The Tale Of Northwind

The Tale Of Northwind
Chapter 11: Keputusan Bulat



Suara gesekan perkamen terdengar dari sebuah ruangan besar dengan perabotan mewah khas bangsawan. Caroline Dellinger, penasihat termuda Kerajaan Northwind tengah menatap tumpukan berkas-berkas di atas meja kayu jati dengan raut serius. Sudut pelipisnya berkedut menyakitkan hingga membuatnya menghela napas yang terasa berat dan menekan pangkal hidungnya.


"Hilang tanpa jejak. Bagaimana bisa mereka melakukannya? Menyerang pasukan Sir Osca yang terkenal tanpa cela, kebetulankah?" sebuah gumaman pelan keluar dari bibir sang penasihat. Terlalu banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini, membuatnya mau tak mau memutar otak. Menyusun satu per satu hal yang dianggapnya mengganjal hati.


Ia harus menemukan titik terang sebelum masalah lain datang silih berganti, dan membesar bagaikan bola salju yang menggelinding di tengah badai.


Caroline menghela napasnya lagi. Berulang kali, dengan ritme teratur. Berusaha untuk menjernihkan pikiran.


Suara ketukan pintu menggema, memecah perhatian penasihat kerajaan. Caroline menatap pintu berdaun dua itu dengan raut datar. "Masuklah!" titahnya memersilahkan siapapun yang telah mengetuk ruang kerjanya dengan nada tak sabaran.


Bunyi derik pintu yang terbuka kembali terasa bising, Caroline mencoba tidak mengerutkan kening dan menatap dua orang penjaga yang jelas terlihat tegang. Mereka menghampiri Caroline, usai memberi hormat salah satu penjaga itu menyampaikan titah dari sang Penguasa Northwind.


"Lady Lin, Anda diminta menghadap The Majesty saat ini juga."


.


Suara pintu yang dibuka terdengar hingga menggema. Caroline melangkah dengan tegas dan penuh percaya diri di atas karpet merah yang berujung pada tahta kerajaan bulan sabit. Di kursi tahta berwarna merah keemasan itu, duduklah Svenson sang Raja ke-lima belas Kerajaan Northwind. Sepasang mata biru yang keras dan dingin bagai batu safir itu terlihat menyala kala separuh wajahnya tertutupi bayangan.


"Hidup My Majesty."


Caroline mengucap salam sembari menunduk, mengangkat sedikit gaunnya lalu menekuk lutut guna memberi kesan anggun. Kemudian, kembali berdiri tegak dan menatap Svenson dengan wibawa seorang Penasihat Kerajaan.


"Apa kau tahu mengapa aku memanggilmu kemari, Lady Lin?" suara berat sang Raja terdengar tenang tetapi sarat akan emosi yang berusaha ia tahan.


Hening sejenak sebelum Caroline menjawab, "Jika berkenan, My Majesty, maukah Anda memberitahu hamba?"


"Aku telah mengutus pasukan untuk menangkap seorang buronan di Northeast. Mereka berhasil menangkapnya, tetapi ketika dalam perjalanan pulang, tentara hitam menyerang dan menculik buronanku." Svenson menatap penuh selidik pada Caroline. Jeda yang terjadi juga menambah ketegangan di Aula Istana. "apa kau mengetahui sesuatu, Lady Lin?"


"Sayang sekali tidak, My Majesty."


Svenson memukul sisi lengan kursi tahta begitu keras, berdiri sembari menatap penuh murka pada Caroline. "Kau jelas tahu sesuatu, Lady Lin! Jangan kau kira aku tidak tahu bahwa kau telah mengutus Sir Hanes untuk mencari tahu siapa yang ku cari, dan jangan lupakan soal kau yang mengikutiku sampai ke Northeast!"


Untuk sekilas, Caroline melirik pada sosok besar yang berdiri tidak jauh darinya. Hanes sang Jenderal menunduk dengan raut wajah bersalah. Sepertinya, entah bagaimana Svenson mengetahui bahwa ia memang mengutus Hanes untuk mencari pria yang kemungkinan adalah korban selamat dari peristiwa Woodlands.


"Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, bahwa saya semata-mata hanya kebetulan berada di Northeast saat itu." Caroline berucap tanpa rasa gentar akan amarah sang Raja yang mulai memuncak. "jikapun saya memang mengutus Lord Hanes, bukankah itu bisa mempersingkat waktu pencarian Anda, Yang Mulia?"


"Tapi kau bertindak tanpa perintahku, Lady Lin!"


"Dan Anda bertindak tanpa membicarakannya dulu dengan saya." Caroline membalas kata-kata Svenson dengan cepat. Iris peraknya teguh dengan suara yang mampu ia kontrol, Caroline kembali berucap. "tugas saya sebagai penasihat kerajaan adalah mengawasi, menganalisa, dan mengambil tindakan demi Kerajaan Northwind, jika sang raja dalam keadaan tidak mampu mengambil keputusan."


"Maksudmu dengan sabotase serta menculik korban yang mungkin saja merupakan saksi kejahatanmu? Itu yang kau sebut dengan tindakan demi Northwind?"


Caroline kembali terdiam, tetapi kali ini, rautnya memerlihatkan rasa tidak percaya pada apa yang baru didengarnya. "Dengan segala hormat, My Majesty. Apakah baru saja Anda melancarkan tuduhan tidak mendasar pada saya?"


"Itu bukan tuduhan tak berdasar. Kau dalang dari serangan tentara hitam itu!"


Hanes serta Osca yang sejak awal memang berada di sana terkejut mendengar tuduhan sang Raja. Jenderal sekaligus guru yang mengajari Caroline tentang sihir itu melangkah maju, berniat membela putri dari mendiang sahabatnya.


"Maafkan saya, My Majesty, tetapi saya sangat yakin bahwa Lady Lin tidak ada hubungannya dengan serangan—"


"Sir!" suara Svenson naik dua oktaf, membuat Hanes kembali menelan kata-katanya.


Sementara itu, Caroline sudah mengepalkan kedua tangan, mencoba mengatur nada suara agar tidak terdengar bergetar. Kedua irisnya masih tetap teguh, tak tergoyah walau hatinya sakit mendapat tuduhan dari laki-laki yang sudah ia kenal belasan tahun.


"Bukti. Saya menuntut bukti dari Yang Mulia jika tunduhan Anda itu memang benar adanya."


"Kau mengikutiku sampai ke Northeast dan tentara hitam menyerang kami di sana. Kau mengutus Sir Hanes dan tentara hitam kembali muncul. Bukti apa lagi untuk membuktikan bahwa kaulah dalangnya, Lady?"


"Bukti jelas yang memang membuktikan saya lah dalangnya. Bukan bukti yang berdasarkan kesimpulan tanpa kejelasan kuat seperti yang My Majesty tuduhkan."


"Cukup!"


Amarah Svenson kian meledak hingga ia menarik pedangnya dan mengacungkannya tepat di depan leher Caroline. Kedua pasang mata berbeda warna itu saling tatap, bersitegang tanpa ada satu pun yang berniat mengalah.


Suasana di sekitar singgasana bagaikan membeku. Dayang-dayang, prajurit kerajaan, para menteri bahkan sang jenderal tak berkutik saat melihat kedua orang penting di Northwind itu saling melancarkan serangan lewat tatapan mata.


Lalu, terdengar suara dengusan dari sang Raja, memotong sunyi yang tercipta.


"Kau ingin bukti? Baik. Aku akan mencari, menyusuri tujuh samudra dan menggali tanah terdalam di dunia. Jika itu bisa membuktikan dirimu bersalah, dan bisa menggantung kepalamu di menara tertinggi Northwind, Caroline!" kedua iris yang bagai lautan dalam tersebut menyipit tajam. "sampai saat itu tiba, kau akan menjadi tawanan istana."


Svenson menurunkan pedangnya dan dengan suara keras ia memerintahkan prajuritnya untuk menangkap dan menahan Caroline.


Sang Raja Northwind telah memberi titah bahwa sampai waktu yang ditentukan, sang Lady akan menjadi tawanan istana dan mendekam di penjara bawah tanah.


