
Dia tengah membaca. Menyalakan lilin di tengah gelapnya malam. Namun, angin yang masuk melalui celah ventilasi membuat cahaya dari lilin tersebut bergoyang. Fokusnya sedikit teralihkan.
Seseorang mengetuk pintu. Memecah hening. Dengan tergesa Lady Caroline mengenakan jubah tebal berbulunya.
"My Lady, buka pintunya!"
Caroline mengernyit. Lord Hanes datang dengan ekspresi tidak terbaca. Terkesan tergesa.
"My Lord, ada hal apa sampai Anda berkunjung di tengah malam?" Lady Caroline mempersilakan sang panglima masuk.
Duduk di atas kursi beludru, segelas air hangat Caroline berikan. Namun, Hanes justru menggenggam sebelah tangannya dengan lembut. Seolah apa yang akan ia katakan bukan masalah sepele.
"My Lady, The Majesty berada di Northeast." Bisik panglima pelan.
Pupil Lady Caroline melebar, tetapi dia mencoba setenang mungkin. Raja Svenson pergi malam hari ke Northeast tanpa memberitahunya, berarti kemungkinan besar laki-laki itu tengah melakukan sesuatu yang tidak ingin dia ketahui.
Lady Caroline memejamkan mata sejenak, membuang napasnya lembut, "Kapan?"
"Dua hari lalu. Tepat sebelum gerbang Ibukota dibuka," Panglima memberi jeda, "bersama Osca Roscoe. The Majesty pergi untuk mencari informasi tentang pembakaran Woodlands."
Lady Caroline mencengkeram kedua sisi tangannya, "My Lord, kita harus segera menyusul The Majesty!"
Dia berdiri cepat. Mengambil sebuah jubah hitam yang tergantung di sudut. Dia harus berangkat malam ini.
"Buat persiapan! Kita harus sampai sebelum lusa!" Lady Caroline mendahului Panglima Hanes. Pria itu bahkan tidak diberi kesempatan menjawab.
Tergesa, baik panglima maupun Lady berjalan cepat menuju halaman belakang; tempat para kuda kerajaan dirawat. Melewati beberapa penjaga yang tengah bertugas, Caroline menggunakan kekuasaannya untuk meminta seekor kuda. Kuda paling cepat yang mampu membawanya menuju Northeast.
Dengan segera, Lady Caroline menunggangi kudanya. Lantas membuka tudung jubah dan menatap Panglima Hanes.
"Seperti yang engkau ketahui, My Lady, istana sedang kosong. Jika aku pergi bersamamu, siapa yang akan melindungi istana?" ujar sang panglima dengan sangat menyesal.
"Baiklah, aku pergi." Pamit Lady Caroline. "tolong jaga istana sampai aku kembali, My Lord!"
Caroline menyepak perut si kuda putih, melaju pesat meninggalkan gerbang istana. Membelah dingin sambil menarik pelana, menaikkan tudung jubahnya.
Panglima Hanes mengiringinya dengan doa. Menatap putri mendiang sahabatnya hingga hilang dari pandangan.
Dia mendongakkan kepala, memandang rembulan, menggenggam erat jam analog di saku. Menutup mata dan mengelusnya pelan, seolah meminta kekuatan.
Dan ketika semilir angin musim gugur menerpa wajahnya, Hanes membuka mata lantas berbalik cepat. Membuat jubahnya berkibar, seakan menari bersamaan dengan embusan angin.
.......
.......
Svenson memerintahkan semua pasukannya untuk mencari orang itu; Ludger, kakak dari pujaan hatinya. Ingin memastikan bahwa itu benar dia atau bukan.
Sejujurnya, Svenson ingin berbicara langsung. Menegaskan bila ia sama sekali tak terlibat dengan pembumihangusan Woodlands. Dan juga harapan jika Livy masih hidup. Harapan bahwa Deidara bersama Livy, calon permaisurinya.
Dua hari sejak Osca datang melaporkan jika Ludger kini berada di sebuah penginapan di sisi timur Northeast.
