergelangan kaki mereka hingga pasukan yang terdiri dari lima orang itu tumbang, meringis kesakitan.
Orang bernama Ludger benar-benar dalam mode bertarung, mempertahankan diri sendiri agar tidak dilahap lawan.
Namun siapa sangka ketika baru saja dia berbalik, titik butanya kena pukul.
"Maafkan aku." Osca berdiri kaku, meraih tubuh Osca yang tidak sadarkan diri akibat pukulannya.
Menaikkan Ludger di atas kuda, Osca membuka jam sakunya sebentar.
Nahas, belum sempat dia menutup jam saku, sekumpulan tentara hitam mengepung, persis seperti kejadian tempo hari.
"Siaga!" pasukan Osca menyebar, memasang kuda-kuda.
Osca segera mengeluarkan pedang. Menyerang lebih dulu. Namun tentara hitam menangkisnya menggunakan selubung pedang. Berusaha lari dan mengambil kesempatan mendekat pada kuda yang membawa Ludger di belakang.
OSca tidak bisa untuk tidak berpikir. Dia berusaha melindungi Ludger. Dengan satu lirikan mata, dia memerintah. Mereka bangun.
Mode bertarung pasukan Osca bangkit. Tangan-tangan perkasa itu menarik pedang masing-masing, memasang kuda-kuda. Memukul telak tentara hitam.
Pasukan berpakaian hitam itu terseret mundur. Alih-alih menarik pedang dari selubungnya, mereka malah mengeluarkan belati. Berusaha menjatuhkan pedang pasukan Osca dengan cara menendang pergelangan tangan, menggoresnya. Menciptakan percikan darah.
Osca berdecap. Ini bahkan baru dua menit. Tentara hitam itu benar-benar bergerak lebih cepat. Pergerakannya terlatih. Ayunan belatinya begitu tipis membelah udara, menyayat bagai sapuan angin.
Masih dengan pemikirannya, Osca menyarungkan pedang. Mengambil pedang yang lain di sisi kiri. Sebuah pedang yang disuling dari tembaga berwarna hitam.
Dia kembali menyerang. Dengan ukuran pedang yang lebih besar, itu tidak menghambat pergerakan. Malahan, gerakan Osca semakin gesit karena jangkauan pedangnya lebih lebar. Dia hanya perlu memutar satu kaki, bertumpu di kaki yang lain untuk menumbangkan musuh.
Kabut putih dari utara bukanlah isapan jempol belaka. Osca berhasil mengecoh lawan dan menumbangkannya dengan satu gerak terlatih. Namun, satu hal yang tidak dia sadari adalah, seorang pemanah sudah bersiaga di atas menara gereja. Berjarak sekitar setengah mil dari tempat kejadian.
Mengirim panah kecil yang berhasil mengenai kaki Osca tepat saat pria itu melakukan gerak memutar, di pusat saraf pergerakan.
"Tch?!" Osca memegangi kakinya. Mencabut panah tersebut yang membuat kakinya mendadak mati rasa.
Dia baru saja mau mengumpat ketika tubuhnya terasa limbung. Terhuyung ke depan, Osca berusaha menopang tubuh dengan pedang yang tertancap di tanah.
Pergerakan prajurit itu, sungguh tidak biasa. Bahkan pasukannya sanggup dipukul mundur hanya dengan selubung pedang dan belati. Jika mereka adalah orang yang sama yang telah bertarung dengan Rolf, maka ini akan menjadi masuk akal.
Rolf adalah Hyena, dan mereka adalah serigala. Sama-sama buas dalam artian berbeda.
Osca menggigit bibir, meneteskan darah ke tanah sebelum melempar pedangnya ke satu orang yang kini berada satu meter dari Ludger. Menggores orang itu hingga harus mendarat di tanah, menekan lukanya.
Namun, itu adalah tipuan. Seseorang yang lain sudah bersiaga di belakang, bertolak untuk meraih Ludger ketika temannya kena sasaran pedang.
Osca berdecih. Dia berusaha bangkit, tetapi kakinya benar-benar mati rasa.
"Kejar orang-orang itu!" Osca kalap, memukul tanah. Suaranya naik tiga oktaf. Geram pada diri sendiri.
.
Pasukan utusan Hanes mengejar dari sisi lain, mengikuti pasukan Osca yang mengejar tentara hitam.
Menyadari ada pihak lain, sebagian pasukan Osca berhenti. Menghadang pasukan Hanes dengan melemparkan pedang, memblokir gerakan.
"....?!" pasukan Hanes mengelak, berniat menghindari pertarungan. Namun pasukan OSca malah balik menyerang, membuat barikade. Menghalangi mereka untuk pergi.
