The Tale Of Northwind

The Tale Of Northwind
Chapter 1: Elegi



...Northwind, Abad ke 15....



...Sekumpulan penjaga berkekuatan magis, melindungi Northwind dari kehancuran...



.......


.......


...Kami adalah cendekia terkuat...


...Kami mengetahui segalanya...


...Termasuk nasibnya, takdirnya...


...Yang kami kubur enam kaki di bawah tanah...


.......


.......



..."Dia terlahir dengan kutukan. Hanya darah yang terpilih yang bisa menghilangkan kutukannya."...


..."Aku saja yang mati. Biarlah putriku hidup sebagai penjaga segel seumur hidupnya. Tak akan ada yang tahu kutukan ini termasuk Sang Pangeran itu sendiri."...



.......


.......


...Ini adalah sebuah permulaan...


...Permulaan dari sebuah kehancuran...


...Di atas sebuah takhta agung...


...Yang dibangun dari ribuan dosa...


.......


.......



..."Kau, Svenson, putra dari mendiang Raja Gerardo, dinobatkan menjadi Raja Northwind ke-lima belas."...


.......


...Raja termuda dalam sejarah Northwind, mencoba membangun kejayaan dengan tangannya sendiri....


.......


..."Aku akan menjadi Raja Yang Agung. Akan kutaklukkan semua kerajaan yang berada di semenanjung Timur Laut ini."...


.......


...Obsesi, ambisi, haus kekuasaan. Tak ada yang bisa membendung kekuatan Svenson si Heater II....



.......


.......


...Selamat datang di Kerajaan Northwind...


...Persahabatan, cinta tak terbalas .......


.......


.......


..."Aku tak tahu, tapi ketika berada di dekatmu, hatiku menjadi sangat tenang, Lin."...


.......


..."Dia wanita tercantik yang pernah kulihat. Aku mencintai Livy dari Woodlands."...


.......


.......


...Sebuah rahasia besar yang menghilang bersama abu .......


...“Aku ingin kalian menyetujui isi dekret ini.”...


...“memusnahkan Woodlands tanpa sisa.”...


.......


.......


...Kami membawa lagi sebuah rahasia...


...Yang telah kami segel dengan darah dan nyawa .......


...Untuk melindungi seseorang yang dicintai...


.......


.......


...Hingga terjadi sebuah kesalahpahaman yang berubah menjadi petaka....


..."Kau yang menghancurkan Woodlands, Lin! Mengapa?"...


.......


...Kesalahpahaman ini...


...Semakin besar dan merusak jiwanya...


...Jalan yang ia tempuh semakin salah...


...Semakin jauh dari cahaya...


.......


..."Aku bersumpah akan menghabisi seluruh penyihir di kerajaanku. Aku akan menggantung kepalamu di atas menara dan membakar tubuhmu hingga menjadi abu, Caroline!"...


.......


.......


.......


...Di atas takhta agung ini,...


...Sang Raja hanyalah sebuah cangkang kosong...


...Ia berdoa kepada Sang Pemilik Surga,...


...Tapi hatinya milik iblis di neraka...


...Ia melakukan semua kesia-siaan...


...Ia mengambil semua cara agar bertahan .......


...Dan para iblis pun tertawa di atas raga Sang Raja,...


...Karena mereka telah menang atasnya...


.......


.......


.......


...The Tale of Northwind...


.......


.......


.......


...[Chapter 1: Elegi]...


Berita kematian raja baru saja berembus, tak ada yang mengira jika umur Gerardo Heater Locko akan sesingkat itu. Hanes Allerick Valter; sang panglima kerajaan datang bergegas, jubah yang melapisi baju zirahnya berkibar di koridor, menimbulkan suara berderu memecah angin. Langkah cepatnya membuat sang murid sekaligus penasihat utama kerajaan; Lady Caroline Ragnhild Dellinger kesulitan mengekor. Tak ada satu patah kata pun yang terucap. Semua bungkam. Enggan untuk mengurai kemuraman kastil utama Northwind.


Melewati selasar dan lorong dalam Izarus Castle, mereka berhenti melangkah. Sebuah pintu ganda raksasa menjulang dengan dua orang pengawal yang menunduk hormat di bagian depan.


Hanes dan Caroline mengangguk sebentar, membalas penghormatan itu dan segera masuk setelah dibukakan pintu.


Langkah Caroline memelan, gaun mengembang yang membalut tubuhnya dengan sempurna menyapu lantai, menimbulkan suara gemerisik. Jubah beludru yang melengkapi penampilannya, seakan layu dan bertambah berat ketika netra abu-abunya menangkap siluet Gerardo yang tampak tertidur di kursi beludru nyaman di dekat perapian.


