
Purnama kian merangkak naik dengan sempurna. Seorang perempuan terus melangkah menyisiri jalanan di sekitarnya. Begitu sunyi, lantaran sebagian besar penduduk telah beristirahat.
Cahaya remang dari dalam rumah penduduk turut membantu sinar bulan menerangi sekitarnya. Sedikit pun tak ada rasa takut menghampiri hati Lady Caroline meski berjalan seorang diri di waktu yang tepat tengah malam. Dia berhenti melangkah, kemudian menyandarkan punggungnya pada sebuah bangunan yang ia ketahui merupakan toko roti.
"Bros prajurit kerajaan ...." sembari bermonolog, lady memandangi benda yang wajib dimiliki oleh siapa pun yang telah bersumpah setia pada kerajaan.
Sepasang mata indah perempuan itu memejam. Refleksi riwayat bros tersebut beberapa kali melintas dalam penglihatannya.
Lady Caroline meremas gaunnya. Sedari tadi, ia sulit memercayai ini.
"Osca Roscoe?"
Segala asumsi yang ia pikirkan seketika menguap, manakala pria itu yang lagi-lagi terlihat.
"Tapi kenapa? Bukankah dia suruhan The Majesty? Dan My Lord pun tahu Osca turut dalam pengejaran penculik Ludger."
Belum ada benang merah yang dapat ditarik untuk menjadi penghubung. Terlalu kusut. Bila Osca memang berkhianat, artinya turut mengejar kemarin hanyalah drama? Dan setiap drama pasti ada ....
"..."
Caroline menggelengkan kepalanya. Ia berusaha mengabaikan apa yang baru saja ia pikirkan.
"Tidak mungkin!"
Caroline mencoba memikirkan kemungkinan lain.
"Mungkinkah, bros ini dicuri saat Osca gagal dalam misi membawa Ludger ke Northwind?"
Namun untuk apa? Untuk mengadu domba Osca dengan The Majesty lantaran Osca prajurit kepercayaan The Majesty?
Drama yang begitu rapi ini hanya didalangi seorang prajurit?
Segala terkaan berbaris dalam benaknya. Asumsi yang membela dan menjatuhkan Osca berjejer rapi, tetapi ia harus mengambil keputusan. Sementara ini, jangan berikan kepercayaan dulu pada pria itu.
"My Lady."
Perempuan itu langsung menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
Tampak seorang pria tinggi tegap berambut cokelat, dan tiga orang lainnya di belakang lelaki itu memberi hormat pada Caroline.
"Ko?"
"Kami sudah melakukan pencarian ke beberapa tempat yang minim pengawasan di Kastel Izarus, Nona Lin. Namun kami tidak menemukan Ludger."
"Lanjutkan pencarianmu dalam radius 3 kilometer dari kastil ini." Caroline memberikan perintah.
"Nona, izinkan saya secara pribadi mengawal Anda." Ko berujar masih dalam sikap hormatnya. Carline sedikit menimbang-nimbang, ia lalu memberikan satu anggukan kepada pengawal yang banyak berjasa bagi keluarga Delliner tersebut.
Semuanya segera berpencar untuk melakukan pencarian. Ko dan penasihat kerajaan berjalan menuju barat, lantaran keduanya tahu di sana terdapat bangunan bekas kantor penjaga yang sudah lama dikosongkan, karena posisinya yang tidak strategis dan tertutup dinding kastil.
Beberapa menit berjalan, Ko yang sudah memiliki banyak pengalaman menyadari adanya bekas keributan di tempat ini, dapat dilihat dari serpihan kecil atap rumah yang berjatuhan.
"Nona Lin, saya mohon untuk berada di belakang saya. Tempat ini begitu sunyi dan mencurigakan." Pengawal setia itu berujar sembari memberikan pengawasan penuh pada sebuah bangunan tak terawat tepat di sebelah dinding kastel. Insting tajam Ko akan situasi seperti ini sudah terlatih dengan maksimal, tentu ia bisa memperkirakan bahaya yang akan datang.