Rolf maupun Osca segera mengumpulkan pasukan. Bersama rombongannya, Svenson meninggalkan kedai minuman. Berjalan tergesa melewati beberapa pelancong, menelusuri gang sempit dan kotor demi menghindari petugas yang bersiaga.
Namun, dia kalah cepat. Apa yang Svenson tuju telah tiada. Kamar penginapan tempat Ludger bersinggah telah kosong. Rolf menemukan sebuah surat yang sengaja ditinggalkan. Bertuliskan dua kata, 'Woodlands' dan juga 'mengapa?'
Svenson menggenggam erat kertas tersebut. Petunjuk ini membuktikan bahwa memang benar terdapat Woodlanders yang selamat.
Semua orang keluar dengan perasaan hampa. Petunjuk satu-satunya sudah tidak ada. Namun, bukan berarti Svenson akan berhenti.
Tepat sebelum dia memerintahkan Rolf dan Osca mencari Ludger kembali, seorang prajurit berpakaian serba hitam mengepung pasukannya. Semua orang langsung siaga. Pedang mengacung pada musuh masing-masing. Melindungi raja yang kini berada di tengah lingkaran perlindungan.
"Siapa yang memerintahkan kalian?" lantang Osca menggertak.
"...."
Tidak ada jawaban. Semua membisu.
Rolf melirik Osca yang juga berbalik meliriknya. Seakan memberikan kode, pasukan Rolf langsung menyerang musuh dan menjauhkan mereka dari Osca dan sang Majesty.
"My Majesty, kita harus pergi! Biarkan Rolf yang mengurus ini." Pinta Osca tegas.
Svenson mengangguk. Bersama pasukan Osca, Svenson berlari menjauh. Melewati lorong-lorong sempit lagi.
.
Mata hitam Rolf bergerak cepat, beriringan dengan sabetan pedangnya yang akurat. Umumnya, orang yang belum pernah mempertemukan pedangnya dengan milik Rolf akan kewalahan, tetapi prajurit hitam itu bisa menghindar tepat ketika Rolf hampir menebas kepala salah satu dari mereka. Menepis pedang Rolf hingga terlempar dari tangan. Menciptakan suara berdenting saat pedang tersebut tertancap di tanah.
Rolf mengernyit. Dengan cepat mengambil jarum dari saku di belakang punggung dan mengirimnya ke lawan. Mengenai leher, melumpuhkan pergerakan.
Sementara para prajurit hitam yang lain berhasil mendesak tentara Rolf. Menumbangkan satu per satu.
Keadaan seimbang. Rolf menggigit sarung tangan, melepaskannya dengan suara gedebuk, nyata bahwa selama pertarungan dia mengenakan alat pemberat. Lima ratus gram di masing-masing pergelangan.
Pria itu telah meremehkan lawan sebelumnya.
"Baiklah, mari kita mulai serius." Rolf melemaskan tangan, mengambil kembali pedangnya. Matanya terpejam sejenak, sementara kepalanya mengunci target.
Merasa diremehkan, para prajurit hitam itu segera bergerak. Namun instruksi Rolf pada bawahannya begitu jelas. Mereka melakukan hal serupa; melepaskan alat pemberat di tubuh sebelum memberi serangan.
Kecepatan pasukan Rolf meningkat drastis. Membuat barikade selama Rolf mengumpulkan kekuatan ke dalam satu titik.
Suara sepatu yang terseret, desiran angin dan mata pedang dapat Rolf dengar dengan jelas. Dia membuka mata ketika pasukannya menciptakan peluang, membuat dia bisa dengan mulus melancarkan serangan.
Darah merah membasahi wajah. Rolf menyeringai, menjilat noda darah tersebut seolah belum puas akan hasilnya.
Dan alarm tanda bahaya berhasil memukul kepala si pemimpin prajurit hitam. Jika mereka adalah serigala, maka pria di depannya; Rolf, merupakan Hiena.
