
Langit Northeast tampak kelabu di pagi hari. Awan mendung bergelayut gelap seakan ikut memendam duka untuk setiap darah yang tertumpah dalam perebutan kekuasaan oleh sang raja.
Debur ombak yang menghantam tembok pantai terdengar dalam keheningan, angin yang mengantarkan bau asin garam dari semenanjung pelabuhan bertiup perlahan, berdesir di jubah kelabu berhias sulur perak milik Sang Raja yang kini berdiri tegap di atas balkon, memandang tanah baru yang sekarang menjadi kuasanya.
Di samping kirinya, berdiri si panglima andalan yang sudah berumur, tapi tak kehilangan wibawanya—kontras dengan sang penasihat agung yang berdiri di samping kanan Raja; Lady Caroline hari ini dibalut gaun berleher tinggi dengan aksen violet, tampak anggun; mempertegas sinar wajahnya yang ayu dan tak bisa dibaca. Ada segurat getir di wajah perempuan itu yang belum hilang, ketika ia harus memandang rajanya dengan brutal dan sengaja menunjukan adegan keji itu tepat di hadapan mukanya. Seakan mempertegas dendam yang selama ini mengakar di hati sang raja.
Bisa ia rasakan bagaimana kemarahan dan hasrat menguar dari raga Raja Svenson. Bahkan sampai saat ini, ketika dirinya harus berdiri di samping pemuda itu yang hendak mendeklamasikan kemenangannya dalam mengakuisisi Northeast.
Svenson sendiri memang merasakan kepuasan saat menunjukan pada Caroline bahwa ia masih memiliki kekuasaan dan kekuatan. Bahwa dirinya bukan keset yang bisa dengan mudah diinjak oleh wanita penyihir seperti Caroline. Bahwa dirinya mampu untuk menyakiti. Dirinya lah yang memenangkan tanah Northeast, pedangnya yang kini berhias darah adalah bukti dari kekuatannya.
Dipandangnya sisa pasukan yang bersiaga dalam barisan rapi di hadapannya, menunggu ia mengesahkan hasil dari perjuangan mereka, memberikan hadiah untuk setiap tetes peluh yang membasahi tubuh dan penghormatan untuk mereka yang gugur; deklamasi.
"DENGARLAH! ATAS NAMA NORTHWIND, AKU BERSUMPAH DENGAN SELURUH DARAH DAN DENYUT NADIKU, BAHWA AKU; RAJA KE-15 NORTHWIND, MENETAPKAN NORTHEAST MENJADI TANAH NORTHWIND.
LANGIT DAN SELURUH ISINYA AKAN MENGABDI KEPADA NORTHWIND, BERJUANG DAN HANYA AKAN BERPULANG PADANYA. RAKYAT, PEJABAT, PARA PENYIHIR HARUS TUNDUK DAN MENGIKUTI NORTHWIND. TIDAK ADA TIPU MUSLIHAT, TIDAK ADA MANTRA ATAU ARRAY TANPA PERINTAHKU! SEMUA SAMA!"
Caroline hanya bisa mendengus mendengar dekret yang baru saja diucapkan rajanya,"… tidak ada tipu muslihat, tidak ada mantra atau array .…"
Jelas itu pembelengguan terhadap sihir, pembatasan gerak untuk para kaum penyihir.
Apakah Svenson tidak berpikir konsekuensi dari dekret tersebut adalah pemberontakan? Apa dia lupa dengan minoritas penyihir yang ada di tanah Northwind?
Caroline cukup tahu dan mengerti ini adalah langkah selanjutnya yang diambil Svenson dalam rangkaian sumpah dan dendam yang membelenggunya.
Namun tetap, sebagai hamba dari Northwind yang mengabdi pada raja, ia tidak bisa membantah dengan gegabah. Semuanya harus melewati pembicaraan bersama para tetua dan petinggi kerajaan.
Dirinya hanya bisa menundukan kepala ketika semua mengelukan nama Raja Svenson. Lady Caroline yakin, bila kabar dekret ini akan lebih cepat sampai daripada perjalanan mereka sendiri.
.......
...|NORTHWIND, kota|...
Iring-iringan raja dan pasukannya yang kembali dari Northeast kini melewati jalanan perbatasan dan memasuki ibukota, disambut ramai oleh warga yang bersorak untuk kemenangan yang dibawa raja mereka.
