The Tale Of Northwind

The Tale Of Northwind
Chapter 13: Invasi



Gate house membelah sunyi. Dua sisinya masing-masing bergeser ke arah berlawanan. Menimbulkan suara derak yang disambut semua orang dalam posisi siaga.


Pria yang menjadi junjungan utama Nortwind berjalan gagah dengan memakai jalinan besi dan baja serta pelindung kepala dalam jinjingan tangannya, langkahnya sempurna. Aketon bersembunyi di dalamnya sebagai pembatas singgungan kulit. Sword of mercy bersarang di balik punggung Raja Svenson. Pedang mercy bermata patah yang terpotong pendek dengan ujung persegi.


Pedang itu bagian dari simbol kerajaan, dan anggota dari lima pedang legendaris. Mitos membisikkan bahwa malaikat memenggal ujung pisaunya demi mencegah hal buruk.


Sepasang tapak penguasa tertinggi Northwind melenggang, dipandu belasan ksatria andalan. Tatapan mereka siaga, siap laksanakan perintah. Tak hanya didukung beragam tempaan fisik, tetapi juga suntikan spiritual dari para saint dan sesepuh.


Tak ada yang meragukan kepemimpinan Hanes sang penguasa malam. Karena dalam kegelapan, pria tua itu bisa berubah menjadi the reaper yang mencabut kehidupan para musuhnya.


Bunyi logam beradu, pelindung betis Raja Svenson tertahan di ambang gawang gate house. Sorotnya jatuh pada jembatan tarik raksasa yang masih berdiri sempurna. Para pelindung menutup langkah. Mereka siaga.


Di sana, Jendral Hanes telah menunggunya. Membuka segala gerbang cakrawala tentang perang yang sesungguhnya. Bukan simulasi, tapi benar-benar pertarungan sejati.


Ada gejolak mengalir dalam darah Raja Northwind. Kedua tangannya terkepal. Sejenak, kelopak matanya terkatup, menyembunyikan warna biru dari dunia. Tiba-tiba getaran ringan terasa pada pijakannya. Langkah semakin mendekat, tak lama iramanya lenyap bertukar dengan aura mencekam.


Kelopak mata sang putra Gerardo, masih rapat saat merasakan sentuhan lembut menyusup di bawah lipatan lengan. Sepasang kehangatan merangkak naik. Degup rongga dada kirinya berangsur meninggi. Ia merasa sang kekasih telah memeluknya dari belakang.


Svenson meraup oksigen dengan tergesa lalu menghempaskannya. Pernapasannya semakin tak kuasa menyambut dekapan yang kian menekan dada.


Svenson menatap ke arah pelindung dadanya. Pupilnya sedikit membola. Kenyataan hampa terpantul pada retina Sang Heather II.


Tak ada kesan hangat. Hanya semu.


Angin sekali lagi melintas, menggiring kenangan bersama sang terkasih. Kebahagiaan yang dulu terasa indah kini menyerupai tambang yang menarik lehernya. Menjeratnya, dan seolah menunggunya untuk mati.


Tidak. Svenson akan menelan semua kepahitan itu. Masa lalu hanya melemahkan. Gemuruh dalam dadanya terlalu besar untuk diakhiri. Kesumatnya hingga mati. Northeast adalah awal pembalasan untuk para penghianat.


.


Coif melekat di kepala Raja Svenson menyisakan parasnya yang tampan. Pelindung kepala baja terpasang sempurna setelahnya.


Kusir kerajaan menggiring seekor kuda menghampiri sang raja.


Si hitam garang menanti Raja Svenson menepuk punggungnya. Dan dengan sebuah lompatan sempurna Svenson telah duduk di pelana. Sorot matanya tajam tak terbantahkan. Hari ini, adalah awal ia melenyapkan para pengganggu.


Kusir tua menghormat santun sebelum mengambil beberapa langkah mundur, dan memberi celah bagi Raja Svenson.


Svenson menunggangi kuda itu. Tali kekang ia genggam ketika jembatan tarik mendarat pada permukaan genangan parit.


