
Sang Putri Dellinger termangu dalam pengasingannya. Hawa lembab dan kegelapan adalah temannya. Oh, dia tak sendirian. Beberapa serangga berbaris rapi di tepian. Menatapnya heran yang membuat Caroline seperti badut kecil yang tersesat.
Bertopang dagu pada sudut ruangan dari susunan batu. Sunyi mendampinginya dalam suram penuh tekanan. Gelap abadi tanpa paham siang dan malam. Hanya beberapa kobaran kecil berpijar lesu pada dinding lorong dungeon. Ia tak kan menyesali apa pun. Meski kini ia adalah pesakitan yang dilebeli sebagai penghianat, ia yakin, kebenaran akan tersingkap.
Caroline mendesah kesekian-kalinya.
Tempat pengasingan mungkin terdengar menakutkan bagi sebagian orang, tapi mungkin ia harus dijauhkan dari bingar istana untuk memikirkan banyak hal. Ia butuh sendiri untuk menekuri, siapakah lawan dan kawan. Atau bagaimana mungkin segala upaya yang ia kerahkan sepertinya tertinggal dari Sang Mastermind sejati. Siapakah orang yang berada di belakang semua kegilaan ini?
Caroline merebahkan raga penatnya perlahan pada dinginnya alas batu. Punggung mungilnya menyinggung dinding. Namun, sesaat kemudian tubuhnya kembali beranjak. Tumit telanjang menapaki sudut-sudut ruang. Menggema dan membuat tubuhnya siaga.
Setiap langkah yang tercipta, makian itu seolah mendengung kembali pada gendang telinga. Kedengkian sang raja kian curam. Menyelimuti mata dan hati teman kecilnya tersebut.
Kedua telapak tangan Caroline mengepal. Tuduhan-tuduhan kembali terngiang. Rangkaian kata-kata pedas berputar sekali lagi dalam layar otaknya. Bahkan ingatan saat niat tulus terbuang, memaksa masuk pikirannya.
Langkah gelisah tertahan pada barisan besi yang terjalin kokoh. Telapak tangan menyapu jeruji perlahan, aroma logam tua menyatu pada epidermis tangannya. Hingga punggung tangan pucat itu berhenti pada perpotongan dua daun pintu jeruji yang terkunci. Caroline merasakan ujung telunjuknya pedih. Sorot mata berbeda saat menyadari sedikit cairan kental menyembul dari goresan ujung jari.
Dadanya berdetak tak wajar.
Caroline mengepalkan tangannya. Berupaya meredam gejolak rasa. Berusaha menghalau gelombang cemas. Namun, bayangan perseteruan dua pihak besar yang tiba-tiba menyelinap dalam benaknya kian menambah daftar kerja otaknya.
Bagaimana nasib si pria dalam kondisi kekacauan yang maha dahsyat ini? Batin Caroline tak lelah bertanya.
Molekul yang terhirup membuat mata Caroline terbuka. Pupilnya membesar, penglihatan datang kepadanya.
.
Sementara sang raja duduk gagah di atas pelana tunggangannya, kuda hitam melaju tegas dan mendobrak apa saja yang mengotori jalannya. Sword of mercy menari tanpa henti. Puluhan kepala menggelincir di bawah tapal kuda sang raja. Semburan darah segar menodai surai gelap tunggangannya.
Pelipis Svenson mendadak berdenyut.
Adegan sebelum menuju medan pertempuran, bermain dalam benaknya.
Strategi pedang sang raja semakin brutal. Iblis berbisik kesesatan agar sang pemimpin gelap mata.
Siluet tegas sang penasihat muda memenuhi otaknya. Lengan kekar semakin meluapkan amarah pada para penyihir lawan yang tepat di depan mata. Energi mereka kandas di tangan para ahli sihir Northwind. Kisah mereka tamat dalam genggaman Svenson.
Napas sang raja memburu di antara garakan berirama pedang yang haus tumbal. Bayang paras ayu enggan berlalu. Segala tingkah laku membuat Svenson jemu. Denyutan pelipis menjalari seluruh bagian kepala. Tempurungnya seolah akan lepas dari posisi karena tak sanggup memikul beban hati.
