The Tale Of Northwind

The Tale Of Northwind
Chapter 5: Raja Baru



Sinar matahari hangat menyentuh kulitnya. Suara gemeresik daun juga suara bunyi serangga musim panas membuat senyum Svenson mengembang. Semua terlihat sempurna di matanya.


Dia duduk di bawah bayang pohon oak, menatap sang kekasih yang sibuk mengejar kupu-kupu dengan sekeranjang bunga.


Summer breze, begitu menenangkan hati. Perlahan mata Svenson mengatup, menghirup dalam-dalam sensasi musim panas yang selalu berhasil memikatnya. Seperti perempuan berambut keemasan di depan sana, ia pun jatuh cinta pada musim panas di Woodlands.


Perasaan familier membanjiri dirinya. Svenson membuka netra sewarna cakrawala di atas sana. Penciumannya membaui rumput yang ia pijak. Sementara penglihatannya makin dimanjakan oleh semilir angin yang telah menerbangkan dandelion liar, tampak seperti salju di musim panas.


Ia tahu jika tak ada yang lebih indah dari padang bunga Woodlands di musim panas. Bahkan tangannya yang menghalau matahari terangkat ke udara, seolah menutupi wajah dari cahaya yang lebih terang ketika ia beranjak dari tempat duduknya.


Kebahagiaan itu membuncah, membanjiri dunianya dengan indah seperti lelehan gelato di musim panas yang ia impikan bersama sang kekasih.


Livy tampak cantik tanpa gaun mahal sudah membuktikan bahwa cinta ternyata memang tidak terikat logika. Bibir perempuan itu menggembung, bersiap untuk meniup setangkai dandelion liar. Membuat Svenson benar-benar gemas ingin menciumnya.


Ah, bagaimana mungkin ia merasa dadanya begitu penuh akan perasaan bahagia, hanya dengan membayangkan hal yang bisa membuatnya begitu malu? Svenson berdeham ketika matanya melihat pergerakan Livy yang mulai berlari menjauh dari tempat ia berdiri sekarang.


"Hei ...." Svenson tak ingin kehilangan jejak kebahagiaanya.


Kakinya dengan cepat melangkah. Tawa Livy terdengar seperti lonceng kecil. Menggema di dalam hati, mengundang untuk mendekat. Memangkas jarak di mana sang kekasih terasa dekat dari jangkauan tangannya. Svenson meraih pundak gadis itu, membaliknya demi ingin melihat wajah bahagia Livy.


Namun, bukan raut muka bahagia, juga tatapan penuh pemujaan yang diterimanya.


Wajah sang kekasih menyiratkan kesakitan serta kekecewaan. Irisnya yang berwarna keungunan kehilangan cahaya. Perasaan sedih dan kilat penderitaan membuat Svenson ingin meraih sang pujaan dalam dekapannya. Namun, air mata darah dari mata indah itu membekukan geraknya sebelum ia sempat meraih.


Jarak mereka hanya selangkah, tapi terasa begitu jauh. Seolah tubuh Livy tersedot ke belakang, dan api merembet membakar tubuhnya. Menjilat tanpa ampun. Menyisakan tangannya yang menggapai-gapai Svenson tanpa daya.


"Tolong ... tolong aku ...." Livy mengiba, tubuh ringkihnya makin terbakar. Api biru itu melalap tubuhnya tanpa belas kasih, meski Livy sudah terkapar di tanah.


Svenson ingin berteriak, tapi mulutnya tak berfungsi. Ia ingin bergerak, berlari menyongsong sang kekasih. Membantunya memadamkan kobaran itu, tapi tubuhnya tak bisa digerakkan. Rasa sakit mengoyak jantung. Mengirimkan irisan sakit di hatinya ketika Livy menatap penuh tanya; "Kenapa?" katanya dengan kecewa, "kenapa kau diam Svenson?" mata Livy menyerangnya dengan sebuah raut yang memperlihatkan rasa sakit tak tertahan.


Svenson bersumpah! Ia ingin berteriak sekencangnya, dan meredakan api yang kian melalap Livy. Namun bagai terkena mantra, ia bahkan tak bisa melakukan apa-apa. Tubuhnya kehilangan fungsi motorik.


Livy di sana. Mengerang dengan sisa tenaga yang menggambarkan rasa sakit yang bahkan tak kan bisa diterima oleh pikiran terliar Svenson. Air mata Svenson mengikuti gravitasi, dadanya terasa ditusuk melihat kekasihnya perlahan terenggut nyawanya di depan mata.


Rasanya menyakitkan. Membuat napas Svenson tercekat, tercekik, dan dadanya kehilangan udara.


