
“Lihatlah baik-baik, mereka bahkan begitu dekat.”
.
“... teramat dekat, sedekat nadi dan jantungmu.”
.
.
.
Caroline memejamkan mata, melantunkan doa dalam diam; meminta pengampunan atas darah yang menodai pedang Rajanya.
Begitu dekat .... adalah kalimat yang samar dia tahu—tepatnya—dia baca dari bibir Oscayang memucat.
Sedekat nadi .... seolah memberitahu bahwa kematiannya bukanlah akhir, melainkan awal—di mana—kelak akan terjadi penagihan atasnya. Karena menara surga bukanlah milik iblis di neraka. Takhta Northwind tidak seharusnya bergelimang noda.
“My Majesty,” Hanes berlutut, sesenggukan. Masih tidak percaya akan pengkhianatan orang kepercayaannya. Kepalanya nyaris pecah, pusing bukan main. Sulit mencerna bahwa apa yang dia lihat adalah kenyataan.
“My Lord,” Svenson menggulingkan pandangan, “apakah sangat menyakitkan?”
Caroline meremat gaunnya. Kalimat itu tidaklah ditujukan pada Lord Hanes, melainkan dirinya.
“My Lord, aku telah merasakan yang seribu kali. Bagaimana pendapatmu?”
Hanes tidak menjawab, menggeleng lemah, seolah ingin memberitahu bahwa apa yang dia lakukan adalah sebuah adharma.
“Singkirkan mayatnya!” Svenson menuding. “Berikan pada kawanan serigala di pegunungan barat Northwind atau kau bisa membakarnya untuk dikremasi.”
Hanes tidak lagi bisa berkata-kata. Kepalanya menunduk dalam, perintah The Majesty mutlak. Harapannya patah, tak dapat disambungkan.
Kremasi mayat Osca sama halnya dengan meleburkan jejak. Selama ini, muskil jika pria berjuluk kilat putih itu bergerak seorang diri tanpa bernaung pada inangnya.
Perasaan Lord Hanes tak dapat digambarkan. Rasa pahit yang sang raja ajarkan telah memberitahu secara gamblang; seberapa besar luka yang mereka torehkan padanya dalam invasi Woodlands.
Meski begitu, Caroline tidak serta merta mengambil premis. Jangan harapkan bahwa dia akan sekonyong-konyong menjerit ketakutan atas ancaman tersirat itu.
Jadi, sebelum raja menarik bidak, kudanya akan lebih dulu mengambil alih. “Laksanakan, My Majesty.”
.
Bulan tertutupi oleh awan ketika mata bening Caroline menelusur tubuh Osca yang terbujur kaku.
Menenggelamkan cahaya temaram di dalam ruangan sempit; dungeon paling dasar dari kastel Izarus.
Bisu mendayu seiring deru napasnya yang putus-putus. Dia harus melakukan autopsi sebelum fajar, atau biro eksekusi akan benar-benar membakar mayat Osca hingga lebur menjadi serpihan monokrom.
Luka di tubuh jangkungnya masih menganga, bau anyir tercium pekat, merembes ke pakaian sekitar dadanya.
Caroline mengecek satu per satu pakaian milik mantan perwira Northwind itu untuk menemukan sebuah jam saku yang telah berhenti berdetak. Jam dengan ornamen ekor phoenix adalah barang langka. Setahunya, sang ayah dan mendiang Raja Gerardo juga memilikinya.
Apakah kebetulan dia melewatkan sesuatu? Tidakkah terlalu mewah jika Raja Gerardo memberikan naungan pada Osca yang notabene tawanan perang?
Tidak mungkin. Terlalu muskil bagi Raja Gerardo merancang kehancuran negerinya sendiri.
“Lady ....” suara Hanes menyentaknya. Dia memutar tubuh dan menemukan sang panglima berada di ambang pintu sel dalam keadaan masih kacau. “Ada apa gerangan Anda kemari, My Lord? Tidakkah aku memintamu untuk istirahat?
