
...| Tujuh jam lalu, alam bawah sadar Caroline |...
Caroline terbangun. Hal pertama yang dia lihat adalah atap kayu penuh celah. Terdapat lebih dari sepuluh lubang di beberapa sisi secara acak.
Dia masih dalam proses mengingat ketika tiba-tiba kakinya menapak ke tanah. Dan kini dia sadar bahwa tubuh yang sekarang dia tempati bukanlah miliknya, melainkan milik seorang anak kecil. Membuat pandangan mata Caroline menyusut. Dia hanya bisa melihat apa yang anak itu lihat, yang artinya kutukan dari Mantra Vodoo; Alteram telah berhasil.
“Aku keluar. Sarapan ada di meja.” Seorang wanita berteriak.
“Ingatlah ini; jangan bermain atau menangkap burung pegar di dekat desa!”
“....”
“Aku anggap kau paham.”
Caroline merasakan bibirnya menghela napas. Anak kecil itu duduk di meja, sama sekali tidak bersuara atau menggerakkan kepala. Caroline hanya bisa melihat dan bergerak sesuai anak itu.
Dia tidak menemukan petunjuk apa pun. Semua terasa begitu normal. Anak itu pergi ke luar rumah, berjalan menuruni gunung.
Caroline tahu tempat ini; sebuah reruntuhan di abad sebelum Masehi. Ancient Louen, yang di era Raja Gerardo diratakan menjadi tanah kemudian ditanami ulang dengan pepohonan.
Anak itu bersiul, memegang salah satu dahan pohon sambil menjorokkan tubuhnya ke bawah. Memanggil kawanan burung pegar.
Dan yang membuat Caroline terkejut adalah bagaimana anak itu membawa angin demi mempermudah para pegar untuk datang.
“Ventus Ferebat.”
Sebuah sihir kuno. Sihir penakluk angin, di mana kini hanya satu orang yang bisa mengendalikannya secara sempurna.
“My Lord!”
Kepala Caroline serasa dihantam. Pusing menderanya. Dia merasa limbung seiring pandangan yang mengabur.
.
“Barat daya. Dua minggu lagi dimulai dari kemarin.” Ujar seorang pria berjubah keemasan berlambang naga. Duduk memandang wanita berambut putih di depan dengan kesan menuntut.
“Anda bergerak sangat cepat setelah penjatuhan yang kedua. Apakah baik-baik saja dengan jeda seperti ini?” wanita itu mengusap meja, tampak tak acuh.
“Aku rajamu. Ingat ini baik-baik, Tarowina.” Si pria mencengkeram kedua tangan, mengatupkan gigi rapat-rapat. Dia sedang tidak memiliki waktu untuk berdebat. Northwind harus segera berperang.
“Aku tidak bekerja pada seorang raja, melainkan seorang yang memiliki peluang berada di puncak. Anda pasti tidak melupakan ini, bukan?” mata Tarowina Ursula tak berkedip, menegaskan bahwa di hadapannya bukan raja yang berkuasa, melainkan dirinya.
“Tidakkah aturan main ini mudah, My Highness?” Tarowina tersenyum. “lihatlah tumbuhan liar ini. Mereka hanya dipetik oleh orang yang tidak takut teracuni. Karena tidak semua yang liar itu beracun, bisa jadi bekerja secara sebaliknya.
"Ulur waktu sampai satu bulan, maka kemenangan akan ada di pihak Anda, My Highness.” Ujarnya tegas.
Sang Raja Northwind, The Highness Gerardo Heather Locko memejamkan mata. Menahan diri untuk tidak memuntahkan racun dari mulutnya pada penyihir hitam Tarowina.
.
Caroline meragukan bahwa tubuh yang terkena kutukan Alteram adalah sang Jenderal Northwind, Panglima Hanes. Dia masih belum paham, mengapa dan bagaimana Hanes melakukannya, mengingat pria itu menasbihkan diri pada Northwind sejak lama.
Namun, setelah apa yang baru saja dia dengar, itu tak ubah membuatnya lebih tercekat. Dia memang tidak melihat secara langsung karena Hanes memilih bersembunyi. Mendengarkan pembicaraan sambil memainkan angin di ujung jari, seolah-olah sudah sering menghadapi situasi ini.
