
"Aku menjual pedang. Bukan informasi."
Caroline merapatkan jemarinya. Ruangan Sir Nicholas terasa panas karena pria itu sedang melebur pedangnya di atas bara api.
Besi yang sudah empuk kemudian dipipihkan sampai mencapai ketebalan yang diinginkan.
"Kalian orang-orang merepotkan. Dan Northwind sama sekali tak mau rugi." Kata-kata Sir Nicholas memancing kurva tertarik di kedua sudut bibir Caroline. Jelas Panglima Hanes tak kan menyiakan kesempatan setelah berhasil mengakuisisi kemiliteran Northeast. Dia merebut seluruh persenjataan mereka, mengubahnya sesuai standar militer Northwind. Pantas kedai si pandai besi ini menjadi serupa gudang persenjataan.
"Menurut Anda, jika aku menolak apa mereka akan membunuhku?"
Caroline menelengkan kepala, meraih sebilah belati dan mengusap badan belati tersebut dengan jari telunjuk. "Ada banyak hal yang menyebabkan seseorang diganjar hukuman mati. Mungkin itu termasuk ...." senyum Caroline mendapat balasan gidikan dari Sir Nicholas.
"Sir, saya ingin membuat yang seperti ini dengan gerigi. Apa Anda bisa?"
Si pandai besi menatap belati yang dipegang Caroline.
"Dari dulu saya ingin memiliki senjata yang unik dan baru pertama dibuat. Hehehe ... bagian ujung yang runcing, bibir pedang yang tajam, lalu punggung bergerigi. Tiga mata pada satu senjata. Itu terlihat hebat bukan?"
"Apa yang ingin Anda ketahui?" jawaban Sir Nicholas cukup mengejutkan.
Caroline mengangguk, "Sepertinya saya memang kurang pandai bersandiwara."
"...?"
"Benda yang seperti saya inginkan tadi, pernah ada yang memesan 'kan?"
.........
Suara tapal kuda membelah siang terik di hutan bambu perbatasan Northeast dengan Northwind.
Ada banyak orang mengunjungi tokoku. Aku lupa wajahnya satu per satu.
Saat angin bertiup, batang-batang bambu saling beradu menghasilkan suara mirip tiupan seruling.
Setapak panjang yang hanya bisa dilalui oleh dua orang ini dia belah sendirian, melaju dengan cepat menuju ibukota Tanah Utara.
Hanya orang-orang yang dekat dengan senjata yang memesan senjata. Pedagang bubur tidak butuh pisau untuk berjualan.
Mungkin lebih dari satu. Aku tidak tahu apakah di luar sana juga ada yang membuatnya.
Caroline semakin yakin dengan kesimpulannya. Belati itu milik Osca.
Sial betul. Si serigala selama ini tangan kanan raja sendiri. Membuat tatanan kerajaan pincang. Dengan sengaja mengadu domba ia dengan raja, dan drama penculikan di malam itu, semua semata-mata ingin membuatnya terlihat bersalah.
Dia memburu Ludger untuk dirinya sendiri. Dan saat aku yang membawa Ludger ke hadapan raja, dia membunuhnya agar nama Caroline Ragnhild Dellinger tetap terlihat kotor.
Caroline meremat kuat tali pelana kuda putihnya. Nyaris putus.
Baginya, Osca tak termaafkan. Dia mungkin menjilat panglima hingga dapat bros pengganti dengan mudah. Cukup kelalaiannya menjaga sang raja, ia tidak akan membiarkan Osca mencuci otak gurunya.
Sebuah anak panah melesat—menancap di kaki kuda putih yang Caroline tunggangi. Melumpuhkan kuda bersurai cokelat itu saat melaju dalam kecepatan tinggi.
Caroline terperosok. Dia jatuh dari kuda dan tubuhnya terpental menghantam tanah dengan keras.
Gaun biru benhurnya kotor oleh debu. Pipinya lebam membiru, dan lengannya terluka.
Iris perak itu mencoba bangkit. Saat dia sadar, puluhan anak panah sudah melesat dari angkasa hendak menghujaninya.
Pertahanan dia buat. Mantra terapal tujuh kata. Kaca biru muncul membentengi serupa payung transparan yang berkali lipat lebih besar.
Kaca biru itu luruh menjadi asap ketika semua anak panah yang coba dihunjam ke dirinya terpental. Caroline memasang posisi siaga.