Sementara dokter kerajaan berjejer, bersiaga mengenai kondisi terakhir sang raja.


“Sang raja telah mangkat.” Satu kalimat itu telah membuat udara di kamar mendadak menyesakkan dan gelap.


Hanes; sang panglima terpukul. Wajahnya tampak terluka, ada gurat kesedihan dan kekecewaan. Harusnya ia tak membiarkan lelaki itu pergi secepat ini. Ia adalah seorang jenderal, seorang panglima yang telah menakhlukan segala hal untuk Northwind, tetapi gagal sebagai seorang pelindung. Ia seorang penyihir, tetapi tak mampu menghalau takdir. Dan ia adalah seorang sahabat yang menderita karena terus-menerus kehilangan.


Hanes  Allerick menarik napas dalam-dalam, memalingkan muka, menatap gumpalan awan gelap yang menggelayut di angkasa. Enggan menerima takdir bagaimana nyawa teman karibnya harus berakhir.


Sementara sang gadis di belakang, melangkah dengan gemetar mendekati kursi, mati-matian menguatkan hati; bahwa di hadapannya adalah sang raja—pengganti sosok ayah yang ia kenal baik hati—sudah pergi.


Caroline menundukkan kepala dalam-dalam, memberi kesempatan pada dirinya untuk memberi penghormatan terakhir. Memanjatkan doa, mengantarkan Gerardo ke alam baka. Setelah beberapa waktu memberikan penghormatan, ia menaikkan dagunya lagi. Bersikap dewasa dengan tidak meratapi apa pun karena itu hanya akan melemahkan.


“Umumkan kematian raja! Northwind berduka, kibarkan bendera setengah tiang!” Caroline menoleh melihat sang guru yang masih tak bergeming, seolah raganya yang tersisa kini sudah kosong dan nyawanya ikut tersedot pergi bersama sang raja.


Hanes Allerick yang malang. Kehilangan kerabat dan saudara-saudaranya demi kejayaan Northwind nyaris membuat ia sebatang kara. Hanya teman-teman dekatnyalah yang membantu ia tetap hidup. Duke Edvard Faas Dellinger Sang Agung—ayah Caroline—sudah meninggal terlebih dulu dalam pertempuran besar awal Northwind, dan kini sahabat Hanes yang lain, Gerardo Heather Locko—sang raja, telah mendahuluinya.


Yang tersisa hanya Caroline Ragnhild Dellinger yang menjadi muridnya, dan Ketua Dewan Parlemen Kerajaan yang tak lain adalah paman Caroline, Shamus Ran Dellinger.


“My Lord .…” Caroline memanggil Hanes, menyadarkannya dari keterpurukan.


Hanes Allerick menutup mata sebentar. “Kirim utusan, panggil Pangeran Svenson kembali ke istana.”


“Tapi My Lord—”


“Kita tidak memiliki pilihan lain,” potong Hanes getir, “Yang Mulia Pangeran Svenson harus kembali, siap, ataupun tidak.”


Caroline mengangguk paham. Meski pelatihan Svenson di Sun Recesses belum selesai, dan urusannya dengan beberapa bangsawan di Desa Redshire yang terletak di sebelah timur Woodlands juga belum berhasil, dalam keadaan seperti sekarang, mereka tidak memiliki pilihan.


Terlebih, ada hal mendesak lain yang harus dibereskan di tempat itu. Meski berarti seperti mencurangi Pangeran Svenson sekali pun.


Hanes Allerick keluar dari kastil, menuju halaman istana dengan perasaan koyak. Tangannya dengan sigap mengambil busur emas yang berada di punggung. Sementara tangannya yang kosong segera merapal mantra. Sebuah anak panah berwarna hitam muncul di sana.


Hanes menarik tali busur, mengarahkan anak panahnya ke angkasa. Satu anak panah magis itu berubah menjadi ribuan, meluncur ke langit bagaikan sebuah hujan meteor. Mengabarkan ke seluruh Northwind bahwa Yang Mulia Raja Gerardi Heather Locko telah mangkat dan seluruh rakyat berduka.


Hanes menarik napas berat. Masih tanpa suara, ia membuka jam analog gantung yang berada di saku, yang hanya tiga buah di dunia. Dan kini, ia saja pemiliknya. Melihat bahwa hiasan sulurnya hanya tersisa satu sisi, meninggalkan sisi kosong lain di bulatannya.