Aliran nafsu sudah memenuhi mata Rolf dan pasukannya, ketika segerombol tentara hitam itu melarikan diri. Melompat di antara satu atap ke atap yang lain.
"Berhenti! Jangan dikejar!" Rolf menyipitkan mata. Memilih menyarungkan kembali pedangnya.
.
.
Svenson dan Osca masih berlari. Sedikit lagi. Tidak jauh dari pandangan, pelabuhan sudah terlihat. Namun, sekali lagi mereka terkepung. Dan kali ini bukan prajurit berpakaian hitam. Melainkan pasukan Northeast yang dipimpin langsung oleh jenderal mereka; seorang pria jangkung bermata hitam, dengan sebuah bros segitiga agung; Black Dongbei.
"Tch ...." Osca berdecap.
"Siapa kalian? Dari mana kalian berasal?" tanya sang Jenderal, Ivar Sain Tasillo dengan nada berat. Waspada karena merasa telah kecolongan.
Hening. Baik Svenson maupun Osca tidak ada yang menjawab. Karena tidak ada yang boleh tahu siapa mereka atau rencana Svenson akan terbongkar.
"My Majesty, lari dan sembunyilah! Saya akan mengatasi Jenderal Northeast di sini. Saya berjanji akan menemui Anda ketika saya menyelesaikan urusan dengannya." Bisik Osca.
Svenson menatap Osca, meyakinkan bahwa pria itu pasti akan kembali ke sisinya. Dan dia pun berlari menjauhi kepungan dengan berat hati setelah mendapat anggukan.
Pedang Osca teracung pada sang Jenderal. Dia berlari cepat, menebas dengan satu gerak terlatih pada prajurit Northeast. Tak tinggal diam, Ivar mulai mengeluarkan pedangnya. Bertatap muka dengan Osca yang seolah merendahkannya dalam siaga bertarung.
"Tangkap pria yang melarikan diri itu. Cepat!" Ivar berteriak, mengambil inisiatif cepat.
Sementara anak buahnya mengejar Svenson, Ivar mengalihkan fokusnya pada Osca seorang. Ketika dia sadar, mata hitam kelamnya menatap beberapa prajurit yang dibawa telah mati tanpa sempat menunjukkan kemampuan mereka.
Ivar mengeratkan kedua tangan, mendengus. "Boleh juga."
Namun, Osca tidak menjawab. Karena jujur, dia juga berada di posisi sulit, hanya membawa prajurit dengan jumlah sedikit. Tidak bisa berkutik lebih jauh jika Ivat melakukan gebrakan tidak terduga. Musuh berada di depan. Jika dia berbalik atau mengelak, sudah tidak sempat. Bibirnya digigit keras, semoga The Majesty baik-baik saja.
Benar saja, tepat setelah dia baru selesai berdoa, matanya menatap sebuah anak panah yang melesat menuju sang Raja. Dengan cepat pula Osca berlari, menebas anak panas tersebut menjadi dua sebelum sampai pada tubuh Rajanya. Nahas, sebagai gantinya, wajah Kakashi terkena pantulan anak panah yang terbelah. Menggores kulit dan membuat darah segar mengalir dari lukanya.
Namun, bukan itu yang menjadi masalah. Karena sesaat setelah dia mengusap wajah; membersihkan noda darah tersebut, Ivar datang mengarahkan pedangnya. Hampir menebas kepala jika Osca tidak mengambil inisiatif dengan bersalto ke belakang. Menghindari serangan sang Jenderal Northeast.
"Anda terlalu bersemangat, bahkan tidak memberi saya waktu untuk sekadar bernapas." Osca mengeluh. Nadanya terkesan lembut, sangat menghormati. Namun musuh yang berada di depan menyadari unsur sarkastisme yang terkandung di dalamnya.
Dan Ivar pun semakin memanas. Osca berhasil memantik api dalam darahnya.
