The Tale Of Northwind

The Tale Of Northwind
Chapter 4: Api Biru di Malam Kelabu



Iringan kuda pengawal pangeran pergi berlatih ke Sun Recesses baru saja meninggalkan halaman Istana. Pangeran Svenson dilepas langsung oleh sang ayahanda, Raja Gerardo. Pelatihan demi pelatihan bertujuan untuk menempa pangeran agar kelak siap menjadi seorang raja.


Panglima Hanes terlihat berjalan di selasar istana usai turut melepas kepergian sang Putra Mahkota. Senyum tipis terulas di bibirnya. Ada rasa bangga di hati Panglima Hanes melihat pangeran kecilnya tumbuh dewasa. Pangeran Svenson diajari banyak hal selama pelatihan. Menyusun strategi perang, teknik mempertahankan diri, etika kerajaan, diplomasi, hingga urusan bilateral antar negara.


.


Ketukan di pintu membuat Lady Caroline mengurungkan duduk. Ia baru beranjak dari salah satu jendela di ruangannya setelah diam-diam mengintip Pangeran Svenson.


Menoleh ke arah pintu ganda yang membuka, seorang prajurit berjalan tergesa membawa sesuatu yang membuat kening sang lady mengernyit.


Sebuah gulungan kain berlumuran darah.


"Ini?"


"Seekor merpati membawanya dari tempat yang jauh, Lady."


Surat tak biasa datang dari Tanah Utara, Woodlands, desa itu tak kurang butuh sehari semalam perjalanan.


Lady Caroline duduk di kursinya selepas si prajurit kembali menutup pintu, membiarkan ia seorang diri.


Runtut bibirnya membaca dua kata yang tertulis di atas kain sobekan itu.


Tolong Woodlands!


Masih tercium bau anyir dari kain tersebut, penanda masih baru. Tak aneh, jika akhirnya pertanyaan seputar apa yang terjadi di Woodlands mendominasi otak Lady Caroline.


Masa lalu adalah hal yang bisa dilihat melalui jejak. Jika ini adalah peninggalan sang pengirim surat, maka ... melalui kekuatannya, sejarah akan terbaca.


Angin bertiup sejuk menerpa wajah sang Lady. Rambut panjangnya tergoyang, poninya terangkat pelan. Ada sinar keemasan muncul dari surat kain yang melayang di atas telapaknya.


Caroline memejam. Bibirnya merapal. Kepingan fragmen sang pemilik surat, satu per satu terangkat ke udara.


Gilbert terbanglah yang tinggi ....


Sampaikan ini pada istana


Livy! Apa yang terjadi padamu?!


Wah, kau pandai memasak ya?


Minggir, mungkin dia adikku ....


Ingatan sang pemilik surat satu per satu terlihat tanpa ada yang luput.


Lady Caroline mempertajam penglihatannya. Sampai, satu keping ingatan membuat ia meremas kuat gaun beludrunya.


Tak hanya bisa membaca sejarah dari satu sisi sang pemilik surat, lady juga bisa membaca sejarah sosok yang pernah bersentuhan dengan si peninggal jejak, meski sebatas jabatan tangan.


Aku mencintai Livy dari Woodlands


Lady Caroline melihat bagaimana The Majesty Svenson mencumbu gadis itu.


.


"Melakukan penyelidikan adalah satu-satunya jalan mengungkap kebenaran, Lord."


Detik itu juga Lady Caroline menemui Duke Shamus. Bila penglihatannya benar, maka harus segera diambil tindakan.


Keputusan ini diambil bersama Panglima Hanes. Raja belum tahu. Caroline ingin memastikan faktanya dulu.


"Jika itu benar, jalan satu-satunya adalah pemusnahan."


Sang duke pun meminta bawahannya pergi ke Woodlands.


.


Angin membuat daun bergemeresik. Menerbangkan apa saja yang bisa diterbangkan.


Dua prajurit utusan ketua parlemen mengikat kudanya di depan gerbang desa.


Aaren dan Apsel telah siap bertaruh nyawa. Loyalitas adalah harga diri bagi prajurit. Northwind ialah tempat pulang. Di mana pun mereka mati, langit dan tanah negeri ini merupakan tempat terbaik.


Jika dalam tiga hari hamba tak kembali, artinya hamba sibuk mencari tempat sembunyi. Bila satu Minggu hamba tak kembali, artinya Woodlands mengambil nyawa kami.


