The Tale Of Northwind

The Tale Of Northwind
Chapter 18: Praduga



Surya baru merangkak sepenggalah saat dua eksistensi itu terlibat perang bisu. Si pria berambut putih marasa risi kala iris senada warna rambutnya menatap dengan intens, seolah ingin menghakiminya atas perbuatan yang baru ia lakukan.


Lady Caroline tidak berhak memberi hukum atau pengadilan apa pun. Lagi pula, apa yang ia lakukan adalah perintah dari panglima. Semua sudah benar, semua sesuai jalur dan tak melanggar.


"Apa yang ingin Anda bicarakan hingga repot-repot memanggil saya secara pribadi, Lady?" Osca menyoja memberi hormat.


Sang lady sekilas menaikkan dagu. Tangan kirinya elegan menekuk di depan dada; masih dengan sorot mata yang enggan lepas dari paras berbalut masker di hadapannya. Ia harus berucap dengan tenang agar tak menimbulkan kecurigaan.


"Ada sejumlah hal yang ingin kutanyakan padamu, Osca. Tentang kejadian-kejadian tak mengenakkan di kerajaan kita belakangan ini ...." Lady membuang napasnya pelan. Tangan kirinya turun, rautnya terlihat lebih sendu dari yang tadi. Ia berusaha melanjut kalimatnya, "... termasuk kau yang tiba-tiba mengeksekusi Ludger tanpa persetujuan yang mulia."


"..."


"Bukankah kau tahu bagaimana yang mulia sangat menginginkan pemuda itu?"


Osca  mengangguk.


"Lalu?"


"Saya hanya menjalankan perintah, Lady." Sedari obrolan dibuka, Osca seperti menghindari kontak mata dengan Caroline. Ia lebih banyak menunduk, atau memalingkan pandangan ke sisi lain.


"Perintah siapa? Pemegang kendali tertinggi di sana adalah the majesty, dan kau melompati batas itu. Apa kau tidak sadar?" nada bicara Caroline sedikit meninggi meski tidak terlalu kentara.


Untuk Osca yang notabene hafal bagaimana sifat Lady Northwind ini, ia bisa tahu bila sekarang Caroline kurang dapat mengontrol emosinya. Untuk itu, ia harus terlihat yang sebaliknya.


Osca mengambil napas. Matanya memejam dan badannya membungkuk sedikit.


"Maafkan saya bila itu seperti melangkahi, tetapi keputusan Panglima Hanes saya rasa sudah tepat. Raja adalah simbol negara, Lady. Saya tidak bisa melihat negara yang saya junjung tinggi dihina dengan keji. Bahkan kematian tidak mampu menebus harga diri raja yang terlanjur ia jatuhkan." Osca mengakhiri kalimatnya.


"Itu bukan alasan untuk melakukan sesuatu di luar tugasmu, Osca!"


"Bukankah Anda juga tidak meminta izin kepada raja saat hendak menghanguskan Woodlands? Maaf bila lancang, tetapi Anda lah yang jauh lebih dulu melangkahi kuasa raja dari siapa pun."


Mentah-mentah Caroline menelan emosinya. Osca sukses mendidihkan darahnya sampai titik terpanas.


Mengembuskan napas, "Baiklah ...." Caroline sadar ia tidak boleh berucap dengan nada yang lebih tinggi lagi. Semuanya harus terlihat stabil.


Dia membuka tangannya yang tanpa sadar mengepal, lantas kembali menatap Osca. Lagi-lagi, irisnya tak dapat mengelak untuk tidak menatap tempat di mana seharusnya bros tanda prajurit itu berada. Bros dari perunggu dengan ukiran bulan sabit berwarna emas.


Sadar Lady Caroline memandanginya, Osca berniat undur diri lebih cepat.


"Jika sudah tak ada hal lain yang ingin Anda tanyakan, saya mohon izin untuk keluar lebih dulu."


Caroline menyambut permohonan Osca dengan sekali anggukan. Setelahnya, pemuda berambut uban itu tampak berbalik dan berjalan menuju pintu.