“Apa yang sebenarnya My Highness telah lakukan? Bagaimana beliau dengan Tarowina—”
“—dan My Lord saling berhubungan?”
Seingatnya, Tarowina Ursula adalah nama penyihir yang telah mengutuk The Majesty jauh sebelum kelahirannya. Menyebabkan sang ratu mangkat pasca melahirkan.
Namanya bahkan dilarang disebut, seolah hanya dengan itu saja semua orang akan berkedut ketakutan. Dalam dunia sihir hitam, terdapat empat golongan di mana Tarowina menempati peringkat Devastation—menyebabkan penderitaan, kehancuran pada dunia fana.
Jika saja ini adalah tubuh aslinya, Caroline pasti tidak bisa berdiri. Kepalanya mematik dengan cara mengerikan. Bahkan dia tidak berani menyuarakan pikirannya, kalau-kalau apa yang dia pikir adalah benar.
.
“Beliau datang lagi?” Hanes memasuki rumah, mengambil tanaman liar di atas meja.
“Dan kau menyelinap lagi?”
“Hanya di pinggir, setengah mil dari desa. Itu tidak benar-benar dekat.”
Tarowina menghela napas, sekali lagi mengusap meja. “Hanes, usiamu sudah dua belas. Dan aku bukan seseorang yang ingin membesarkan seorang anak.”
“Aku tidak pernah menginginkan Ibu, aku hanya ingin kekuatan untuk diriku sendiri.”
“Kau sudah mendapatkannya, apa lagi?”
Hanes yang semula hendak memasukkan tanaman ke panci mendidih, diam sejenak.
“Jika kau ingin bermain-main, bukan di sini tempatnya.”
Ucapan Tarowina mengenai sasaran. Dia; Hanes memang memerlukan sesuatu untuk mengasah kekuatannya. Namun, satu-satunya guru malah berjalan ke arah sebaliknya.
“Hentikan pemikiranmu!” Tarowina menggeram.
“Memang apa yang sedang aku pikirkan?” Hanes menyahut, jelas memancing.
“Akhir-akhir ini banyak pembunuhan gadis di desa. Masing-masing dari mayat mereka ditemukan memiliki lubang di bagian dada di mana jantung mereka telah diambil.”
Wajah Hanes mendingin. Genggamannya pada spatula kayu mengerat. “Mengapa Anda mengatakan ini padaku? Apa yang sebenarnya Anda ingin katakan?”
Tarowina tersenyum culas, menatap Hanes dengan pandangan sulit diartikan. “Sihir hitam memangkas umur penggunanya. Dan dengan keadaanku yang sekarang, aku tidak akan bertahan lama kecuali mengekstrak jantung seorang perempuan,
Semakin bagus kualitasnya, semakin lama waktuku bisa bertahan.”
Hanes tertawa, tergelitik dengan kesimpulan yang Tarowina buat. Wanita itu baru saja mengatakan bahwa dia sengaja membunuh demi dirinya?
“Omong kosong macam apa ini, Guru. Anda bukan seseorang yang perlu dikasihani. Untuk apa aku melakukannya?”
“Tepat sekali! Jadi jangan membuang energi sihirmu untuk hal-hal yang belum tentu aku puji!”
Caroline tertegun. Pembicaraan barusan seolah-olah seperti tawar menawar dengan jantung manusia. Dari gestur Hanes, Caroline tahu bahwa dia tidak melakukannya semata-mata untuk adu adidaya, melainkan Hanes menginginkan kehidupan panjang Tarowina demi dirinya sendiri. Sesuatu yang bisa Carolibe sebut sebagai—pengabdian.
Dia baru saja menemukan kepingan penting, ketika kepalanya lagi-lagi terasa pusing. Jiwanya seperti tersedot secara paksa dan dihempaskan dengan kecepatan sepersekian detik.
.
“Berjayalah! My Highness!”
“Dewa Matahari memberkatimu!”
Suara bising menyapu pendengaran Caroline. Dia membuka mata serentak, sadar bahwa waktu ini sudah terlampau jauh dari kejadian sebelumnya.