Bunyi debam jembatan bercampur sorak ratusan ribu pasukan menyambut putra Gerardo menyatu bersama mereka. Raja Svenson mengentak pelan kedua kakinya menyinggung perut kuda. Tapal kuda mendengungkan irama rampak. Belasan ksatria bergegas menghampiri tunggangan masing-masing dan melenggang pada sisi dan balik punggung Svenson.


.


Para pasukan dalam barisan terbelah, menyediakan ruang untuk sang raja dan para pelindung menuju garda depan. Sembilan ratus pasukan dikerahkan. Mereka adalah kesatuan dari keberagaman latar dan status.


Milisi warga mendominasi pasukan ini. Ditambah ksatria terlatih, kavaleri, penyihir, serta tentara bayaran pemanah ringan. Semua di bawah titah Panglima Hanes. Para witch yang biasanya mengabdi pada Caroline telah bersiaga di samping sang Panglima. Bersiaga penuh dengan menyiapkan kubah pelindung.


Tunggangan Hanes, Rolf serta Osca membawa serta majikannya ke ujung pasukan. Para ahli pun diletakkan pada titik-titik tertentu. Mereka yang memiliki kemampuan merobohkan lawan dalam hitungan detik, menyusun kekuatan pertahanan sebagai mata tombak pertempuran. Mereka menanggung beban luar biasa demi membebaskan pasukan sukarelawan untuk bertarung sesuai kemampuan.


Panji-panji dikibarkan, simbol bulan sabit berwarna emas dengan latar warna merah menjadi saksi sejarah baru. Bahwa Nortwind yang agung, bersiap untuk menakhlukkan Northeast.


Satu hal yang terlewat begitu saja dalam benak mereka adalah Caroline tidak berada di sana dan merapalkan mantra saktinya untuk melindungi pemilik armor tertinggi.


.


Empat puluh delapan jam perjalanan menuju perbatasan. Akhirnya Northeast tampak di hadapan sejauh beberapa mil. Dua hari dua malam dalam alam liar menjadi titik tempa. Mereka seolah sedang dalam tahap trial.


Berlimpahnya perbekalan, terpenuhinya ramuan pengobatan, bergabungnya ahli medis profesional, ketersediaan tenda-tenda perang yang memadai dan cadangan persenjataan, mampu menjaga hasrat pasukan di kala penat. Hingga saat waktu bersejarah tiba, mereka tetap prima.


Pasukan pihak lawan mulai berdatangan. Rupanya agenda menduduki kawasan strategis tersebut telah terendus musuh. Pekik semangat mulai bersahutan. Genderang bertalu, trompet pertempuran memekakkan telinga. Panji-panji melambai kuat, ditegakkan demi menandai kekuasaan.


Pedang sang jendral teracung ke udara. Sebuah keputusan bahwa perang diawali. Dan seperti sebuah anak panah yang terlepas dari busur. Kuda telah melesat berlari menuju garda depan. Mempertaruhkan jiwa dan raga mereka demi kejayaan Northwind.


Pun dengan para pasukan di belakangnya. Kaki mereka terasa ringan. Karena sebuah pemahaman bahwa kematian terindah adalah menjadi pahlawan untuk negri sendiri.


Perang yang terjadi, sejatinya hanyalah semu di antara kalah dan menang. Namun nyata dalam penderitaan. Tapi bukankah takdir manusia adalah bertahan hidup? Begitulah cara alam mengajarkan. Yang tak bisa bertahan dari keganasan alam akan mati dalam ketiadaan.


.


Sorot surya yang benderang tetiba berubah redup dihalau oleh awan hitam yang berarak. Tak ingin kalah kilat-kilat saling beradu memenuhi angkasa. Gemuruh guntur mengumbar amarah. Kabut mencekam menghampiri. Awan hitam menggumpal di cakrawala melatarbelakangi awal kisah pertumpahan darah tanpa waktu yang tentu.


Pekikan sang jendral, Hanes, membahana. Memulai aba-aba.


Dua pasukan besar saling mengukur dari kejauhan. Kedua belah pihak memulai entakkan pertama dengan sorak yang bergelora. Keduanya saling meningkatkan laju kecepatan tunggangan tanpa gemetar.


Para penyihir kerajaan; penyerang jarak jauh, tengah khusyuk merapal mantra gaib. Keajaiban para penyihir putih mengguncang lapisan awan hitam. Jemari mereka menyusun kilau petir, menghimpun tiupan bayu, menyatukan gemuruh guntur dan mengendalikan kabut tebal.