Satu-persatu orang yang ia kenal dan sayangi, pergi.


.


Sementara itu, setelah sang raja ditempatkan di altar untuk mendapatkan requiem dan pemakaman yang layak, para penasihat telah berkumpul. Hanes dan Caroline menginstruksikan bahwa malam ini juga, mereka akan memimpin rapat besar darurat. Tidak boleh ada satu komponen pun yang luput dan lengah. Kesolidan adalah sebuah simpul mati yang tidak bisa mereka tawar lagi.


Siapa pun yang berada di waktu itu, tidak dapat memilih opsi selain menerima. Mereka tidak bisa membiarkan kekuasaan lowong begitu saja.


Shamus Ran Dellinger tergopoh turun dari kereta. Seorang butler dengan sigap mengikutinya dari belakang dan membawakan tas kulitnya.


Kabar tentang kematian sang raja telah memangkas waktu kunjungannya ke luar kota. Shamus tidak bisa tampil dengan penampilan yang baik, vest, dasi panjang sutra dan juga kemeja linen-nya tampak sangat kusut, tetapi bukan itu. Karena mereka langsung bergegas ke ruangan kerja sang raja.


Wajah-wajah tegang menghiasi setiap muka yang berada dalam rapat tertutup itu. Satu bundel perkamen telah dikeluarkan dari dalam tas kerja Shamus. Ada segel kerajaan berplat hitam dengan lelehan emas, tanda bahwa itu adalah informasi paling rahasia yang mereka miliki.


“Kita harus menghilangkan Woodlands.” Caroline berujar dingin dan tidak terbaca. Wajahnya datar, tidak ada satu gurat emosipun yang diperlihatkan. Ia telah mengambil risiko itu tanpa bisa kompromi lagi.


Suara berdengung makin membuat kepala Hanes pening. Ia menoleh pada murid yang kini telah melampaui kemampuannya. Caroline Sang Agung. Penyihir yang mampu melihat jauh ke depan. Seorang pelindung paling sempurna di kerajaan yang mengabdi kepada raja, yang otomatis akan mengabdi secara pribadi pada Pangeran Svenson juga.


Hanes mendesah lelah, mengusap lagi jamnya yang berada di saku, seolah meminta jawaban yang tak bisa ia yakini.


“Aku ingin kalian menyetujui isi dekret ini.” Caroline menatap para dewan dengan tatapan yakin. “memusnahkan Woodlands tanpa sisa.”


“Lady Lin—”


Caroline mengangkat tangannya, “Apakah kita bisa membiarkan Northwind hancur?!” suara rendah Caroline mengunci setiap mulut mereka. “wabah walking dead tidak ada penawarnya. Apa kalian akan membiarkan mereka membunuhi satu per satu keluarga kalian hingga tidak ada yang tersisa di sini selain kematian?!” Caroline mengepalkan tangannya di atas meja.


Hanes menekuni perkamen yang menyatakan bahwa kebijakan darurat Northwind untuk melenyapkan Woodlands segera adalah sebuah tindakan paling rasional.


“Prioritas kita sekarang adalah memilih. Satu desa lenyap untuk menopang desa-desa yang lain, atau membiarkan kita lenyap dalam ketiadaan.” Tak ada satu penyesalan pun keluar dari gestur Caroline yang tampaknya bisa menggoyahkan yang lain. Matanya hanya menyisakan kebulatan tekad. Membuat mereka mengumpulkan diri demi misi paling gelap.


Dan malam itu, satu suara bulat telah membunuh kehidupan Woodlands tanpa sisa.


.


Svenson termenung di dalam kereta kuda yang membawanya ke Ibukota Northwind. Matanya menerawang ke arah bulan purnama dari dalam jendela yang telah ia sibak tirainya. Sang butler telah tertidur, dan satu maid yang melayaninya tak jauh beda.


Keheningan ini lebih mencengkeram kewarasannya ketimbang berita kematian sang ayah.


Pandangan Svenson bergulir ke dadanya sendiri, tangannya yang menganggur memegang bandul kristal pemberian Hanes. Hadiah pertama dalam hidupnya yang tidak bisa diberikan sang ayah yang larut dalam pekerjaan.