Namun belum sampai di pintu, Caroline kembali memotong langkahnya.


"Ah, aku lupa ...." ya, dia sengaja.


Osca pun kembali menghadap Caroline dari posisinya.


"Aku melihat kau melupakan brosmu, Osca. Selalu pakai dan jaga itu. Karena bros tersebut adalah lambang kau menjadi bagian benteng yang melindungi negara ini." Ucap Lady Caroline sembari tersenyum.


Tampak sekali ekspresi Osca yang seketika berubah. Namun, itu tak berlangsung lama lantaran pria tersebut bergegas pamit dan meninggalkan ruangan.


Dari jauh, lady  terus memandanginya. Dengan menggenggam bros yang baru ia ambil dari saku gaunnya, yang seharusnya dimiliki lelaki itu.


Osca, sampai kapan kau akan lari?


.........


Kereta kuda berhenti di pelataran istana. Seorang pengawal segera membuka pengait pintu kereta, dan mempersilakan lady junjungannya turun menapaki karpet merah yang langsung terhubung dengan pintu utama Kastel Izarus.


Pintu megah berornamen emas segera dibuka oleh dua prajurit yang selalu siaga di sana 24 jam secara bergiliran. Lady masuk. Mukanya amat lelah. Hari ini terlalu banyak yang terjadi. Tidak, sebenarnya sejak pulang dari Northeast lah banyak hal yang membuat otaknya seperti diperas.


Siang ini saja, para tetua perkumpulan penyihir kembali mengajaknya bertemu untuk duduk bersama membahas dekret raja yang sampai sekarang masih dia usahakan. Ujungnya, ia juga yang didesak untuk menuntaskan dilema ini dalam waktu paling lambat seminggu ke depan. Itu gila dan memaksa. Apa mereka tidak tahu bagaimana perangai raja mereka?


Caroline menebah dada. Untung dia berhasil membawa Ludger ke hadapan raja, meski berujung peristiwa tragis. Setidaknya itu bisa sedikit membantu negoisasinya nanti dengan Svenson tidak sealot sebelumnya.


Lady Catoline menyusuri selasar istana. Gaun beludrunya yang panjang menyapu lantai marmer sepanjang ia berjalan.


Matahari baru tergelincir di ufuk barat saat ia tiba. Warna merah tersisa di angkasa sebelum berganti dengan hitam yang sempurna. Lampu-lampu dinding dihidupkan. Bara kecil menyinari taman yang berseberangan langsung dengan selasar. Bunga krisan putih tampak mekar di sana, menjadi satu-satunya warna yang berbeda di tengah dominan gerbera merah kesukaan mendiang ratu.


Tepatnya di belokan menuju pintu yang menghubungkan bagian tengah istana dengan taman, Caroline melihat Osca berjalan terburu-buru.


Saat mereka berpapasan, pemuda itu sebatas memberi penghormatan padanya tanpa mengucap sepatah kata.


Yang membuat Caroline salah fokus adalah, bros bulan sabit yang sudah Osca kenakan lagi. Padahal bros milik lelaki itu masih ada di tangannya, dan untuk mendapatkan tanda pengenal prajurit yang baru, tentu tidak asal meminta lagi dengan alasan hilang. Ada serangkaian proses yang tak mudah, bahkan tak jarang mereka disuruh mencarinya sampai ketemu, atau diusir dari istana dan dihapus dari pasukan pertahanan negara.


Sejauh yang dia tahu, Panglima Hanes adalah sosok yang tak pernah mengkhianati peraturan. Meski itu bawahannya, orang kepercayaan raja sekali pun, ia tidak mungkin meloloskan Osca tanpa hukuman.


Mata Caroline menyipit. Dia memandang punggung Osca yang makin lama terlihat kian jauh.


Caroline kembali memalingkan pandangannya ke depan. Sembari berjalan menuju kamar, segudang asumsi berjajar di kepala sudah merangsek minta dituangkan di atas perkamen rahasianya.


.........


Burung hantu berkukuk di jendela menemani jemari Caroline menari di atas selembar perkamen yang sudah penuh dengan coretan tinta berwarna perak. Tulisannya timbul, menyala, lalu hilang.


