The Tale Of Northwind

The Tale Of Northwind
Chapter 2: Woodlands



Bukti-bukti kematian dini Raja Gerardo sudah berada di depannya.


Kedua orang itu mengiba meminta ampunan.


Bagaimana mereka tidak tahu malu membunuh majikan yang telah memberi mereka makan dan kesempatan untuk hidup?


Svenson tidak bisa menerima bagaimana seseorang bisa berubah menjadi keji karena dendam.


Kepala Rumah Tangga Izarus Castle, kepala kamar pribadi raja, dan pengurus perapian masih berjuang berkata bahwa mereka tidak bersalah.


Tidak bersalah katanya?! Svenson mendengus kesal. Kekonyolan itu mengiritasi kupingnya.


Tidak bersalah menyalakan perapian dengan briket yang mengandung gas karbondioksida di atas kewajaran? Atau tidak bersalah karena bersekongkol membuat ayahnya mati?!


Bagian manapun itu, Svenson hanya punya satu tindakan.


Ketiganya berlutut di depannya. Svenson, mengulurkan tangan kepada seorang algojo yang sudah bersiaga. Meminta pedang tajam untuk menghukum para pembunuh ayahnya.


Satu ayunan kuat pedang telah memutus kehidupan dan membuat kepala itu terlepas dari badan.


Dalam satu tebasan, darah muncrat mengenai pakaian dan juga dinding. Menebar rasa dingin hingga menegakkan bulu roma. Kedua orang yang belum dieksekusi telah kehilangan bahasa. Mereka hanya bisa menggigil ketakutan, dan pasrah akan takdir yang menghempas mereka dalam sebuah lubang neraka.


Tiga mayat tanpa kepala teronggok begitu saja di dalam penjara bawah tanah Izarus Castle. Tergenang oleh darah. Menyisakan bau anyir yang menjijikkan.


Satu tugas berat telah dilaluinya. Langkah Svenson kian ringan keluar dari ruangan apek itu. Kakinya menapaki tangga, keluar dari dungeon, diikuti para pengawalnya yang setia.


Seperti cahaya terang yang ia hadapi setelah keluar dari ruangan itu, Svenson telah siap menatap dunia. Ia tidak pernah merasa setenang ini usai semua yang terjadi. Perasaannya yang berat berubah ringan karena berhasil membalaskan dendam ayahnya.


.


Seharusnya Svenson tidak merayakan sesuatu terlalu dini. Sebab, waktu adalah penghianat yang kejam. Sekali sang waktu bisa sangat bersahabat, tapi di kesempatan lain, ia akan menggorok lehermu dengan senyuman lebar.


Seperti saat ini.


Butler yang ia percaya berlutut di hadapannya. Mengabarkan berita duka yang menyayat hati. Bahwa desa tempat Svenson menghabiskan waktu untuk menempa diri telah lenyap dilalap api.


Bagian terburuknya, ayah baptis yang memberikan dia kasih sayang dan mengajarkan banyak hal yang tidak bisa dilakukan sendiri oleh ayah kandungnya, dikabarkan tak selamat.


Gaddiel Hjalmal Aldari si orang tua berambut putih itu. Telah lebur jadi abu. Tidak ada pelukan penuh rasa bangga yang tersisa untuknya.


Masih belum juga puas, nasib menjungkir hidupnya dan menjatuhkan dia di kegelapan ketika kabar bahwa Livy, sang penggengam hatinya telah lebih dulu menghadap sang kuasa dalam insiden tersebut.


Sang kekasih, telah tewas terpanggang di sana. Dan ia merasa kepalanya nyaris pecah membayangkan kejadian itu. Seseorang yang ia cintai merintih dalam api, tanpa belas kasih disulut oleh orang terpenting di kerajaan?!


Keparat macam apa yang memainkan peran orang jahat yang berkedok malaikat?!


Sialan betul! Apa yang sebenarnya terjadi, dan luput dari matanya?!


Caroline Dellinger mengkudetanya?—Pikirnya. Karena ia belum mewarisi tahta, maka perempuan itu berhak memberi perintah seluruh negeri?!


Membunuh kaumnya, seolah mereka onggokan sampah yang perlu dibakar dan disingkirkan dengan segera. Apa yang ada di kepala penyihir itu?!


Oh ... cinta yang ia genggam berubah jadi arang. Mencoreng mukanya sedemikian rupa. Bagaimana bisa negara yang ia banggakan menghabisi rakyatnya?!


Dan bagian paling tolol dalam sejarah hidupnya adalah, membiarkan Caroline Dellinger mengacak-acak harga dirinya. Melangkahinya seolah ia adalah keset dari Gerardo Heater Locko.


Bangsat!


