
"Aku hanya memberikan solusi efektif yang sesuai prinsipnya."
"Kau tahu rumor apa yang akan muncul kalau seorang bangsawan sepertinya memberikan hadiah pada wanita lain selain tunangannya?!" seru Cashel, penuh dengan nada tak terima.
"Aku sangat paham, tapi sepertinya Theomund juga tidak mau menyia-nyiakan Harta Sihir yang bernilai itu. Seorang penyihir harus menerapkan Harkat Meraki, kan?"
Ekspresi Theomund setengah terkejut san setengah jutek. Agaknya dia kesal karena aku tahu banyak hal, atau dia tidak suka ada ia kedua yang bisa menjadi kandidat kuat pesaingnya. Toh, aku hanya mengulangi pembelajaran yang aku dapatkan dari ayah, maksudku, Theomund masa depan. Wajahnya kaku karena ia menahan-nahan emosinya yang sudah naik pitam, tetapi jika dia menangkap apa mauku, maka dia tidak akan gegabah seperti tadi. Manusia yang baik ialah yang belajar dari kesalahannya dan tidak akan mengulanginya lagi di masa depan.
"Kau sampai tahu sejauh itu rupanya," kata Theomund, suaranya nyaris seperti bisikan.
Cashel menatap kami bergantian, wajahnya dipenuhi dengan tanda tanya. "Memangnya apa artinya?"
Harkat Meraki merupakan semacam motto atau panduan hidup bagi penyihir. Penyihir yang baik adalah mereka yang menerapkan Harkat Meraki, yang berarti para penyihir yang memiliki derajat yang berdiri atas segala sesuatu dengan terdiri cinta, kreativitas, dan sepenuh jiwanya-mengandalkan sepenuhnya jiwa lahir dan batin penyihir. Namun, Harkat Meraki hanyalah salah satu dari beberapa lainnya yang ada, akan tetapi keluarga Ginova menetapkan Harkat Meraki. Sayangnya, tidak semuanya mau dan bisa menerapkannya.
Aku bertatapan dengan Theomund yang tampak hanya diam saja, sepertinya dia pun tidak berniat untuk memberikan penjelasan. Mungkin dia juga menanti agar aku saja yang menjelaskan kepada Cashel. Walau begitu, dia hanya termenung seperti patung. Aku rasa kami sepakat untuk tidak menjelaskan pengertian Harkat Meraki maupun ***** bengeknya. Kisah-kisah Harkat Meraki ada banyak sekali contohnya sampai beberapa belas buku, tidak akan habis kalau diceritakan sekarang.
Kami menarik napas dengan seirama, menyiapkan untuk mengucapkan satu kata yang sama. "Rumit," ucap aku dan Theomund bersama-sama.
"Ha?" Cashel mendengus dengan kepalanya ia ayunkan ke arah Theomund.
Theomund dengan tenang menyapu poninya ke belakang. Itu adalah pertanda ketika sudah yakin bahwa situasi sudah dalam keadaan stabil, dia tidak akan menyerangku lagi. Ditambah, dia melipat kedua lengannya di depan dada dengan memasukkan tangannya ke dalam ketiaknya, wajahnya lebih tenang dari sebelumnya. Hawa dingin tanah yang aku pijaki pun menembus alas kakiku, syukurlah, keadaan telah terkendali.
Lucu rasanya kalau seorang ayah nyaris membunuh anaknya sendiri yang datang dari masa depan karena didorong untuk pergi ke masa lalu oleh dirinya di masa depan pula.
"Tidak akan ada yang berani bicara macam-macam tentangku. Kalau ada ..." Theomund menjeda kalimatnya dengan diiringi sesuatu penekanan-nada provokasi yang menghasut-yang tidak mengenakkan.
Perbuatan tidak menyenangkan; mencaci, mencerca, mencela, mencemooh, mencibir, mengecam, memaki, menghina, dan segala bentuk kritik lainnya yang tidak mudah diterima oleh orang-orang besar yang memiliki derajat tinggi. Theomund tidak ambil pusing tentang semua omong kosong yang dilontarkan masyarakat maupun sesama bangsawan padanya, tetapi ayahnya, selaku kepala keluarga yang tidak terima karena darah Ginova yang murni diinjak-injak.
Theomund bisa melakukan hal yang serupa, bahkan bisa lebih, tetapi dia tidak menggunakan kekuasaannya dengan semena-mena dan berusaha keras agar ia bisa menjadi pewaris absolut. Ia akan menunggu sampai pembuktian membuka Mata Arwahnya selesai dahulu. Lebih tepatnya tiga tahun lagi atau saat usianya sudah menginjak 25 tahun, ia akan resmi menjadi kepala keluarga Ginova yang baru.
