
Siang ini elegi terbang bersama awan yang meninggi. Dari pagi buta gerimis tiada henti menghunjam tanah Northwind. Langit serasa sadar ada duka menderu di bawahnya. Hal yang membuat sang Penasihat Muda khawatir, bila hujan tak segera menemukan ujungnya.
Iris perak Penasihat Muda mengilat menyadari matahari mulai menampakkan diri. Untuk sesaat, Lady Dellinger merasakan hangat menerpa kulit tangannya yang pucat. Suhu lima belas derajat memang tak membekukan, tapi cukup membuat ujung kukunya memutih bila tak mengenakan sarung tangan.
Perempuan muda itu maju selangkah, dari balkon utama melihat pemandangan di bawah.
"Raja sudah siap diberangkatkan, Lady."
Kalimat tersebut terlontar dari panglima yang berdiri setengah meter di belakangnya. Dia, Hanes Allerick. Hatinya masih dengan suasana pagi tadi; mendung, berkabung.
Caroline berbalik. Langkahnya memutar menuju tangga yang menuntunnya ke lantai bawah. Sementara itu, Hanes mengekor di belakang.
Sudah saatnya raja dibawa ke persemayaman terakhir. Pangeran juga sudah menunggu di dalam kereta. Iring-iringan kereta kuda pengantar raja telah siap. Pagi ini, lagu kematian bertiup ke Serenity Hills.
.
Ada duka di seluruh wajah rakyat Northwind. Ribuan orang berkumpul di depan istana, menghadap blokade ketat.
Lonceng-lonceng gereja berdentang. Bendera negara berkibar setengah tiang. Paduan suara mengiringi peti berisi jasad kaku sang nomor satu masuk ke dalam kereta yang ditarik tujuh kuda putih.
Raja Gerardo tampak gagah di saat terakhirnya. Mengenakan baju kebesaran sang raja, kontras dengan kematiannya yang masih rahasia.
Pria itu ditemukan tewas terduduk di depan perapian. Misteri wafatnya masih jadi penyelidikan tim khusus yang dibentuk Panglima Hanes. Tidak ditemukan bekas aniaya, tidak ada darah yang menetes. Satu-satunya kemungkinan yang bisa rakyat percaya ialah, Raja Gerardo meninggal akibat gagal jantung.
Kristal muncul di atas tangan Hanes setelah bibirnya merapal mantra.
Kristal transparan itu melesat ke langit, berurai menjadi butiran salju.
Prosesi pemakaman ini dipimpin langsung oleh Sang Putra Mahkota. Dia, Svenson Heather Locko, menaiki kuda gagah dibarisan paling depan. Di belakangnya ada Hanes menunggangi kuda cokelat bersurai.
Iring-iringan pengantar jenazah mulai berjalan.
Gerbang utama istana dibuka.
Tangis mulai pecah. Ada air mata di sepanjang jalan menuju bukit tempat di mana dulu Ratu Briana dikebumikan.
Rakyat menundukkan kepala; memberi penghormatan terakhir pada kereta pembawa jenazah raja.
Raja Gerardo dikenal baik. Rendah hati meski berada di posisi paling tinggi. Raja yang bertanggung jawab dan membawa Northwind ke puncak kejayaan melampaui para pendahulunya. Kini, raja bijaksana iu telah tiada. Meninggalkan singgasana kosong.
Rentetan kejadian yang terjadi di Northwind akhir-akhir ini, seolah menggambarkan Tanah Utara sedang menuai 'badai'nya.
.......
.......
...| Woodlands, 11 hari sebelum meninggalnya raja. |...
"Lari! Lari Anakkuu ...."
"Ibuuu!"
Darah bersimbur dari leher yang terkoyak sampai nyaris putus. Cairan merah kental berbau anyir membasahi raga wanita itu. Tubuhnya limbung, jatuh membentur tanah berbatu.
"I-bu ...."
Kata-kata si bocah tercekat di tenggorokan. Rasa takut membuat kakinya gemetar. Tubuh kecilnya tersentak manakala si mayat hidup berbalik menatap dengan sisa daging ibunya masih bergumpal di mulut belum tersantap.
Pandangan si mayat hidup kosong. Tubuhnya membiru, bau busuk tercium membuat si bocah ingin memuntahkan isi perutnya.
Sambil terus menutup hidung, si bocah malang menyeret kaki. Pelan-pelan, perlahan, mundur, dan terasa sangat berat.