Hembusan badai topan penyihir Northwind seketika menghempaskan barisan musuh terdepan.


Hanes dan Osca menerobos paling awal. Berbekal pedang pusaka turun-temurun dari masing-masing pendahulu. Selain senjata fisik, Jendral Hanes dikaruniai energi tak kasat mata yang mampu melindungi pemilik dan menghancurkan musuhnya. Rolf memacu tunggangannya di belakang para petinggi. Para warga sukarelawan bergerak cepat menyertai keduanya dengan halberd perang dalam genggaman. Kapak maut yang siap menumbangkan para penunggang kuda dengan satu ayunan.


Darah mulai menghambur ketika kedua belah pihak menyatu dalam perseteruan. Dua kerajaan besar tak bisa mengelak dari pertumpahan ini. Sebuah kutukan abadi para iblis, bahwa tiap tahta selalu menanggung derita.


Kekacauan terbesar rancangan Raja ke-15 Northwind yang ingin memuaskan dahaga ketamakan.


.


Satu per satu prajurit Northeast, menemui ajal pada ujung ketajaman pedang sang jendral.


Hanes bukanlah orang sembarangan di Nortwind. Tak ada musuh yang mampu menggoreskan senjatanya pada sang pemilik malam. Sebuah kepercayaan yang diamini oleh banyak orang adalah Hanes jelmaan malaikat maut itu sendiri. Datang dengan halus, tenang, kemudian memberikan sebuah kematian yang tak terbayangkan.


Lelaki yang sangat menguntungkan jika ada dalam sekutu. Tapi luar biasa berbahaya jika menjadi seteru.


Pasukan berkuda Northwind melaju kencang meratakan pasukan lawan dengan formasi ujung tombak. Kesatria diraja menebas musuh dalam sekejap mata.


Mayat berserakan di antara ganasnya senjata tajam. Tak hanya Northeast yang menderita kerugian dengan merosotnya populasi penduduk dalam hitungan jam, Northwind pun menanggung pilu sebab berpulangnya banyak jiwa.


.


Rolf, sosok intelijen genius, menerobos kepungan lawan dengan sekali ayunan lengan. Dua pedang beradu, siasat dimainkan. Prajurit kerajaan seberang berguguran di atas tanah. Kelincahan Rolf sang hyenna telah membuktikan bahwa pria pucat ini tak luput dari pengamatan Jendral Northeast yang merasa jumlah pasukannya terancam.


Pria Tassilo membabat pasukan Northwind demi menghampiri buruan besar. Hingga seorang prajurit Northwind terbelah dadanya tepat di pelupuk mata Rolf.


Rolf berang. Harga dirinya seakan tercabik. Rolf bergegas memangkas jarak dengan sang jendral lawan yang telah melukai kehormatannya.


Ringkikan kuda mengiringi adu pedang. Rolf memamerkan senyum asimetris, ia melesatkan pedang dengan kecepatan dan keakuratannya, sayang sekali dapat dengan mudah dihindari Ivor Sain Tassilo dengan gesit. Saling meleset tipis melalui leher.


Dua tunggangan berhadapan tak lebih dari satu depa. Masing-masing lengan menerobos udara kemudian meliuk di hadapan mata lawan.


Ivor memicing. "Kau ...."


Rolf menyeringai. Pedang dalam genggaman kiri dibuang tanpa arah hingga bersarang pada dada salah seorang pasukan lawan.


Susunan kata yang tertunda kembali disempurnakan. "Kau dan aku." Jendral lawan tak kenal gamang. Auranya tetap tenang. Emosi seolah tak terjamah.


Rolf menggeram dalam gerakan lengannya. Mata pedangnya menyambut sang jendral. Ivor mengimbangi dengan pertahanan kuat. Denting dua mata pedang beradu di bawah langit kelabu.


Rolf menghindari sayatan Ivor dengan sigap, selanjutnya lelaki pucat itu sengaja membuat gerakan menyerong, seolah sengaja meleset hanya untuk memerdaya Ivor dan menghadiahkan sebuah tendangan mematikan.


