
"Lady, makan malam sudah kami sediakan." Suara seorang pelayan berhasil membawa fokus Caroline dari matahari senja kembali pada sekitar.
Berdiri di balkon megah Kastel Izarus, sedari tadi, iris peraknya terpaku pada panorama jauh di depannya. Semburat oranye mewarnai langit, dihiasi lalu-lalang burung yang membentuk konfigurasi.
Mengingat masalah dan konflik internal yang melanda negerinya, membuat sang Lady menekan pelipis kuat. Meski penduduk belum menyadari ketegangan ini, tetapi, pro-kontra yang terjadi lambat laun pasti menemukan terang, dan semua orang akan sadar. Ia harus mengakhiri ini, segera. Demi kelangsungan Northwind.
"Aku akan ke sana sebentar lagi." Caroline berbalik memandang si pelayan kerajaan. Dengan satu interupsi dari tangannya, pelayan wanita itu pun pergi.
.
Setiba di ruang makan, kedatangan Caroline bertepatan dengan The Majesty Svenson yang baru saja melewati pintu ganda bersama Panglima Hanes.
Ia mengurungkan diri untuk duduk terlebih dulu. Memberi penghormatan pada rajanya dan sang guru.
"My Majesty, ... My Lord." Caroline menundukkan sedikit kepala seraya menarik gaunnya, memberi salam kepada Raja dan Panglima Northwind. Meski perempuan anggun tersebut tahu balasan seperti apa yang bakal ia dapat dari pemuda pirang di depan sana.
Panglima Hanes memberi anggukan dan seulas senyum penuh kebijakan pada Caroline, berbanding terbalik dengan The Majesty yang membuahi rasa kesinisan. Para petinggi kerajaan pun memberi penghormatan serupa, sebelum akhirnya semua duduk untuk melakukan santap malam bersama.
Suasana makan malam hari ini terasa berbeda. The Majesty yang biasanya begitu dingin dan penuh aura intimidasi, kini tampak larut berbincang bersama para petinggi Northwind-terutama yang seprinsip, mendukungnya dalam rencana 'penyegelan' kekuatan penyihir sesuai isi dekret.
"Sudah jelas bahwa sihir akan membawa petaka bagi kerajaan. Seperti yang sudah terjadi."
"Ketiadaan sihir tak kan menggulingkan Northwind dari kejayaannya. Kita punya pasukan yang kuat. Mumpuni."
Caroline tak dapat menulikan telinga dari kalimat-kalimat sarkasme dari bibir para petinggi yang pro kepada dekret raja beberapa waktu lalu.
Sungguh, sejujurnya Caroline paham betul mengenai sejarah sihir bagi Northwind, tentang bagaimana peran para penyihir yang turut membawa Northwind pada kejayaan.
Suara dentingan sendok dengan gelas berhasil menarik semua perhatian dari seluruh petinggi kerajaan. Svenson tampak menarik penuh atensi dari semua orang sebelum perjamuan dimulai.
"Aku hanya akan menyampaikan satu hal. Bantulah aku membawa Northwind menuju kejayaan abadi, dan mempertahankannya dari segala gangguan. Demi para pendahulu kita, demi semua yang telah mengorbankan nyawa untuk tanah air kita."
Apa yang telah disampaikan raja sedikit berbeda dari momen makan malam sebelumnya. Tak ada sindiran yang tercetus dari The Majesty kepada sang Penasihat. Hingga dimulainya acara yang berlangsung khidmat itu sampai selesai, tak ada potongan kalimat yang terujar untuk mendiskriminasi penyihir di kerajaan dari bibir Svenson, kecuali, tatapan kesinisan dan meremehkan. Seolah perang urat syaraf antara mereka kali ini berlangsung tertutup.
.
Telapak tangan Caroline menyentuh penuh bola tersebut sembari bibirnya bergerak-gerak melafal mantra. Tak lama kemudian, tampak bola kristal itu berpendar cahaya biru sewarna langit di musim panas.
Pikiran wanita itu berlalu menuju sudut tergelap kerajaan, tempat di mana para penjahat kerajaan dan calon terhukum mati berada. Dalam pikiran Lady Lin, ia hanya berasumsi kecil bahwa pemilik suara meminta tolong itu berada di penjara kerajaan.
Bayang-bayang lorong gelap nan lembap terefleksi dalam bola kristal berpendar biru tersebut. Satu demi satu wajah penghuni sel tahanan terpampang, bahkan tikus, dan serangga menjijikkan tak luput dari penglihatan iris cantik itu.