Lady menggulung rambutnya. Beberapa helai yang luput tampak rebah di lehernya. Cahaya lilin di atas meja membuat keringat yang menetesi pelipis Caroline sekilas mengilat. Gaun beludru super berat pula telah dia tanggalkan, berganti kain tipis berbahan sutera dan terasa dingin.


Caroline menulis segala stigmanya tentang Osca. Mungkinkah, dia duri yang selama ini menancap di kerajaan? Yang sedari awal mencoba mengadu dombanya dengan the majesty? Dalang di balik munculnya tentara hitam? Juga penyerangan malam itu hanya pura-pura yang semata untuk memojokkan keberadaannya. Tetapi, bukankah saat itu Osca juga terluka?


Ingatan Caroline melayang pada adu kekuatan dengan tentara hitam di malam sebelumnya. Jika Osca memang sangat menginginkan Ludger, lantas untuk siapa? Padahal orang pertama yang mengutusnya ke Woodlands adalah the majesty sendiri.


"Bros ini ...?" Caroline memandangi bros Osca yang masih dia simpan. Ingatannya sejenak beralih pada belati bergirigi yang digunakan Osca untuk menyembelih Ludger pagi tadi.


"Ada berapa belati yang mirip dengan itu di dunia?"


Bentuk dan warnanya sama persis dengan belati orang yang membuat Ko kritis.


Sepertinya Caroline sudah tahu darimana ia akan memulai penyelidikan.


.......


.......


Ada yang berbeda dengan Northeast semenjak negara di semenanjung timur itu jatuh ke tangan rumpunnya. Penjagaannya lebih ketat. Namun, hal tersebut tak cukup membuat Port Pickerel Bay kehilangan peminat. Pelabuhan ini justru semakin ramai didatangi saudagar-saudagar dari seluruh dunia.


Caroline menyentak tali pelana kuda putih yang dia tunggangi menuju jalanan sempit tak jauh dari bandar. Menelusuri pasar tradisional yang semuanya berjualan buah. Jalanan kecil menuntunnya pada bangunan tua yang didominasi bata merah timbul, dengan plakat menggantung tepat di atas pintu; Under Sword, di sana sang lady berhenti.


"Kedaiku tak menyediakan teh, Nona." Suara berat menyambut langkah kaki Caroline. Pemilik iris bulan tersebut tolah-toleh mencari sumber suara yang rupanya datang dari balik meja tinggi dengan tumpukan senjata yang sangat banyak.


Caroline menghampiri pria besar dengan luka codet di wajah itu. Dia menyoja memperlihatkan keanggunannya.


"Tak perlu bersikap formal di tempat yang kumuh. Kheh ... ada-ada saja bangsawan zaman sekarang."


"Hum, Sir Nicholas, apa saya mengganggu?" Caroline duduk di kursi bulat yang terbuat dari kayu. Kursi yang biasa ada di bar. Sepertinya, benda ini memang ditujukan untuk hal yang sama.


Tiga menit duduk, Caroline diabaikan.


Lima menit duduk, dia masih belum diajak bicara.


Sepuluh menit duduk … Caroline mulai meremas gaunnya. Senyumnya terulas lebar. Tak  disangka Sir Nicholas lebih apatis dari gaungnya. Caroline benar-benar merasa dianggap tidak lebih dari nyamuk yang berdengung. Atensi Nicholas si 'Blacksmit' konstan pada pedang panjang yang sedang dia pipihkan.


Tempat ini adalah nomor satu bila seseorang menginginkan informasi soal senjata. Begitu yang Lord Hanes katakan dulu.


"Sir?"


"Kenapa orang-orang Northwind sangat tidak suka bila aku menganggur sih?"


Jantung Caroline seolah baru ditekan agar berdegub lebih kencang.


"Lady Dellinger, Putri Penasihat Agung Lord Edvard Faas Dellinger dari Northwind. Untuk apa Anda singgah di tempat kumuh ini?"


.......


.......


...Bersambung...