The Step Of Palimpsest

The Step Of Palimpsest
#6



Aku baru ingat, kastel pribadi Dominique tadi itu memiliki nama Kastel Mangata, yang berarti refleksi bayangan bulan di permukaan air. Dinamakan demikian karena atap dari kastel tersebut adalah atap kaca tebal yang diisi dengan air. Lantai paling atas kastel itu kelak akan digunakan ketika upacara kedewasaan Dominique dan Dorothy tiba. Dorothy tentu saja memiliki kastelnya sendiri, Kastel Ina. Upacara kedewasaan mereka akan digelar bergantian, pertama di Mangata, kemudian di Ina.


Sayangnya, Dominique meninggal dunia. Dorothy selalu melarikan diri ke Kastel Mangata saat dia sedang teringat dengan kakaknya walau pada saat itu mereka masih tinggal di Kastel Ginova. Dorothy paham bahwa Dominique bukan tipe orang yang suka pamer, tapi kembarannya itu menyimpan segala sesuatu yang berharga di sana, itu juga alasan kenapa sarang para sekutu Dominique ada di sana.


Setelah itu, yang sekarang harus aku pikirkan adalah bagaimana aku akan bersikap ke depannya? Kami sekarang sedang dalam perjalanan pulang naik kereta kuda menuju Kastel Ginova. Ah, kenapa kepalaku pusing? Apa aku mabuk darat? Tidak, aku tidak pernah punya mabuk darat. Tapi, memang, jalanannya kacau karena melewati belantara hutan, padahal ini kendaraan yang paling mewah pada. Ah, lebih baik aku berjalan kaki saja.


"Aku lupa bilang kalau Dominique itu mabuk darat," kata Theomund, dengan telapak tangan bercahaya hijau berpendar kuning diarahkannya padaku.


Mabuk daratku menghilang, aku tidak pusing atau mual lagi. "Mabuk darat itu hanya masalah sugesti saja. Seiring tumbuh dewasa, mabuk daratnya pasti akan hilang."


"Umur Dominique dan Dorothy sekarang adalah 16 tahun. Berapa umurmu yang sebenarnya?"


"25 tahun."


"Aah, anakku sudah dewasa sebelum waktunya."


Hah? Apa itu? Ambigu sekali.


"Padahal ada Dorothy yang bisa memimpin Ginova, kan? Dari sekilas saja, Dorothy lebih baik daripada Dominique."


Memiliki saudara kembar tidak mungkin bisa selamanya seiras dalam segala hal. Memiliki warna rambut yang sama-sama hijau toska, warna mata yang sama-sama ungu bagai batu mulia, sama-sama perempuan, dengan tinggi badan yang bahkan hampir tak ada bedanya. Semakin banyak kesamaan, perbedaan juga semakin banyak. Dominique suka menggerai rambutnya, tapi Dorothy suka menyanggul rambutnya. Selera pakaian dan kosmetik masing-masing juga berbeda. Apalagi selera makanan, Dominique suka makanan dengan rempah-rempah kuat, akan tetapi Dorothy mudah puas dengan hanya sup sayur orang sakit.


Beragam cara sudah dicoba agar sepasang saudari kembar itu bisa memiliki apapun dengan satu selera yang sama. Sayangnya, selera yang sama itu justru terkait berdua menyukai satu lelaki yang sama. Kini, beragam cara dicoba untuk membuat salah satu dari mereka bisa menyukai laki-laki lain, tapi mereka berdua tidak bisa diatur oleh orang lain. Sebagaimana sifat ambisius Dominique dengan segala hartanya yang tertutup rapat di Kastel Mangata, dia sangat menjaga apapun yang berharga baginya. Ya, Dominique tidak akan mengalah.


Sang bulan tak mau kehilangan cahayanya. Namun, cahayanya itu ia dapatkan dari sang surya.


Dorothy begitu baik dan lemah lembut, kebaikannya bersinar si seluruh penjuru negeri. Ia sangat menyayangi saudarinya dan ingin saudarinya bahagia, yang diinginkannya hanya kebahagiaan Dominique. Dorothy sudah mengalah jauh sebelum ia tahu bahwa Casildo menyukai saudarinya. Dorothy semakin bersyukur karena memutuskan untuk mengalah. Walau begitu, hatinya tidak bisa berdusta seperti ia memanipulasi keinginannya untuk bersama Casildo.


