The Step Of Palimpsest

The Step Of Palimpsest
#18



Kalau dibandingkan dengan ukuran rumah para bangsawan, rumah dari seorang ksatria berpangkat letnan mirip seperti rumah dari seorang bangsawan gelar baron—gelar paling dasar dari lima gelar yang ada. Mungkin karena keduanya hanya memiliki perbedaan satu tingkat, jadi tingkat kekayaannya bisa dibilang hampir sama, terutama untuk ksatria berpangkat khusus seperti letnan dan sebagainya.


Cashel sudah menjadi komandan saat Casildo masih kecil. Jadi, Dominique pernah mengunjungi rumah Valera, dan itu sangat lebih besar dari rumahnya yang sekarang. Letaknya berada di perbatasan, jadi tidak heran kalau posisi komandan yang menjadi kepemimpinan puncak di keksatriaan bisa setara dengan gelar bangsawan marquiss. Yang berarti Casildo mendapatkan banyak keistimewaan. Meski begitu, ia tidak cukup senang, terutama ketika ia tidak mendapatkan kasih sayang ibu yang cukup.


Lesya Ginova pun tidak bisa diharapkan untuk mengisi peran ibu yang kosong di hati Casildo, notabenenya dia dan Dorothy adalah sama. Sandiwara berdoanya waktu itu juga palsu, sebab itulah ayah mencoba untuk berkomunikasi padaku lewat pikiran pada waktu itu. Beginilah aku masih heran, sang ibu yang mutlak membelanya, dan sang ayah yang pasti akan memilihnya menjadi pewaris karena dia berbakat dari lahir.


"Di sini damai, ya?" Daun menari-nari, sepoi angin sejuk, sinar mentari yang hangat, cuitan burung, dan perkarangan yang dipenuhi dengan rerumputan hijau yang subur. Seolah-olah seperti di surga saja.


"Ada beberapa waktu ketika aku menyewakannya saat sedang dinas untuk waktu yang lama." Cashel mengakhiri ucapannya ketika ia mengulurkan tangannya, sampai ia melanjutkannya dengan telapak tangan yang terbuka lebar menungguku untuk menggapai tangan kelarnya, "ayo, kubantu Kau turun."


Padahal, aku bisa naik sendiri dan turun sendiri! Disayangi oleh Casildo saja sudah membuatku tersipu, sekarang ayahnya juga tidak kalah hebat~!


Kehormatanku pasti dipertanyakan kalau aku menolak uluran tangan ikhlas ini. Aku harus menerimanya bagaimanapun juga meski aku bisa melakukannya sendiri. Aku mulai memijakkan kakiku di pijakan pelana kuda, aku merasakan tangan yang mengamankan tubuhku di bagian pinggang. Ketika aku melompat, ia sigap menangkapku dengan siap siaga. Aku yakin, aku menubruk tubuhnya, tetapi dia begitu kokoh dan tidak mudah goyah.


Tidak heran ayah dan anak diperebutkan sekaligus oleh banyak wanita.


Casildo bercerita padaku, ayahnya hanya menceritakan sangat sedikit hal tentang ibunya. Salah satu yang diceritakannya adalah bahwa istrinya sempat merawat Casildo sampai lepas dari ASI, yang artinya ibunya masih berada di sampingnya sampai umur tiga tahun. Casildo pun tidak ingat kenangan apa-apa karena ibunya menghapus ingatannya. Setelah itu, Cashel enggan menceritakannya lagi. Sebagai orang tua tunggal, tentunya tidak mudah untuk merawat seorang anak di tengah-tengah kesibukan sebagai komandan, tapi Cashel melakukan yang terbaik.


Casildo hanyalah seorang putra yang merasa kesepian, ia merasa kekurangan perhatian sebab satu-satunya orang tua kandung yang menemaninya hanyalah ayahnya. Demi terus berada di samping ayahnya itu, agar ia terus diperhatikan, dia pun ingin menjadi ksatria seperti ayahnya. Ditambah, dia ingin membuat bangga Dominique yang sudah memperhatikannya juga—memberinya buket bunga sederhana. Sebagai ksatria dan seorang pria, sudah sepatutnya ia bekerja keras.


Harus diakui memang, sifatnya anak itu adalah bawaan dari seorang pria yang luar biasa.