Sampai pada sel tahanan terdalam yang bahkan lorong selasarnya sudah berlumut; bukti bahwa lorong tersebut hampir tidak pernah dijejaki manusia. Sang Lady sungguh tercengang dengan apa yang ia lihat melalui bola sihirnya. Sosok pria berambut pirang terurai lusuh tampak terduduk di sudut sel tahanan dengan kondisi mata dan mulut tertutup, serta kaki terantai dan tangan terikat menyilang di belakang.
"Lu—Ludger?!"
Nama itu terlafal begitu saja dari bibir si Penasihat Agung Northwind. Asumsi yang telah ia buat semalam terbukti benar, bahwasanya, ada orang dalam yang tengah menebar racun di dalam tubuh kerajaan.
Segera ia beranjak dari kursinya. Sirna sudah sosok tenang dan dingin sang Lady kala kunci kemenangannya telah berada di telapak.
Caroline berjalan tergesa, tak peduli akan sapaan dari pelayan kerajaan yang berpapasan dengannya.
Langkah berdetak perempuan itu terhenti saat sosok pria paruh baya berpakaian khas petinggi militer tengah berjalan pelan ke arahnya.
"My Lord ...."
"Mengapa Anda terburu-buru sekali, My Lady?" suara Panglima Hanes berhasil mengembalikan ketenangan langkah Caroline.
"Ada sesuatu yang harus saya urus saat ini, My Lord. Permisi."
Setelah berujar demikian, Caroline kembali pada ketenangannya. Ia berjalan seperti tak memiliki ambisi. Namun, hal tersebut mampu diterjemahkan oleh sosok pria yang telah memenangkan banyak perang demi Northwind.
Hanes menatap kepergian Caroline yang terus menjauh dari refleksi iris hitam kelamnya. Ia merogoh saku dari jubah panglima kerajaannya kemudian, berjalan dengan tenang.
.
Begitu dingin dan menguarkan bau basah. Cahaya remang obor hanya menjadi modal utama warna dapat tertangkap penglihatan. Penjara adalah satu-satunya tempat yang paling dihindari oleh penghuni kerajaan, tak sedikit yang mengatakan bahwa sel tahanan Dungeon merupakan neraka dunia kedua setelah altar hukuman mati.
Sesosok pria pirang berpakaian lusuh terduduk dalam kondisi tak berdaya. Tak ada warna yang mampu indra penglihatannya tangkap selain hitam. Namun, pendengarannya masih berfungsi optimal untuk menerka apa yang tengah terjadi dalam radius 10 meter darinya.
Langkah kaki? Ia mendengar jejakkan kaki yang terasa ringan dan perlahan mendekat. Lalu, bunyi besi yang bergesekkan tertangkap gendang telinganya. Siapa di sana? pikir lelaki itu.
Dia dapat merasakan rantai yang menjerat kakinya mengendur dan terlepas. Senyum pria berotak cerdas tersebut terulas implisit, sedikit tersamar oleh remangnya sekitar.
Ia merasakan tubuhnya dipaksa berdiri.
"Ikut aku."
Suara itu begitu tenang, tetapi bisa Ludger ketahui bahwa orang yang tengah memerintahnya ini mengenakan penutup wajah.
Masih dalam kondisi penglihatan terbutakan kain penutup, Ludger mengikuti instruksi lelaki bermasker tersebut. Entah ke mana ia akan dibawa. Namun, pastinya Ludger sudah memiliki sedikitnya lima rencana untuk melarikan diri sejak ia dibawa menuju penjara di kastel Izarus.
Merasa bahwa dirinya sudah berada di luar sel tahanan, senyum Ludger kian jelas terlihat jika diperhatikan.
BUGH!
Menggunakan bahu, Ludger menerjang pria yang telah membawanya keluar sel tahanan. Melayangkan tendangan memutar, berusaha mengenai kepala lelaki bermasker tersebut. Namun, dari yang ia rasa, tendangannya justru berhasil ditepis.
Masih belum kehabisan akal, Ludger memberi tipuan untuk melakukan tendangan kaki kanan menuju kepala, tapi kaki kirinya segera menghantam bahu si lawan hingga bunyi 'gedebuk' terdengar. Pria lusuh itu kemudian mengarahkan tumitnya untuk menyerang kepala.
Dugh ....
"...?!"
Lagi-lagi prediksinya tak sesuai. Kakinya hanya menyentuh punggung dan sebatas membuat pria bermasker itu tersungkur.
Tak menyiakan kesempatan, segera Ludger berlari meski matanya masih tertutup kain.
Ia menyerempetkan dirinya ke dinding, berusaha menemukan sesuatu yang bisa digunakan untuk memutus tali di tangannya. Sampai ia merasakan sudut dinding saat berada di persimpangan lorong penjara. Ludger segera menggesek tali yang mengunci tangannya dengan sudut dinding, tak peduli tangannya akan terluka.