Menurut Theomund, ketidakadilan itu adalah hal biasa. Manusia memerlukan pelampiasan untuk meluapkan rasa kekesalannya. Yang mana sangat sedikit manusia di muka bumi yang mau mengakui kesalahannya dengan cara baik-baik, nyatanya lebih banyak manusia yang tidak mau mengakui kesalahannya dan lebih suka terjebak dalam kebodohannya sendiri. Theomund tidak mau menghadapi orang bodoh, sayangnya, Lesya dan Dorothy memanglah sebodoh itu.
Sekarang aku bersyukur terlahir kembali sebagai Dominique, bukannya sebagai Dorothy. Pamor tiada banding memang bisa terwariskan dari darah. Meski orang-orang yang meremehkannya itu masih terjebak dalam sugesti negatifnya masing-masing, faktanya Theomund hidup dalam kejayaan yang berasal dari hasil keringatnya sendiri. Ialah bukti ketika orang yang berbakat memiliki potensi dalam diri mereka.
Orang 'yang terpilih' ialah bagaikan pedang yang telah ditempa sempurna dan siap digunakan untuk menghukum musuh, kemungkinannya kecil—mereka tidak perlu berusaha sama sekali—meski ada dugaan bahwa kasus seperti ini bisa sangat banyak di luar sana, lebih daripada yang telah ditemukan. Kemudian, orang-orang berbakat seperti Dorothy adalah pedang yang baru saja ditempa dan perlu untuk diasah hingga tajam dan berkilau—hanya berusaha sedikit saja. Sementara itu, mereka yang memiliki potensi seperti Dominique masih berupa bijih—yang harus bekerja keras—menuju proses pelelehan, pencetakan, penempaan, barulah pengasahan sampai jadi. Walau begitu, tidak sedikit yang—berusaha sangat keras dengan tekad yang lebih kuat dari baja—berdasarkan pada minat yang dimulai dari nol, dengan langkah awalnya di pertambangan hingga pendistribusian ke penempaan.
Bibirnya setengah menyeringai, irisnya berkilau bagaikan mata pedang suci yang memantulkan cahaya putih rembulan. "... Kau tahu bagaimana akhirnya."
"Huh, semua penyihir itu menjengkelkan," gerutu Cashel sembari menyimpan pedangnya kembali masuk ke dalam sarung pedang.
Hawa di sekitar Sir Cashel terasa menyenangkan, entah mengapa.
"Jadi ..." Suara Theomund kembali mengintervensi diriku, kata-katanya sedikit dipanjangkan dengan tambahan suatu nada abstrak untuk menarik perhatianku padanya. "... Di mana Kau ingin aku mengantarkan Harta Sihir padamu?"
"Di tanah lapang dekat danau pada setiap malam bulan purnama."
Hanya aku yang bisa menyelamatkan diriku sendiri. Hanya aku yang kini menentukan akan seperti apa masa depanku, mungkin juga masa laluku. Jika takdir sudah bersabda, maka aku tak punya pilihan lain lagi. Karena menurut akal sehat biasa, aku sudah tidak terikat dengan apapun lagi.
"Tapi, apa Kau tahu kalau Pewarisan itu memerlukan Nama Takdir kita berdua?"
"Tentu saja aku tahu."
"T-tunggu, tunggu dulu—" Ekspresi Cashel berubah panik, dihiasi dengan peluh keringat yang mengucur deras dari pori-pori kulit pelipisnya. "Wahai saudara dan saudari penyihirku!" Ia berseru dengan nada penolakan keras.
Ia mengangkat kedua tangannya kemudian memijat-mijat pelipisnya selama beberapa putaran. Di saat itu, ia menarik napas lalu menghembuskannya dengan mata dan terpejam serta suara yang setengah berteriak. Terlihat di dahi lebarnya itu alisnya sampai menyatu dan berkedut, lalu urat-urat pembuluh besar di lehernya yang berwarna hijau kebiru-biruan pun mengetat, tanda bahwa jantung bekerja keras untuk mengalirkan oksigen di dalam darah menuju otak dengan cepat.
Dia tampak tertekan.
Aku serta Theomund menunggu Cashel dengan sabar sampai ia berhasil menenangkan dirinya sendiri dan membiarkannya mengambil waktu untuk menelaah apa yang sebenarnya tengah dan akan terjadi. Lagipula, kami tidak sedang dalam keadaan terburu-buru, kan? Dari cara Cashel menarik dan menghembuskan napas untuk yang kesekian kalinya, aku yakin itu yang terakhir sebelum ia mengemukakan pendapatnya kembali.