Liur di sudut bibirnya bak penanda ia masih lapar.
Si bocah sadar dirinya bakal segera berakhir. Ia menautkan tangan, lututnya melemas. Ia jatuh tersimpuh.
"Tuhan, selamatkan aku ...." Rintihnya. Air matanya luruh tanpa kendali. Ia terpojok. Ia akan mati.
Di tengah dini hari yang hening, suara kaki terseret beberapa langkah di depannya terdengar jelas.
Si bocah menunduk. Tubuh mungilnya menggigil.
Siluet hitam berada di depannya. Tambah satu lagi, entah siapa.
Si bocah menengadah.
Sang ibu menjadi wujud yang serupa.
"KYAAAAA ...."
Teriakan membelah dini hari. Pagi itu mereka berpesta daging anak manusia. Termasuk seorang ibu, memakan anak kandungnya.
.
.
"Satu orang lagi?"
"Astaga, sampai tak berbentuk."
"Apa kau familier dengan tunik yang dipakai bocah ini?"
"Entah, aku baru melihatnya."
Ketika sinar matahari muncul dari ufuk timur, orang-orang di batas desa dikejutkan oleh penemuan mayat di bawah pohon pinus.
Ini peristiwa ke-13 dalam bulan Oktober. Yang pertama mayat wanita tua dengan badan habis separuh. Kedua mayat seorang biarawati. Ketiga jasad seorang tunawisma. Lalu balita berumur empat tahun, sampai kejadian pagi ini, semua memiliki ciri serupa; seperti habis dimangsa hewan buas.
Woodlands memang berbatasan langsung dengan hutan. Warga curiga bila masih ada binatang liar di sana.
Tergopoh-gopoh gadis dengan tanda tahi lalat di pipi berlari menembus kerumunan.
Ia berlari sekuat tenaga dari rumahnya yang berjarak 2 kilometer. Adiknya—Ren—sudah tiga hari tak pulang ke rumah. Ros khawatir, jika adiknya lah yang menjadi korban kali ini.
"Permisi! Kumohon izinkan aku lewat! Kumohon! Mungkin dia adikku ...."
Sampai di barisan depan, Ros dibuat terduduk. Napasnya memburu sepadan kencang larinya tadi. Kepulan jua terlihat dari setiap embusan yang keluar dari bibirnya. Pagi itu, suhu turun lagi di angka sepuluh derajat.
Syukurlah, Ros akhirnya bisa merasa lega usai melihat anak kecil yang menjadi korban berambut pirang.
"... bukan Ren. Terimakasih Tuhan." Batinnya.
.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kepada sahabatku, Conan
Bagaimana kabarmu?
Boleh aku meminta tolong?
Jika kau melihat adikku berkeliaran di desamu, kumohon tahan dia, dan aku akan menyusul
Jika kau melihatnya, tolong balas suratku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Seekor merpati terbang membawa pesan yang diikatkan di kakinya.
Burung itu bernama Gilbert, rekan setianya. Setidaknya, Ros memelihara 100 merpati di rumahnya di bagian barat Woodlands. Hal yang membuat ia dijuluki 'gadis merpati'.
Ros mengambil napas. Surat kelima ini ia harap ada tanggapan.
Pagi-pagi sekali, perempuan dengan potongan rambut bob itu bersiap pergi ke rumah kepala desa. Selain mengajukan permohonan untuk pencarian Ren, dia pula ingin mengutarakan keheranannya, mengapa sampai sekarang tak ada bantuan dari istana perihal kejadian ganjil yang terus-menerus melanda Woodlands. Mungkinkah karena lokasi yang sangat jauh, sehingga desa ini dilupakan?
Ros tidak bisa menerima alasan yang seperti itu.
.
"Izinkan aku masuk! Aku ingin bertemu kepala desa."
"Tuan Baren sedang sibuk. Pergi sebelum aku menebas kakimu dan melemparnya ke depan matamu!"
"...?!"
Ros bersitegang dengan algojo yang menjaga pagar depan kediaman Kepala Desa Woodlands.
Pria plontos itu bersikeras menyuruhnya pergi. Ros tak gentar, hanya saja ia tak punya pilihan manakala si algojo mulai mengancam menggunakan senjata tajam.
Ros hanya bisa memaki dalam hati, mengumpat sembari memaksa kakinya pulang ke rumah.
Haruskah dia sendiri yang menyurati kastil utama Northwind?