Pertarungan antar kedua pria tersebut tak terelakkan. Desingan pedang menyatu dengan desiran angin malam, kilatannya membelah kegelapan. Duel yang disertai unsur maut.
Satu goresan yang Ivar ciptakan dibalas dengan dua goresan. Namun tendangan pria kebanggaan Northeast tersebut sanggup mematahkan tulang rusuk Osca, kalau-kalau dia tidak segera menyeret tubuh mundur.
Ini gawat. Kekuatan tidak akan berguna melawan pria yang kini sudah dirasuki kemarahan. Maka, dengan satu trik licik, Osca berhasil mengelabuhi pasukan Ivar. Memukul mereka dari belakang dengan kecepatan angin, melemparkan pedang Ivar sebelum membawa pasukannya untuk mundur. Berlari, menghilang dengan kepulan asap di belakang.
.
.
Caroline yang melihat semuanya memutuskan mengikuti Svenson dalam diam dengan menyembunyikan hawa keberadaan. Bahkan di saat Svenson kini telah dikejar prajurit Northeast setelah meninggalkan Osca, Catoline masih bersamanya. Di sisinya tanpa laki-laki itu tahu.
Dia tak bisa bertarung. Yang bisa Caroline lakukan hanyalah mencari tempat persembunyian.
Sebuah gubuk jerami berada tidak jauh di depan. Caroline tidak punya pilihan lain selain menghilangkan sihirnya sekarang. Namun, bagaimana dengan momen yang tepat? Apa yang dia katakan nanti jika sang raja bertanya?
Pada akhirnya Caroline memilih jalan memutar. Menghilangkan sihir, menjadikan badannya terlihat dengan jelas. Napasnya terengah, lebih cepat dari biasanya. Mengintip di celah gang sempit, dia melihat Svenson yang masih berlari dikejar prajurit Northeast.
Catoline mengetuk-ngetuk sepatunya. Jarak antara prajurit Northeast dan Svenson sedikit terlampau jauh. Dia semakin mengetuk tidak sabaran, menghitung waktu sebelum pada akhirnya menarik Svenson ke dalam pelukan. Mengimpitnya di gang sempit, di antara kedua lengannya dan dinding kayu di belakang.
Caroline segera membekap mulut Svenson tepat sebelum laki-laki itu berteriak. Memicu detakan yang menggema di kepala.
Caroline mendongak, menatap langsung mata biru rajanya.
"My Majesty ...." ujarnya lebih ke kata maaf.
Svenson terenyak. Bagaimana bisa penasihat kerajaan berada di sini? Northeast jelas-jelas jauh dari kerajaan Northwind?!
Svenson hampir menyuarakan pertanyaannya. Namun lagi-lagi Caroline membekap mulutnya lebih erat.
Suara napas yang putus-putus terdengar hingga ke telinga. Svenson bisa mendengar berapa kali perempuan di depan melakukannya. Bibir kecilnya bergerak, menggumamkan sesuatu seperti sedang berhitung.
Suara langkah kaki bergerak secara bergerombol. Melewati gang sempit tempat Caroline dan Svenson bersembunyi.
Dan perempuan itu menghela napas, melepaskan tangannya yang telah lancang membekap mulut sang raja. Memberi jarak.
"Mereka sudah menjauh."
"Bagaimana bisa kau—"
"–My Majesty, lebih baik kita berlindung dulu ke tempat aman. Aku menemukan sebuah gubuk tidak jauh dari sini."
Svenson mengernyit. Perempuan itu sungguh tak acuh! Dia baru saja hendak menyuarakan keberatan ketika dengan tiba-tiba sang lady menarik tangannya. Membawanya berlari.
.
Caroline tahu bahwa tidak seharusnya dia memotong pembicaraan. Namun, keselamatan rajanya adalah prioritas. Jadi dia membawanya ke gubuk jerami, bersembunyi. Menutup rapat pintu dan menjauh. Kemudian duduk di sudut rumah. Mengatur deru napas dalam keheningan.
.......
.......
.......
...Bersambung...