"Sejujurnya, aku lebih menginginkan Dorothy untuk menjadi penerus karena dia lemah lembut dan peka dengan lingkungan sekitar. Namun, terlalu baik itu tidak boleh juga, apalagi menjadi seorang pemimpin. Berbeda dengan Dominique yang berterus terang dan bisa mempertahankan tujuannya apapun yang terjadi. Aku sebagai kepala keluarga harus memikirkan keberlangsungan anggota keluarga Ginova yang lain juga."


Dominique, si sulung, yang memiliki watak yang tebal. Dorothy, si bungsu, yang memiliki watak yang samar-samar. Dominique mewarisi sifat dari Theomund, sementara Dorothy mewarisi sifat dari Lesya. Baik keduanya sama-sama memiliki orang tua yang mengerti karakteristik mereka dan bisa membimbing mereka. Tanpa perlu ada kecemburuan, keduanya bisa menjadi yang terbaik dengan cara masing-masing. Namun, apakah Dorothy tidak mau membela takhtanya? Hanya karena Dominique lahir beberapa menit lebih dulu darinya, dan bukan dia?


Dominique itu realistis, tapi Dorothy juga tidak sebodoh itu. Ingin pemimpin tegas yang bisa membimbing dan memberi pengarahan dengan jelas atau pemimpin yang penyayang dan selalu menggunakan jalan yang damai tanpa menunjukkan hierarki dari seorang pemimpin. Manakah yang sekiranya lebih kuat untuk memimpin keluarga penyihir?


"Ayah memang sangat bijak," pujiku.


Theomund terkekeh puas, dia menghela napasnya setelah tertawa. "Aku ingin tanya satu hal lagi."


"Ya?"


"Apakah Kamu mempunyai saudara?"


Kenapa dia menanyakannya?


"Tidak. Aku anak tunggal. Sampai aku siuman beberapa hari lalu, aku yakin, orang tuaku masih sehat sentosa."


"Wanita dewasa, lalu anak tunggal. Tidak akan ada yang menyadari perbedaan pada Dominique Ginova."


Kuakui, dia ayah yang baik, pemimpin yang bijak, bisa memilah mana yang penting dan tidak dengan benar. Bahkan dengan usia asliku, aku masih kalah dengannya, yang berarti ia memiliki lebih banyak pengalaman hidup daripada diriku. Karena pada zaman dulu serba kekurangan, mereka harus bisa putar otak agar memiliki solusi untuk masalah mereka. Orang-orang pada zaman dahulu itu hebat. Hasilnya adalah penemuan mereka yang telah orang-orang pada zamanku manfaatkan. Semuanya serba mudah dan simpel, penemuan yang mempermudah masyarakat di seluruh dunia.


Merawat anak itu tidak mudah, bahkan untuk seorang penyihir berstrata tinggi. Kemana pun aku pergi, aku selalu merepotkan orang tua. Ah, untung saja aku sempat memakan masakan ibu sebelum akhirnya berpindah ke sini.


"Tuan Theomund, kita sudah sampai."


Dari kejauhan, aku bisa lihat ada tiga orang dengan pakaian yang berdiri menunggu di jalan masuk utama menuju kastel. Satu adalah seorang pria tua dengan pakaian hitam putih, seorang kepala pelayan. Satu adalah seorang pemuda berambut hitam yang juga memakai pakaian ksatria, hanya saja terlihat lebih mewah dan warna seragamnya pun berbeda. Satu lagi adalah seorang gadis seusia yang memiliki rambut berwarna toska-yang disanggul-seperti aku dan Theomund.


Dua sosok yang mencolok itu adalah tokoh utama pria dan tokoh utama wanita di dunia ini. Sedangkan aku, adalah juru kunci yang akan menentukan nasih mereka. Namun, rupa-rupanya takdir berkata lain. Mereka tidak bisa menentukan takdir mereka jika tidak ada aku, yang ada hanyalah aku yang menentukan takdirku sendiri.


"Kenapa ada Casildo?"


"Meski sang ayah adalah si tersangka, tidak selalu anaknya juga ikut terlibat juga, kan? Lalu, ingatlah, mulai sekarang Kamu adalah penyihir bernama Dominique Ginova."