Tidakkah seperti melangkahi petinggi desa ini?
Saat ia berjalan pulang, mendadak Ros merasakan bahunya dilempar kerikil kecil.
"Ssssst ...."
Suara itu berasal dari gadis berambut pirang mengendap-endap di balik pohon yang daunnya mulai menguning.
Tampak tangan perempuan itu melambai meminta Ros mendekat.
Agak bingung Ros melirik belakang kanan dan kirinya.
"...?" tunjuknya pada diri sendiri.
Si gadis bertunik abu mengangguk. Ia memperbaiki tudung kepalanya sembari berjalan mendekati Ros.
"Apa kau dari rumah Tuan Baren?"
Tak ayal, kening Ros seketika mengerut. Bagaimana perempuan ini bisa tahu?
"Kau?" tapi Ros tidak mau berprasangka buruk.
Ada harapan baru di mata Ros melalui gadis ini.
Terlebih ajakan Livy menginap di rumahnya semakin mencairkan hati Ros yang semula ragu.
Jika sang algojo tidak memberi izin, opsi kedua adalah menemui secara paksa ketika beliau keluar dari pagar.
"Rumahku di belakang rumah kepala desa. Kau bisa menunggu malam sambil duduk-duduk di rumahku."
Ros menerima ajakan itu.
.
Tangannya spontan menepuk pipi sendiri. Bersembunyi di balik semak membuat ia seperti kantung darah lezat di mata nyamuk.
Hampir tiga jam Ros menunggu. Dari terbenam matahari, sampai burung hantu di pohon tak jauh dari ia mengambil posisi bernyanyi, bertalu-talu.
Angin merampas keheningan sang malam. Tak ada bulan, apalagi bintang. Awan gelap terlihat berkumpul di atas rumah Tuan Baren. Sepertinya hujan bakal segera turun.
Ros mendesah, lagi-lagi tak menghasilkan apa pun.
.
"Aku lupa memberitahu kalau Tuan Baren tak setiap hari keluar rumah ...." ujar Livy sedikit bersalah.
"Hah?" mulut Ros membuka tak percaya. Kenapa baru bilang?
"Makanya, tadi aku mempersilakanmu tinggal di sini sambil menunggu beliau keluar." Senyum perempuan itu mengembang.
"Huum,"
Sekembalinya ia ke rumah Livy, rupanya sang tuan rumah telah menyiapkan makan malam untuknya.
Dua mangkuk sup daging dan sepiring potongan black pudding tersaji di atas meja.
"Makanlah,"
Tanpa ragu, Ros mengambil semangkuk, lalu mulai mencicipi.
Ros merasakan citarasa luar biasa terecap di lidah. Dagingnya tak alot, terasa begitu lembut. Bumbu rempah-rempahnya menyembunyikan bau khas daging yang kadang masih tercium.
"Umm ... kau pandai memasak ya?" puji Ros masih dengan mulut dipenuhi makanan.
Bibir Livy menarik kurva. Jemari lentiknya menyisipkan rambut yang menutupi pipinya ke belakang telinga.
"Tidak lebih pandai dari kakakku. Masakanku masih standar."
"Kau punya kakak?"
Gadis berambut anjang itu mengangguk, "Dia seorang pengelana. Kak Ludger jarang pulang ke rum—”
Ketukan di jendela mengalihkan atensi mereka.
Dua pasang mata dengan warna iris kontra kompak menatap jendela. Pupil Ros membulat. Ia langsung berlari mendekati jendela dan membukanya.
"GILBERT!" tangannya menengadah. Membiarkan merpati putih itu melangkah di atas telapaknya. Senyum kian mengembang di bibir Ros kala ia melihat ada surat terikat di kaki Gilbert.
Namun, tak bertahan lama wajah Ros kembali ke ekspresi semula.
"Tidak melihat, ya?" ia mengembuskan napas berat
"Tidak melihat apa?" Livy mengejutkan Ros.
"A-eh, itu ... bukan apa-apa. Hehehe ...."
"Wah, burung pengantar surat? Dia peliharaanmu?"
Gilbert menghindar ketika ujung telunjuk Livy hendak menyentuh puncak kepalanya.
"...?"
"Hehehe, Gilbert memang tak biasa disentuh oleh orang yang bukan pemiliknya."
"Begitu?"
"Iya. Dia hanya menurut kepadaku."
"Ah ya, aku punya biji jagung di gudang. Sebentar biar kuambil."