Ivor mundur ke belakang. Rasa nyeri bercokol di ulu hatinya. "Wah... Kau lumayan juga." Ivor menyeringai. Setidaknya, mainan kali ini jauh lebih baik ketimbang kroco-kroco yang dibunuhnya sejak tadi.


.


Kilatan misterius dari dua arah bertabrakan dahsyat dan meluncur dari angkasa. Kilatan energi menjelma ledakan bara api. Panasnya terlempar menghampiri kubu Northeast. Daya dan kekuatan para ahli sihir dipertaruhkan hingga titik penghabisan. Serangan udara Northwind bertubi hingga penyihir Northeast tak sanggup menyela. Mereka hanya mampu bertahan dengan segenap daya.


Bertubi-tubi gerakan kecepatan pedang dari Ivor dapat ditangkis oleh Rolf Aloysius Marthen. Berikutnya pun, si Tassilo itu melompat, menghunjam tepat ke kepala, dan terpaksa membuat Rolf menangkisnya dengan pedang.


Satu tangkisan yang membawa malapetaka karena lutut Ivor telah merangsek ke perutnya. Dan membuat tubuhnya remuk.


Melompat ke belakang, Rolf terengah.


Jendral Northeast makin menyudutkan pergerakan Rolf. Kemahirannya mengendalikan pedang bukanlah dongeng. Adalah fatal ketika kelengahan Rolf baru saja terpedaya hingga tubuh berpelindung baja itu terpelanting.


Rolf masih belum berhenti, tapi bersikap defensif tidaklah membuat perubahan. Kali ini, Rolf berbalik menyerang.


Rolf maju dengan kuda-kuda yang lebih waspada. Ia merangsek ke depan yang membuat Ivor mundur dengan tangan menghalau senjata Rolf dengan pedangnya. Sesekali mereka bertukar formasi, saling melebr jarak lalu bertemu kembali dalam tangkisan dan serangan.


Satu kecerobohan Rolf dimanfaatkan dengan baik. Ivor berhasil memberikan satu tonjokan di wajah dan disertai oleh satu tendangan mematikan di perut. Belum cukup, dengan kecepatan penuh, Ivor merangsek, membenamkan pedangnya ke hyenna Nortwind. Sayatan lebar menembus dadanya.


Malang tak dapat ditolak. Untungpun tak dapat diraih. Kuda jantan tersentak, hingga menggila tak terkendali. Sepasang kaki depan mengentak tempurung lutut sang majikan sebelum berjingkrak menjauh. Rolf, terkapar, tapi menolak untuk menggumam ampun.


Ivor melenggang penuh keculasan. Punggung tangannya menyibak penutup paras. Iris kelamnya menyipit pada raga lemah yang masih mampu tersengal ketika darah segar semakin menyebar.


Tersenyum penuh kemenangan, Rolf tak menyesal mati secara terhormat. Malaikat maut telah menanti, dan Ivor mengibaskan pedangnya sekali lagi. Tak berselang lama, malaikat berlalu menggenggam jiwa yang beku dan menyisakan raga yang terbujur kaku. Sang hyenna dari Northwind sudah mati.


.


Tapi segala euforia milik Ivor seolah lenyap tersapu angin saat sang Jendral besar telah mendekat.


Mata kelam Ivor beradu dengan tatapan kelam milik sang Penguasa Malam. Bahkan, langkah tenang Hanes bisa membuat dirinya bersiaga penuh.


Seharusnya Ivor sadar bahwa takdir telah berpihak kepada Nortwind. Cahaya oranye menyebar ketika awan-awan kelabu tersibak sempurna.


Salah besar jika kealpaan Caroline dalam perang itu adalah sebuah keuntungan. Sang penyihir agung memang tak memainkan peranan dalam perang kali ini, tapi, hendaknya Ivor sadar bahwa satu orang Hanes saja bisa membunuh satu batalyon jika dibiarkan.


Lelaki dengan baju zirah berjubah merah itu menampilkan aura hitam yang tak bisa disangkal Ivor.


Tatapan mereka bertemu. Mata Hanes yang kelam berkilat senang. Seolah telah menampilkan sesosok lain yang terkunci sekian lama.