"Sembunyi!"
Caroline bersembunyi di balik dinding pagar bangunan bekas kantor penjaga, lalu tak lama, seseorang dalam balutan hitam bertudung terlihat berjalan memasuki bangunan tersebut.
Sama sekali tak tampak seperti apa paras orang itu, tetapi dapat disimpulkan bahwa dia seorang pria, bila dilihat dari perawakannya.
Lady Caroline dan Ko mengamati pria tersebut yang telah menghilang di balik daun pintu.
Merasa situasi cukup aman, Ko memberikan instruksi kepada Lady Caroline supaya mengikutinya. Mereka memutari bangunan tersebut untuk mencari celah masuk.
BRAK!
Suara keras berhasil menghentikan pergerakan keduanya. Baik Lady maupun sang pengawal terdiam menjadikan pendengaran mereka sebagai satu-satunya media meraup informasi.
"Aku tak tahu apa kesalahan Woodlanders sehingga kalian begitu menginginkan nyawa kami, tapi, menjadi tawanan kalian, bagiku itu lebih buruk!"
Caroline terkejut dengan kalimat tersebut. Terlebih, suara familier yang didengarnya.
Tak salah lagi, ini ... suara Ludger!
BRAK!
Tiba-tiba dari jendela lantai dua, sebuah kursi kayu jatuh begitu saja. Sudah pasti kursi itu dilempar untuk menghancurkan jendela tersebut. Kemudian tampak Ludger yang melompat keluar, bergelinding mendarat dengan lihai, dan diikuti dua orang berpakaian serba hitam. Salah satu tak berpenutup wajah, tetapi akibat minimnya cahaya, paras pria itu tak dapat diidentifikasi.
Baik Ludger, Caroline, Ko, dan kedua orang berpakaian hitam di sana saling memandang.
"Lady Lin, sudah lama kita tidak berjumpa." Ludger berujar dengan bertepuk tangan. Ada nada sinis dari suaranya.
Namun, Caroline hanya memandanginya dengan tenang. Sementara kedua pria berbalut pakaian hitam di sana terdiam dengan salah satunya berada di belakang seolah dilindungi.
Saling memandang-dua pria berbaju hitam lakukan dan mengangguk kemudian.
Dengan gerakan tiba-tiba, pria berpenutup wajah itu mengeluarkan sebilah pisau belati bergerigi di bagian tumpulnya, sementara lelaki bertudung di sana berlari menjauh.
"Kheh. Akan ada pertarungan seimbang malam ini, tetapi sayang sekali aku tak bisa menontonnya. Selamat tinggal." Ludger berkata, kemudian berlari meninggalkan gedung bekas kantor penjagaan.
"Ko, sebisa mungkin kau tangkap pria berpenutup wajah di sana. Aku akan mengejar Ludger. Ini perintah!"
"No-Nona—!"
Caroline berucap cepat, tanpa menerima sanggahan Ko. Ia langsung bergerak mengejar Ludger yang sudah cukup jauh berlari menuju gerbang Kastel Izarus.
Sementara di depan, pria berambut pirang itu sama sekali tak memelankan langkahnya. Sebisa mungkin ia tak boleh tertangkap lagi, dirinya tak mau kembali menjadi tahanan kerajaan yang dibencinya sampai ke urat nadi.
Tak jauh, sudah terlihat gerbang barat kastel yang menjulang tinggi dengan beberapa penjaga di masing-masing daun pintu.
"Sial!" Dei mengumpat kesekian kali saat dirinya harus berusaha lebih keras lagi agar bisa keluar dari sini.
Namun, mendadak cahaya sewarna langit biru bergerak cepat dari atas, kemudian berubah menjadi sangkar burung berukuran raksasa dan mengurungnya.
"Menyerahlah dan ikut denganku!" perintah sang Lady begitu distansi. Mereka tak lebih dari 10 meter. "aku memiliki wewenang suara untuk tidak mengeksekusimu, jika kau mau bekerja sama denganku."