Ia tersenyum getir. Sampai saat terakhir pun, ia tak pernah merasa dekat dengan sang ayah. Semua yang ayahnya lakukan hanyalah menciptakan satu orang yang bisa disebut sebagai raja. Svenson dilihat bukan sebagai anak, tetapi sebagai calon pemimpin yang ditempa hingga sedemikian rupa. Dididik dan diarahkan menjadi pribadi soliter, yang tidak akan tergoyah meskipun kehilangan banyak hal dalam hidup—Eagle flies alone. Meski begitu, apakah ia tidak berhak membuat keputusan untuk dirinya sendiri?!


Yang membuat hatinya gelisah bukan main, justru kenyataan bahwa ia harus meninggalkan hatinya di Woodlands. Ia baru menikmati apa yang dimaksud dengan perasaan melankolis bernama cinta. Di mana kebahagiaan yang ia rasa selalu jauh dalam jangkauannya bisa berwujud demikan nyata dan bisa ia rengkuh dalam dekapan.


Ia baru saja mencecap bagaimana mencium satu gadis yang membuatnya gila. Memainkan rambutnya yang panjang di dadanya.


Membayangkan Livy hanya membuat rindunya kian mengebu. Isi kepalanya mendadak kacau, sama seperti perasaannya yang carut marut.


Ia memang tidak dalam kesedihan yang mendalam. Hanya perasaan kosong. Satu lagi orang yang ia sebut sebagai ayah telah berpulang. Ia merangkai-rangkai semua peristiwa, tetapi sebagai pangeran mahkota, ia dan ayahnya hanya memiliki hubungan yang mengambang. Seperti pelari estafet. Hanya menunggu giliran untuk berlari.


Malam semakin larut, dan kabut semakin tebal. Svenson hanya bisa menyemangati dirinya sendiri. Bahwa di ibukota sana, ia masih bisa menjadi dirinya, dan bukan Svenson sang Putra Mahkota.


.


Matahari baru saja sepenggalah tingginya ketika kereta Svenson memasuki gerbang ibukota.


Kesibukan yang biasanya tampak ceria menjadi sangat kontra seperti yang diingatnya. Segalanya berbeda. Segala keriuhan ini bukanlah sesuatu yang bisa mengundang senyum.


Hanya kemuraman sisa-sisa tangis. Yang mungkin tak dapat Svenson pahami sepenuhnya. Kematian sang ayah yang konon katanya raja bijaksana, tidak meninggalkan kesan apa pun selain perasaan tanggung jawab yang menggumpal dan menanti untuk dipikul.


Ketika kereta Svenson benar-benar berhenti di pintu gerbang kastil, perasaan Svenson makin tegang. Namun ia telah siap, mengemban tugas terakhirnya sebagai seorang anak.


Memberikan Gerardo, sebuah tempat yang layak untuk bersemayam.


.


Iring-iringan kereta pembawa jenazah raja memasuki Serenity Hills. Kapel Serenity kini telah penuh dengan petinggi kerajaan.


Suara nyanyian kehilangan menjadi pengantar tidur abadi Raja Gerardo. Puji-pujian dikumandangkan. Menyerukan sebuah ingatan tentang kebaikannya di dunia.


Svenson hanya merasakan perasaan kosong. Seperti langit yang mendung dan angin dingin yang mulai berembus. Kehangatan yang ia ingat, memudar perlahan, memuara menjadi sebuah sesak.


Ia membiarkan air mata perpisahan jatuh dan membasahi pipinya. Yang ia sesali adalah, sampai saat terakhir, ia tidak bisa membuat ayahnya bangga.


Dengan cepat Svenson mengusap pipinya. Ia ada di sana ketika tanah Serenity Hills menelan tubuh sang ayah yang berada di dalam peti mati berhias ukiran naga dan elang. Ada sebuah simbol klan yang terbuat dari emas tepat berada di tengah peti.


Gerardo Heather Locko, disemayamkan di samping istri tercintanya; Briana Henrike Dorothy.


Dengan sebuah prasasti batu; yang mengatakan bahwa sepasang manusia ini telah berada dalam kehidupan abadi yang penuh kedamaian.


.


Lady Caroline Ragnhild Dellinger mengintip sedikit langit dari jendela kerja milik Panglima Hanes.


Bulan nyaris menghilang tertutup awan. Sinarnya telah redup dan menghilang ditelan kegelapan.


"Kita akan mempercepat eksekusinya." Lady Caroline menutup kembali kelambu beludru di jendela.


"Pangeran Svenson akan tahu. Dan itu bukan hal yang bagus utukmu, My Lady ...."


Lady Caroline berbalik dan menatap Hanes yang duduk sambil melihatnya dengan tatapan prihatin.


"Aku akan baik-baik saja, My Lord. Anda tidak perlu menghawatirkan aku."