The Highness, Gerardo Heather Locko baru saja pulang dari medan perang membawa kemenangan. Menurut para warga di sekitar, ini adalah kemenangan kesepuluh sejak diangkatnya beliau menjadi raja. Namun, tidak sedikit pula dari mereka yang berbisik, ini adalah kekejaman yang kesepuluh. Wilayah-wilayah yang Gerardo taklukkan, sebelumnya adalah sekutu. Tidak pernah ada konflik atau pertikaian hingga membuat Gerardo harus menundukkan mereka.
Caroline belum pernah mendengar ini. Para penasihat kerajaan; Dellinger tidak mungkin membiarkan hal ini kecuali jika mereka dibungkam. Dan setahunya, perluasan wilayah Northwind adalah salah satu cara menuju persamaan pendapat, kemakmuran. Bukan penindasan.
Dia ingin sekali maju ke depan, melihat lebih detail, tetapi tubuh Hanes berbalik pergi meninggalkan kerumunan arak-arakan. Mengambil sebuah kertas yang tertempel di dinding gang sempit dan membawanya pergi.
Pendaftaran Prajurit Kerajaan.
Sebuah kejadian yang mengubah momentum kehidupan milik Hanes selanjutnya.
Saat genderang ditabuh dan pintu gerbang istana dibuka, dia berjalan mantap percaya diri bila hari itu hanya dirinyalah satu-satunya calon prajurit yang berpotensi. Bahunya yang lebar berjalan tegap, setelah melalui sejumlah seleksi yang rumit, benar saja, Hanes diangkat menjadi prajurit muda pertama sepanjang sejarah Northwind. Tiga belas tahun.
Caroline paham, mengapa Raja Gerardo tidak mengenali Hanes. Bukan karena kepura-puraan, melainkan karena beliau memang tidak tahu.
Sekarang, Caroline juga mengerti mengapa Hanes mendapat julukan penguasa malam dari utara. Dia adalah pria penyimpan banyak kemampuan yang bergerak cepat bagai sapuan angin malam. Karena sejak Hanes bergabung menjadi bagian dari kerajaan, Northwind semakin tangguh secara militer. Bela diri, sihir, siasat, semua rapi tanpa celah. Membuat Gerardo memberikan pangkat kenaikan menjadi Jenderal pangkat satu hanya dalam kurun waktu satu tahun.
Hanes yang dulu, berbeda dengan Hanes yang sekarang Caroline kenal. Hanes muda adalah sosok ambisius, sedang Hanes di masa kini adalah pria paruh baya yang beraura kebapakan dan selalu berada di sisinya. Guru tempat dia belajar, bukan pengabdi sang penyihir hitam.
Namun, fakta lagi-lagi menamparnya. Caroline dibawa dalam ingatan Hanes ketika Ratu Briana mengandung. Enam tahun kemudian.
.
“My Highness, selamat atas anugerah yang telah langit berikan.” Hanes tersenyum, menumpukan satu lututnya ke lantai. Menyilangkan tangan, memberi hormat pada Yang Mulia Gerardo dan istrinya.
“Sir Hanes, bangunlah! Jangan menunduk seperti itu di tengah kabar bahagia ini!” Gerardo tertawa, bungah. Dia membantu Hanes berdiri dan menepuk-nepuk bahunya, “kabarkan kebahagiaan ini ke seluruh penjuru negeri! Northwind sedang bersuka cita.”
Hanes mengambil satu langkah mundur. Sekali lagi memberi penghormatan.
Hari itu juga, kembang api diluncurkan dari menara tertinggi kastel Izarus. Trompet ditiup dan lonceng dibunyikan. Sebuah pesta rakyat akan segera diadakan.
.
Embusan kabar gembira sampai ke telinga Tarowina. Penyihir hitam itu tak kalah bungah. Ini artinya, apa yang dia inginkan akan segera datang.
Hanes dalam balutan jubah jenderal mendatanginya. Membawa satu karung gandum dan uang.
“Kau sudah kaya rupanya, Sir Hanes.” Tarowina tersenyum culas.
“Apa pun yang aku miliki adalah milik Northwind.” Hanes tertawa sumbang.
Caroline terdiam. Cara Hanes tertawa barusan, sangat jelas bahwa pria itu tidak menginginkan dirinya mengabdi selain ke gurunya.