"Dan mengeksekusiku usai aku tak dibutuhkan lagi? Jangan bercanda!" Ludger tampak marah, tidak hanya pada Northwind, tetapi pada seluruh hal yang berhubungan dengan kerajaan yang telah membinasakan kampungnya, membinasakan semua keluarganya.
"Percayalah padaku. Saat ini kau tengah diincar oleh The Majesty, bukan soal nyawamu, tetapi soal yang kautahu." Caroline berkata untuk bernegosiasi. Dia yakin bukan nyawa Ludger yang diinginkan Svenson.
Pemuda itu terlihat menimbang-nimbang. Tampak dadanya turun naik akibat napasnya tersengal-sengal.
"Denganku, kau akan aman, Ludger."
"Jika kau berbohong?!"
"Aku tidak pernah berbohong." Suara sang Lady penuh penekanan. Sorot mata meyakinkan lah yang membuat Ludger akhirnya mengangguk.
"Baiklah."
Tak berselang lama, ketiga pengawal keluarga Dellinger yang sebelumnya berpencar guna melakukan pencarian datang menghadap Caroline bersamaan.
"Tokuma, segera cari Ko di dekat bangunan bekas kantor penjaga Barat." Langsung saja Caroline memberikan titah kepada salah satu pengawalnya.
Sebentar lagi fajar datang, ia tak boleh membuang waktu untuk segera membawa Ludger ke hadapan Svenson.
Setelah yang ia lihat bahwa benar ada seseorang yang tengah menggerogoti Northwind dari dalam, dia tak boleh lengah lagi.
Sedangkan Ludger hanya berpura-pura menuruti segala keinginan Caroline. Dalam pikirannya, ia hanya perlu menunggu waktu sampai bisa melarikan diri dan benar-benar menghilang untuk kembali membalaskan dendam.
.
Caroline menatap matahari di ufuk timur yang mulai terlihat. Sudah waktunya menemui The Majesty, pikirnya saat ini. Perempuan itu sama sekali belum beristirahat, begitu pun kedua pengawal dan juga Ludger yang saat ini hanya duduk dengan tangan terikat sambil memejamkan matanya.
Suara Ketukan di pintu menjadi atensi semua orang di dalam ruangan tersebut.
"Masuklah." Ucap wanita penuh keanggunan itu.
"My Lady, Ko berhasil saya temukan dalam kondisi kritis."
Baik Caroline dan kedua pengawal di sana terkejut bukan main, pasalnya, mereka sudah mengetahui bagaimana kapabilitas Ko dalam bertarung.
Sudah pasti pria bertopeng itu bukanlah orang sembarangan, bisa jadi lelaki itu merupakan prajurit berpangkat tinggi yang menjadi tangan kanan si pengkhianat sebenarnya.
Lady Caroline berharap Ko segera sadarkan diri untuk menggali informasi lebih dalam mengenai siapa yang menculik Ludger sebelumnya. Sementara ini, ia harus membawa Ludger ke hadapan Svenson lebih dulu. Mereka harus bersiap-siap, tidak mungkin menemui sang raja dengan penampilan sekacau ini.
.
Duduk dengan tenang di singgasana sembari menatap pintu berdaun dua di hadapannya. Sulit untuk menahan rasa sabar usai mendengar utusan dari penasihat kerajaan akan membawa orang yang ia cari ke hadapannya pagi ini.
Dirinya bahkan sudah menyiapkan banyak pertanyaan untuk kakak dari wanita yang sangat ia cintai itu.
Penyesalan juga tentu akan ia katakan saat pertemuan mereka nanti.
Sungguh Svenson sulit sekali menahan kesabarannya. Senyum tipis terpatri di wajahnya melihat kedua daun pintu terbuka. Namun, senyum itu begitu saja sirna begitu ia melihat bukan sosok yang dia harapkan yang ada di sana.