Usai tali putus, ia langsung menarik penutup matanya.
"Tch! Sial!"
Namun ....
"...?!"
... bogem mentah menjadi hal pertama yang ia lihat hingga membuatnya terpelanting ke belakang, menabrak dinding.
"Aku tak mengenalmu, Tuan Bermasker! Tch ... kau bukan orang suruhan biasa rupanya." Ludger berucap tenang sembari bangkit.
Pria dalam balutan serba hitam di depannya tak kalah tenangnya. Seolah sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini.
Dengan sigap keduanya bergerak maju. Dari segi kekuatan, pria pirang itu jelas kalah. Hanya strategi dan pengalaman bertarung yang menjadi modal dia melawan.
Ludger jatuh terjungkal usai mendapat tendangan telak di bahu kirinya. Akan tetapi, tak bisa serta-merta menghapus senyum sinis dari bibir lelaki itu.
"Menarik, sayangnya aku tak ingin tertangkap lagi!" Ludger menerjang lawannya dengan cepat, memberikan pukulan terarah. Namun masih bisa ditepis dan dihindari hingga pria berpenutup wajah itu terpojok.
"Semoga kita tak bertemu lagi!"
Kalimat tersebut begitu saja terlontar dari mulut Ludger yang kemudian mengarahkan tendangan kaki kanannya ke kepala lawan, dan memberikan tendangan memutar dengan tumit kaki kiri saat kaki kanannya berhasil ditangkis. Ludger berhasil membuat pria berpenutup wajah terjerembap jatuh.
Pria yang berpakaian ala ninja itu bangkit dari jatuhnya, sayang, orang yang membuatnya terjatuh sudah tak terlihat lagi.
Ia segera berlari sembari mengambil tali bekas ikatan dan penutup mata Ludger untuk menghilangkan barang bukti. Kemudian, laki-laki itu bergegas keluar melakukan pengejaran.
.
Langkah kaki wanita anggun tersebut semakin cepat mendekati pintu utama penjara. Ini adalah kunci kemenangannya untuk mencabut dekret raja.
"Semoga kita tak bertemu lagi!"
"Suara siapa itu?"
Kalimat tersebut masuk ke dalam indra pendengaran Caroline. Wanita itu segera berlari memasuki area penjara bawah tanah Kastel Izarus, melewati penjaga yang langsung memberikan penghormatan saat kedatangannya.
Suara langkah kaki Lady Dellinger begitu jelas terdengar. Ia berlari menuju area tergelap penjara kastel. Namun, sesampainya di sana tak ada seorang pun yang berada dalam sel tahanan yang telah ia lihat melalui bola sihirnya.
Caroline menoleh ke lorong kanan dan kiri. Intuisinya tak merasakan satu pun hawa keberadaan. Tempat ini sudah kosong.
Bunyi berdencing menggema ketika cincin sang Lady bertemu muka dengan besi berkarat; sel Kastel Izarus. Ia memukul jeruji itu karena kesal.
"Bagaimana bisa dia keluar?" napasnya sedikit memburu lantaran emosi, tapi ia harus tenang untuk kembali berpikir. "Dibebaskan atau meloloskan diri, yang dicari pasti rute terpendek kan?"
Kaki Lady Lin bergerak menelusuri lorong di dekat sel tahanan itu. Rute ini adalah yang paling dekat dengan pintu keluar bagian belakang. Tempat di mana seseorang dikeluarkan untuk diganjar hukuman mati. Di sana ada lahan kosong yang para penghuni kerajaan sebut, 'gerbang neraka'.
Sampai pada apa yang ia temukan berhasil membuat langkahnya terhenti.
Sebuah hal yang menguatkan asumsinya, bila ada orang dalam yang menabur racun untuk Northwind sendiri.
"Bros prajurit kerajaan?" Caroline berucap pelan sembari memungut tanda pengenal prajurit resmi Northwind di belokan lorong tahanan.
Ia mengamati benda itu. Saat ia genggam, bros tersebut sekilas berpendar oleh mantranya.
Sang Lady memejamkan mata, "Ko ..., Ko, siapkan beberapa orang dan lakukan pencarian terhadap pemuda berambut pirang bernama Ludger di kastel ini. Pastikan tak ada yang tahu, termasuk The Majesty."
Lewat telepati, Caroline berkomunikasi dengan pengawal loyal keluarga Dellinger. Dia lalu beranjak keluar untuk melakukan pencarian.
Dirinya tak peduli seberapa berbahaya Ludger, ataupun suruhan orang dalam yang bisa saja menyerangnya bilamana ia menemukan mereka nanti.