Kalimat itu yang diucapkan Aaren dan Apsel kepada Duke Shamus sebelum berangkat menjalankan misi.


.......


...| Woodlands |...


Ada yang aneh dari desa ini. Bak desa mati, tak tampak satu pendudukpun, padahal Apsel dan Aaren sudah dua kilometer berjalan.


Pintu-pintu rumah membuka, perabotan pecah, bekas darah mengering menempel di permukaan lantai dan dinding. Di beberapa tempat Aaren melihat gumpalan daging dikerumuni belatung. Ada kepala manusia di tong sampah. Ada mayat bayi tergelak di depan pintu dengan isi perut yang hilang. Mengerikan. Seperti baru terjadi pembantaian masal.


Dengan kesiagaan tinggi Aaren dan Apsel melanjutkan langkah. Tak lupa mencatat satu per satu apa yang mereka lihat di atas perkamen cokelat.


Hening. Tiada yang lain, kecuali suara angin. Aaren melepas penutup kepalanya. Ia berjongkok, kemudian menempelkan telinganya ke tanah.


Kemampuan Aaren yang begitu menarik di mata Duke Shamus ialah indra pendengarnya yang peka terhadap suara sejauh satu kilometer.


"ADA!"


Apsel terkejut mendengar Aaren berteriak.


"Dari arah timur laut!"


Dalam balutan baju zirah rantai yang berat, keduanya berlari menuju sumber suara. Mereka benar-benar penasaran. Apakah virus walking dead ini benar nyata adanya?


.


Sekumpulan orang terlihat mencabik-cabik wanita tua yang jatuh tersungkur. Menarik rambutnya, mengambil bola matanya, menggigit dagingnya sampai lepas dari tulang.


Sempat ada perlawanan tapi tidak lebih 10 detik. Orang-orang yang sepertinya penduduk desa memangsanya, membabi buta.


Ada satu orang dari sekumpulan mayat hidup itu menyadari keberadaan Aaren dan Apsel.


Melupakan begitu saja wanita tua yang baru mereka cabik-cabik, sekumpulan orang tersebut berlari mengejar Apsel dan Aaren.


Aaren memilih bertahan, karena baginya, sikap ksatria ialah melawan balik atau membunuh diri sendiri. Ia mengambil pedang dari balik punggungnya. Mengacungkannya pada sekumpulan mayat hidup yang sebenarnya tak bisa mati hanya oleh tempaan besi tajam.


Apsel melihat bagaimana dalam waktu singkat sekumpulan orang itu mengerumuni Aaren sampai tak terlihat. Pedangnya terlempar beberapa meter. Suara teriakan Aaren yang hilang jadi isyarat bila kematian baru saja menghampirinya.


Tergugu Apsel melihat sang sahabat dihabisi dengan keji. Apsel mulai berpikir kesanggupannya mendatangi Woodlands adalah omong kosong. Rasa penasarannya pada virus walking dead adalah bunuh diri. Ia hanya ingin terlihat hebat di mata Duke Shamus. Hasratnya lah yang mengantarkannya pada kematian.


Pupil Apsel membola melihat orang-orang kesetanan itu berlari ke arahnya. Kakinya tak bisa digerakkan. Ia mendadak membatu. Tubuhnya seakan tahu bila sejauh apa kaki berbalut zirah itu berlari, para mayat hidup akan dapat mengejarnya, dan menghabisinya.


.......


...| Izarus Castle |...


Seminggu sudah dua prajurit yang ia utus ke Woodlands tak mengirim kabar. Artinya mereka telah tinggal jasad.


Duke Shamus meminta izin pada Lady Caroline untuk pergi ke Woodlands guna memastikan apa yang terjadi. Yang lebih penting ialah catatan kecil milik Aaren dan Apsel. Sang duke percaya bila dua prajuritnya sudah menjalankan tugas dengan baik, meski tak selamat.


"Lord, bawalah Thora bersamamu. Aku yakin dia akan berguna."


"Baiklah, Lady."


Duke Shamus pergi ke Woodlands bersama tugasnya mengunjungi Stone City; sebuah kota perbukitan yang berlokasi tak jauh dari desa tercemar virus itu.


.


.


Thora berkata pelan—penuh hormat. Ia duduk berjongkok di hadapan Duke Shamus dengan satu lututnya menempel di tanah.