Terdengar derap kaki kuda dan derit baju besi saat rombongan bergerak. Namun rupanya, tak semua warga ikut bersorak; larut dalam euforia. Karena bukan hanya kabar kemenangan atas Northeast yang dengan cepat terdengar, tetapi juga perihal dekret yang diucapkan Sang Raja pun dengan cepat menyebar di tanah Northwind.
Diperjelas dengan penambahan prajurit yang berpatroli di setiap sudut kota tak lama setelah rombongan raja pergi, cukup menguatkan bahwa dekret tersebut mulai diberlakukan dengan segera. Menebarkan benih kecemasan serta kecurigaan, mau tak mau ini akan menjadi buah bibir yang hangat di Tanah Utara.
Bisikan-bisikan mulai terdengar di setiap sudut kota, tatap curiga dan nyinyir berkelebat di jalanan. Para penyihir meninggikan tudung kepala, menunduk dan berusaha bergerak dengan seminimal mungkin menghindari tatap mata kecurigaan yang terasa menghujani.
Di sudut sebuah toko roti, tampak sekumpulan ibu rumah tangga yang sedang berbelanja. Mulut yang saling mendesis, menggosipkan nasib para penyihir yang hidup bertetangga dengan mereka. Ada yang iba, ada juga yang merasa puas ….
“Bukankah ini berita bagus? Maksudku, dengan begini kita tidak perlu ketakutan lagi dengan mereka?”
“Jadi selama ini kau takut dengan para penyihir?”
“Tidak, bukan begitu. Maksudku adalah kita tidak perlu khawatir."
“Apa yang sebenarnya kau khawatirkan? Tetanggaku penyihir, dan anaknya bermain dengan anakku setiap hari tanpa pernah menimbulkan masalah."
“Kalau begitu, mungkin saja anakmu sudah terkena sihir!”
“Tutup saja mulutmu dan perhatikan roti di depanmu!"
“Lebih baik kau yang tutup mulut sebelum para prajurit menuduhmu melindungi penyihir."
Keributan yang awalnya dimulai dari bisikan itu berakhir dengan teriakan sebelum akhirnya dipisah oleh si pemilik toko roti. Keresahan bukan hanya dirasakan oleh kaum penyihir, rakyat non-penyihir pun merasakannya karena jurang pembatas makin dipertegas oleh Sang Raja, dan bertambah curam.
...…...
Di sebuah rumah di pinggiran kota, seorang balita bermata hijau zamrud asyik tertawa sambil tidur terlentang di rumput pekarangan rumahnya. Gigi kelincinya tersembul saat tertawa lepas karena sebuah bunga Gaillardia merah kecil melayang berputar di atas wajahnya. Tawanya yang menyenangkan terdengar hingga ke padang rumput di depan rumah.
Sang ibu yang baru saja pulang dari padang rumput begitu terkejut melihat pemandangan tersebut, dengan sekuat tenaga berlari menuju pekarangan lalu merenggut sang balita ke dalam pelukannya. Gaillardia merahnya terhempas jauh dengan satu kibasan tangan dari sang ibu.
Matanya berkeliling waspada, badannya gemetar seiring keringat dingin yang membasahi tengkuk dan pelipis. Bagaimana jika ada yang memergoki anaknya sedang melakukan sihir? Anak seumuran ini memang belum bisa mengendalikan sihir yang dimilikinya.
Dengan perlahan, si ibu berjalan mundur menuju pintu rumah. Matanya tetap waspada berputar mengawasi sekeliling pekarangannya. Kabar yang ia dengar di pasar ketika menukar sayuran tadi pagi, benar-benar membuatnya tak tenang. Kemanakah ia harus mencari perlindungan?
...…...
Di sebuah gubuk reyot, beberapa tetua penyihir dan beberapa pemuda berkumpul. Sejumlah lilin melayang menerangi wajah yang penuh kerut, kekhawatiran, dan emosi.
Gemeresik hewan malam menghiasi kesunyian yang tercipta setelah diskusi panjang yang didasari oleh keluhan penyihir atas dekret Raja Svenson. Diskusi panjang dan hati-hati dimulai dari sebelum tengah malam, baru berakhir menjelang dini hari ini.