Bagaimana?! Bagaimana ia bisa melalui ini?!


Satu butir air mata jatuh.


Mata Svenson terbuka sempurna. Dadanya kembang kempis meraup udara di sekitar. Ia terbatuk beberapa kali. Mimpi itu terasa lebih dari nyata. Bahkan Svenson bisa merasakan jantungnya berdetak tak terkendali, dan emosinya begitu meledak-ledak.


"My Majesty ...." Suara ketukan dan sapaan membuat ia tahu bahwa segalanya memang menyakitkan. Bahkan di situasi ini, seorang laki-laki diharamkan untuk menangisi kekasih yang telah dibantai oleh orang yang menasbihkan kesetiaan mengabdi kepadanya.


Beberapa pelayan datang dengan sebuah nampan berisi ember air hangat dengan taburan rosela kering dan juga handuk bersih.


Sementara itu salah seorang di antara mereka membuka gorden beludru, membiarkan sinar sayu dari matahari musim gugur memasuki peraduan sang raja.


Svenson mencuci mukanya dengan air hangat itu, hanya untuk membuat ia sadar. Bahwa sekarang ia cukup kuat untuk menuntut balas.


Karena dia, adalah raja dari Northwind. Penguasa daratan utara.


.......


Bau tinta masih belum memudar dari perkamen itu. Namun tetap saja, masih banyak yang ditinggalkan Gerardo untuk dipelajari dan dikerjakan.


Jemari Svenson meraba sebuah buku bersampul kulit milik sang ayah. Matanya berkelana menelusuri ruangan kerja tersebut yang dulu tak pernah terbuka untuknya.


Dunia lain sang raja, yang Svenson enggan untuk masuki adalah tempat ini. Tempat paling terasing dari Izarus Castle, karena memang dijauhkan dari pikuk bingar kemewahan istana.


Nyatanya, ruang kerja pribadi Gerardo malah jauh lebih sederhana. Ada rak yang terorganisir, sebuah meja kayu kokoh yang nihil ukiran. Sebuah lukisan Ratu; Briana Henrike Dorothy yang cantik jelita duduk dengan wajah tersenyum. Tiara bertahta berlian dengan jalinan rumit itu disimpan dengan baik oleh rumah tangga istana. Seharusnya, Livy juga memakainya, jikalau si penyihir jahat tersebut tidak membunuhnya. Pikir Svenson muram dan marah, tangannya tanpa sadar mengepal di atas meja.


Mata Svenson bergerak dari lukisan ibunya ke dinding ruangan, kemudian ke jendela kecil yang selalu tertutup.


Tak ada yang menarik, pikirnya, ia melengkungkan senyum pahit. Tempat itu adalah pengasingan. Svenson kini tahu perasaan sang ayah yang sehari-hari terbenam di sini.


Ia mengetuk-ngetuk permukaan meja sambil mengamati tumpukan perkamen. Dan tak bisa mengatasi rasa penasarannya terhadap buku dari sang raja.


Bibir Svenson mengkurva, sebuah catatan kerja berisi tulisan Gerardo sangat terperinci, memudahkan dia mengambil alih tugas-tugas yang ditinggalkan.


Mata Svenson beralih pada perkamen yang setengah terbuka, tampaknya ditinggalkan begitu saja. Lembaran itu adalah pekerjaan terakhir sang ayah yang belum terealisasi.


Ada sebuah catatan mengenai Northeast yang benar-benar menarik. Sebuah pemikiran Gerardo dalam menekan harga yang bisa makin mensejahterakan Northwind.


Memangkas nilai bahan yang diimpor dengan cara mengeliminasi upeti dari Port Pickarel Bay, yang lebih suka disingkat sebagai Port Pickbay sangatlah menggiurkan. Beberapa waktu belakangan, Gerardo telah merintis usaha untuk bekerja sama dengan Northeast dengan jalur diplomatik.


Svenson menekuni dengan serius isu yang ditinggalkan oleh ayahnya.


Namun alih-alih diplomatik yang akan memakan waktu lama, Svenson lebih suka menarik kesimpulan ekstrem. Membuat garis tegas antara mereka. Tunduk.


Jika Gerardo terkenal murah hati, maka Svenson tidak. Ia lebih suka mengakuisisi Northeast menjadi bagian Nortwind, daripada harus membuat para bajingan-bajingan Northeast kenyang memakan uang-uang mereka.


.......


Awal bulan ini Kastil Izarus begitu sibuk berbenah. Riuh para pelayan membersihkan seluruh ruang istana, hingga para tukang kebun yang mulai membersihkan rontoknya daun-daun maple menjadi pemandangan umum.