Malam ini, Gilbert menemani Ros tidur di rumah Livy.
.
Pada pukul satu dini hari, Ros terbangun. Ia ingin buang air kecil.
Seingatnya kamar mandi ada di ujung belakang rumah ini, bersebelahan dengan dapur.
Ros membuka pintu. Ia menyalakan lentera sebagai penunjuk jalan.
Sampai di belakang, fokusnya terbagi. Suara seperti retakan, seperti orang mengunyah terdengar dari dapur. Pintunya ditutup oleh tirai, yang tampak hanya binar menyala dari sana.
Siapa? Ros bertanya.
Rasa penasaran membuat kakinya bergerak tanpa sadar. Langkahnya pelan, tangannya menyibak tirai.
Pemandangan di depan mata langsung membuat kelu. Tangan Ros yang satu menutup mulut, satu memegang perut.
Di hadapannya ada usus terburai, badan terpotong, bola mata menggelinding, dan jantung yang ditusuk dengan besi.
Perempuan itu; gadis yang telah memintanya menginap; Livy, sedang mengoyak mentah-mentah sepotong lengan. Dagingnya tertarik saat Livy menggigitnya dengan keras. Ia mengunyah, menelannya.
Ugh ....
Perut Ros semakin mual. Ada ketakutan tiba-tiba menjalar, merasuki hatinya yang selama ini tak mengenal rasa takut.
Ia mengangkat kaki, sebelum pintu almari di dapur membuka oleh dorongan kuat dari dalamnya.
Dua mayat terjatuh. Satu, sangat ia kenal.
Pupil Ros membulat lebar-lebar. Adik yang ia cari sudah ada dalam kondisi mengenaskan. Rahangnya lepas. Tubuhnya terpotong.
"KYAAA ...."
Teriakan Ros menyadarkan Livy atas kehadirannya.
.
Derap langkah kaki bergaung di atas lantai rumah itu.
Air mata Ros jatuh. Pintu depan terkunci. Tidak mungkin balik ke pintu belakang lantaran harus melewati Livy.
Ia melempar apa saja di dekatnya agar jarak mereka tak kian tipis. Gerabah, bantal, bunga dalam pot, tapi sia-sia.
Senyum terulas di bibir Livy dengan keji. Liur menetesi sudut bibirnya, matanya kosong, dia seperti kesurupan.
"Livy! Apa yang terjadi padamu?!"
Livy tak menjawab, hanya terus memperkecil jarak.
Ros lari menuju kamar yang tadi ia diami, lalu menguncinya.
"Gilbert! Gilbert!"
Burung merpatinya sudah tidak ada di sana. Sementara dari luar, gedoran demi gedoran terdengar. Ros takut pintu itu terdobrak.
Apa yang harus aku lakukan?
Dalam kebingungan, Ros berinisiatif untuk mengabarkan ini kepada istana.
Ros menyobek tuniknya yang berwarna putih. Tak ada alat tulis di ruangan itu, sehingga ia harus menilih alternatif lain.
Ros menggigit jarinya kuat-kuat.
"Akhh ...." ia menahan sakit. Dengan darah yang mengucuri jemari, ia menulis menggunakan tinta merah yang keluar dari telunjuknya.
Tolong Woodlands!
Ros menggulung kain robekan bajunya, bersamaan pintu di belakangnya terdobrak.
Ada rambut tergerai menutupi wajah. Badan Livy menggigil, ia tertawa.
"Gilbert! Gilbert, kemarilah! GILBERT!"
Burung merpati terbang menukik, hinggap di lengan Ros. Gadis itu terjatuh, Livy menarik kakinya.
"Gigitlah kain ini, terbanglah menuju langit ibukota. Sampaikan pada istana bahwa Woodlands sedang cela—”
Ros merasakan sakit seperti mau mati. Kakinya tergigit, teriakan menggema di ruangan itu seiring Livy menarik daging yang membalut tulang betisnya.
Gilbert menatap sang majikan yang meronta. Matanya seoalah turut bersedih.
"Pergilah ...." Ros berucap sangat pelan, "pergi dan sampaikan kebenaran ini. Gilbert, terbanglah yang tinggi ...."
Suaranya hilang bersama sayap Gilbert mengepak, membelah jelaga malam.
Suara yang tinggal isak. Suara yang menjadi talu dari lagu kematian.
.......
.......
.......
...bersambung...