.
Laki-laki berpakaian serba hitam berdiri di atap sebuah bangunan. Sorot iris jelaganya memandang sekitar yang disinari purnama.
Di mana? Di mana Ludger sekarang?
Ia harus melaksanakan tugasnya hingga tuntas. Pria itu melompat dari atap menuju atap bangunan lain. Insting tajamnya begitu saja membuat wajahnya menoleh ke arah sebelah kanan. Dapat dilihatnya Ludger tengah melompat dari atap ke atap menuju gerbang utama Kastel Izarus.
Tak membuang waktu, langkah kaki pria itu segera mengejar sosok incarannya. Aksi kejar-kejaran di atap rumah dan pertokoan dalam lingkungan kastel mulai disadari oleh beberapa warga yang kebetulan masih terjaga.
"Brengsek!" umpat Ludger saat pria yang telah ia jatuhkan di penjara tadi rupanya sudah berada beberapa meter di belakangnya.
Si pengejar mengeluarkan tali yang diikat dengan pemberat. Dia memutarnya kemudian melempar tali tersebut untuk menjerat kaki buruannya.
Tertangkap!
"Sial!" kembali Ludger mengumpat saat dirinya terjatuh, menggelinding dari atap rumah.
"Ugh!" Ludger terjungkal. "sakit sekali ...." rasanya, badannya remuk usai terjatuh dari ketinggian 5 meter.
"Bersikap kooperatif lah dan jangan melakukan hal yang sia-sia, atau nyawamu melayang." Suara tenang pria berpenutup wajah itu penuh ancaman. Tak ada yang bisa Ludger perbuat untuk sekarang ini, kecuali menunggu momentum yang tepat guna meloloskan diri lagi. Ya. Hanya perlu menunggu.
"Kheh .... Kau anjing yang sedang merusak rumah majikanmu." Ludger berujar saat tangannya diikat kembali menggunakan tali. Bukan sembarangan ia berkata demikian. Menimbang-nimbang segala hal mengenai situasi ini, dia bisa mengambil asumsi yang cukup runcing pada kenyataan.
Tak ada yang berbicara setelahnya. Hanya berdua berjalan menuju satu sudut barat Kastel Izarus untuk bersembunyi saat ini. Ludger bersikap kooperatif untuk sekarang, karena dirinya masih ingin bernapas.
Sampai lah mereka pada sebuah bangunan tak terawat yang cukup terisolasi dari keramaian. Atmosfer makin terasa hening. Sebatas bunyi langkah kaki dan suara daun saling bergesekan akibat embusan angin yang terdengar.
"Siapa yang menyuruhmu?" Ludger berujar ketika dirinya dipaksa duduk di kursi kayu.
"..." Tak ada komunikasi verbal yang diberikan pria berpakaian serba hitam itu. Usai mengikat Ludger dengan kursi, dia lantas menyeret kursi tersebut ke dalam ruangan kosong yang sama sekali tak ada perabotan, lalu menutup dan mengunci pintunya dari luar.
Ludger tersenyum saat pintu telah tertutup. Namun tak lama, ia meringis menahan sakit merasakan ada sesuatu yang menancap di pinggang belakangnya.
Dengan tangan masih terikat tali, ia mencoba mengambil sesuatu tersebut. Yang ternyata bagian dari kursi yang lapuk, berbentuk segitiga pipih tak sempurna.
Melihat pinggirannya yang tajam dan sedikit bergerigi, Ludger pikir benda ini bermanfaat meski sudah melukainya.
Ia segera menggesekkan sobekan kayu itu pada tali pengikat dirinya dengan kursi. Sembari mencoba mengikis tali, atensinya beralih ke satu-satunya ventilasi berukuran sangat kecil di ruangan itu.
Tali terlepas.
Lunglai tangan Ludger menjatuhkan sobekan kayu yang baru saja ia anggap dewa penolong.
"SIAAAL!" Ludger mengumpat dengan keras.
Percuma saja tangannya terbebas, nyatanya ia tetap tak dapat keluar dari ruang sialan ini. Lubang kecil itu, hanya muat dilalui kecoa.
"KEPARAT KAU, ANJING NORTHWIND!"
Harusnya Ludger sadar, si pesuruh tersebut tak kan melakukan kesalahan yang sama sampai dua kali.
Akhirnya, pemuda berkuncir itu menyerah. Ruangan yang gelap mengumpulkan segenap rasa lelahnya menjadi kantuk.
Sepi.
Bahkan serangga pun tak berbunyi.
Mungkin, seperti inilah kematian.
.......
......Bersambung......