Royal Hall atau aula istana bahkan lebih rapi dan cantik, seolah memamerkan ke seluruh penjuru negeri bahwa raja baru mereka yang agung akan memberikan mereka banyak berkah.


Meja-meja ditata di state dinning room—tempat perjamuan makan resmi yang digunakan oleh keluarga kerajaan untuk tamu-tamu penting meski tidak sebesar the ballroom—telah bersolek cantik di pertengahan musim gugur itu. Meja makan panjang yang terbuat dari kayu ceddar telah diberi taplak linen yang baru dengan sulaman benang emas. Di atasnya dipercantik oleh lilin-lilin yang ditaruh rapi dalam tongkat rendah bercabang tiga, terbuat dari tembaga dan diukir cantik sedemikian rupa. Memberi kesan mewah dan juga penuh kehangatan. Kontras dengan ketegangan yang dibawa oleh sang raja baru.


.......


Perjamuan makan malam di Izarus Castle sudah kehilangan ruhnya sejak kursi itu penuh dengan pejabat penting kerajaan. Seperti halnya sebuah perang diplomasi, para duke dan dutches yang terhormat begitu hati-hati memilih kata apa yang diucapkan di hahadapan The Majesty; menilik bahwa raja baru mereka masih muda dan cukup temperamen.


Svenson memukul sendok ke arah gelasnya yang telah terisi anggur terbaik dari daratan utara, meminta perhatian para hadirin yang terhormat untuk memfokuskan diri terhadap dirinya seorang.


"Aku tidak pandai mengucapkan kata-kata." Svenson melirik sinis ke arah Caroline yang begitu anggun dengan gaun mengembang navy beraksen ruffle putih, tampil luar biasa. "tapi aku berterimakasih kepada semua orang yang telah mendukungku dan mempercayaiku sebagi Raja Northwind XV."


Svenson melengkungkan senyumnya yang serupa kail untuk menjerat. "Karena aku adalah raja kalian, aku berharap di kemudian hari kalian tidak menghianatiku seperti tiga pengurus kamar ayahku."


Svenson menikmati setiap raut muka pias dan juga penasaran dari para pejabat yang datang.


"Ayahku tidak mati karena Tuhan menghendakinya. Namun karena kecerobohan dan juga sifat culas manusia." Mata Svenson menghunjam langsung mata rembulan yang ditatapnya terang-terangan.


"Jangan berani melangkahi kuasaku. Karena aku menganggap bahwa mencurangiku sama seperti sebuah kudeta. Dan itu sama artinya; kematian." Mata safir Svenson berpindah kepada Hanes Allerick. "bukan begitu, Jendral?!"


Hanes memberikan senyum kaku kepada rajanya. Tangannya tersilang di dada, "Perintah Anda adalah mutlak. Peganglah sumpah setia saya, My Majesty." Kepalanya menunduk sebentar, tanda bahwa ia sepenuhnya tahluk akan perintah absolut sang raja.


Ketegangan terasa begitu kental, sampai menyumbat semua kata. Alih-alih kehangatan yang dirasa, para anggota makan malam itu sepertinya telah memutuskan untuk membelah suara. Beberapa yang setia kepada regalia terdahulu, tetap menghormati keluarga Dellinger yang telah mengemban peranan penting sebagai dewan penasihat kerajaan dan ketua dewan parlemen.


Kedigdayaan keluarga Dellinger selama dua dekade mengusik klan-klan yang terpinggirkan hingga memaksa mereka bersatu seolah melawan keluarga pilihan Gerardo itu.


Namun roda yang berputar membuat oposisi dari dewan pimpinan Shamus, kini makin merasa berada di atas angin, karena sang Raja sendirilah yang dengan gamblang memperingatkan Caroline dan jajarannya.


Caroline masih menyunggingkan senyum anggunnya seolah tak terusik semua kata sang raja.


"Apakah kau juga akan mematuhi perintahku, Lady Caroline Ragnhild Dellinger sang Penasihat Agung Nortwind?!" ada nada menghina dan juga sarkastis ketika Svenson menyebutkan nama lengkap beserta jabatannya.


Caroline tahu, perang ini sudah dikobarkan lebih dulu. Namun, alih-alih melempar serbet makan dan menghancurkan perjamuan ini, Caroline memilih tetap tersenyum, wajahnya datar tanpa guratan emosi. Ia tahu cara mengendalikan diri.


"Perintah Anda adalah sabda untuk saya, My Majesty." Jawabnya dengan nada selembut beledu.