"Kenes, kembalilah ke istal seorang diri, bisa?" tanya Cashel.


Kenes mendengus dengan diiringi kekesalan. Kakinya dihentak-hentakkan ke tanah seperti seorang anak kecil yang tantrum kemauannya tidak dituruti oleh orang tuanya. Cashel pun tidak habis pikir. Ada cara atau dia membujuk sesuatu yang bisa membuat Kenes mau menurut padanya.


Ia menepuk-nepuk perut Kenes. "Makanlah sebelum aku memandikanmu nanti."


Ringkikan itu artinya mereka setuju dengan kesepakatan. Kenes segera menjauh dari kami ketika ia terus melaju ke arah belakang rumah sampai akhirnya derap langkahnya lenyap sempurna. Menyisakan kesunyian damai di tengah cuaca bagus yang membuat kantuk ini.


"Selamat datang. Rumahku istanaku."


"Rumah yang sangat bagus." Tapi, kalau rumah sebesar ini hanya dihuni seorang diri, apa tidak kesepian?


Seruan dari seorang wanita datang dari arah kejauhan, tepatnya berasal dari arah yang tadi dilewati oleh Kenes. Seorang wanita muda dengan rambut dikepang menghampiri kami, "Tuan Cashel, selamat datang kembali! Saya tadi melihat Kenes berlari, jadi— ... Ah, Anda membawa tamu? Siapakah gerangan?"


Pasti maksudnya aku. "Halo, namaku Mikami." Kulihat-lihat itu membawa keranjang cuci ... Ah, aku baru ingat bajuku basah kuyup.


"Selamat datang, Nona Mikami."


"Fidelya, seperti yang Kau lihat, kami berdua basah kuyup. Mikami ini seorang pengembara jadi tak punya pakaian lebih. Tolong siapkan air mandi dan baju ganti."


Pengembara, katanya?


"Tuan mau disiapkan air mandi juga?"


"Aku belakangan saja, mau mengurus Kenes dahulu."


"Mari, silakan ikuti saya," pinta Fidelya, ia berjalan mendahului untuk mengarahkanku masuk ke dalam rumah.


Di belakangku, Cashel masih berdiri di tempat yang sama, ia berseru, "jika Kau mencariku, aku ada di kandang kuda. Minta saja siapapun untuk mengantarkanmu ke sana."


...»»——⍟——««...


Tubuh dinginku stabil lagi saat berendam dalam air hangat yang menenangkan. Seperti semua beban dunia ini lenyap begitu saja. Tidur setelah mandi pun rasa-rasanya nyenyak sekali. Namun, aku harus tahu sopan santun. Sebelum beristirahat sebaiknya aku berterima kasih padanya dahulu. Aku pun sudah berjanji untuk membantu siapapun yang menyelamatkan dari danau itu. Sesuatu yang Cashel butuhkan.


Setelah selesai berpakaian, Fidelya mengantarkanku camilan kecil. Lagi-lagi aku merasa tidak pantas untuk menolaknya. Camilan kecil di antaranya kue kering dan teh, aku menghabiskan semuanya demi menunjukkan rasa syukurku atas sikap murah hati Cashel. Yah, aku kelaparan memang, toh, makanan tidak boleh dihambur-hamburkan. Menolak rezeki itu suatu pantangan. Selagi pemberiannya tidak menyusahkan si pemberi, setidaknya harus menerima dengan senyuman.


Camilannya cukup untuk mengganjal perutku. Setelah selesai memakan camilan, aku minta untuk diantarkan menuju kandang kuda. Letaknya agak menjorok jauh dari rumah, tentunya supaya tidak mengganggu ketika penghuni rumah sedang istirahat. Ketika aku sampai di sana, benar saja Cashel yang bertelanjang dada sedang menggosok perut Kenes menggunakan sikat. Entah kenapa aku bisa melihat pantulan cahaya dari mata kuda itu dia merasa senang.


Pemandangan indah. Pria super ideal, dia dan anaknya tipe semua wanita.


"Pelayan di sini memang tidak banyak, tapi semuanya pekerja keras. Katakan apapun yang Kau butuhkan, mereka akan membantumu." Aku rasa dia berpikir aku hendak meminta sesuatu hal lumrah yang biasa diminta oleh seorang lady.