Hanes menatap mayat Osca dalam diam.
“Aku akan menurunkan perintah kremasi secepatnya.
“Lebih cepat lebih baik, Lady. Jangan biarkan mereka yang telah pergi menunggu, meskipun dia adalah pengkhianat sekali pun.” Suaranya datar, nyaris tidak ada gurat emosi. Berbanding terbalik dengan kedua iris jelaganya yang bersuara lebih banyak.
Caroline membungkuk, memberi penghormatan pada gurunya hingga sosoknya tak terendus oleh sang saka malam. Dalam diam, menggenggam jam yang menjadi satu-satunya penerang siapakah inang sebenarnya.
.
Svenson menanggalkan jubah kebesarannya di lantai kamar. Memilih meneguk anggur kerajaan yang dia tahu akan membakar sesuatu yang sudah berkobar di sudut hatinya. Udara yang terhirup, terasa menyesakkan di dada. Seolah oksigen telah menipis seiring guncangan di beberapa sisi.
Dunia ini memuakkan. Sangat beracun. Dan entah bagaimana dia berhasil memilih yang paling beracun.
Sampai detik ini, dia masih tidak percaya bahwa senjata yang dia gunakan untuk menyerang perempuan itu akan berbalik menusuknya. Dan hal paling memalukan hingga wajahnya serasa dicoreng dengan tinta hitam adalah fakta bahwa Caroline-lah yang membawa pengkhianat itu beserta bukti-bukti konkret.
Svenson menggeram dalam diam. Berusaha menekan urat-urat di sekitar pelipis. Kepalanya terasa berat hanya dengan memikirkan bagaimana wanita itu bertindak seolah-olah dia pengabdi sejati terlepas dari apa yang telah dilakukan.
“Pengkhianat terbesar adalah mereka yang berada dekat, sedekat nadi dan jantungku,” Svenson mendengus, “bahkan di saat malaikat maut sudah bersiaga, pengkhianat lain masih bisa memperingatkanku." Svenson menyipitkan mata, menatap lurus.
Baginya, tidak ada pengkhianat agung selain si Lady Dellinger, Caroline. Namun, pengkhianat yang Osca maksud jelas bukan perempuan itu.
Ada pihak lain yang berada dalam kubangan mereka. Dan yang membuatnya merasa ditonjok adalah; kemungkinan, pihak ketiga sudah ada sejak sebelum Caroline sendiri atau dia menyadarinya.
Bagaikan sebuah segitiga. Dan pihak ini adalah sisi yang satunya.
.
Dellinger Manor
Ruangan berukuran empat kali empat terasa pengap. Surya yang membias, bahkan tidak berani menyusup barang sekecil noktah. Dellinger Manor telah lama tak terjamah. Menurut tetua, mereka sengaja meninggalkan paviliun Edvard untuk menghargai jiwanya di surga.
Caroline hampir tidak pernah berani menginjakkan kaki selain meletakkan bunga anggrek ungu yang katanya menjadi kesukaan sang ayahanda.
Secara struktural, ruangan itu masih sama. Tidak ada yang berubah dari terakhir kali dia mengingat. Kursi beledu merah tidak bergeser, pun termasuk pigura besar di sisi kanan; potret kelahirannya bersama kedua orang terkasih.
Berjarak satu meter, di sisi kiri terdapat sebuah cermin tertutup kain sutra. Tangannya bergerak, menyibak cermin yang memiliki aura terkuat. Mengelus ukiran di setiap sisi, Caroline sadar bahwa inilah yang dia cari. Ayahnya pasti menyembunyikan buku-buku kuno di dalam sana.
Sebagai satu-satunya keturunan kepala keluarga, hanya darahnya lah yang bisa membuka segel itu.