Para pemuda-lah yang menyarankan perkumpulan penyihir se-Northwind. Bagi mereka, kaum penyihir yang tak boleh melakukan sihir, jelas ini adalah belenggu. Para tetua bisa melihat adanya pemberontakan yang tersirat dalam setiap kata yang disampaikan para pemuda merupakan masa depan yang tak bisa dihindari. Akan tetapi, bagi mereka sangat berbahaya jika harus menyulut perang saudara seperti ini.
Debat pun tak terhindar, kaum muda yang dipenuhi gejolak amarah dengan sekuat tenaga diredam oleh para tetua. Jalur pemberontakan harus diluruskan dengan benar.
Menjelang dini hari, lolongan panjang serigala di kejauhan mengiringi akhir pembicaraan. Semua diskusi panjang dan kesimpulan tertuang dalam sebuah perkamen yang sudah ditandai oleh darah para tetua, siap digulung dan diikat dengan tali rami.
Perkamen tersebut harus sampai ke Lady Caroline bagaimanapun caranya. Hanya Lady Caroline yang mampu meredam gejolak kaum penyihir muda, juga harapan terakhir mereka untuk kondisi ini. Jika tidak, entah bagaimana para tetua bisa menahan keinginan penyihir muda untuk memberontak.
.......
.......
Lady Caroline tengah duduk di ruangan dengan langit-langit tinggi, perapian di sudut terasa menghangatkan seisi penghuni yang mengelilinginya, para petinggi kerajaan, dan penasihat terlihat duduk di kursi sesuai posisi. Wajah mereka dipenuhi kebingungan, tampak jelas dari alis yang saling bertaut.
Perkamen dan tali rami terbuka di hadapan Sang Lady, setelah berkeliling ke setiap sisi meja, perkamen tersebut berakhir di hadapannya. Awal fajar tadi prajurit penjaga benteng kerajaan secara resmi mengantarkan perkamen tersebut ke ruangannya. Hal yang mendasari Caroline mengambil keputusan untuk pertemuan ini.
Wajahnya termenung, alisnya mengerut, berpikir keras. Caroline tahu ini akan terjadi begitu pertama kali mendengar dekret yang dikeluarkan Raja Svenson. Ia tahu akan muncul pergolakan, dan yang Hinata takutkan adalah pion awal yang bisa menjadi alasan Svenson untuk mewujudkan sumpahnya. Langkah yang sangat berbahaya, dan kurang cerdas bagi Caroline.
Tidak! Jelas itu tidak boleh terjadi! Tidak boleh ada darah dari orang yang tak bersalah tertumpah di tanah Northwind.
Namun, bagaimana? Bahkan tetua dan petinggi kerajaan tidak memiliki jawaban untuk menghentikan dekret Sang Raja. Semua tahu, melawan dekret Raja sama hal pengkhianatan. Satu-satunya hasil pembahasan mereka hari ini hanyalah, Lady Caroline harus bertanggung jawab melobi Sang Raja, usulan yang belum disetujui Sang Lady sendiri, mengingat kondisi hubungan mereka saat ini.
“Mengingat hubungan Lady Caroline dan Raja Svenson, mungkin hanya Lady Caroline yang bisa …. “ Bisikan Lord Shamus memecah keheningan.
“Betul, itu bukan usulan yang buruk.” Para petinggi yang lain menyambut ide tersebut.
Caroline hanya bisa menghela napas perlahan, memang hanya itu satu-satunya jalan yang tersisa. Dekret berlaku karena amarah yang bergemuruh di hati rajanya, amarah yang Caroline tahu dengan jelas ditujukan pada dirinya. Ini adalah jalan yang ia pilih, dibenci. Dialah yang harus bertanggung jawab.
Akhirnya, pertemuan tersebut ditutup dengan satu keputusan. Penyerahan tanggung jawab pada Sang Lady untuk melobi Raja.
.......
.......
Maka di sinilah Caroline berdiri, di depan ruangan Raja Svenson. Menunggu dua prajurit membukakan daun pintu bertahta emas untuknya, setelah prajurit menyampaikan kedatangannya pada raja.
Daun pintu terbuka, menampakan sang raja yang rupanya tengah berdiri di ambang jendela, memandang matahari yang melaju ke ufuk barat. Sinar senja berlukis violet dan oranye tampak melatari indahnya langit sore, twilight. Dilihat dari punggung sang raja yang tampak rileks, sepertinya beliau sedang menikmati suasana sore ini.