Sementara pasukan yang lain masih melakukan pengejaran. Saling mendahului. Menyerang tentara hitam secara bergantian.
Pedang terpantul ketika dua pasukan tersebut menyerang bersamaan. Menciptakan bunyi berdenting sebelum pedang tersebut kembali ke tangan masing-masing.
Adu adidaya terjadi di tengah kericuhan. Saling unjuk keunggulan. Sama-sama tidak mau mengalah.
Menyerang lawan, tetapi sama-sama pula dipentalkan. Serangan ganda yang berujung sia-sia.
Masing-masing kubu tercekat. Pasalnya gerakan yang mereka lakukan hampir serupa, seolah memang berasal dari tempat yang sama.
Mereka baru saja menarik kesimpulan ketika secara tiba-tiba asap hitam mengepul di depan. Menjebak, membuat masing-masing kubu tercerai berai.
.
Dia ingin sekali bertanya, menanyakan maksud dan tujuan, tetapi urung ketika secara tiba-tiba putra Gerardo itu mengatakan, "Seorang raja yang baik adalah raja yang memperhatikan landasan dasarnya, mereka para pelindung rakyat."
Hanes dibuat bungkam. Kalimat The Majesty jelas tidak salah, patut dibenarkan. Namun dengan situasi seperti ini, tindakan tersebut seperti peringatan. Garis keras agar dia tidak melewati batas sebagai seorang panglima atau teman dekat ayahandanya.
Sejauh ini, belum ada kabar dari tentara yang ia kirim. Hanes tahu kemungkinan menangkap orang itu sangatlah tipis, mengingat bagaimana pasukan Osca. Namun ini sudah lewat dari dua hari. Tidak mungkin jika utusannya mati, karena tentara Osca belum kembali dengan membawa bangkai. Yang artinya, semua masih dalam kondisi hidup.
Hanes meremas kedua tangannya secara bergantian, menekan keringat di sana.
"Anda tidak terlihat baik, Sir." Svenson menatapnya. "haruskah kita hentikan ini dan mengambil waktu?"
Hanes menarik bibirnya sambil menyilangkan tangan di dada. "My Majesty ...." Sadar betul bahwa tindakan kecilnya mengundang tatapan aneh dari putra Briana.
Namun, Svenson malah menghentikan kegiatan. Meminta Hanes beristirahat sebelum berbalik meninggalkannya sendirian.
.
"Bagaimana bisa?!" Hanes terbelalak dengan surat yang baru saja dia dapat. Seekor gagak baru saja terbang melalui celah ventilasi ruang kerjanya, membawa sepucuk surat dari orang-orang yang ia kirimkan.
Hanes memijit keningnya yang berdenyut, terhuyung. Memegang ujung meja hanya untuk menopang tubuhnya. Mengatur napas sambil mengusap jam saku, lagi-lagi meminta kekuatan.
Bagaimana dia memberitahu Caroline? Kehilangan jejak jelas bukan apa yang ingin Lady Lin dengar.
Jadi, saat itu juga dia segera menemui Caroline. Mengetuk ruang kerjanya yang berada di ujung lorong, tepat di sebelah tangga.
"My Lord ... Anda kembali lebih cepat dari dugaan saya," ucapan Caroline mengundang raut wajah bersalah Hanes.
Pria itu duduk dengan gestur kaku. "Ada beberapa hal yang menghambat. Mohon maafkan aku, My Lady."
Caroline merasakan sebuah perasaan tidak enak. Raut Panglima Hanes jelas menunjukkan bahwa apa yang ingin dia ucapkan bukanlah hal baik.
"My Lady, apa yang kita pikirkan, benar adanya."
"....?!"
"Orang yang selamat, benar-benar ada. Pasukan OSca berhasil meringkusnya tepat sebelum pasukan kita." Ujar Hanes terkesan ragu.
"The Majesty menemukannya?" Caroline membelalak, berharap bahwa dia salah dengar.
"Bukan begitu. Menurut laporan yang aku dapat, tidak ada satu pun dari mereka yang berhasil membawanya."
Caroline menegang.
"Seseorang telah menculiknya. Kita benar-benar kehilangannya. Maafkan aku, My Lady."
"Tidak ada jejak?" tanya Caroline sekali lagi, memastikan.
Hanes mengangguk. "Pihak yang berhasil menculiknya dari Osca, sebelumnya sempat bertarung dan berhasil lolos."
Caroline memejamkan mata, mengembuskan napas secara teratur sebelum kembali bertanya, "Lalu, bagaimana dengan ciri-ciri orang yang diculik? Apakah kita bisa mengidentifikasi siapa dia?"