Keparat busuk sialan, si Dellinger. Mereka menghianati calon raja. Tidak ada yang bisa lolos dari amukannya.


Svenson mendorong meja. Menyapu semua barang di atasnya, menghancurkan meja kerja milik ayahnya dengan satu kali reaksi.


Hatinya begitu nyeri, ia tidak bisa menggambarkan rasa sakit dan kemarahan itu sekarang. Rasanya seperti gabungan tercekik dan juga terbakar.


Segala kenangan Livy dan cinta mereka tidak ubahnya sebuah silet yang menyayati batin.


Bagaimana caranya agar dirinya terbangun dari mimpi buruk ini?!


Svenson meremas rambutnya kuat-kuat. Tenaganya telah terserap habis ke bumi. Ia terduduk diam di lantai sementara para dayang istana tidak berani memandang.


Rasa-rasanya air mata yang ia keluarkan pun, menjadi tidak berguna. Karena ulah satu manusia, ia kehilangan banyak hal yang paling berharga.


Bagaimana mungkin ia bisa memaafkan Carolone kali ini?! Bagaimana bisa seorang Caroline Dellinger, kawan karibnya—teman yang ia percayai—tangan kanan ayahnya tega melakukan ini kepadanya?!


Kali ini, ia bersumpah! Tidak akan membiarkan Caroline lolos dari cengkramannya.


Air mata Svenson jatuh karena dua hal. Perasaan sedih dan kecewa karena tidak bisa melakukan apa pun untuk menolong ayah angkat dan semua orang yang ia kenal baik di sana.


Ia makin meratap mengingat bagaimana tidak mengetahui dan seolah membiarkan kekasih hatinya di sana, berjuang sendirian, dan dibunuh dengan keji oleh penasihat kerajaan?!


Bagaimana ia bisa menggambarkan perasaan marahnya karena dihianati oleh orang yang ia percaya?!


Perasaan itu mencekiknya. Orang yang paling ia inginkan di dunia direnggut secara paksa. Dibunuh dengan sadis oleh orang yang bahkan berkata kalau kesetiaannya hanya untuk negara ini.


Caroline sudah membunuh calon ratu. ITU PENGKHIANATAN BESAR!


Kudeta!


Sebetulnya apa yang ada dalam otak penyihir itu?! Berani sekali ia melangkahi teritorinya dan seenak hati menentukan siapa yang hidup dan siapa yang harus mati.


Svenson menggeram. "PANGGIL LADY LIN SEKARANG!"


"My Majesty—"


Tangan Svenson terangkat ke udara, "Panggil dia sekarang!" Suara Svenson menuntut. Matanya merah. Kobaran dendam itu menyala dalam matanya.


.


Caroline Dellinger 'Sang Agung' sudah berdiri tegak di depannya. Wajahnya dingin, tidak menampilkan gejolak emosi apa pun.


Svenson menatap perempuan yang datang dengan pakaian kebesarannya, berupa gaun berwarna navy dengan sulaman perak yang rumit. Serta sebuah jubah yang tidak pernah absen disandangnya.


"Kau tidak ingin menjelaskan sesuatu, Dellinger?!"


Caroline menekuk sedikit pandangannya ke bawah. Membuatnya terlihat menundukkan kepala hormat, "My Majesty ... bagian mana yang Anda ingin tahu?"


Svenson tersulut, semua tingkah Caroline tak ubahnya seorang kijang yang terluka. Berlagak inosen setelah membunuhi warga Woodlands?!


Cih!


Terkutuklah Dellinger!


"Kau! Membantai semua kaumku?!"


"Kami hanya meminimalisir endemik, My Majesty."


"Persetan! Aku yang lebih tahu keadaan di sana ketimbang kau, Witch! Tidak ada endemik sialan itu! Kau bisa berbohong pada seluruh negeri, tapi tidak kepadaku!"


Caroline bungkam. Enggan menerima atau menolak tuduhan Svenson kepadanya.


"Kau akan mati! Aku yang memastikan kematianmu nanti. Tunggulah!"


"Saya hanya melakukan tugas saya sebagai pelindung negara."


"Hentikan omong kosongmu! Pembunuh sepertimu harusnya mati di tiang gantungan?!"


Tenang saja. Setelah aku jadi raja. Aku, aku yang akan membunuhmu dengan tanganku!" sumpah Svensin menusuk hati Sang Penasihat Utama.


Meski begitu, Caroline tahu. Jikalaupun Svenson meminta kehidupannya sebagai imbalan kejahatannya, ia bersedia. Ia akan mati jika itu setara dengan kejayaan Northwind dan juga kebahagiaan pangerannya.


.......


.......


.......


...Bersambung...