Langkah Lady Caroline nyaris terhenti ketika rajanya tiba-tiba berbalik. Bukan karena takut, hanya saja, lukisan alam yang berjudul senja tampak lengkap dengan sorot biru hangat yang kini memandangnya. Membuatnya hilang akal dalam satu detik, yang seakan satu putaran matahari. Sekelebat bayangan masa kecil melintas di matanya.
“Apa kau akhirnya akan memberikanku kejujuran, Lady?" nada suara dingin Svenson menarik kembali Sang Lady ke alam nyata.
Dengan cepat, Caroline menundukan sedikit kepalanya.
“Mohon maaf, My Majesty, tapi jawaban hamba tetap sama seperti terakhir kali." Caroline menjawab mantap tanpa keraguan. Sedikit merutuki diri yang bisa-bisanya kehilangan fokus dan lengah saat menghadapi rajanya.
“Tujuan hamba menghadap adalah untuk membicarakan dekret, My Majesty.” Masih dengan menundukan kepalanya, Caroline menjawab.
Hooo, jadi si penyihir ini sudah mengambil langkah, pikir Svenson. Dirinya merasa puas dengan langkah dekret yang diambilnya, berhasil memancing 'Si Angkuh' ini untuk unjuk diri.
Svenson menyeringai. “Apa ada bagian yang tidak kau mengerti?” ia bertanya seraya membalikan kembali badannya menghadap jendela.
“My Majesty, hamba yakin bahwa dekret itu diambil dengan kesadaran penuh bahwa pergolakan bisa terjadi di tanah Northwind." Caroline memulai pilihan kata yang telah disiapkannya dengan hati-hati.
“Apa kau mempertanyakan kecakapanku dalam mengambil keputusan?” lagi, Svenson menekankan posisinya pada Caroline, seringainya tersembunyi.
“Tentu saja tidak, My Majesty, hamba yakin darah yang tertumpah pun sudah masuk dalam perhitungan Anda." Caroline mulai menyerang dengan sarkastis.
Berhasil, sang raja tersulut.
“Jadi maksudmu, aku dengan bodoh sengaja membiarkan darah tertumpah di tanah Northwind? Bukankah itu tugasmu untuk menjaga kaummu dengan baik?" suara bariton menggelegar memecah ritme yang sedari tadi terjaga.
“Tanpa mengurangi rasa hormat saya, My Majesty, sudah tugas hamba untuk mengingatkan. Mohon maaf bila terdapat salah dalam pengucapan."
“Betul, tugasmu hanyalah mengingatkan. Bukan membantah.” Dalam satu tarikan napas, Svenson menusukkan kata-kata pada Catoline.
Hening sejenak, aura tegang masih terasa dalam udara. Keduanya mungkin sedang menenangkan hati masing-masing, meredam emosi agar tak salah langkah dalam pengucapan. Karena perang yang mereka miliki bukanlah adegan saling menghunus pedang, tetapi, saling menusukan racun kasat mata yang bersenjatakan lidah.
“Kau tahu, bahwa hukuman mati untukmu bukanlah hal mustahil, Lady. Keputusan yang kau ambil bisa dianggap pengkhianatan untukku." Svenson memecah keheningan dengan kesinisan suaranya.
“Sebelumya maafkan untuk kelancangan hamba, hamba sangat yakin dan percaya, My Majesty. Namun, izinkan hamba memberikan sedikit ... negosiasi ....” Suaranya diakhiri dengan nada menggantung, seakan mengumpankan diri pada Svenson. Sebenarnya Caroline tak gentar dengan ancaman halus dari rajanya. Baginya, kematian bukanlah hal yang perlu ditakuti.
Svenson benar-benar tercengang dengan wanita di depannya ini. Benarkah dia Caroline? Teman masa kecilnya?
Benar-benar tak ada rasa ragu dan takut dalam diri wanita itu. Tak ada emosi yang tersirat di wajahnya. Svenson sedikit merasa cemburu akan kemampuan Catoline dalam mengendalikan diri. Bagaimana mungkin perempuan ini tak mempunyai sedikit pun rasa gentar pada dirinya yang seorang raja? Atau jangan-jangan, dia memang meremehkan posisinya?
“Baiklah, berikan aku alasan bagus mengapa kau tak harus diganjar hukuman mati." Berusaha terlihat bijaksana, Svenson memberikan kesempatan pada Caroline. Di samping itu, dalam batinnya, masih ada sedikit keinginan bahwa Caroline akan melunak dan memberi tahu semua kebenarannya.