Kereta kuda berhenti di depan ketiga orang tersebut dengan sempurna. Kepala pelayan yang sudah sepuh itu melangkah maju untuk membukakan pintu kereta kuda. Theomund melangkah keluar terlebih dahulu, diiringi dengan kata-kata sambutan dari mereka.


"Selamat datang kembali, Ayah, Dommy!"


"Selamat datang kembali, Tuan dan Nona Dominique. Bagaimana perjalanannya?"


"Kurang baik. Wajah Dommy begitu pucat saat di perjalanan, harusnya aku tidak memaksakannya naik kereta kuda ketika keadaannya masih belum optimal."


Sandiwaraku sebagai Dominique Ginova, dimulai dari sini.


Ketika aku melangkahkan kakiku ke pijakan kereta, sebuah tangan yang berbalut sarung tangan hitam mengulurkan tangannya padaku. Lantas aku memberikan salah satu tanganku padanya, aku menggenggam tangannya dengan kuat, dan dia sama sekali tidak merasa terganggu dengan genggaman tanganku. Ketika aku menapak tanah dengan sempurna, kereta kuda segera melaju kembali menuju ke arah gudang.


Laki-laki yang menggenggam tanganku ini adalah tunanganku. Casildo Valera, putra dari seorang komandan ksatria kerajaan. Dengan rambut yang sehitam bijih batu bara, bahkan cahaya mentari pun tidak bisa memantulkan sinarnya. Senyumnya melengkung sempurna seperti bulan sabit. Iris mata merah marun bulat sempurnanya seperti buat rasberi. Sewaktu-waktu aku mendeskripsikan warna mata Casildo akan semakin gelap seiring dia dewasa. Dari buah rasberi menjadi warna gerhana bulan. Casildo bukan laki-laki biasa lagi, melainkan seorang pria dan ksatria.


"Bagaimana keadaanmu?"


"Sudah lebih baik dari sebelumnya."


"Baguslah. Kemarin, aku dan ayahku baru saja pulang dari pesisir, karena beliau sedang patroli di sana. Jadi, kami membawakanmu ikan salmon untuk membantu penyembuhanmu."


Biar kutebak, pesisir tempat mereka membeli ikan salmon itu sama dengan pesisir tempat Dominique tenggelam. Itu berarti, Cashel sedang memasang perangkap, tapi bukan mustahil juga dia melakukan sesuatu karena Dominique yang seharusnya sudah mati masih hidup. Aku tidak akan kaget kalau kunjungan Casildo yang ke depannya, Cashel akan ikut datang mendampinginya.


"Terima kasih atas hadiahnya yang penuh manfaat."


Setelah aku selesai berbicara, terdengar suara seseorang yang mendengus, "Padahal aku menyapa kalian terlebih dahulu, apa kalian sudah melupakanku?" cibir Dorothy.


Aku menarik tangan Dorothy, mendekap tubuhnya dalam rangkulanku. Tokoh utama dari dunia ini yang berhasil memberikan keadilan bagi mendiang kakaknya. Menjadi penerus tunggal dari keluarga Ginova. Walaupun tidak mendapat kemenangan atas perasaannya. Dorothy sudah berpuas diri dengan segala pencapaian yang telah digapainya. Kebenarannya adalah kembar Ginova merupakan sisipan diriku. Aku mencintai semua sisi kepribadian diriku.


"Aku pulang, Dormy."


"L-lehermu dingin sekali! Ayo, masuklah ke kamarmu, istirahat sambil menunggu makan siang disiapkan!"


Kruyuk


Kami semua gagal fokus setelah mendengar bunyi perut seseorang yang kelaparan. Tidak, bunyi itu tidak berasal dari diriku. Perutku memang sedang sakit karena asam lambung, tapi itu tidak berasal dariku. Suara perut itu berasal dari Theomund. Dia yang terbekuk kelaparan hanya bisa terkekeh malu sambil mengusap-usap perutnya.


"Ah, aku peka sekali kalau sudah mendengar makanan. Aku lapar, Dormy. Apa menu makan siangnya?"


"Itu terserah Dominique saja, Ayah."


Jangan seperti itu, jangan membuatku merepotkan kalian. Mentang-mentang aku terlahir di keluarga bangsawan, apakah aku boleh meminta sesukaku?


"Salmon dari Casildo simpan saja untuk makan malam. Aku ... ingin makan bebek panggang."