
"Pelaku sebenarnya yang mencoba untuk menenggelamkan saya di laut tiga tahun yang lalu ... adalah Kau."
Mungkin dia bisa mengelabui Dominique yang asli, tetapi mereka tidak tahu siapa diriku yang sebenarnya. Aku yang paling mengerti dunia ini, mulai dari huruf kapital pertama pada prolog dan titik di akhir epilog. Semuanya aku rangkai sendiri dan memikirkannya dalam-dalam sampai sakit kepala. Bahkan, sampai aku meragukan moralitasku sendiri karena sudah membuat alur yang sedemikian menegangkan dan kurang ajar.
Tidakkah aku yang paling memiliki kuasa untuk berubah di sini? Aku sudah cukup mengamati dan sudah cukup banyak belajar. Yang bisa aku pahami adalah tidak semua orang di sini bisa lebih realistis sepertiku. Nyatanya, Dominique memang lebih mirip diriku, itu karena ...
"Apakah Kau membenci kakakmu ini, Dorothy?"
Ekspresi Casildo dan Cashel mengandung keterkejutan, tidak percaya, dan sedikit amarah seorang ksatria yang membara. Dahulu ketika sepuluh tahun kami hidup bersama, ada perbedaan jarak yang amat signifikan hanya karena satu hal yang membedakan kami. Mata Arwah. Membuka Mata Arwah itu tidak mudah, Dominique termasuk beruntung karena orang tuanya sendiri yang bisa membimbingnya.
Padahal, dari sinopsis saja sudah diceritakan bahwa Dorothy adalah anak perempuan polos yang baru saja kehilangan kakak kembarnya. Tidak, semua itu memiliki sebab dan akibat. Sebagai orang yang bersikap terlalu baik, akan ada dua tipe orang ketika seseorang sadar bahwa memiliki sifat naif seperti itu hanya akan membuat derita diri sendiri. Yang pertama, akan menyalahkan dirinya sendiri. Yang kedua, akan menyalahkan orang lain. Apalagi, pada waktu itu adalah usia di mana mereka berdua sedang dalam pubertas dan ketertarikan kuat pada lawan jenisnya. Sifat labil harus bisa dihabiskan pada usia remaja sebelum menginjak ke kedewasaan.
Tidak ada yang bisa memahami perasaan diri sendiri kecuali orang yang merasakan. Setiap orang tahu jika dirinya bersalah karena mencuri uang dari dompet ibunya, setiap orang tahu jika dirinya bersalah karena
"Kamu terlalu baik, Kak." Bayangan Dominique muncul dari gelapnya jalan setapak satu-satunya.
Dari belakangnya diikuti oleh seseorang yang lebih tinggi darinya. Telapak tangannya bercahaya, lalu seketika jalan setapak itu sudah hilang ditelan oleh pepohonan besar yang tumbuh secara ajaib. Surai yang memantulkan cahaya bulan, ayah berjalan mengekor di belakang Dorothy. Seketika Casildo dan Cashel mempersiapkan genggaman tangan mereka pada pegangan pedang, siap untuk menariknya kapan saja dan melakukan perlawanan.
Aku tidak akan mencegah mereka. Toh, aku memang membutuhkan perlindungan. Bisa dibilang aku cukup terpojok. Keistimewaan lain yang membedakan Mata Arwah genetik dengan Mata Arwah hasil latihan yakni waktu berkembangnya Mata Arwah itu, jalan genetik bisa lebih liabel dan tajam daripada jalan manual. Memang, kadangkala kerja keras kalah dengan bakat murni dari lahir. Suka atau tidak, nyatanya memang ada yang seperti itu di belahan alam semesta manapun itu.
"Tidakkah itu dirimu, adikku yang penyayang dan perhatian."
"Kamu terlalu baik karena membiarkanku bebas selama tiga tahun. Lalu, sandiwaramu saat Kamu turun dari kereta kuda, itu kentara sekali. Aku yakin, Casildo bahkan bisa menyadarinya hanya dengan sekali pandang."
"Aku membiarkanmu merasakan upacara kedewasaan sekali seumur hidup, sebelum Kau akhirnya bisa mempertanggung jawabkan tindakanmu."