"Siapa di sana?!"
Hening, kecuali gemeresik daun bambu ditiup oleh angin. Caroline mendecih. Jangan harap bisa bermain-main dengannya.
Kaki Caroline menghentak bumi, merasakan pergerakan dari setiap rambatan yang tercipta. Langkah semut, daun yang terjatuh, dan ... beberapa orang yang bersembunyi di balik rimbunnya pohon bambu.
Caroline merapatkan tangan membentuk formasi segitiga terbalik.
Seketika, orang-orang yang bersembunyi di balik bambu-bambu itu terdorong dengan paksa ke depan. Tubuh mereka menabrak apa saja yang dilalui dan berkumpul membentuk lingkaran menghadap Caroline.
Semuanya mengaduh memegangi perutnya.
"Tentara hitam?" belum gumaman Caroline selesai, jarum kecil entah darimana datangnya menancap di bahu kiri gadis mungil itu. Sepertinya jarum tersebut dibaluri racun yang dengan cepat melumpuhkan persendian. Caroline tak dapat mempertahankan keseimbangannya. Dia terjatuh meski kesadarannya masih penuh.
"Aakh—" sebuah tali dia rasa mengikat tangannya dengan kuat ke belakang. Beberapa kali mencoba sihir meloloskan diri, tetapi tetap gagal. Tali itu kiranya sudah dimantrai.
"Hari ini kau tamat, Dellinger." Suara laki-laki yang tak Caroline kenali terkesan mengejek. Penghinaan terbesar ketika kepalanya diinjak seakan dia sudah menjadi bangkai dan siap dibuang.
Beberapa orang menyentuh tubuhnya. Melemparnya ke dalam kereta barang yang selanjutnya hanya suara langkah kuda dan sayup-sayup tawa yang terdengar.
Kereta kuda ini ditutup rapat sehingga lady tidak dapat melihat apa pun.
.......
.......
Ketika genta pada menara kastil Izarus dibunyikan, penduduk Northwind sudah terlelap dalam tidur. Lampu-lampu padam. Pemukiman berubah menjadi ladang gelita tempat kunang-kunang menari. Sesekali, gonggongan anjing terdengar menyalak; biasa karena ada hewan lain yang melintas di depannya.
Mata Panglima Hanes malam itu entah kenapa belum kehilangan kesegaran. Harusnya lelah menggerogoti raga tuanya usai seharian bekerja. Mengantuk, bukan malah begadang sambil terus memperhatikan paras rembulan.
Tirai dari sutera disibaknya. Jendela dia buka perlahan. Membiarkan angin bersua dengan ruangannya yang telah dihangatkan oleh perapian.
Mata obsidiannya terarah pada pintu gerbang istana. Atensinya fokus. Dia masih menunggu berharap pintu setinggi lima meter itu terbuka dan manampakkan sosok gadis kecil yang sudah ia anggap putri sendiri.
"My Lady ...."
Gadis itu tak kunjung datang. Bahkan hari ini sang panglima sudah berulang kali membuka pintu kamarnya, lalu mengintip sejenak ke kamar sang murid yang hanya dipisahkan sebuah meja dengan pot bunga besar.
Ia berharap mendengar suara gadis itu dari dalam sana.
Tidak biasanya jika bepergian jauh Caroline tak meminta izin.
.......
.......
"Makan!"
Nasi di atas piring plastik disodorkan pada Caroline melalui celah kecil sel tempatnya ditawan.
Seperti belum makan berhari-hari, lady seketika menerkam nasi yang sedikit basi itu dan memakannya dengan lahap meski tangannya tidak bisa digunakan untuk mengambil. Ya, membuka ikatan tali pergelangan tangan Caroline berarti bunuh diri. Tentu saja mereka tak mau mengambil risiko.
Makan seperti hewan liar dan melupakan segala tetek-bengek sikap kebangsawan. Caroline mendekati jeruji sel, seseorang menarik dagunya, menuangkan minuman yang membuat ia tersedak karena masuk ke lubang hidung.
Penampilan gadis itu sudah tak memperlihatkan dia Lady Caroline Dellinger sang Penasihat Agung. Gaunnya telah diganti baju tawanan. Kakinya kotor dan terluka. Luka di lengannya sudah mengering, tetapi lebam di pipi dan tubuhnya masih belum hilang sampai hari ini; hari keempat pasca penculikan.