Caroline menarik napas panjang ketika perintah itu terucap. Kepalan tangannya kian erat hingga membuat buku-buku jarinya memutih. Dadanya terasa tercubit, perih, sesak ketika sosok sahabat lama yang tumbuh dan besar bersamanya, kini semakin tega menuduhnya sebagai penghianat, menahannya, bahkan mengacungkan pedang ke arahnya.


Svenson memandang diam punggung kecil Caroline yang terlihat begitu kuat, kokoh, dan tak sekali pun menunjukkan kegetiran. Diam-diam, sudut hati sang raja menghitam, membenci kenyataan bahwa gadis itu tidak juga goyah di hadapannya.


.


Caroline memandang pintu besi berdaun dua yang menjulang tinggi di depannya. Pintu masuk menuju gua dengan ratusan anak tangga menuju dasar bumi. Dungeon, adalah penjara bawah tanah yang dibangun oleh para pendahulu Northwind. Tempat yang sangat tertutup hingga cahaya tak mampu menembusnya, gelap, dan pengap.


Dari tempatnya berdiri, meskipun pintu belum dibuka sempurna, samar terdengar suara geraman yang membuat bulu kuduk meremang. Bukan hal yang perlu dipertanyakan karena lantai terdalam penjara bawah tanah itu dihuni oleh beberapa binatang yang telah berevolusi menjadi monster mengerikan.


Penasihat Kerajaan Northwind menghela napas pelan, ia kemudian melangkah dan memasuki pintu masuk dungeon bersama beberapa prajurit yang menjaganya. Sepanjang langkah, diiringi suara tetesan air dari langit-langit gua, juga bayangan yang terpantul di dinding bergerak dengan ganjil berkat nyala api obor yang sedikit bergoyang saat prajurit menutup pintu masuk dungeon.


Anak tangga yang dilaluinya begitu licin, penuh dengan lumut berlendir. Caroline harus berhati-hati dalam melangkah jika dia tidak ingin tergelincir.


Ketika mereka tiba di lantai dua bawah tanah, salah satu prajurit mengeluarkan kunci tembaga besar untuk membuka salah satu jeruji besi. Caroline melangkah memasuki ruangan berukuran sedang dengan tembok dari batu, sebelum ia berbalik ketika suara jeruji besi yang ditutup dan dikunci terdengar.


Setelah memastikan terkunci, dan meninggalkan satu obor untuk menjadi sumber penerangan, para prajurit tanpa buang waktu bergegas meninggalkan Caroline seorang diri. Putri Edvard itu mengamati sekelilingnya sebelum memutuskan untuk duduk dan bersandar di sudut ruangan. Untuk saat ini, ia akan mengikuti kemauan Svenson, tetapi bukan berarti ia akan diam saja dan membiarkan seseorang mengacaukan Northwind.


.


Mendengar Lady Lin menjadi tawanan istana, para petinggi penyihir kerajaan dilanda kecemasan dan kepanikan, mengingat Caroline memegang posisi sentral sebagai Kepala Keluarga Dellinger yang merupakan golongan penyihir putih terkuat dan tertua di Northwind. Tanpa seorang pemimpin, mereka jelas tidak bisa berkutik, apa lagi mengambil keputusan jika sesuatu terjadi.


Ketika ruang perkumpulan para petinggi penyihir kerajaan riuh dengan segala kepanikan yang ada, pintu ruangan besar berukir naga dan bulan sabit itu terbuka dengan suara keras, para tetua sontak terdiam dan menunduk hormat ketika sosok jangkung sang penguasa berdiri tegak di sana.


Raja Svenson mengamati mereka sekilas sebelum melangkah menuju meja bundar yang terletak di tengah ruangan. Jubah besarnya berkibar pelan dan menyapu lantai marmer dengan angkuhnya. Kedua iris bagai lautan dalam itu menatap tajam para pelindung Northwind.


Di belakangnya, Hanes serta Osca bertindak sebagai pengawal dan berdiri dengan posisi siaga. Svenson melebarkan kedua lengannya, menaruh telapak tangan di atas meja kayu berwarna hitam yang menjadi inti dari ruangan tersebut.


Keheningan menyelimuti bersama suasana tegang di antara mereka tanpa ada satu pun yang berniat memulai pembicaraan.