Itu keinginan yang berasal dari dalam relung hatiku, yang mana aku yakini itu niat baik Dominique asli. Jiwa Dominique terpendam sangat jauh di dalam tubuh ini, aku bisa rasakan ketika seiring waktu jiwanya mulai memudar. Aku tidak tahu pasti kapan akan menghilang sepenuhnya, tetapi aku harap bisa memberikan yang terbaik. Karena aku tidak punya waktu untuk merenung. Dunia ini bahkan lebih berbahaya dari duniaku sebelumnya, ketika manusia dengan alat perang dan kekuasaan bisa menjadi seorang diktator. Maka ketika di sini manusia diberikan kekuatan supernatural, akan jadi apakah mereka?
"Aku tanyakan sekali lagi. Apa Kau membenciku?"
"Casildo, ingatlah dengan sumpahmu." Cashel berusaha untuk membuat Casildo tidak larut dalam emosinya.
Citra yang diciptakan Dorothy begitu rapi, maka dari itu Casildo begitu luar biasa terpukul. Dia bisa kapan saja memutar balik hati nuraninya ke dalam lumpur hitam yang akan selamanya meninggalkan noda. Sifat observannya membuatnya bisa memikirkan berbagai rencana manipulatif dan tak segan-segan untuk memanfaatkan orang-orang di sekitarnya. Bahkan dia lebih jahat dari Dorothy yang ada di buku novelku.
Tega-teganya dia memanfaatkan ayahnya sendiri.
"Benci memiliki padanan kata yang terlalu berat. Ada banyak kata lain—"
"Kau bukan Dorothy, Kau bukan teman baik yang aku kenal!"
"Kamu harusnya juga mengatakan itu padanya juga, jika menurut garis besar omonganmu. Dia bukanlah Dominique, dia cuma pura-pura jadi Dommy. Sampai semua orang di kastel tanpa terkecuali menyadari bahwa tunanganmu itu tidaklah sama lagi seperti sebelumnya."
"Dommy tidak akan berubah, kalau Kau tidak mencelakainya!"
Dorothy mengangkat tangan kanannya ke belakang kepalanya. Ia menggapai rambutnya yang masih tersanggul rapi, kemudian menarik ikatan rambut sampai rambutnya tergerai. Jika penampilannya seperti ini, orang-orang akan sulit membedakan kami berdua. Dengan angin mengibarkan segala sesuatu yang berjuntai, dersik angin berpesan agar aku tidak melepaskan fokusku dari Dorothy. Ia dengan tenang mengikuti pergerakan angin, menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya.
"Terserah Kamu ... Kembali ke topik."
Napas Casildo jadi tidak beraturan, seolah ia tersedak oleh ludahnya sendiri. Pembuluh nadi berwarna hijau atau biru di dahi, leher, punggung tangannya itu membesar. Kesabaran Casildo sudah di ambang batas. Puncak masalah baginya adalah fakta bahwa yang coba melenyapkan nyawa tunangannya adalah saudari tunangannya dan sekaligus teman baiknya. Itu pun dia pasti sembari mengingat-ingat bagaimana Dorothy bersikap teratur sebelum para nelayan menemukan Dominique yang terapung lemas.
"Aku muak karena Kamu merebut apa yang jadi milikku. Semua orang tahu, Ayah lebih sayang padaku karena Mata Arwah milikku yang terbuka dari lahir merupakan tanda dari bakat alami. Aku sangat jengkel, bisa-bisanya Ayah sudi direpotkan oleh dirimu sampai sepuluh tahun lamanya? Kamu pengacau. Setidaknya berusahalah sendiri untuk membuka Mata Arwah, buktikan kalau Kamu memang layak menjadi penerus keluarga Ginova. Padahal Kamu sudah mendapatkan ruang khusus di hati Casildo! Apakah Kamu begitu serakah?!"
Momen yang tepat. Giliranku untuk menyampaikan perasaan Dominique yang sebenarnya.
"Andaikata percobaan pembunuhanmu berhasil, Kau sebagai pewaris tunggal berpotensi membawa kehancuran bagi keluarga kita. Ditambah, Ayah tutup mata dari segala dosamu. Kau dimanja oleh keluarga, lalu mencak-mencak seperti bocah begini adalah bukti bahwa Kau masih belum dewasa. Hanya orang yang telah sempurna akalnya yang bisa mengemban tanggung jawab sebesar kepala keluarga."
Dasar kekanak-kanakan.