Ivor menguatkan pijakan, ketika tangan Hanes menarik pedang hitam itu dari sarungnya. The black sword .


Ada beberapa dongeng tentang lima pedang sakti. Dua di antaranya sudah musnah di makan zaman. Satu di antaranya hanya legenda. Dan dua yang tersisa adalah pedang dengan ujung persegi milik King Heather I dan pedang hitam milik Sang Penguasa Malam.


Pedang hitam Hanes terbuat dari batu obsidian yang konon merupakan kristal pertama yang ditemukan di daratan Eropa.


Dan pedang itulah, yang sukses mengakhiri kisah-kisah para musuh Northwind di tangannya.


"Sang Penguasa Malam." Ivor berdesis. Memberikan sapa yang setara dengan kebungkaman Hanes.


.


Ayunan pedang Ivor dihadang mata pedang Hanes. Tertangkap denting-denting memecah kesunyian. Aksi lincah pedang Ivor nyaris membelai paras Hanes. Namun, tubuh tinggi Jenderal Northwind mampu mengelak dari rasa sakit. Hanes berputar di balik punggung Ivor lalu sedikit menghajar tengkuknya.


Hanes melempar senjatanya ketika Ivor kembali menegakkan tubuh dengan tangan hampa. Ivor melayangkan bogem mentah penuh amarah. Namun, Hanes menahan dengan mudah sebelum memilin kuat. Pijakan alas kaki Ivor menyinggung kuat betis Hanes.


Cengkeraman Hanes mengendur. Dia mundur. Ivor terengah. Hanes mendesah.


Adu otot tak terelakkan semakin sengit. Baku hantam menoreh memar pada kedua belah pihak. Ivor bukan lawan remeh bagi Jenderal Hanes. Cedera pada paras pucatnya sedemikian kritis. Namun, tiga kali kepalan tangannya berhasil mendarat pada lengan Jenderal Northwind. Bagi Ivor, melayani Hanes tak sekadar merelakan leher pada musuh besar, tetapi juga menentang Dewa Perang.


Skor sementara berimbang dan belum mendapat korban tumbang. Pasukan kedua belah kubu semakin bimbang. Ketegangan semakin tercium tajam. Hingga Ivor cerdik menjegal Hanes saat lengah. Hanes menggelangsar, tapi secepat itu pula ia bangkit dan menerjang.


Ivor merangsek ke depan, memberikan Hanes sebuah shock terapi yang gagal karena lelaki itu dengan lihai mengindari serangan pedang tersebut, dan justru menghadiahi satu jegalan yang susah payah dihindari Ivor.


Ivor terseret mundur, tapi tetap berhasil berpijak dengan satu tangan menumpu dan satu tangan lain menancapkan pedangnya ke tanah.


Seolah menunduk di hadapan Hanes, Ivor kembali ke bentuk sikap sempurna, berdiri tenang. Tangannya kemudian menyiapkan kuda-kuda baru.


Kali ini adu pedang telah memulai babak baru perseteruan ini.


.


Dengan gerakan bagai kilat Ivor melesat maju, menghunjam jantung Hanes dengan pedangnya, tapi pengalaman memang tak pernah menghianati, dengan gerakan tenang dan juga lugas, Hanes menahan gempuran. Senyum miring itu tak lepas dari pengamatan Ivor.


Menarik pedangnya lagi, Ivor mencoba jurus baru, improvisasi dengan beberapa gerakan dasar. Lelaki itu menendang badan dari Jendral Northwind, yang ternyata bisa ditangkis sempurna. Selagi Hanes menghalau kaki dan juga tangannya, tangan lain berusaha memberi sayatan yang berhasil dipatahkan.


Ivor membuat gerakan memutar, tapi Hanes masih tegak dan tak kehilangan tenaga.


Ivor terus melancarkan serangan, kali ini ia mempercepat gerakan. Ia berpikir, bahwa umur adalah penentu. Suara denting pedang beradu. Kadang memercik api yang membuat mereka makin berduel seru. Satu kecepatan Ivor mengayun, maka dengan cara yang samalah Hanes menangkis. Seperti sebuah cermin, sama mendekat, bersama menjauh.


Ivor terengah sebelum memberi jarak kepada keduanya. Ivor menyusun kembali segala tenaga dan juga asa.