Si pria bertudung hitam tampak puas mendapati gadis tawanannya hancur. Cara terbaik membunuh musuh adalah membiarkan mereka membunuh dirinya sendiri. Ia hanya bertugas membuat sang lady depresi. Selebihnya, biar gadis itu yang melakukan dengan tangannya.
Si pria berpakaian serba hitam meninggalkan ruang tahanan. Dia mengambil perkamen cokelat yang ditemukan di dalam tas punggung Caroline, hendak menyerahkannya pada seseorang.
.......
.......
...|Kastil Izarus|...
"Apa si Keparat Dellinger itu sudah menemukan istana baru dan mengabdi di sana?!"
Dari ruang kerjanya, iris senada lautan itu memandang Panglima Hanes yang tunduk dengan menumpukan sebelah lututnya di lantai.
Suara menggelegar raja membuat orang-orang yang ada dalam ruangan tersebut ketakutan. Bagaimana the Majesty tidak murka, si Penasihat Agung yang katanya mengabdikan diri untuk negara absen selama seminggu penuh. Bolos rapat-rapat penting, tak hadir dalam jamuan makan, dan minggu ini, belum melakukan afternoon tea dengannya.
Dengan segala kekacauan ini, Caroline harus ada untuk membereskan semua. Di beberapa tempat pecah pemberontakan. Para penyihir tak segan memertontonkan aksi sihir mereka di depan umum.
"Temukan si Dellinger sialan itu. Kau harus menyeret dia kembali, Panglima!"
"Dengan sepenuh hati, My Majesty. Pantang bagi saya kembali sebelum perintah Anda terpenuhi."
.......
.......
.......
"Dekret tak bisa menyegel kekuatan kami!"
"Jangan memancing kemarahan penyihir. Seribu batalion kalian dapat kami lumpuhkan dalam satu kedipan!"
"Penyihir adalah benteng kasat mata negeri ini. Kalian pikir kenapa Northwind mampu terus bertahan, hah?!"
Demo besar-besaran di muka kastil Izarus. Puluhan penyihir melayangkan protes. Jika diabaikan, mereka mengancam akan menghancurkan gerbang istana dengan kekuatan mereka.
Ratusan prajurit sudah siaga. Dari puncak menara, Osca telah siap mengomando.
Sementara itu di pinggiran kota, para penyihir yang lain menyabotase wilayah perbatasan. Beberapa penjaga disekap. Pos jaga dibakar. Mereka mengirimkan surat yang bisa terbang sendiri ke istana.
Di sebuah kedai kopi, seorang barista bahkan menyeduh kopi dengan bantuan sihir untuk melayani tamu. Tak ada gurat ketakutan dari rautnya. Justru yang bertamulah yang terlihat berkeringat.
.......
.......
"Tuanku!"
Hanes menarik tali pengendali kudanya. Seketika, kuda kekar itu berhenti.
Tangan para prajurit spontan membekap hidung. Bau amonia yang pekat masih tercium meski mereka mengenakan kain penutup wajah.
Berbeda dengan para prajurit yang enggan mendekat, Panglima justru turun dari kudanya dan mendekati bangkai kuda putih yang tergeletak satu meter di hadapan mereka. Menurutnya, kuda yang mulai membusuk itu sangat familier.
Di badan kuda berurai cokelat tersebut mulai ditumbuhi belatung. Dari kaki yang membiru, Hanes dapat menebak apa penyebab kematiannya. Racun dari jarum kecil yang masih menancap.
"My Lady ...."
Hanes mencium cincin bertahtakan permata yang melingkari jari tengah tangan kanannya. Membentuk kepulan asap yang memunculkan kupu-kupu putih bersayap lebar.
"Terbang dan bimbinglah kami ...."
Sesaat, kupu-kupu tersebut terbang rendah dan berlabuh pada kepala kuda putih yang sudah menjadi bangkai. Lalu, sayap keemasannya mulai terbang tinggi.
Hanes buru-buru menaiki kudanya. Disusul para prajurit yang menciptakan suara lari kuda seirama.
"Tunggu aku, Lady ...."
.
.
"Mungkinkah Lady Caroline ada di tempat ini?"