"Padahal hujan tadi membuatku menggigil, apa Kau tidak kedinginan?"


"Aku mudah beradaptasi dengan cuaca dan bermetabolisme tinggi. Selain itu, aku suka main hujan-hujanan dan salju sejak kecil."


"Tampaknya hidupmu damai-damai saja. Aku iri sekali."


"Dan aku tebak Kau berasal dari keluarga yang rumit."


"Benar. Rumit sekali. Hal sepele tapi dibesar-besarkan, padahal setiap orang sudah diberikan porsinya masing-masing oleh Yang Maha Kuasa."


Cashel berjongkok untuk membersihkan sikat gosok ke dalam bak air. Digoyang-goyangkannya sikat itu sampai airnya berubah keruh, lantas ia membiarkan sikat itu tetap di sana. Kini berganti ia mengambil sebuah handuk yang terletak di atas sebuah gentong. Ia membentangkan handuk tersebut ke atas punggung Kenes sembari menarik air di tubuh kuda besar tersebut untuk turun.


"Mau tidak mau yang lebih paham yang harus mengalah. Yah, mereka licik ketika lawanmu yang keras kepala itu sengaja memancing emosimu lalu menunggumu lelah berdebat,  ketika itulah Kau akan menyerah sebagai momen yang mereka tunggu-tunggu. Itu tindakan dari orang dengan nyali kecil."


Cara penyihir yang diam-diam tapi mematikan dianggap licik dan culas. Sementara cara ksatria yang sergap serbu dianggap gegabah dan tidak efisien. Akan tetapi bagaimana kalau keduanya bisa dikombinasikan? Meski begitu, tetap saja tidak akan sepenuhnya bisa menjadi satu.


"Mungkin aku bisa melakukan sesuatu sebagai bentuk terima kasih."


"Tidak usah repot-repot, Nona Mikami. Kau bilang tadi kedinginan karena hujan, kan? Minta Fidelya membuatkan susu jahe atau teh herbal. Aku samapi bisa melihat matamu tidak bisa menahan kantuk."


Aku tidak tahu harus bereaksi apa dengan segala kebaikan ini. Seandainya semua orang sebaik dirimu. Sayang, aku pribadi malah tidak bisa jadi sebaik dirinya.


"Baiklah, aku akan istirahat untuk hari ini."


"Nanti kuminta Fidelya membangunkanmu ketika tiba waktu makan malam. Selamat beristirahat."


Aku harus memberi tindakan inisiatif. Aku tidak suka membiarkan hutang materil atau hutang budiku tidak kulunaskan.


"Sebelum itu, aku ingin menyampaikanmu sesuatu."


"Aku mendengarkan."


"Kau tahu tentang Mata Arwah?"


"Kurang lebih aku tahu dengan pengertian dasarnya. Tadi, teman penyihirku bilang kita diserang oleh ular purba itu karena aku tidak membuka Mata Arwah."


Kalau aku ditinggalkan di danau itu, aku akan mati kedinginan atau dimakan oleh sihir. Lalu, Cashel datang menyelamatkanku hingga ular purba itu terusik hanya karena dia merasakan Cashel sebagai pengusik, sebabnya karena dia bukanlah orang yang membuka Mata Arwah? Semua mahkluk sama saja pilih kasihnya. Dorothy lebih disukai karena terlahir dengan Mata Arwah yang sudah terbuka, sedangkan Dominique sebaliknya. Memang, pendidikan dan lain sebagainya didapatkan sama rata, tapi perbedaan sikap orang tua satu sama lain antara si kembar Ginova itu tampak sangat jomplang.


Hanya orang yang sama-sama menderita saja yang bisa saling memahami. Dominique dan Casildo memang sudah ditakdirkan untuk satu paham dengan melalui banyak perbedaan maupun persamaan. Dari awal 'The Pursuit of Revenge' dibuat, konsep satu untuk bersama sudah diterapkan pada mereka berdua meski akhirnya sama; dipisahkan paksa.


"Karena Kau sudah mengerti, aku tidak perlu menjelaskannya lagi."


"Sepertinya sesuatu yang serius."


"Aku tahu cara membuka matamu. Kalau Kau mau, aku akan melatihmu untuk membuka Mata Arwah."