.


Dan sinar mentari benar-benar menghilang dari pandangan rupanya menggoyahkan Ivor. Ia mendengar dengan baik ketika desas-desus bahwa kekuatan Hanes makin memuncak jikalau matahari menghilang dari bumi.


Seakan kebenaran itu terbukti, Hanes berdiri mantap seolah baru saja tiba di sana dan belum lelah akan pertempuran. Cahaya purnama membiaskan mata kelam Hanes.


Ivor tak mau menyerah kalah, ia meloncat, memberikan Hanes hunjaman horisontal yang ditangkis dengan cepat dan juga kuat oleh lelaki berumur itu. Membuat lelaki Tassilo tersebut melanting ke belakang dengan cepat, yang tanpa sadar disusul Hanes dengan ketenangan dan kecepatan di luar logika.


Bagaimana lelaki itu telah berada di belakangnya, seolah tak pernah beradu pedang di belakangnya, yang membuat Ivor membalik arah serangan, membuat ia mati langkah yang dimanfaatkan Hanes dengan menandai leher Ivor dengan goresan pedangnya.


Ivor meloncat ke belakang, memegangi lehernya yang tergores. Ia tertawa, merasa di atas angin karena berhasil lolos dari maut. "Hanes si penguasa malam meleset?!" ejeknya.


Tapi secepat ia bersuka ria, maka secepat pula Tuhan membalik angka. Ivor terbelalak hebat saat menyadari penglihatannya bahwa tubuh Hanes telah berada di empat penjuru mata angin.


Bagaimana mungkin seseorang bisa menggandakan dirinya. Seolah mereka berempat menyergap Ivor dan mengunci semua geraknya.


Ivor tak bisa bergerak. Serasa tubuhnya ditempel dengan cekalan sempurna keempat Panglima Hanes. Hingga Ivor mengerjapkan mata, dan mendapati bahwa hanya ada satu-satunya Hanes di sana telah menancapkan pedangnya ke dadanya.


.


Ivor mengerjab bingung, rasa sakit menghentikan suaranya, terlebih ketika tangan sang penguasa malam menengadah, membentuk pola diagram aneh yang mengambang dan berpendar di telapak tangannya. Angin seolah menari di atas tangan itu, membentuk serupa tombak yang ketika di lempar kepadanya berubah bentuk menjadi ratusan jarum kasat mata yang meghujam seluruh tubuhnya. Mengirimkan rasa nyeri dan juga panas yang membakar seluruh permukaan tubuhnya.


Ivor menatap Hanes tak percaya, napas putus-putus melewati kerongkongan yang tarasa penuh hingga ia terbatuk. Darah kental meleleh dari sela mulutnya.


Pedang Centrino Uphre yang terbuat dari batu obsidian itu dicabut dari dadanya. Anehnya tak ada yang menyembur keluar dari sana. Karena pedang itu telah menyerap semua darah yang disinggahinya.


Itulah kenapa tak pernah ada noda darah dalam pedang itu. Karena pedang itu melahap habis darah yang mampir kepadanya.


Ivor merasa tubuhnya kebas dan dingin. Tanpa sanggup bersuara, Sang Penguasa Malam telah menjelma menjadi dewa pencabut nyawa. Kali ini Hanes akan menampilkan wajah aslinya; senyum kematian.


Karena ketika Centrino Uphre melepaskan raga Ivor dengan kepalanya, perang ini jelas menjadi milik Northwind. Kepala Ivor Sain Tassilo adalah piala kemenangan Negara Bulan Sabit itu.


Hanes beranjak. Berdiri tegak membusungkan dada.


.


Raja Northeast yang renta tergopoh memisahkan lautan pasukannya. Langkahnya yang berat menghampiri jasad sang jendral. Lututnya bersimpuh. Dahinya mencumbu permukaan bumi.


Para pasukan Northeast melucuti persenjataan dalam kebisuan. Tubuh mereka merendah hingga bersujud dengan lutut terlipat.


Pedang Hanes merenggangkan udara dan menghunus gravitasi. "Hidup Northwind!"


Gemuruh pujian kejayaan Northwind memantul pada tembok-tembok menjulang benteng Northeast.


.......


......Bersambung......