Bukannya senang terhadap sifat jinak Caroline, Svenson justru menggertakkan gigi. Begitu murka akan ketenangan Caroline. Ia yang ingin memancing perempuan itu, tapi ia sendirilah yang memakan umpannya.


Caroline tersenyum, sama sekali tak menyentuh apa pun di meja. Harusnya sup pistaschio yang hangat itu bisa manjadi makanan pembuka yang memanjakan lidah, serta wine terbaik yang terhidang di meja menjadi minuman nikmat, tapi Svenson memang berbakat merusak selera Caroline.


Mata Caroline mengamati rangkaian bunga Baby Breath dan juga Irish Bell Heather berwarna lilac yang seketika membuat dadanya berdenyut nyeri. Inilah yang mematik emosi Svenson. Warna bunga heather atau orang awam menamainya lavendel Inggris, jelas mengingatkan sang raja akan kekasihnya yang terbunuh.


Caroline mengangkat dagunya. Sorry not sorry—dia tidak akan menyesali sedikit pun pelenyapan Woodlands, karena apa yang ia lakukan semata demi kedamaian Northwind.


Setelah basa-basi panjang, sang panglima berdiri dan membungkuk hormat kepada raja baru mereka. Lalu mengangkat gelas kristalnya tinggi-tinggi. "For the victory! Live King Heather II."


Dan suara gelas berdenting menandakan pesta dimulai. Akan tetapi, ada satu orang yang tidak meminum anggurnya dan hanya menghirup aromanya saja. Caroline Dellinger bersikap defensif dengan tetap waras menghadapi segala kemungkinan yang ada.


.......


Svenson tahu jikalau Caroline si penyihir, sangat hati-hati belakangan ini. Dan alih-alih merasa bersalah, Svenson justru menyukai ketegangan di antara mereka.


Afternoon Tea yang diadakan minggu kedua biasanya diisi dengan kehangatan. Dulu Caroline dan Gerardo akan berbincang mengenai banyak hal; seputar kerajaan, atau hal sepele bahkan jika itu adalah sebuah sajak pujangga.


Namun kini, afternoon tea milik Caroline menjadi begitu canggung dan menyiksa.


"Aku selalu bertanya-tanya, ayahku selalu menyukai afternoon tea bersamamu, tapi bersamaku kau mengunci rapat mulutmu." Svenson mendengus sambil melirik ke arah Caroline yang menyesap earl grey tea-nya dengan keanggunan yang nyata.


Caroline memyimpul senyumnya, "Karena saya lebih suka memberi Anda kesempatan bercerita, My Majesty."


Svenson menatap tak berselera piring kudapan yang menyajikan cherry crumble cake, muffin labu, scones dan chimney cake. Lalu netranya teralih kembali ke arah Caroline yang sedang menikmati indahnya warna daun maple yang menghambur di pelataran.


"Bintang jatuh." Caroline bergumam.


Telinga Svenson menajam,


"Angin kerinduan membawa bintang jatuh, berlutut di bawah kaki Paduka Yang Mulia. "


"Kau mau menghinaku, ya?!" Suara Svenson meninggi.


Caroline mendesah, "lihatlah Yang Mulia." Caroline dengan kesopanan menunjuk ke arah jajaran pohon maple yang memerah karena musim gugur. "bintang jatuh yang kumaksudkan adalah daun-daun maple yang berguguran di bawah kaki Anda, jika Anda menyempatkan diri berjalan-jalan di halaman istana, Yang Mulia."


Svenson mengusap canggung rambutnya, merasa malu akibat tingkah impulsifnya.


"Aku tahu kau sedang menertawai ketololanku, kan?!"


Caroline menarik napas, dan menjawab sesopan mungkin "Saya tidak memiliki keberanian untuk itu,"


Svenson langsung mendengkus jengkel, "Tapi kau berani melangkahi kuasaku. Bukankah begitu?!"


Caroline menelan semua tuduhan Svenson tanpa membantah.


Agenda minum teh dua mingguan itu bukanlah perang pertama untuk mereka berdua. Tampaknya Svenson benar-benar tidak bisa membiarkan Caroline duduk diam dengan tenang. Karena pertemuan-pertemuan selanjutnya, Svenson terus memberondong Caroline dengan pernyataan menyudutkan.


Namun Caroline akan bermain dengan cantik, lebih suka menampilkan wajah datar tanpa dosa, seolah tunduk semua perintah rajanya. Meski hatinya sakit dikatai macam-macam, ia akan menulikan telinga. Ia adalah pelindung raja. Pantang baginya melukai, meski itu balasan sekali pun.


.............


......Bersambung......