Sampai sang raja terlebih dulu memecah keheningan itu sendiri.


"Semenanjung Northeast, pelabuhan serta pusat perdagangan terbesar di dunia. Kita akan menaklukannya, menjadikannya sebagai salah satu wilayah Northwind yang akan membawa kejayaan. Karena itulah, aku membutuhkan para penyihir terkuat Northwind untuk menjadi prajuritku, wahai Petinggi Penyihir Kerajaan."


Para penyihir saling lirik, ada gurat keraguan yang jelas tercetak di wajah mereka. Namun, mereka semua tidak ada yang berani mengutarakan pendapat maupun menjawab permintaan raja mereka. Hanes yang memahami situasi segera melangkah mendekat dan menghadap Svenson.


"Maafkan kelancaran saya, My Majesty, tapi seperti yang Anda lihat bahwa sebagian dari kami kurang setuju dengan ide mengerahkan para penyihir terkuat Northwind."


Sebelah alis raja termuda dalam sejarah itu mengerut, "Northeast memiliki prajurit yang rata-rata menguasai ilmu sihir. Bukankah sudah sewajarnya kita melakukan perlawanan yang sepadan? Mata dibalas mata, sihir dibalas dengan sihir."


"Akan tetapi tugas para penyihir terkuat kita adalah untuk melindung kerajaan ini." Hanes berusaha menyampaikan maksudnya tanpa menyinggung perasaan sang raja. "belasan tahun mereka menjaga lingkaran sihir yang menjadi dinding pelindung Northwind. Terlalu berisiko jika mengerahkan penyihir terkuat kita, itu akan melemahkan pertahanan kerajaan ini."


Svenson terdiam, ia tampak tengah berpikir.


Hanes kembali berujar, berusaha membujuk sang Raja untuk tidak mengambil tindakan ceroboh.


"Kita membutuhkan mereka jikalau insiden seperti Woodlands tiba-tiba terjadi saat kita berperang." Namun sayangnya, kalimat bujukan yang Hanes pilih kali ini salah. "saya rasa Lady Lin pasti akan berkata demikian." Sambungnya lagi tanpa menyadari kesalahan yang ia perbuat.


Sorot mata Svenson berubah kelam dan penuh amarah. Hanes yang merasa sang penguasa telah salah menangkap maksudnya mulai berkeringat dingin. Ia hendak meralat kata-katanya, tetapi Svenson telah lebih dulu tersulut emosi.


"Jika peristiwa Woodlands kembali terjadi, maka keputusanku sudah benar! Aku mengutus kalian para petinggi penyihir kerajaan untuk turut andil dalam kudeta Northeast tanpa terkecuali."


"Oh, Yang Mulia, tolong pikirkan kembali segala risiko yang akan kita tanggung nantinya. Lady Lin pasti juga tidak akan menyetujui hal ini."


"Sir Hanes!" suara Svenson yang berat menggema dalam ruangan, membungkam Hanes yang berusaha menghentikannya. "katakan siapa Rajamu, aku, atau si pengkhianat itu?!"


Tanpa pikir panjang, Hanes segera setengah berlutut memberi hormat kepada sang Penguasa Northwind. "Tentu saja Anda, My Majesty. Sumpah setiaku tidak akan pernah goyah hanya untuk Northwind dan Anda seorang!"


"Maka diamlah dan ikuti langkahku!"


"Sesuai permintaan Anda, My Majesty."


Bersamaan dengan jawaban Hanes, para Petinggi Penyihir Kerajaan dan Osca Roscoe segera memberi hormat dengan setengah berlutut pada Svenson. Mereka kini membulatkan tekad untuk mengikuti perintah dari sang Penguasa Kerajaan Bulan Sabit.


Svenson menatap mereka dengan rasa puas, hatinya sempat memanas ketika mereka seakan lebih mengikuti perkataan Caroline ketimbang dirinya. Dia adalah sang penguasa, pemimpin dan raja di negerinya. Sudah sepantasnya semua orang tunduk padanya, bukan pada Caroline yang hanya seorang penasihat.


.......


.......


.......


...bersambung...