Dia mundur satu langkah, menggigit ujung ibu jari untuk kemudian diusapkan pada bibir cermin. Sebuah lingkaran sihir terbuka, membawanya pada tempat paling rahasia milik kepala keluarga Dellinger.
.
.
Caroline membuka puluhan perkamen yang dia bawa.
Kremasi Osca sedang dilakukan di istana, tetapi dia tidak memiliki waktu untuk menghadirinya.
Pintar sekali. Inang satu ini memiliki kemampuan tesis luar biasa hingga dapat meramalkan kematian Osca. Jadi, demi tidak terkuak ‘dirinya’ ke permukaan, mantra tingkat tinggi pun dibuat.
Dan dia mengakui bahwa gugusan sihir tersebut terbilang rumit. Perlu waktu setidaknya sepuluh hari untuk menguraikannya, dan itu tidak mungkin hari ini.
Northwind sedang berada dalam ambang kehancuran. Menunda hanya akan mempercepat proses jatuhnya Negeri bulan sabit. Maka tidak ada jalan lain selain itu.
Caroline menyingkirkan semua perkamen dengan satu gerak cepat. Hanya satu jentikan, dan gulungan-gulungan tersebut kembali ke tempat masing-masing. Kemudian, dia mengambil sebuah buku berisi kutukan kuno Klannya. Opsi terakhir bagi para Dellinger dalam mencari kebajikan.
Dia mengambil posisi. Meletakkan jam di tengah-tengah meja, kemudian memejamkan mata. Mengulurkan tangan kiri di atas jam dengan dua jari dari tangan kanan di atasnya.
Sambil merapal mantra, dua jarinya merambat naik menyusuri lengan kiri dan berhenti tepat di dada.
Seketika, cahaya biru mengelilingi tubuhnya. Semakin bersinar kemudian menyusut ke dalam satu titik.
Sebuah tanda kutukan; lingkaran dengan dua belas berlian hitam di setiap sisi dan heksagram di dalamnya telah berhasil dibuat—mantra vodoo; Alteram. Sebuah kutukan dan sihir terlarang yang tidak dia sangka akan digunakan pada dirinya sendiri.
Meski cara ini terbilang jalan paling pintas, tetapi pada kenyataannya, mantra vodoo bagaikan pisau bermata dua. Baik yang mengutuk atau dikutuk memiliki tanda sama dan akan mengalami hal serupa.
Dan jam Osca merupakan media perantara yang sempurna.
.
.
Pasukan Elit dari Jenderal Hanes bergerak menerobos dingin. Membawa dua buah surat rahasia; satu berpelat hitam dengan lelehan emas, satunya diikat dengan tali merah. Dua misi dalam satu waktu.
Pemberontakan kian membesar, penyerbuan Royal Antelopus semakin gencar. Hanes memerintah pasukan untuk mengurangi serangan dan mengevakuasi murid Royal Antelopus dengan cara terselubung, sementara pasukannya yang lain menyampaikan perintah kerajaan.
Pria itu berada dalam posisi sulit. Dia tidak mungkin menentang perintah sang Majesty, tetapi juga tidak bisa mengabaikan Lady Caroline.
Gencatan demi gencatan masih diluncurkan. Array—lingkaran sihir—memblok serangan dari para prajurit Northwind. Para penyihir benar-benar serius ingin melakukan kudeta setelah terus digerus oleh pihak berwajib kerajaan.
Di atas tanah yang tertutupi salju, derap kaki kian bergemuruh. Cahaya warna-warni melesat secepat kilat. Berusaha menembus pertahanan kerajaan.
Langit Northwind bermandikan cahaya dan anak panah. Teriakan, geraman, menjadi orkestra pengiring adu adidaya tersebut.
Sebuah pemandangan langka di negeri yang tersohor akan kemakmurannya.
Hanes memandang prihatin. Berdiri di atas menara tertinggi kastel Izarus. “Tidak ada lagi yang bisa dilakukan jika sang Phoenix yang tidak bisa membedakan hitam dan putih.”