Mata Caroline memejam sejenak, menarik napas panjang, tetapi tak kentara sehingga tidak menghilangkan wajah datarnya.
“Semua yang akan hamba katakan berikutnya semata-mata hanya demi kelangsungan Northwind. Jadi hamba mohon pengertian dan kebijaksanaan darimu, My Majesty."
Svenson hanya menjawab dengan lambaian tangan tanda mempersilakan Caroline untuk memulai, sambil lalu dirinya melenggang kembali ke singgasana. Duduk, memposisikan diri untuk mendengarkan argumen Sang Penasihat Kerajaan.
“Pertama, saya sungguh sadar, apa pun keputusan yang telah saya ambil di masa sebelum pengangkatan Anda sebagai raja, sekarang bisa dengan mudah Anda putuskan menjadi tindak kejahatan, My Majesty. Walaupun jelas, bahwa keputusan yang saya ambil semata demi kelangsungan dan keselamatan Northwind. Namun sekali lagi, saya tegaskan bahwa bukan kematianlah yang saya takuti. Hanya, saya rasa sekarang belum saatnya saya harus mati." Dengan raut datar dan tanpa cela, Caroline menekankan kata belum saatnya pada Svenson, isyarat bahwa ia masih harus melindungi Northwind.
Terlihat muka Svenson merah padam, Caroline tetap kukuh pada pendiriannya melindungi Northwind. Tak tahu kah penyihir sialan ini bahwa dia telah membunuh calon permaisuri Raja? Apa maksudnya hanya si penyihir itu saja yang bisa melindungi Northwind?
Dengan sekuat tenaga Svenson menahan amarah. Ia mencengkeram kursi singgasana yang didudukinya.
“Kedua, seperti yang Anda ketahui. Keluarga Dellinger telah ada dan mendampingi kerajaan dalam dua dekade. Melindungi dan membentengi Northwind dari segala gelap yang akan menghancurkan, membisikan macam peringatan untuk setiap langkah raja. Maka, apakah tidak akan terjadi kepincangan dalam kerajaan jika Dellinger harus dihilangkan? Sekali lagi saya memohon kebijaksanaan My Majesty untuk rencana penghancuran Dellinger." Sekali lagi, tanpa gentar Caroline menekankan tujuannya pada Svenson.
Sang raja makin merasa terhina, apakah si penyihir ini sedang memuji klannya sendiri? Menyombongkan kemagisan klannya? Dia pikir dia siapa? Dia hanyalah budak, keset Heather Locko yang kebetulan pintar berkata-kata dan memiliki ilmu sihir. Hanya faktor 'Lucky'.
Mungkin sebentar lagi lengan singgasana raja bisa patah seiring cengkeraman Svenson yang menguat.
“Dan yang ketiga, tolong selamatkan seluruh warga Northwind tanpa terkecuali.” Penekanan pada kata 'tanpa terkecuali' sungguh jelas terucap dari mulut Caroline. Namun, sebelum Svenson bisa berkata-kata, Caroline melanjutkan kembali argumennya.
“Jiwa, raga, dan hidup saya adalah untuk Northwind, My Majesty. Sudah tugas saya melindungi Northwind beserta isinya dengan membantu My Majesty. Karena itu, saya mohon pertimbangkan kembali dekret yang telah Anda titahkan."
Svenson benar-benar kehabisan kata, selalu begini. Sedari dulu, Caroline selalu unggul dan membuatnya kehilangan kalimat. Bahkan saat ini, dirinya merasa diremehkan dengan kenyataan bahwa Caroline membuatnya menjadi seperti penjahat yang akan menghancurkan Northwind.
Sang raja benar-benar sudah dibutakan dendam, apa pun perkataan yang terucap dari bibir sang penasihat, seakan berubah menjadi jarum tajam yang menusuk hatinya. Menambah luka, dan memupuk sakit hati yang terus memperbudaknya.
“Apa yang bisa kau tawarkan untuk melindungi Northwind dari dekretku, Penasihat Agung?” Svenson mulai terpancing dengan ucapan Caroline, menantang Caroline untuk melawannnya.
“Sejujurnya, My Majesty, saat ini hamba sedang dalam penyelidikan untuk menemukan kemungkinan Woodlanders yang selamat dari kejadian pensterilan desa ….”