Sang duke akhirnya hanya menunggu di kereta bersama seorang kusir dan seorang butler. Sebelum berangkat, untuk menjamin keselamatan pamannya,  Caroline membentengi kereta yang dinaiki Lord Shamus menggunakan sebuah mantra.


.


.


Melangkah beberapa meter memasuki gerbang desa, Thora membentuk segitiga dengan dua jari tangan saling bersentuhan. Sebuah mantra memunculkan garis segitiga merah di depan matanya. Seperti teropong, kemampuannya ini membuat Thora mampu melihat sejauh tiga kilometer ke depan.


Tampak sekumpulan orang secara brutal memangsa satu sama lain. Mereka seakan tidak sadar—lebih gilanya, ada satu tubuh menjadi rebutan beberapa orang hingga terpotong-potong saking kuatnya tarikan.


Tak sempat bergidik atau merasa takut. Thora harus mengambil sebuah perkamen di antara tumpukan mayat di tengah desa. Ia berlari, tapi sebisa mungkin tidak menimbulkan suara. Kaki Thora benar-benar ringan. Tak ada derap yang terdengar, hanya seperti desing angin berlalu.


Kumpulan mayat hidup itu sampai tak menyadari kehadiran Thora hingga pria tersebut kembali ke gerbang desa.


.


Di waktu yang sama seekor elang yang Shamus ketahui sebagai elang istana menukik tajam ke arah keretanya.


Ada gulungan hitam dicengkeraman kaki burung itu. Perasaan cemas seketika menyergap batin sang duke. Warna hitam pada perkamen yang dibawa si elang merupakan pertanda buruk—sadar atau tidak.


"My Lord ...." sang butler menyerahkan gulungan tersebut.


Tak lama terdengar suara Duke Shamus meneguk ludah. Tangannya gemetar, turun, meremas kuat perkamen yang ia pegang.


"Setelah Thora datang kita kembali ke Izarus." Ucapnya tanpa berkata apa-apa lagi.


.......


..."Aku ingin kalian menyetujui isi dekret ini."...


..."memusnahkan Woodlands tanpa sisa."...


.......


Rombongan kereta kuda yang membawa para penyihir istana pilihan sang Lady telah sampai separuh perjalanan.


Tapal kuda menapak dalam sunyi. Bergerak diam-diam, tak terendus, tak terasa hawa keberadaannya.


Sembilan kuda hitam menarik tiga kereta kencana. Dalam kabut mereka bergerak ketika para Woodlanders ada di posisi lengah.


"Aku perintahkan kalian mengepung desa, membentuk 8 arah mata angin."


Lady Caroline memberi titah sesaat setiba di Woodlands. Tak ada basa-basi, tak ada hal-hal retorik.


Mereka mematuhi perintah sang penasihat dan menyebar—berdiri membentuk titik lingkaran.


Di posisi mata angin menunjuk arah utara, Lady Caroline menggigit ibu jarinya, membiarkan darah merah menetes membasahi tanah Woodlands.


Kedua mata sang lady terpejam, bibirnya komat-kamit merapalkan matra. Para petinggi satu persatu mengikuti gerakan putri tunggal Dellinger itu.


Pada dini hari yang penuh kabut putih, dengan raungan yang samar-samar terdengar dari Woodlands, alunan mantra yang dirapal terdengar semakin khusuk.


Ketika Lady Caroline membuka mata, dia mengumpulkan kekuatan sihirnya di telapak tangan, dan dengan sekali hentakan menyalurkan ledakan sihir ke tanah.


Sinar biru muncul dari tanah yang terbelah—mulai menyebar membentuk garis mata angin yang saling terhubung pada titik di mana para penyihir juga menaruh telapak tangan mereka.


Sinar biru membentuk lingkaran, memunculkan lingkaran sihir raksasa dan cahaya biru melesat ke langit hingga menyelimuti Desa Woodlands sepenuhnya.


Perlahan kobaran api biru muncul dari balik tanah, membumihanguskan pepohonan, rumah-rumah, dan para Woodlanders.


Panasnya api biru membuat segala yang disentuhnya berubah menjadi serpihan abu.


Lady Caroline memandang kobaran api biru di depannya dengan tatapan dingin serta raut datar.


