The Tale Of Northwind

The Tale Of Northwind
Chapter 6: Kuasa Pertama



Beberapa minggu, Svenson mengamati kinerja parlemen. Bibirnya melengkung sempurna ketika menyadari kesimpulan bahwa dalam tubuh dewan tidak ada suara bulat sempurna.


Kubu oposisi Shamus tampaknya makin banyak terutama setelah ia terang-terangan mengutuk insiden Woodlands yang mana didalangi oleh kedua Dellinger paling berkuasa.


Menyingkirkan keluarga Dellinger dan juga antek-anteknya akan mudah dengan menggalang kekuatan dari kubu sebelah. Svenson menyukai opsi menghinakan Caroline lebih dulu sebelum memenggal kepalanya. Daripada langsung memberi hukuman mati, perempuan itu harus tahu rasanya menderita.


Telunjuk Svenson mengetuk-ngetuk meja. Berpikir cara terbaik beraliansi pada oposisi. Sebaiknya memang harus bergerak cepat sebelum perempuan ahli sihir itu mengetahui rencananya.


.......


Mengunjungi kediaman Lord Damien sama dengan mengibarkan panji perang kepada Dellinger.


Rumah bergaya arsitektur rennaisance itu menjadi saksi bagaimana lihainya Svenson dalam menjembatani usia.


Lord Damien bahkan lebih tua daripada mendiang ayahnya, dan dia bisa membujuk orang tua konservatif itu untuk mendukung gerakan non penyihir yang sedang dicanangkan olehnya.


Svenson meyakinkan orang tua itu jikalau orang seperti Shamus Dellinger dan Caroline Dellinger tidak dibutuhkan di Nortwind. Mereka bisa berusaha sendiri tanpa campur tangan magis apa pun.


"Kita harus bergerak hati-hati." Svenson memberikan mandat, "saya harap Lord Damien bisa merekrut sebanyak mungkin orang di sisi kita."


"Saya akan siap melaksanakannya, My Majesty." Sang bangsawan tua itu menundukkan kepala sebentar sebagai tanda mematuhi sabda raja.


Svenson menegaskan kembali jika gerakan mengggulingkan Dellinger harus dilakukan dengan sempurna. Bersih, terperinci, dan tidak tergesa-gesa. Karena sebuah kehancuran yang indah adalah bukan menghancurkan dalam sekali sapuan, tapi menikmati keruntuhan, satu-persatu hingga mereka mengemis untuk diampuni.


.......


Hidup memang seaneh itu. Hati nurani Svenson belum mampu menerima kabar bahwa Woodlands telah musnah dari peradapan.


Hatinya masih terlalu sakit dan merana. Utusan kerajaan dan Caroline sama saja pembualnya. Ia tak mempercayai siapa pun dalam istana ini.


Karena itulah Osca Roscoe; komandan divisi intelejen dalam negeri datang dan mengetuk pintu utama ruang kerja Svenson.


Lelaki bermasker itu, langsung ingin melepas maskernya yang ditahan oleh Svenson, "Jika kau tidak nyaman harus membuka penutup mukamu, kau bisa terus memakainya."


Osca tersenyum dari matanya, "Terimakasih, My Majesty."


Svenson mengibas tangannya acuh. "Aku tidak akan berbasa-basi, Kapten. Aku ingin kau menyelidiki secara terperinci insiden Woodlands."


Osca diam dan mendengarkan.


"Kau tidak perlu melapor kepada Panglimamu untuk hal ini. Aku langsung menyerahkan mandat ini kepadamu."


"Kau hanya bertanggung jawab padaku. Dan hanya akulah yang berhak meminta informasi kepadamu. Apakah kau mengerti, Kapten?!"


Osca menekuk tangannya ke dada dan menunduk sempurna, "Ya, My Majesty. Saya mengerti dan saya akan laksanakan."


"Bagus." Puji Svenson, "pergilah."


.......


Bau asin dan pekikan camar membaur dalam kebingaran hiruk pikuk pelabuhan Port Pickerel Bay.


Kapal-kapal dagang keluar masuk dalam area itu. Para tengkulak dan juga tuan-tuan yang bertransaksi di sana membuat Port Pickbay sangat sibuk dan maju secara ekonomi. Apalagi musim gugur akan segera berakhir sebulan lagi dan mereka harus menyambut musim dingin.


Lelaki itu ada di sana, duduk di dalam sebuah kedai bir ternama tak jauh dari syahbandar. Ia bukan orang yang terlalu mencolok dengan muka pucat, namun ramah dan penuh dengan senyuman.


Ia lebih dikenal sebagai seorang pedagang tembakau dari negeri yang jauh. Matanya yang sehitam arang dan garis rahang yang kokoh makin mengukuhkan ia seolah bangsawan dari Timur Jauh.


Sejatinya, ia adalah telik sandi dari Northwind. Mengabdi bertahun-tahun pada mendiang sang raja terdahulu. Hingga raja baru mereka memanggilnya kembali secara mendadak di suatu malam.


Rolf Aloysius Marthen masih mengingat detil pertemuannya dengan anak dari Raja Gerardo. Impresi pertamanya adalah Svenson bukan orang yang menyukai proses terlalu lama. Lelaki muda dengan gelar King Heather II itu sangat mudah terpancing, dan enggan bila harus menunggu.


Sang raja yang sekarang lebih menyukai serangan langsung. Sebetulnya, ide konfrontasi langsung head to head antara Northwind dengan Northeast sungguhlah tidak seimbang. Tentu saja secara geografis, Northwind lebih luas cakupan wilayahnya. Pun jika dibandingkan dengan pasukan militer mereka.


Namun Rolf tak ingin gegabah mengambil keputusan apalagi ketika Northeast sedang dalam masa tegang seperti sekarang. Masuknya orang-orang baru di wilayah itu membuat mereka lebih waspada. Apalagi ada desas-desus yang mengabarkan bahwa ada penduduk Woodland yang meminta suaka di tempat itu semakin memancing keingintahuan Rolf, apakah kabar itu hanya angin lalu, atau sebuah jebakan tikus.


Perintah Svenson jelas terngiang di kepalanya; "Temukan kelemahan Northeast segera! Aku tidak ingin menunda serangan ke tanah itu."


"Siap Yang Mulia." Rolf menjawab tanpa ragu-ragu.


"Laporkan berita apa pun yang kau anggap penting. Dan Ingat, kau hanya mengabdi padaku. Kau tidak ada kewajiban melapor pada Panglima Hanes karena kau langsung di bawah perintahku, mengerti?!"


"Saya mengerti. Dan saya siap mengabdi kepada Anda, My Majesty." Sumpah Rolf menggema dalam malam yang dingin.


Tentu saja, dalam bidak catur politik Svenson, menaklukan Norhteast adalah sebuah gebrakan pertama. Jika tanah segitiga yang menjadi syahbandar laut utama itu dikuasai, maka akan banyak pundi-pundi yang dihasilkan oleh Northwind. Semakin kaya, maka raja akan mensejahterakan rakyat dan mempunyai sumber daya militer yang hebat. Yang artinya, kemerdekaan Nortwind dari para penyihir semakin dekat.


.......


...Bersambung...