"Panglima Hanes, Sir Osca?" sang raja berujar menyebut nama kedua orang di hadapannya.
"Selamat pagi, My Majesty." Hanes memberi salam dan penghormatan, diikuti Osca yang juga memberikan salam hormat kepada The Majesty.
"Ada apa Panglima Hanes dan Sir Osca berkunjung di pagi ini?"
"Apa Anda lupa janji kita semalam untuk berbincang pagi ini?" Hanes berkata mengingatkan Svenson perihal janji mereka semalam.
"Ah. Maafkan aku melupakannya. Bisakah Anda menunggu sebentar? Ada seseorang yang akan berkunjung sebentar lagi." Jawab Svenson dengan sedikit penyesalan.
Hanes memberikan anggukan, bahwa tidak apa bila ia harus sedikit menunggu. Namun, dirinya tidak memungkinkan berada di sini bila sang raja sedang berbicara secara pribadi bersama seseorang.
"Selamat pagi, My Majesty." Suara feminin begitu saja dapat ketiga pria di sana dengar. Sontak mereka mengarahkan pandangan pada pintu besar berpermadani merah di sana.
Svenson dapat melihat wajah seseorang yang begitu mirip dengan gadis yang ia cintai. Wajah Ludger sungguh mengingatkannya dengan ‘Livy’.
Di sebelah Ludger, berdiri Caoline bersama tiga pengawalnya. Mereka terlebih dulu memberi hormat kepada Svenson, lalu pada Panglima Hanes.
"Ludger ...." laki-laki di sanggasana itu melafal nama pria berambut pirang gondrong yang tengah berjalan mendekat ke arahnya.
"Kau tampak nyaman duduk di sana, Svenson." Tak ada sapaan formal maupun salam dari Ludger.
Membuat sosok panglima yang berdiri di sana merasa pria ini sedang menghina rajanya.
"Jaga kesopananmu terhadap The Majesty!"
"Tak apa, Panglima Hanes." Svenson berkata, lalu menolehkan wajah pada kakak mendiang kekasihnya.
"Bagaimana kabarmu, Ludger?" Svenson tak memedulikan sarkasme kakak dari Livy, kekasihnya yang telah binasa bersama warga Woodlands yang lain. Dia mencoba mengerti bagaimana perasaan lelaki itu.
"Kau tak perlu menanyakan kabarku. Kurasa kau yang paling mengerti bagaimana kabarku saat ini, Svenson. Kau dikelilingi orang-orang bertangan dingin yang pandai menggali informasi. Sekarang biarkan aku bertanya, bagaimana rasanya duduk di singgasanamu? Sementara satu desa telah luluh lantak bersama adikku, keluargaku, teman-temanku?!" Ludger sulit mengendalikan diri. Emosinya sudah meletup-letup memuntahkan kenangannya. Ia berujar tenang, tetapi cukup sinis.
"Bu-bukan aku yang membinasakan Woodlands, Ludger. Sungguh."
"Bila bukan kau. Ke mana kau saat Woodland dimusnahkan hanya karena wabah yang membuat orang menjadi saling memakan satu sama lain?! Kau adalah raja!"
"...." Svenson terdiam, emosinya kembali memuncak lantaran dirinya juga tak ingin Woodlands menghilang, tak ingin Livy-cintanya meregang nyawa di sana.
"Mengapa, Svenson?! Jawab pertanyaanku!" suara Ludger meninggi menuntut jawab.
"...." tak ada yang mampu Svenson katakan, meski sejak awal ia sangat ingin menanyakan banyak hal kepada mantan calon kakak iparnya ini.
"Kau sungguh berbeda dengan Yang Mulia Gerardo, padahal kau anaknya. Aku yakin jika mendiang Raja Gerardo masih ada, dia pasti bisa mengatasi masalah di Woodland tanpa perlu pembantaian! Bahkan untuk menguasai Northeast seperti yang sudah kau lakukan sekarang, hanya perlu berdiplomasi saja beliau pasti bisa."