Inilah keputusannya, inilah tindakan yang harus ia lakukan. Tanpa penyesalan lady berbalik pergi bersama para penyihir pilihannya, meninggalkan kubah sihir yang mana api biru terus menjilat buas.


.......


.......


"Sir, Sir!"


Pangeran Svenson membuka kasar pintu ganda ruangan Panglima Hanes.


Gupuh pria paruh baya itu melihat sang pangeran berjalan cepat ke arahnya. Buru-buru Hanes berdiri dari kursi. Perasaannya seperti maling yang hendak diinterogasi. Ia ketahuan mencuri ratusan nyawa dari desa kesayangan sang nomor satu di negeri ini.


Meski begitu, panglima berusaha tenang. Berlari—memelan—ia lantas menunduk di depan sang pangeran. "My Majesty, apa gerangan yang membuat Anda mengunjungi ruangan saya larut begini?" tanyanya, walau sebenarnya panglima sudah tahu.


"Omong kosong! Jangan berpura-pura, kau! Katakan padaku, apa kau juga mengetahui insiden pembakaran Woodlands?!" Pangeran Svenson mengacungkan pedangnya di depan mata Panglima Hanes. Bila sang panglima refleks sedikit karena terkejut, boleh jadi pedang itu sudah merobek tulang pipinya.


Terdengar panglima mengambil napas. Ia kembali menunduk. Ia tidak bisa membantah. Yang dapat Panglima Hanes lakukan hanyalah membungkukkan badannya, sembari menekuk siku di depan dada.


"Kami tidak ada pilihan lain, Pangeran. Keputusan itu sudah diambil matang-matang."


"Matang yang seperti apa?!"


Darah menetes sedikit dari dagu Panglima Hanes yang terluka oleh pedang Pangeran Svenson.


Pria hampir setengah abad itu meneguk ludah.


"Melangkahi pewaris raja? Picik! Siapa pemegang kekuasaan tertinggi di Northwind, hah?! Kalian melempar kotoran ke wajahku. Menginjak harga diriku. Kalian sadar posisi kalian di mana?!"


"Lady Lin tahu yang terbaik untuk kita, My Majesty ...." Panglima Hanes memberikan sedikit pembelaan.


"Oh, jadi kau lebih tunduk pada keparat Dellinger itu dari pada aku, calon rajamu?"


"Maafkan saya ...."


Tch!


Svenson mengangkat pedang ke langit. Ujung mengilat diselimuti bara dendam. Kubah dalam ruangan sang panglima menjadi saksi bagaimana murkanya. Murka seseorang yang dikhianati pelayannya.


"Aku bersumpah, demi darah para raja yang mengalir dalam tubuhku. Aku—Svenson—tidak akan membiarkan kalian, para penyihir bertindak seenaknya lagi! Akan kubuat sebuah peraturan yang melemahkan kalian! Sebuah segel yang mengunci kekuatan kalian tanpa perintahku! Dan kelak, aku bersumpah akan menghabisi seluruh penyihir di kerajaanku!"


Hanes tertunduk. Seperti mendengar gemuruh dahsyat di tengah badai.


"Si Keparat Dellinger itu, tunggulah. Aku akan menggantung kepalamu di atas menara, dan membakar tubuhmu hingga menjadi abu, Carolin!"


.......


.......


Bendera Kebangsaan Northwind berkibar di puncak-puncak tiang di seluruh tanah Northwind.


Hari yang ditunggu tiba. Para undangan sudah hadir di Kastil Izarus tanpa kecuali. Keluarga kerajaan, para bangsawan, tokoh-tokoh agama. Rakyat pun tak kalah antusias menanti lambaian tangan calon raja mereka dari balkon utama Kastil Izarus. Mereka rela berdesak-desakan di luar pagar kastil, di bawah suhu dingin musim gugur.


Pangeran Svenson mengenakan baju kebesaran raja yang sudah dipersiapkan untuknya jauh sebelum ia dikirim ke Sun Recesses. Baju ini dirancang khusus untuk menekankan bentuk tubuh Pangeran Svenson.


Pangeran berdiri di depan tahta sang ayah. Memperkenalkan kursi penobatannya kepada para tamu.


"Kau, Svenson, putra dari mendiang Raja Gerardo, dinobatkan menjadi Raja Northwind ke-XV."


Sumpah diambil. Butir-butir janji keluar dari bibir raja baru, pemimpin negeri ini.


.......


.......


...Bersambung...