Svenson bersikeras memacu fisiknya bertempur dan mengabaikan keganjilan yang menimpanya. Tindakan semakin membabi buta. Jiwanya kian merintih dan kehilangan kendali atas raganya sendiri. Tak hanya otak yang berat tapi jantung juga memompa cepat.
.
Raja Heather II yang Agung, bahwa pasukan musuh yang dihadapinya jauh lebih baik dari para lawan tandingnya ketika berlatih.
Satu persatu, musuh ditusuk, digorok bahkan disayat dengan rasa puas yang membuncah. Inilah rasanya. Kepuasan dari melenyapkan kehidupan. Mata Svenson berkilat senang. Dialah si adikuasa.
Meski ia berhasil melawan semua musuh yang datang kepadanya, rupanya waktu memang penghianat yang kejam. Satu anak panah beracun meluncur dari angkasa. Ia berhasil menghindarinya, tapi anak panah itu meleset dan mengoyak sarung tangannya sebelum tertancap tepat di tanah.
Dengan gerakan cepat bagai elang ia melaju, menandai buruan si pemanah dan menghindari beberapa anak panah yang dilesatkan. Satu tangannya melempar pedang yang tertancap mulus di dada si pemanah.
Svenson menyungging senyum culas. Ia melenggang dengan kebanggaan tinggi setara nirwana. Langkahnya ringan. Tangannya meraih pegangan pedang. Alih-alih lekas mencabutnya, ia justru membenamkannya ke musuh terakhir.
"For the victory!" dia berteriak lantang. Lalu mencabut pedangnya dalam satu sentakan. "hidup Nortwind!"
Dan prajurit yang tersisa meneriakkan hal yang sama; "HIDUP NORTWIND!"
.
Apakah yang lebih melelahkan dari sebuah hasrat yang meminta dipuaskan? Hasrat untuk diakui merupakan candu. Apalagi jika diakui oleh musuh sendiri. Dia kuat-diharuskan kuat. Agar tak satu orang pun berani melecehkan kuasanya. Dan itu berlaku pula untuk Dellinger keparat itu.
Rasa puas dengan menghabiskan musuh sepadan dengan perasaan lelah dan juga kehabisan daya. Setelah ayunan lengan terakhir menumbangkan dua kesatria lawan, tubuh Svenson hilang keseimbangan.
Membuat Osca yang bertempur tak jauh darinya memberikan perintah nyata!
"Formasi darurat!"
Keempat ksatria berkuda lainnya bersiaga pada sisi depan dan belakang raja. Mereka cekatan menghalau gempuran mendadak lawan yang mencuri kesempatan.
Kesatria susah payah memanggul tubuh penguasa negerinya. "Kawal kami menuju Sir Hanes!"
"Laksanakan!"
.
Sepasang iris kelam menegang. Fokus sejenak teralih. Bayangan junjungan agung yang tengah terkulai lemah di balik punggung seorang kesatria pelindung, terpantul pada lensa mata. Susah payah sang kesatria pelindung memboyong tubuh raja menghampiri jenderal perang di antara aroma kematian yang mengancam. Keempat rekannya pun nyaris kehilangan jiwa dan keselamatan raja jika terhasut fokusnya.
Tubuh sang jenderal meluncur dari pelana setelah menyampaikan isyarat pada rekan yang tak jauh dari posisinya. Osca terpaksa menguras energi lima kali lebih tangguh demi memukul mundur lawan terdekat.
Hanes menggeram setelah pengakuan sang kesatria selesai diutarakan.
Matanya terkatup sejenak ketika jari tengah dan ibu jari beradu.
Nyanyian predator bersayap mengabarkan wujudnya yang tengah menyeruak awan kelabu lalu menukik searah hukum gravitasi. Cakar-cakarnya yang runcing mendarat manis pada lengan kekar sang tuan.
Jemari sang ksatria menanggalkan anting oval tunggal dari berlian safir yang menggelantung pada daun telinga kiri raja setelah meloloskan kepala raja dari pelindungnya. Lalu mengulurkannya kepada sang jenderal pemberi perintah.
.
Hanes menyambut anting tunggal sang raja kemudian membenamkan sisi tajam pada ujung telunjuknya. Sedikit cairan merah kental merembes melumuri berlian safir raja.
Sekali lagi terdengar jentikan jari. Anting tunggal telah menyatu dengan tangkai lavendel misterius dalam sebuah ikatan pada pergelangan kaki golden eagle. Makhluk buas penjelajah angkasa berkecepatan lebih dari 300 km/jam.