Hanes memberi titah kepada pasukannya untuk tak banyak bicara. Tangan yang diacungkan ke atas cukup membuat atmosfer di halaman bangunan tua yang sebagian runtuh ini mendadak hening. Suara dapat membuat eksistensi mereka disadari musuh. Hal yang sangat terlarang dalam dunia perang.
"Ma-maafkan saya, Panglima ...." Seorang prajurit menganggukkan kepalanya pelan.
Hanes turun dari kuda, dan kupu-kupu putih itu masuk ke dalam bangunan.
Dari iris obsidiannya yang dapat menerawang ke balik tebalnya dinding, Hanes tak melihat seorang pun penjaga. Tempat ini seperti sengaja ditinggalkan. Antara mereka ceroboh, atau percaya bahwa ini tempat paling rahasia di Northeast.
"Masuk." Hanes memberi titah yang selanjutnya. Para pengawal seolah tahu apa yang harus mereka lakukan. Segera berlari membukakan jalan bagi junjungannya.
Bangunan yang mereka masuki menyerupai bekas gereja dengan kubah tinggi berhias lukisan malaikat-malaikat kecil bersayap. Didominasi kaca berwarna biru dan bata merah yang belum dipoles. Mungkin sebelum hancur, bangunan ini baru setengah jadi. Namun sungguh, ini bukan bagian korban dari peperangan Northwind dan Northeast beberapa waktu lalu. Bangunan ini ... baru pertama kali Hanes menginjaknya.
"Lady!"
Teriakan seorang prajurit menyadarkan Hanes dari fragmen-fragmen kecil yang sesaat melintas di kepalanya. Melihat murid kesayangannya dalam keadaan yang tak semestinya, seketika darah Hanes mendidih. Dia bersumpah demi Dewa yang sudah membuat Northwind berjaya, akan mencabut nyawa siapa saja yang sudah membuat sang Lady seperti ini.
Tangan Hanes gupuh menggapai rantai yang membelenggu pergelangan kaki putri kesayangannya. Matanya memanas. Hatinya tercubit, lebih sakit dari luka yang pernah ia dapat di medan pertempuran.
"My Lady ... My Lady!"
Mantra membuat besi berkarat yang mengunci pergerakan Caroline mencair. Tangan kekar itu menggapai pipi gembil yang dulu terasa sangat halus dan kini berubah kusam. Iris jelaganya menatap bingkai lavendel pucat yang terlihat kosong.
"My Lady ...?"
".... My Lord," ucap Caroline pelan.
"Kita akan pulang. Kita pulang, Lady."
Hanes mengangkat tubuh Caroline. Membopongnya keluar bangunan menuju kuda mereka.
.......
.......
.......
Ada dengus keluar dari embusan napasnya. Langkahnya bergerak lebih cepat, sampai-sampai prajurit yang mengawalnya dari singgasana kesulitan mengekor.
Mata pria itu memerah. Dia sudah tidak sabar ingin mendengar pembelaan macam apa yang akan dilontarkan si penasihat Northwind usai seminggu kabur dari istana.
"CAROLINE!"
Tanpa menunggu para prajurit bertindak, Svenson membuka sendiri pintu kamar gadis itu. Suaranya menggema. Membuat sang panglima yang tengah menuangkan air di atas nakas menoleh.
"... My Majesty?"
Tak menjawab, satu-satunya fokus adalah perempuan yang terbaring di tempat tidur.
Entah apa yang dia pikirkan, tiba-tiba Svenson berlari mendekat dan menarik leher gaun Caroline.
"Kau mau kabur, hah?!"
Tak memedulikan kondisi gadis itu, tarikan Svenson justru semakin kuat.
"Jelaskan apa yang terjadi!"
"My-My Majesty ...!"
Hanes mencoba memenangkan Svenson dengan hendak memegang bahunya. Namun, lelaki itu menepis.
Svenson justru menarik dagu Caroline.
"Memar ini ... di mana kau mendapatkannya? Apa aku pernah mengizinkanmu terluka?!"
Suara Svenson yang kalap kian menggelegar. Menciptakan aura mencekam, sekelam badai di awal hari.
"Jawab pertanyaanku atau aku tidak akan pernah mencabut dekretku! SIAPA KEPARAT YANG SUDAH MEMPERMALUKAN PENASIHAT AGUNG NEGERI INI?!"
.......
.......
...Bersambung...