Hanes buru-buru menyerahkan secarik kertas pada Caroline. Sebuah sketsa kasar yang dia gambar berdasarkan laporan dari orang-orangnya.
Dan itu membuat Caroline lebih dari menegang. Sosok wajah yang tergambar di sana, dia jelas tahu. Pria yang memiliki rambut depan menutupi wajah, dengan satu mata tertutup adalah kakak Livy. Pria bernama Ludger.
.
| Dua hari lalu, di Northeast |
Di sisi lain, Osca yang kehilangan Ludger, gelisah. Bagaimana dia melaporkan hal ini pada The Majesty? Terlebih, berdasar laporan yang dia dapat, pasukannya dihadang oleh sekelompok orang dengan gaya bertarung tidak asing. Kalau bukan karena itu, pengejarannya tidak akan terhalang, atau setidaknya, persentase kemungkinan penangkapan akan meningkat.
Namun, setelah apa yang terjadi, pasukannya membawa angka nol besar. Dan yang lebih membuatnya tidak percaya adalah, mereka tercerai berai hingga membutuhkan waktu untuk kembali.
Meminum minumannya, OSca mendesah. Dia harus segera melaporkan ini pada The Majesty dengan segala risiko.
Maka saat itu juga, dia membawa pasukannya. Bertolak dari Northeast menuju tanah Northwind di timur. Menempuh dua hari satu malam hingga memasuki gerbang perbatasan. Di hari yang sama pula dengan masuknya utusan Hanes ke Ibukota.
.
Izarus Castle, Northwind
Svenson memandang gulungan perkamen. Dia baru saja menyelesaikan tugasnya hari ini; masalah upeti dan pajak di bagian barat daya ketika ingatannya kembali ke beberapa hari lalu, saat dia meminta Osca menangkap Ludger.
Sudah beberapa hari berlalu, tetapi tidak ada satu pun surat yang didapat. Jika begini terus, dia tidak tahu apakah Ludger hidup atau mati.
"Katakan pada My Majesty, aku ingin menemuinya!" pinta Osca di luar ruangan.
Salah satu penjaga menuruti, membukakan pintu untuk Osca.
Suara berderit dari daun pintu yang terbuka, menyentak Svenson. Pupilnya melebar melihat sang ajudan segera berlutut sesaat setelah masuk; memberi hormat.
"My Majesty ...."
Svenson menunggu kelanjutan laporan, tetapi Osca lagi-lagi tidak membuka bibir. Hanya berlutut seolah sedang meminta maaf.
Untuk sesaat, tiba-tiba bibir Svenson terasa getir, sudah bisa menebak kelanjutannya.
Dia segera berdiri, menggebrak meja dengan pukulan keras.
"Katakan, apa yang sebenarnya terjadi?! Katakan dengan jelas, tanpa melewatkan satu pun kejadian," Svenson menggeram tidak percaya, "mengapa kau tidak berhasil membawanya?" dia mengeja kalimat, menekannya per suku kata.
Osca tidak berani mengangkat wajahnya. "Saya sangat menyesal mengatakan ini, My Majesty. Kami sudah berhasil menangkapnya, tetapi pihak lain menyerang, merebutnya dari kami," dia memberi jeda, menimbang sejenak sebelum melanjutkan, "mereka yang sebelumnya menyerang Anda beberapa waktu lalu."
Svenson memejamkan matanya sejenak, melepas napas dengan keras sembari memijit keningnya pelan. Berusaha mengingat-ingat kepingan kejadian penyerangan oleh beberapa tentara hitam di Northeast.
Jadi, mereka juga mengincar Ludger?
Svenson mendengus, menatap nyalang Osca. "Mereka tidak akan bisa membawanya hanya jika penjagaanmu melemah. Apa aku salah?"
Osca terdiam, tidak memiliki keberanian mengelak. Namun ada satu fakta yang perlu dia katakan. "My Majesty, Anda bisa menghukum saya atau apa pun itu, tetapi ada satu hal yang perlu Anda tahu, bahwa pihak ini mengenali gaya bertarung kami. Bahkan meski memiliki kesempatan, mereka tidak mengenai organ vital."
"Penggunaan jarum atau sesuatu seperti itu."
Svenson terenyak. Penyerangan seperti itu hanya dipelajari oleh para inteligen. Dan hanya mereka yang berada di peringkat sama yang bisa melakukan perlawanan.
Jangan katakan—"Dellinger?" gumamnya pelan. Tangan Svenson mengepal penuh dendam.
.......
.......
.......
...Bersambung...