Hanes menyinggung bulu kepala golden egle. "Ikutilah cahayaku hingga tiba di Northwind!"
Golden eagle membentangkan sayap lebarnya mengikuti arah lengan sang majikan. Sepasang cengkeraman kokoh tinggal landas menembus suramnya angkasa yang beranjak senja.
"Osca Roscoe!"
Suara lantang sang jenderal mengetuk gendang telinga bawahan. Osca sejenak memisahkan diri dari para pejuang demi memenuhi panggilan sang jenderal. Genggamannya menahan tali kekang. Tunggangannya sedikit tenang.
"Kondisi darurat! Pimpin pasukan pengamanan raja menuju tenda. Sang penawar akan segera datang!" Osca mengangguk patuh.
.
Shamus Dellinger tengah melintasi halaman depan kerajaan ketika seekor golden eagle melayang rendah membentur paras mulusnya. Kedua lengan pria bangsawan ini menghalau bulu-bulu gelap yang berguguran di atas kepala.
Petang yang lengang harus terjamah suara kepakkan makhluk liar jenis pemangsa. Si pria paruh baya terpaksa berjingkat tak tentu arah. Ayunan langkahnya sesekali menyinggung deretan keindahan tanaman hias yang berjajar rapi. Mulutnya mengutuk tingkah makhluk liar tanpa sopan. Berharap segera tertahan segala kesialan.
Shamus kembali mengambil napas lega selepas kepergian makhluk pemburu bersayap. Telapaknya segera membenahi tatanan rapi rambut dan jubah menjuntai miliknya. Hingga sorot mata pucat menemukan benda tergeletak di sisi sepatu kulitnya.
Pria darah biru itu merendahkan punggung sebelum meraih benda misterius tersebut.
Shamus meneliti dua hal yang menyatu. Mimiknya menegang setelah menyadari kepemilikan berlian safir yang ternoda darah.
"Anting ... darah ... lavendel ...."
Shamus mengamankan dua petunjuk dalam rengkuhan telapak tangannya sebelum tergopoh menapaki lorong istana.
.
Caroline terenyak dari lamunan pada sudut ruang hukuman. Hotel prodeo mengenyahkan segala bisikan lelah dan kantuk. Sepasang iris pucat kosong terperanjat menangkap suara kunci beradu gembok raksasa. Jeritan terali besi penjara bergeser tergesa, menerobos gendang telinga. Sosok sekandung mendiang ayahnya tampak gusar menghampirinya. Dua penjaga penjara menyertai langkahnya.
Caroline beranjak menyambut pengunjung penjara. "Paman," gumamnya.
Shamus meraih telapak kanan keponakan sebelum meletakkan petunjuk misterius pada permukaannya.
"Lavendel adalah kamu, Sayang!"
Kening dekil sang tahanan cantik mengernyit. Didekapnya benda langka milik seseorang yang mustahil terhapus dari benaknya. Sejenak memejam menyalurkan aura cerah yang merangsang jantungnya berdebar tak normal.
Sepasang iris pucat menyorot sang paman tajam. "Raja?"
Shamus mengangguk pelan. "Sepertinya tidak dalam keadaan baik. Sir Hanes meminta bantuan Anda, Lady Lin."
Caroline mengangguk cepat.
Shamus menatap pilu gadis bangsawan di hadapannya. Penyihir berbakat alam dalam keadaan tak selayaknya. Apa yang melekat pada tubuh si gadis, menanam prihatin dalam benak sang paman.
"Setelah para pelayan membantu berbenah dan mengganti gaun Anda, kita berangkat!"
.
Setelah Caroline memakai kembali jubah kebesarannya, ia dikawal ketat menuju keluar dungeon. Suara lolongan permohonan ampun dan juga rintihan kesakitan dari dalam sel menjadi irama yang didengar sepanjang lorong.
Suara pekikan permintaan tolong samar terdengar di telinganya. Caroline sempat menghentikan langkah kaki. Sebab ia yakin terhadap siapa pemilik suara itu.
"My Lady ... segera bergegas, saya takut Raja—" suara Shamus terputus ketika Caroline dengan tergesa melangkah maju. Tentu saja, tak ada prioritas utama selain menyelamatkan sang raja.