.
Langkah kaki menggema di koridor istana. Para anggota dewan parlemen datang dari kediaman mereka secepat mungkin. Menggenggam erat sebuah surat berpelat kerajaan.
Pagi ini, utusan Elite menyampaikan sebuah mandat yang lebih mirip seperti dekret. Cap kerajaan masih terlihat basah, kentara bahwa surat itu dibuat sangat mendadak.
Pembersihan badan kerajaan.
“My Majesty, mohon katakan, apa maksud dari semua ini?” seorang Duke berlutut, menahan diri untuk tidak meremas surat terkutuk itu.
“Anda tahu bahwa badan kerajaan tidak bisa disentuh tanpa adanya bukti sah dari penasihat kerajaan.”
Svenson memukul sisi kursi, menatap nyalang.
“Kalian ingin mengatakan aku hanya boneka si Dellinger?”
Anggota dewan itu buru-buru bersujud. Jelas, tidak bermaksud. Namun, fakta bahwa raja hanya bisa bertindak dengan persetujuan penasihat kerajaan memang tak terbantahkan.
“Lady Caroline, dia juga akan diperiksa. Jadi bagaimana aku memerlukan persetujuannya?”
Dengar, dari jajaran paling tinggi hingga budak terendah kerajaan akan diperiksa dalam satu kali dua puluh empat jam. Dan aku sendiri yang akan melakukannya.”
Perintah mutlak. Svenson menggerakkan Pasukan Elite di bawah kepemimpinan Jenderal Hanes. Dia bersiap melakukan pembersihan dimulai dengan menggeledah rumah para Duke.
.
.
“My Lady, apakah kau di dalam?”
Hanes mengetuk kediaman Caroline berkali-kali. Melirik sekitar sambil sesekali melihat jam sakunya. Dia harus segera memberitahu Caroline sebelum Pasukan Elite datang.
Dia akan melakukan ketukan yang ke dua puluh lima kali ketika pintu tiba-tiba terbuka. Lady Caroline menampakkan setengah badannya dengan tatapan sulit diartikan. Hanes sempat mundur setengah langkah, tetapi sekarang bukan saatnya dia mempermasalahkan itu.
“My Lady, ada hal penting yang ingin aku sampaikan.” Hanes memberikan surat tersebut.
Lelehan emas. Jelas, itu surat dan perintah rahasia.
“Apa yang The Majesty inginkan hingga memerintah Anda datang padaku?” ujarnya.
Pada awalnya, suara Caroline terdengar sangat lembut dan nyaman di dengar. Namun, jika seseorang mendengarnya dengan saksama, mereka akan menyadari bahwa suara itu terdengar sangat dingin.
“Pembersihan badan kerajaan.”
Dua menit hening. Caroline mendorong surat tersebut kembali, “Katakan pada The Majesty bahwa aku menerimanya.”
Hanes dibuat bingung, “menyelidiki badan kerajaan berarti Raja meragukan parlemennya. Apakah ini baik, My Lady?”
“Perintah adalah perintah, My Lord. Aku hanya perlu bergerak dari sisi lain, bukan?” Caroline tersenyum samar.
“Terima kasih sudah datang jauh-jauh. Aku akan membuat persiapan.”
Caroline memberi hormat pada sang Jenderal sebelum menutup pintu. Meninggalkan Hanes yang menatap pintu cendana itu dengan pandangan kosong. Barusan, untuk pertama kali, seorang Caroline Ragnhild Dellinger—anak asuhnya—telah menolaknya.
Caroline menarik senyum menjadi segaris tipis. Tangannya gugur di kedua sisi dengan sorot mata gelap. Sambil menyentuh bagian tubuhnya yang memiliki kutukan Alteram, dia mengepal. Mimpi yang merasuki alam bawah sadarnya jelas bukanlah dusta.
.......
.......
.......
...Bersambung...