Tarowina menuangkan secangkir teh untuk Hanes yang duduk sambil mengeratkan genggaman. “Minumlah, kau terlihat tidak baik-baik saja.”
Satu gebrakan membuat cangkir teh tersebut jatuh. Hanes berdiri, menyorot tajam seiring deru napasnya yang memburu. “Seratus lebih kemenangan dalam delapan tahun. Berapa Anda dibayar?!”
“Menurutmu berapa? Tidakkah kau yang paling tahu pasti angkanya?” Tarowina mengangkat cangkir, memandang air teh yang memantulkan wajahnya. “aku tahu kau mengetahui ini sejak awal dan memutuskan memastikan semuanya,
Kau pikir aku tidak tahu kau kemanakan jantung-jantung itu?”
Hanes menggertakkan gigi, memejamkan mata; menahan diri untuk tidak bertindak jauh lebih kurang ajar.
“Aku tahu dengan apa yang aku lakukan.
“Lalu, imbalan apa yang Anda dapatkan? Apakah Raja Northwind bisa membayar dengan harga yang lebih mahal?”
“Sangat mahal.”
Hanes mengernyit, “Jangan katakan! Menurutmu, aku siapa? Kau sendiri yang mengatakan bahwa aku tidak pantas dikasihani, dan aku memang tidak pernah ingin seperti itu—"
Tarowina buru-buru memotong perkataan, menarik bibir menjadi segaris tipis. “My Highness mengetahui ini?”
Tatapan Hanes berubah. Ada gurat kewaspadaan di sana.
“Menurutmu?”
Mata hitam Hanes menyipit, menerawang jauh ke depan. “Berapa lama lagi?”
“Sebentar lagi. Semua tergantung dia. Jika kejayaan telah berada di tangannya, maka saat itu pula kutukan timbal balik akan berlaku.”
Hanes memejamkan mata sekali lagi. Pesta rakyat. Puncak kebahagiaan sang Raja keempat belas Northwind.
Caroline lebih dari terkejut. Jika saja ini tubuhnya, kedua matanya pasti menyorot nyalang dan tangannya sudah merapal kutukan bunuh diri pada Hanes saat ini juga.
Kutukan timbal balik adalah hukum dari sihir hitam. Jika usia pengguna berkurang, maka dia memerlukan tumbal demi mengembalikan usianya.
Dalam kasus ini, Raja Gerardo mendatangi Tarowina demi satu hal; kejayaan. Namun, harga yang beliau bayar jauh lebih mahal. Tawar menawar jantung, dan jantung yang Tarowina maksud tak lain tak bukan adalah milik sang permaisuri; Briana Henrike Dorothy.
Agaknya, The Highness luput dengan hukum ini. Beliau menggunakan sihir hitam tanpa tahu konsekuensinya. Entah bagaimana cara Tarowina, dia yang menipu atau Raja Gerardo yang ingin membodohi kemudian ditusuk balik. Caroline tidak tahu.
Namun, satu hal yang pasti, yang menjadi kesimpulannya sejak awal. Bahwa kemunduran dan apa yang terjadi di Northwind sekarang, adalah buah dari apa yang pendahulunya lakukan.
Kesalahan yang tidak mungkin ditambal hanya dengan satu nyawa.
.
“Semoga langit memberkati!”
“Semoga My Highness dan keturunannya diberkati!”
Bendera dinaikkan. Para rakyat Northwind riuh. Halaman istana sampai sepanjang jalan ibukota penuh. Orkestra dan nyanyian kejayaan mengiringi di setiap senyum kebahagiaan.
Kupu-kupu sihir berbagai warna beterbangan, menaburkan serbuk gemerlap yang memenuhi udara.
Gerardo dan sang istri melambai, memberitahu betapa bahagianya mereka. Namun, seperti yang Tarowina katakan, kutukan timbal balik akan berlaku ketika kejayaan berada di genggaman Gerardo.
Pesta rakyat belum berada pada puncaknya ketika Ratu Briana tiba-tiba jatuh pingsan.
.
Tabib istana baru saja keluar dari kamar sang permaisuri. Bibirnya pucat. Dia merasa apa yang akan dia katakan adalah sesuatu yang salah.
Tabib itu menunduk, menyilangkan satu tangan di dada.
“Bangunlah, dan katakan bagaimana keadaannya?” Gerardo tersenyum tegar.