Dengan hati-hati, Catoline menggantungkan kalimatnya. Mengamati raut wajah Svenson yang kini berubah, kedua mata rajanya tampak membulat dan alisnya terangkat.
Caroline makin yakin bahwa Svenson sudah mengetahui tentang Woodlander yang selamat saat kepergiannya ke Northeast tempo hari, dan juga Caroline bisa mencoret kemungkinan bahwa Woodlander itu diculik Svenson.
Svenson sendiri memang terkejut, kenyataan bahwa Caroline mengetahui tentang Ludger semakin memperkuat kecurigaan bahwa Caroline juga terlibat dalam penculikan pria itu.
Mungkin, Caroline menculik Ludger memang untuk digunakan di saat seperti ini. Baiklah, mari kita ikuti permainan si penyihir licik.
Svenson akhirnya memutuskan untuk memberikan Caroline kesempatan. Svenson sungguh merasa geli karena bisa berhasil membaca gerak tipu daya dari penyihir licik di hadapannya. Sungguh, dirinya tak bisa menahan bibir untuk menyunggingkan senyum ketika menjawab Caroline.
“Baiklah … setelah mendengar semua pembelaanmu, akan kupertimbangkan kembali dekret yang kau ributkan, dengan syarat ... bawa Woodlander yang selamat itu hidup-hidup ke hadapanku, sebelum bulan purnama di akhir musim ini!"
Caroline sudah memprediksi Svenson akan meminta hal itu. Maka tak ada raut keterkejutan di wajahnya ketika mendengar permintaan sang raja. Jelas, bahwa senyum mengerikan di wajah Svenson menjawab segala pertanyaannya.
Tanpa membuang waktu, Caroline menundukan badan seraya mengangkat sedikit gaunnya. Tanda penghormatan untuk pamit pada Sang Raja.
.......
.......
Malam itu Caroline habiskan dengan mencoreti perkamen, menuliskan berbagai kemungkinan, memisahkan dan mencoret beberapa hal yang tak pasti.
Satu yang bisa dipastikannya, embus suara yang disemilirkan angin di hutan pinus dalam perjalanannya menuju Norteasth tempo hari, adalah suara sengau Ludger. Jeritan yang meminta pertolongan itu mungkin tak akan terdengar oleh kuping manusia awam. Namun, tidak dengan Caroline Sang Penyihir Agung, alam adalah kekuatannya.
Tanah Northwind menyimpan begitu banyak kekuatan untuk menopang sihirnya. Bahkan angin pun mampu mengabarkan padanya kepiluan yang tak terucap dari sanubari seseorang.
Caroline mengenalnya, itulah dia. Jelas tempat itulah yang akan menjadi awal mula pencariannya. Namun, Caroline masih sibuk mencoret berbagai kemungkinan dalam perkamennya.
Satu gulungan sudah penuh dengan tulisan halus yang berjejer rapi dihiasi coretan lurus yang tampak membayang.
Masih ada yang mengganjal di hatinya, sesuatu yang membuat ia belum bisa merebahkan punggung di kasur empuk dan selimut beledu.
Menyerah dengan segala silang sengkarut dalam benaknya, Caroline akhirnya memilih meninggalkan meja kerja, menuju tempat peristirahatan malam ini. Sebenarnya bila diingat, ini adalah malam pertama dirinya kembali ke kamar setelah beberapa hari merasakan lantai batu yang dingin, terbelenggu dengan udara pengap.
Tubuhnya mungkin saja sudah merindukan kelembutan, benar. Dirinya sudah terlalu keras pada sang tubuh. Saatnya memberikan sedikit kelonggaran pada tubuhnya sebelum esok hari berpacu dengan waktu untuk menemukan jawaban dari tantangan rajanya.
Bahkan setelah tubuhnya terbungkus selimut beledu, matanya tak dapat memejam. Kecurigaan yang mengakar urat di kepalanya makin menguat.
Malam itu, Caroline akhirnya terlelap saat sang rembulan tertutup awan, mengakhiri kerja otaknya dengan kesimpulan bahwa ada pihak yang ingin mengadu domba dirinya dan Svenson. Ada pihak yang ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan atas buruknya hubungan dengan Svenson.
Dua kata yang terus berputar dalam benak Sang Lady, mengantarkannya ke alam mimpi ....
Siapa?
Dan ....
Mengapa?
.......
.......
.......
...Bersambung...