Hanes menarik napas lelah. Ia telah mengenal Caroline, selama kehidupan bayi Edvard itu. Dia lah yang mengajari Caroline sihir hingga melampaui dirinya sendiri.


Senyum tulus Hanes mengembang. Betapa waktu cepat berlalu. Bahwa putri kecilnya yang ia kenal sebagai Lady Caroline telah menjelma menjadi perempuan anggun dan berkharisma. Kini, kemampuannya sudah tidak memiliki tanding.


"My Lady, ada yang harus aku sampaikan kepadamu." Hanes membuka laci dari meja ruang kerjanya.


Caroline berjalan mendekati sang guru, melihat saksama pada gulungan yang diletakkan di atas meja tak berpelitur itu. Ketika tangannya menyentuh gulungan perkamen, perasaan tidak enak menyerang. Matanya bergerak gelisah, "Benarkah semua ini?!"


Sang jendral memalingkan muka. "Aku belum bisa mengatakannya. Investigasi itu belum sampai tahap di mana kita menangkap terdakwa. Akan tetapi, berita ini tentu akan membuat Svenson sibuk. Dan kamu, My Lady—” Suara Hanes mendadak melirih, "bisa melakukan semua dengan sempurna. Aku akan berusaha menjauhkan Pangeran Svenson demi keberhasilanmu."


Caroline menatap lautan kelam pada mata hitam Hanes Allerick. Seperti halnya dirinya yang terpantul di dalam mata sang guru, iapun merasakan bahwa ikatannya bersama lelaki itu lebih dari sekadar guru dan murid. Hanes adalah ayah yang telah lama tidak dimilikinya, yang mengajarkan banyak hal untuk melindungi diri.


"Jika sampai The Majesty tahu Anda sengaja menolong saya, My Lord, Anda akan mendapat kesulitan."


Hanes tersenyum sendu. "Hanya engkau yang kumiliki selain negara ini."


.


Suasana muram masih menyelimuti Northwind, padahal sudah sepekan berlalu semenjak pemakaman The Highness Gerardo Heather Locko.


Seharusnya suasana makin menghangat, apalagi mengingat awal bulan depan dia akan ditasbihkan menjadi seorang Raja.


Wajah bangga Livy membayang di pelupuk matanya. Hampir tiga bulan mereka tak berjumpa. Senyuman manis gadis itu menjadi satu-satunya alasan untuknya berjuang sekarang. Jika ia menjadi raja, maka akan mudah baginya untuk menarik Livy dari Woodlands.


Lamunan itu tidak bertahan lama. Suara ketukan memecahkan gelembung euforianya. Memaksanya kembali ke alam realita.


Ketika pintu ganda terbuka, tubuh tegap Hanes Allerick memasuki retina. Sosok Jendral yang merupakan sahabat ayahnya itu melangkah masuk dengan kesopanan.


Lelaki itu menundukkan kepala dan menyilangkan tangan kanannya di dada, "My Majesty ...."


Svenson membalas penghormatan Hanes dengan menganggukkan kepala. Kemudian, mempersilakan lelaki itu duduk dan menyampaikan sesuatu yang menurutnya penting. Karena tatapan Hanes memang menggambarkan hal tersebut.


Ayahnya tidak mati karena alam lebih berkuasa.


Kenyataan itu mencubit hatinya. Tangan Svenson terkepal kuat di atas meja kerja. Matanya berkilat penuh kemarahan. Bagaimana mungkin?! Segala kesedihan dan kemuraman ini akibat kecerobohan satu orang?!


Bagaimana ayahnya yang baik hati telah membiarkan para ular yang mereka pelihara menggigit majikannya sendiri.


"Aku akan menyelidiki ini. Aku tidak bisa membiarkan para keparat itu lolos,"


"My Majesty, biarkan kami yang mengurusnya. Anda harus mempersiapkan diri un—"


"Aku tidak peduli!" Svenson meraung murka. “aku sendiri yang memastikan bahwa kepala mereka terpenggal dengan pedangku!” potongnya dingin.


Kemarahan itu membakarnya habis tanpa sisa.


.


Sementara itu pasukan bayangan telah bergerak menuju Woodslands. Seperti iringan kabut hitam. Perlahan mendekat dan menebar ancaman.


Suara tapal kuda menghujam tanah dengan mantap di malam itu. Mengoyak sunyi yang ada dalam desa tempat gadis milik Svenson berdiam.


Satu perintah mutlak mereka; tak boleh ada yang tersisa.


.......


.......


.......


...Bersambung...