.
Bala pasukan Northwind memburu jejak pasukan tersisa yang berupaya mengamankan sang raja menuju benteng kokoh yang melingkari kawasan kerajaan Northeast. Hanes beserta pengikutnya sukses menerobos penghalang di ambang jembatan tarik yang hampir berdiri tegak.
Kuda Hanes melenggang indah menyisakan raga pasukan pertahanan Northeast yang berserakan. Para prajurit pengaman benteng Northeast melancarkan serangan balasan melalui ujung anak panah yang tajam. Namun, sedikit prajurit Northwind yang terpaksa mundur. Lontaran bara ratusan boiling oil dari banyak sudut tembok raksasa kastel berbenturan dan membakar udara. Tak seberapa prajurit Northwind yang sial dan terpanggang hingga tulang. Namun kabut legam susunan karbondioksida menghambat pergerakan Northwind yang akan menjangkau gate house. Beberapa titik outer wall membara.
Energi alam yang hanyut dalam aliran darah penyihir Northwind berbaur keyakinan tinggi terhempas melalui para tangan dingin. Kuasanya melesat ke awang-awang dan menghimpun mendung. Tak lama guyuran air langit menyingkirkan kepulan hitam dan melenyapkan penghalang pandangan. Outer ward kuyup dalam hitungan detik.
Sekali lagi tangan dingin menari lincah di depan dada lalu menyeret molekul udara. Telunjuk mereka bahu-membahu mengendalikan arah angin menuju dua lapis tembok raksasa yang mengepung kerajaan Northeast.
Sekali hardikan angin, para pasukan penjaga dinding raksasa tersapu tak tentu. Mereka berhamburan menimpa permukaan outer ward.
Northeast semakin terpojok. Setelah upaya penjagaan benteng Northeast kandas, para Northwind berbondong-bodong menjejali outer ward. Namun niat langkah mereka menembus gate house harus ditebus dengan penentuan akhir.
Ratusan pasukan Northwind berjajar rapi menantang pasukan tuan rumah yang melindungi gate house. Hanya inilah tindakan terakhir yang masih sanggup ditempuh Northeast setelah menelan banyak kemunduran dalam waktu singkat.
Kedua kubu saling waspada dengan senjata bersiaga. Dawai busur direntangkan beserta anak panah. Tombak dijulurkan menyudut pada sasaran. Perisai kuat sedia mencegah benda tajam yang datang. Aura mencekam bersenandung di antara kebisuan hingga masing-masing jenderal membelah sedikit ruang antara pasukan.
Hanes melangkah wibawa tanpa tunggangan. Kesayangan bersurai itu terpaksa menunggu di barisan belakang.
.
Hanes akan mempercepat segala penakhlukan ini. Apalagi sang Raja dalam bahaya.
Dengan tekad kuat ia merapal mantra. Satu buah anak panah hitam berada di telapak tangannya.
Tangan kanannya meraih busur panah di belakang punggungnya. Lalu dengan sigap ia memanah angkasa.
Satu anak panah membelah jadi seribu. Menghujani musuhnya dengan penderitaan.
Semua prajurit musuh mati dengan anak panah terkutuk itu. Hanes sang penguasa malam adalah kematian yang sesungguhnya.
.
Perjalanan dua hari dua malam yang melelahkan belum seberapa bila dibandingkan rasa cemas Caroline.
Segala perasaan itu tak juga lega bahkan ketika kakinya menjejak tanah Northeast.
Caroline menapak tergesa didampingi dua pengawalan ketat Northwind sepanjang tangga utama Kerajaan Northeast yang megah. Dua tangga melingkar yang menyatu pada ujung lantai dua mengantarkan tumitnya menempuh panjangnya lorong mewah. Lorong cantik nuansa merah bata menyajikan puluhan karya lukis yang berbaris rapi pada dinding.
Penasihat muda melangkah dengan sedikit menyibak gaun yang melebihi mata kaki sepanjang tiga sentimeter. Gaun ungu kelam bergaris kerah V dan berlengan panjang di bawah pergelangan tangan. Empire line menjadi ciri istimewa mode pakaian wanita yang digandrungi.