“My Highness,” sang tabib ketakutan, dia menelan ludah sambil mengusap telapak tangan secara bergantian sebelum melanjutkan, “Yang Mulia Briana berada dalam kondisi tidak baik. Saya tidak tahu apakah beliau menyembunyikan—” dia memberi jeda, menatap sang raja.
“—ini sebelumnya.”
“Apa yang ingin Anda katakan?”
“My Highness, Anda boleh tidak percaya dengan apa yang akan saya katakan, tetapi ... Yang Mulia Briana—
“—jantungnya telah melemah.”
Gerardo terenyak. Dia belum sempat bereaksi ketika sang tabib kembali melanjutkan, “Ini tidak akan bertahan lama mengingat penyakit ini bukan sembarang penyakit. Bahkan jika Anda mengerahkan seluruh tabib terbaik dari seluruh negeri, penyakit ini mustahil dapat diobati.”
Kedua tangan Gerardo melemas. Tubuhnya nyaris terhuyung.
“My Highness ....” Caroline menatap dengan sejuta perasaan. Dia tidak tahu apakah harus berduka, bersimpati, atau kecewa pada Raja Gerardo.
Ketamakan telah membutakannya.
Hanes yang berdiri dari jauh, memilih membutakan mata. Dia pergi tanpa berniat mendatangi sang raja atau sekadar bertanya keadaan permaisuri. Yang perlu dia lakukan adalah, membuat Gerardo sebisa mungkin tidak menyadari letak kesalahan fatalnya.
.
“Sir Edvard, apa yang harus aku lakukan?” Gerardo frustrasi. Seharian ini tidak ada satu pekerjaan pun yang disentuh. Dia hanya memegangi kepalanya seraya menerawang, mengingat-ingat kilasan yang sudah terjadi. Sesuatu yang luput.
“Jika Anda berkenan, bolehkah saya memeriksa Yang Mulia Briana?”
“Untuk apa? Penyakitnya tidak bisa disembuhkan.”
“Izinkan saya memeriksa, kalau-kalau ada kejanggalan.”
Gerardo mengangguk, dia tidak lagi memiliki tenaga untuk berdebat dengan sang penasihat kerajaan; Edvard Faas Dellinger.
Terlepas dari izin tersebut, Edvard memeriksa denyut nadi Yang Mulia Briana. Satu sentuhan yang membuat kedua mata Edvard membeku.
Kutukan timbal balik.
Edvard memandang sang permaisuri; tidak percaya bahwa beliau terkena sihir hitam. Padahal, Dellinger tidak pernah mendeteksi datangnya, kecuali hanya jika ada seseorang yang menumbalkannya.
Di sini, tidak perlu ditanya karena Edvard tahu siapa yang sudah melakukannya. Baik secara sadar ataupun tidak sadar.
Edvard hendak membuat salinan gugusan sihir tersebut di perkamen ketika pintu tiba-tiba diketuk. Hanes masuk membawakan obat.
“My Lord, apa yang Anda temukan?” Hanes berujar penuh perhatian, meletakkan baki di nakas.
“Tidakkah Anda merasakannya, Sir?”
“Ini terlalu kuat, meski saya bisa merasakan, saya tidak akan tahu kapan dan bagaimana ini bisa terjadi.”
“Benar. Ini memerlukan waktu untuk mengurai sihir dan menerjemahkannya hingga menjadi lebih spesifik.”
Hanes membeku. Dia tidak tahu bahwa kekuatan Lord Edvard sampai tahap itu. Ini artinya, tinggal menunggu hari sampai Edvard tahu siapa yang telah melakukannya.
Sementara jiwa Caroline berkaca-kaca. Ini kali pertama dia bisa melihat sang agung Edvard Dellinger; ayahandanya. Jika dia tidak salah perhitungan, kejadian ini adalah beberapa bulan sebelum hari pengorbanan. Yang artinya, sebentar lagi akan terjadi guncangan.
.
Benar saja. Setelah Edvard berhasil menguraikan gugusan sihir, dia membawa bukti-bukti konkret di atas perkamen yang telah disahkan oleh para penyihir putih Dellinger.
Sebuah pukulan telak.