"..."
"Sungguh aku ingin sekali tertawa meski perasaanku sudah hancur bersama Woodlands saat mengetahui dekretmu, Svenson. Kau tak lebih dari anak-anak yang sakit hati dan menaruh dendam pada risiko penyelesaian masalah besar." Ludger berucap penuh emosi. Matanya teralihat berkaca-kaca.
Tak hanya Svenson. Semua yang ada di sana turut diam. Caroline, gadis itu ikut tercubit karena menjadi orang di balik hangusnya menjadi abu desa subur itu. Lalu Svenson. Ia merasa menjadi orang tak berguna karena tidak mampu melakukan apa-apa.
"Menghina The Majesty, dan menghina mendiang raja." Hanes mendesis penuh emosi. Ia tampak menggenggam erat kepalan tangannya. Pria itu marah lantaran rajanya dan Yang Mulia Gerardo dihina begitu saja.
"Aku ingin tahu bagaimana wajah Yang Mulia Gerardo saat mengetahui putranya memimpin kerajaan yang dicampur dengan perasaan pribadinya. Sayang sekali, dia sudah mati ...."
"MENGHINA RAJA DAN MENGHINA MENDIANG RAJA ADALAH HUKUMAN MATI! SIR OSCA!" Panglima Hanes murka.
Tanpa basa-basi Osca langsung bergerak menyayat leher Ludger menggunakan belati miliknya.
"-ohokrrk ...."
Netra Caroline membelalak. Semua terjadi begitu cepat. Seakan dalam satu tarian napas.
Pria itu langsung terjatuh dengan darah mengucur deras dari lehernya.
Osca Roscoe mengeksekusi mati Ludger.
"Lu—Ludger...." Svenson tak kalah terkejut.
"Ru-mahku ... Wood-lands ...." Terbata Ludger mengucap itu. Ia menatap Caroline. Air matanya tampak berlinang sembari bibirnya melafal kata yang tak dapat didengar. Seperti kata, pem-bo-hong ....
Lady Caroline seperti dihunjam pedang tepat di jantungnya. Memalingkan muka, perempuan itu menggigit bibirnya dalam-dalam. Ia turut merasakan sakit yang dirasakan Ludger. Ia sadar hanya omong besar saat berkata dapat menjamin nyawa pria itu. Ketika menunduk, tanpa sengaja sepasang iris lavendel pucatnya memandang belati bersimbah darah milik Osca. Seketika, perasaan familier menyergap batinnya.
Belati itu ... belati bergerigi di bagian tumpul yang sangat mirip dengan pisau belati milik pria berjubah hitam yang ditemuinya semalam, bersamaan dengan ditemukannya Ludger. Pria yang juga melukai Ko.
Caroline langsung menatap Osca. Sorotnya menajam, tidak disadari oleh lelaki itu.
Siapakah kau sebenarnya, Osca Roscoe?
Apakah dia benar komplotan dari tentara hitam yang menculik Ludger waktu itu?
Apakah dia juga benar pria yang ku temui dini hari tadi?
Kecurigaan penasihat kerajaan terhadap salah satu pion terbaik militer Northwind semakin bertambah, melihat tidak adanya bros prajurit di dada zirah yang dikenakan Osca.
Caroline tertunduk. Kali ini, benang merah kusut itu mulai menemukan jalannya untuk dapat ditarik menjadi lurus.
Caroline mencoba untuk bersikap tenang, seolah tak menyadari apa-apa. Lebih tepatnya, bersikap biasa dan menyugesti dirinya agar tidak segera melontarkan banyak pertanyaan saat ini. Ia harus berkepala dingin demi memikirkan semua fragmen yang perlahan harus ia satukan menjadi sebuah jawaban.
Demi Northwind. Ya, semua masalah yang terjadi akhir-akhir ini, akan segera ia bongkar.
....
...
......Bersambung......