Ayunan tungkai Caroline semakin melambat ketika ujung lorong menyapanya. Kamar utama. Kamar pribadi raja Northeast yang telah dikuasai Northwind. Dipastikan tubuh yang nyaman di balik dua daun pintu yang rapat bukanlah raja renta yang mendadak lumpuh sempurna karena kehilangan tahta dan dunia. Apalagi harus tua dalam kesakitan dan ujian. Tanpa pasangan dan keturunan.
.
Raga tak sadarkan diri itu tak lain ialah seorang pemuda haus kuasa. Mata terpejam. Seorang lelaki yang menjadi budak ambisi.
Seorang pengawal mendahului Caroline sebelum menekan dua gagang pintu berlapis perak. Derit kambium lebar menyentak lamunan pria dewasa yang bersandar pada salah satu sudut pilar poster bed. Ranjang bangsawan berbahan kayu oak dan bertiang empat lengkap dengan tirai yang terikat pada masing-masing sisi.
Sang jendral beranjak menyambut putri Edvard yang telah tenggelam dalam aroma cemara kamar raja.
Hanes menyinggung bahu Caroline sebelum memberi tanda pada dua pengawal untuk segera berlalu.
"Tolong, selamatkanlah My Majesty, My Lady." Ada sorot permohonan seperti ayah yang memohonkan anaknya untuk diselamatkan.
Hanes memandang gurunya dengan perasaan sama prihatinnya. Sebelum akhirnya berlabuh pada kamar lelaki itu.
.
Dua daun pintu kembali merapat menyisakan Caroline seorang diri dalam aura misterius ruangan asing.
Caroline mengabaikan ujung gaunnya yang menyapu lantai dalam langkah lambatnya menghampiri ranjang. Matanya sendu menyaksikan tubuh lemas yang tergeletak di pembaringan lembut berlapis sutra. Paras manis kecokelatan memucat. Iris biru tajam kini redup di balik kelopak mata.
Caroline meletakkan tulang duduknya tepat pada sisi kiri sang raja. Jemari mungil merengkuh telapak kekar. Tangan inilah yang telah menyimpan bara dan melampiaskannya pada yang lain.
Caroline menghela napas panjang. "Kau hanya pria bodoh yang ... tampan!" Caroline tertawa miris menghibur hatinya yang gundah. Air mata jatuh karena ia terlalu mengkhawatirkan lelaki jahat itu.
Tubuh terbujur senantiasa bergeming dalam halus dengkur lelahnya. Entah jiwanya menyadari atau tidak kondisi raga. Raga yang jauh dari sadar, tapi denyut terus berlanjut.
Caroline meraih anting tunggal dari lipatan band pinggang gaun model empire line. Jemarinya menghampiri daun telinga kiri sang raja sebelum melingkarkan ujung anting pada lubang jejak tindik.
Ia adalah pelindung sang raja. Seorang penawar dari segala duka dan lara. Ia dilahirkan untuk itu. Menjadi sebuah kubah untuk sang raja.
Sinar violet memancar dari telapak tangan Caroline kemudian merasuk pada kulit daun telinga menjalar hingga bagian dada yang berbalut kain ringan. Hanya beberapa detik, sinar menyilaukan kembali padam.
Caroline tertegun menatap paras damai sang raja. "Jika saja rambutmu botak, aku tak akan sudi melirikmu." Caroline meluapkan segala batu ganjalan dalam dada. "kapan kau jelek? Apa saat kulit seksimu berkerut?" tangan Caroline secara kurang ajar mengelus rahang kokoh sang raja. Sudah berapa lama mereka saling memusuhi? Ia lupa.
.
Caroline menarik napas panjang kemudian menghempaskan perlahan. Tubuhnya beringsut menjauhi ranjang. Jendela berselimut tirai menjadi daya tarik matanya. Lengannya menyibak sebagian. Sapaan mentari menyilaukan pandangannya.
Awan hitam tersisih oleh sang surya. Bekas benteng terbakar masih menyisakan kepulan. Meskipun suram telah hilang, kondisi masih mencekam.
Caroline meremas tepi tirai keemasan. "Aku benci mata birumu. Aku benci rambut pirangmu. Aku benci senyumanmu. Aku ...."
Caroline melempar tatapannya kembali pada ranjang. Sepasang iris pucat menjurus pada raga sang raja.
"Aku benci karena membencimu!"
Bibirnya melengkung tipis. Namun senyum luntur ketika suatu keganjilan menyusupi otaknya.