Di hadapan penasihat kerajaan, Jenderal perang dan ketua parlemen, Gerardo bersujud. Meminta pengampunan serta memohon demi keselamatan istri dan calon anaknya.
“Kami tidak bisa melakukan apa pun pada kutukan tersebut.” Ucap Edvard dengan nada bersalah. “Namun ... kami bisa memperlambat waktunya, paling tidak sampai proses melahirkan.”
“Sir Edvard ... katakan apa maumu? Aku akan memberikan apa pun asal mereka selamat.” Gerardo mengiba, tidak memedulikan harga dirinya lagi.
“My Highness, izinkan saya bertanya,” Edvard mencengkeram jam analognya, meminta kekuatan.
“Mengapa Anda melakukan semua ini? Saya menyetujui kebijakan Anda dengan memperluas wilayah demi kemakmuran, tetapi saya tidak tahu bahwa Anda—” Edvard tidak melanjutkan kalimatnya, tidak sanggup.
“Kau benar. Ini salahku. Dan sekarang aku memintamu memperbaikinya.” Mata Gerardo memerah. Dia merasa telah dicurangi kemudian diludahi tepat di wajah. Tarowina sudah membodohinya demi keuntungan pribadi.
Embusan napas panjang terdengar dari bibir Edvard. Dia tahu apa yang sedang sang raja pikirkan. “My Highness, meskipun pemilik mantra mencabutnya, bukan berarti Anda bisa mengembalikan sama besarnya.”
Jika Edvard ingin mengatakan bahwa membunuh si pemilik mantra bukan jalan satu-satunya, maka Gerardo mengartikan bahwa dengan membunuh Tarowina akan membuat usia Briana bertambah.
Maka hari itu juga, tepat ketika matahari berada di atas kepala, dekret Raja keempat belas Northwind dibuat; pengepungan Ancient Louen, membunuh penyihir hitam Tarowina dan meratakan tempatnya dengan tanah.
.
Hanes memimpin pasukan terbaiknya bersama para penyihir putih Dellinger menuju Forgotten Mountain, Ancient Louen.
Pasukan berkuda yang dilengkapi berbagai senjata, keluar gerbang ibukota malam ini juga.
Hanes kalut. Dia belum sempat memberi peringatan pada sang guru ketika The Highness memberikannya sebuah mandat. Sebagai seorang panglima, menjalankan tugas adalah sumpahnya. Namun, sebagai seorang murid dan anak didik, menyelamatkan Tarowina merupakan kewajiban.
Dia bisa saja membunuhi semua pasukan, tetapi dengan banyaknya para Dellinger, itu sama saja dengan bunuh diri.
.
“Lux Meteorum!” para Dellingermenggambar bintang dengan jari di udara tepat ketika matahari mulai meninggi. Menyebabkan langit memunculkan gugusan Array serupa. Kemudian, hanya selang sepuluh detik, hujan cahaya turun dari langit. Menghantam hingga tanah bergetar.
Pasukan Hanes menyebar ke seluruh bagian pegunungan. Memblok siapa pun yang berani lewat.
“Buat formasi!” Edvard berteriak lantang. Para penyihir putih Dellinger menyebar menuju titik masing-masing. Bersiap membuat mantra penghalang.
Gurindam magis berkumandang, aliran-aliran kekuatan sihir mulai membentuk sebuah Array berbentuk Pentacle. Ketika Array tersebut sudah dipenuhi kekuatan, di tengah-tengah muncul cahaya yang menembus awan. Pecah dan jatuh membungkus reruntuhan Ancient Louen.
Tepat saat mantra penghalang aktif, sebuah pedang tiba-tiba menghunus, menyayat para penyihir dengan kecepatan angin.
Tarowina memanggil kembali pedangnya. Muncul di antara kepulan asap bekas hujan cahaya.
Para Dellinger.
Tarowina mendecih. Ini artinya sang raja telah berkhianat. Meraup keuntungan darinya kemudian membuangnya seperti sampah tanpa memberikan seteguk air sekadar untuk membasahi lidah.
Melihat Tarowina, mata Gerardo memanas. Dia memerintahkan Edvard untuk mengakhiri ini secepatnya.
Namun, Tarowina tidak bodoh untuk tidak membuat persiapan sebelum hari ini terjadi. Dia meletakkan kedua jari di bibir dan membuat suara.