Caroline terpejam sejenak menyelami hari lalu yang telah menjadi kenangan. Kuatnya aroma pinus yang dihirupnya ketika menempuh perjalanan seolah menyisakan jejak di penciumannya. Hutan pinus lengang beserta orkestra alam samar-samar. Di balik paduan suara serangga yang harmonis, nurani Caroline bergetar. Seolah terdengar irama asing yang sumbang.
Irama trauma.
Caroline mengenyahkan segala beban kepala. Energinya sayang jika terbuang percuma karena keselamatan raja yang utama.
Caroline setia mendampingi tubuh tergolek sang raja. Hingga beberapa waktu telah berlalu, tapi penguasa tertinggi Northwind itu urung juga membuka mata. Pria itu masih nyenyak dalam lelahnya. Banyak hal yang mencambuk ambisinya dan memaksa pusat syaraf bekerja keras. Tiga hari dalam alam mimpinya belum menghadirkan jenuh. Tidakkah dia merindukan dunia nyata?
Sepanjang malam energi Caroline tercurah hingga payah.
.
Bunyi ketukan daun pintu mengusik pulas Caroline. Kelopak matanya mengerjap perlahan, lalu beredar memandang sekitar. Ruangan lebar itu sunyi. Ranjang luas itu hampa. Caroline segera beranjak merapikan gaun dan tatanan rambut sekadarnya.
Parasnya berpaling pada daun pintu yang enggan memberi jeda suara. Tanpa berpikir lagi, langkah mungilnya mendekati daun pintu. Kedua lengannya mendorong perlahan.
Dua pengawal memberi penghormatan di ambang pintu. Caroline mengangguk samar.
"Maafkan kami, Lady Lin! Yang Mulia Raja Svenson menunggu Anda!"
Caroline menarik napas lega. Svenson telah pulih sempurna.
"Silakan ikuti kami!" tanpa menunggu persetujuan Caroline, kedua pengawal telah memunggungi dan bersiap menuntaskan perintah.
Caroline mengekori dua pengawal bersenjata lengkap. Mereka menempuh panjangnya lorong elegan, melintasi satu per satu ruangan penting. Lirikan Caroline mendata setiap ruang yang dilewatinya. Ruang singgasana, ballroom, ruang perjamuan, ruang makan raja, perpustakaan kerajaan, bar kerajaan, ruang musik, hingga ruang penyimpanan anggur hanya sekilas dalam pandangan.
Caroline setia bungkam belum sanggup menghadapi kejutan jika harus bertanya. Hingga sepasang kakinya menutup pada bagian terkelam dalam kerajaan. Ruang hukuman. Gelap aroma kematian. Pijar obor seadanya menyusun bayangan sosok pada lorong. Sang penguasa baru Northeast berdiri menjulang di sana. Seorang remaja laki-laki meringis tercekik lipatan lengan sang raja.
Bocah berbalut baju biru tua meronta. Kedua lengan kurusnya memukul-mukul udara.
Caroline memangkas celah yang memisahkan keduanya. Dua pengawal bergeming pada pijakan mereka.
Mata Caroline menajam. Penampakan bocah tak berdaya mengiris hatinya. Caroline merasakan energi berbeda dalam tubuh si bocah. Energi alam yang selalu akrab mendampingi para penyihir.
Caroline menunduk memberi penghormatan. "Maafkan saya, My Majesty!" Caroline mengawali sapaan pantang gentar. "jika saya boleh mengetahui, apa yang sedang terjadi di sini, My Majesty?"
Svenson menggeram. Belati terbebas dari sarangnya. Tangan yang mencekik leher penyihir belia itu mengelus pelan jakun si pemuda.
"Anda terlalu cerdas untuk bertanya, Lady Lin!"
Belum genap hitungan menit, belati telah tenggelam dalam genangan merah. Diikuti oleh mata Caroline yang memancarkan kilat sakit dan terkejut.
Apa yang lebih menyakitkan, dari menyerahkan jiwa kepada Tuan yang tidak bisa melihat semua pengorbanan?!
Tangan Caroline terkepal di sisi tubuh. Berusaha menahan dirinya untuk tidak meraungkan kesedihan dan amarahnya. Tapi tetap saja, satu tetes air mata jatuh menghianati keinginannya.
....
...
......Bersambung......