Seketika, tanah tempat para penyihir putih membuat formasi, bergetar. Energi kebencian menguar di udara, menekan lawan dengan cara memengaruhi hati terdalam; tempat di mana kebencian manusia bersemayam. Kekhawatiran, ketakutan, menggerogoti dari dalam, membunuh secara tidak sadar.
Teriakan dan aungan mulai terdengar. Formasi memiliki celah karena mereka tumbang satu per satu. Mirisnya, energi yang Tarowina gunakan tidak hanya sekadar meruntuhkan. Korban yang terkena, mencekik leher mereka sendiri hingga mati.
“Berpencar! Lindungi My Highness!” teriak Edvard Waspada.
Tarowina tersenyum. Dengan hancurnya formasi dan penghalang, maka akan mempermudahkannya mengumpulkan pasukan. Jika Gerardo melawannya dengan para Dellinger, maka dia memiliki tentara setia yang kekal, tidak bisa mati.
Lagi. Teriakan yang menyakitkan telinga terdengar. Baik Edvard dan Hanes tak kalah tercekat. Tarowina membangkitkan mereka yang mati, mengendalikannya untuk menyerang balik.
Parahnya, di antara kekacauan, tanah mulai terbelah. Tangan kotor, tubuh membusuk yang terkesan tidak utuh, keluar. Mayat hidup berteriak dengan frekuensi mengerikan.
Sekumpulan tentara mayat. Yang lebih mencengangkan, itu tidak hanya berasal dari tanah, melainkan desa sekitar. Yang artinya, Forgotten Mountain telah berubah menjadi tanah pemakaman. Berjumlah tiga kali lipat dari tentara Northwind.
Dalam hitungan menit, pasukan Hanes tercerai berai. Mayat-mayat ganas itu membunuh, memangsa, kemudian ikut membangkitkan. Menjadi kawanan pasukan Tarowina yang lain.
Ini buruk. Para Dellinger sudah melakukan penebasan berkali-kali, merapal mantra, tetapi mayat hidup itu semakin banyak.
Edvard perlu menyingkirkan kawanan mayat itu untuk bisa mendekati Tarowina demi membalik keadaan.
“My Lord, majulah! Biar aku yang mengurus di sini.” Hanes menarik pedang.
Edvard tampak berpikir, dia tidak mungkin membiarkan Hanes dalam bahaya.
“Percayalah padaku, Lord Edvard. Aku akan melindungi My Highness dan kembali pada Anda dengan selamat!” sumpahnya.
Edvard maju, menebas kawanan mayat hidup dengan sihir anti pembangkit. Menyisakan Hanes yang mulai dikepung oleh sekumpulan dari mereka.
Hanes membuat mantra pelindung untuk Gerardo tepat sebelum dia diterkam.
Pria itu tidak tahu bagaimana Tarowina bisa sampai seperti ini. Padahal beberapa waktu lalu dia masih melihat penduduk desa di kaki gunung. Namun, hanya dalam hitungan hari semua berubah menjadi mayat. Bahkan tanah yang dia pijak, Ancient Louen tak ubahnya pemakaman massal.
.
| 24 jam sebelum pengepungan |
Malam hari. Tarowina baru saja membersihkan kedua tangannya di hilir sungai, menghilangkan noda darah yang mengotori tangan.
Mengekstrak jantung perempuan, memotong tubuh korban dan menguburkan secara terpisah.
Dia berdiri ketika semilir angin membawakan sebuah berita.
Pergerakan menuju Ancient Louen.
Dia membelalak. Dengan desiran angin seperti ini, esok sebelum fajar, mereka pasti sudah sampai. Tidak banyak waktu untuk mengumpulkan kekuatan.
Jadi, malam itu juga, sebuah pembantaian massal telah membersihkan seluruh desa di bawah Forgotten Mountain. Satu mayat membunuh mayat lain hingga seluruh penghuni desa telah berubah menjadi kawanan mayat ganas.
Tak tanggung-tanggung, Tarowina bahkan menggali kubur. Merajut ulang tubuh yang telah dia mutilasi. Memindahkan seluruh jenazah dalam satu liang di dalam lubang yang dia buat di Ancient Louen menggunakan sihir. Menutupi mereka kembali dengan tanah. Menaburkan bubuk racun sihir tanpa warna ke udara. Yang dapat menyebabkan saraf penghantar sihir terganggu, hingga yang paling fatal adalah rusaknya sirkulasi sihir di tubuh. Kecemasan, kekhawatiran dan ketakutan. Manipulasi.
Membuat mantra pemanggil kejahatan, menyerapnya kemudian menanamkannya ke lubang tersebut. Bercampur dengan perasaan benci dari masing-masing jenazah yang rata-rata mati akibat pembunuhan.
.
Pertarungan sengit pun terjadi. Kilatan sihir hitam dan putih saling beradu. edvard mengadu mata pedangnya dengan pedang hitam Tarowina.
Pedang Tarowina diselimuti kabut hitam. Sulit bagi Edvard untuk mencari celah guna mematahkannya. Karena satu goresan sangatlah fatal.
Terlalu fokus menangkis pedang, Edvard tak sengaja menginjak mayat ganas penyihir putih. Mayat tersebut sudah tidak berbentuk. Kemungkinan Hanes menebasnya menjadi potongan-potongan kecil, menyisakan kepalanya yang utuh.
Edvard memejamkan mata dengan aura mengerikan. Jelas dia marah. Dan dia mulai memantrai ulang pedang agungnya dengan darah, membuka segel mematikan Dellinger.
Edvard menyerang dengan kecepatan angin. Mulai membabi buta.
Kemenangan pasti sudah di depan mata Tarowina kalau Hanes tidak menangkis tangannya yang hendak melubangi dada Edvard dengan ujung pedangnya.
Sejak kapan?!
Baik Edvard dan Tarowina menoleh ke belakang hanya untuk melihat kawanan mayat ganas yang sudah digerus hampir separuh lebih.
Pengkhianatan kedua. Tarowina tidak bisa berpikir jernih ketika Hanes mengambil alih seluruh serangan menjadi bagiannya sendiri. Menatap Tarowina dalam satu jaringan komunikasi. Namun, Tarowina memutusnya bahkan sebelum Hanes sempat berbicara.
Dan tanpa sadar, Hanes sudah mengunci seluruh titik penglihatan Tarowina dan mempermudah Edvard melancarkan serangan telak.
“Northwind Court!” Edvard memukul tanah dengan telapak tangannya. Mengunci tempat Tarowina berpijak dengan cahaya agung Northwind.
Hanes terkejut. Dia tersadar setelah Edvard merapal mantra.
Sebuah mantra tingkat tinggi. Mantra kuno Dellinger yang diwariskan demi menegakkan hukum di dunia sihir kerajaan. Membunuh target, menghancurkan jiwa hingga tidak diterima bahkan di neraka.
Tidak?! Jangan?!
Hanes hampir melangkah ketika lolongan kesakitan menggema, menyakitkan telinga.
Hanes. menggenggam pedangnya kuat-kuat. Batinnya memanas seiring lolongan yang kian mengerikan. Berimbas pada jiwa Caroline yang berada di dalam tubuhnya. Karena dia merasakan apa yang Hanes rasakan. Sakit dan perasaan marah.
Tarowina berada pada ambang batas. Dia berusaha mengumpulkan sisa-sisa kekuatan, memusatkannya ke dalam satu titik untuk melakukan Srauph—kutukan sumpah serapah—pada Gerardo.
“Keparat kau, Gerardo!” teriaknya dengan suara pecah. “Kau mengatakan aku iblis, tetapi kau tak ubahnya seorang pemuja iblis!”
“Semangat di matamu, mungkin membunuhku sekarang,
"Tapi, dengarkanlah! Meski tubuhku melebur menjadi abu, meski jiwaku tidak bisa kembali ke dunia fana, atau ... meski aku tidak diterima di neraka,”
.
.
.
“But, it’ll be great to see your next generation burning up!”
.
.
.
Edvard memutar satu tangan, membuat sebuah segel yang meleburkan tubuh dan jiwa Tarowina.
Sang penyihir hitam telah tiada. Berada dalam ketiadaan. Eksistensinya benar-benar hilang dari tiga dunia; atas, tengah dan bawah.
.......
.............
.......
...Bersambung...