"Nama Takdir itu seperti Kau memberikan jaminan yang bisa menggadaikan jiwamu, lho. Bukannya itu rahasia?" tanyanya.
Setiap anak di dunia ini terlahir dengan Nama Takdir. Nama Takdir itu seperti sinopsis novel—yang disebut kehidupan—tetapi itu hanya mencakup dalam satu kata saja. Bayangkan, kehidupan yang kelam-kabut ini disatukan dalam sebuah kata yang masih ambigu maknanya. Makna dari Nama Takdir itu baru dan hanya akan disadari oleh pemilik nama itu sendiri ketika ia telah mengalami Titik Balik; dimana nama tersebut mengacu pada salah skenario ******* di dalam hidup seseorang. Salah satu kegunaan Nama Takdir ialah untuk mengetahui, apakah seseorang menjadi yang terpilih, berbakat, berpotensi, atau yang berminat.
Nama Takdir itu bagaikan tanda lahir, yang katanya tanda lahir itu menjadi penyebab bagaimana seseorang meninggal di kehidupan sebelumnya. Nama Takdir itu hampir seperti ramalan atau orakel, karena Nama Takdir pasti akan membantu seseorang untuk mencapai tahap titik balik hidupnya terutama ketika sudah begitu berputus asa, dan tidak ada yang bisa melawannya ketika benang kusut telah terurai menjadi satu bentangan panjang yang entah berhenti di mana ujungnya yang lain.
Semuanya sudah dituliskan dengan lengkap dan tanpa ada plot hole. Yang bisa kulakukan hanya menjalaninya.
"Awal dan akhir kita semua telah ditentukan oleh takdir yang misterius itu, demikian, Kamu berhak mengetahui Nama Takdirku sebab Kamu adalah penyelamatku. Bagaimana menurutmu?" Aku coba meminta pendapat kepada Theomund, karena yang menjadi kunci mustajabnya adalah dia.
"Boleh saja. Lagipula, kalian tampak dekat."
"... Maaf?" Apa maksudnya berbicara begitu? Aku sampai harus memastikan bagaimana Cashel bereaksi, dia sendiri juga kebingungan, lho.
Seperti ada banyak hal yang ingin diungkapkan tapi tak tahu harus menjelaskan bagaimana karena tak bisa menyusun dan secara bersamaan menuturkan kata-kata yang baik dan benar. Pikirannya pasti acak-acakan. Tunggu, wajah Cashel memerah...
Lantas, Theomund terkekeh pelan dengan senyumnya yang merekah lebar. Lama kelamaan senyumnya menjadi gelak tawa yang masih ditahan-tahan dengan otot perut. "Kita mulai sekarang. Dimulai dari dirimu, Cashel, setelah itu aku."
"Y-yah, cepatlah selesaikan ini," balas Cashel, seraya melepaskan kedua sarung tangannya.
Aku dan Theomund berjalan mendekati Cashel yang posisinya menengahi kami ketika Theomund coba menyerangku. Sedangkan aku masih menjaga kain hitam agar senantiasa masih menutupi tubuhku. Meski keadaan sudah kondusif, sepertinya bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan jadi diriku yang sebenarnya. Biarlah aku tetap menjadi misterius seperti ini. Biarlah Theomund menjaga rahasiaku rapat-rapat sampai 25 tahun kemudian.
Aku tidak paham, darimana ini bermula, dan bagaimana kehidupan ini akan menjadi happy ending atau sad ending. Aku sudah menyimpan kesimpulan, tapi sepertinya ada potongan yang belum lengkap sebab kebenaran sejatinya lebih daripada itu.
Aku memberikan tangan kananku pada tangan kiri Cashel, sementara tangan kiriku digenggam tangan kanannya Theomund. Theomund menarik napasnya, kemudian menghembuskannya dengan lembut. Udara di sekitar kami pun bercampur aduk, tanah di bawah kaki kami terasa hangat, tapi ada angin sejuk yang mengelilingi kami bagai angin ****** beliung. Irisnya tertutup dari balik kelopak matanya, bibirnya mulai membuka untuk merapalkan mantra yang akan mengikat kami dengan efisiensi terpusat.
"Oh, takdir yang menyusun jejak langkah kaki kami di atas lintasan garis hidup yang berliku. Berkatilah fitrah yang hendak kami bentuk ini. Lindungilah segala pemberian dan kepemilikan kami. Jagalah agar tersimpan baik dalam genggaman kami. Bantu kami menjaga segala amanat yang telah dititipkan kepada kami," rapal Theomund.
Mantranya masih belum selesai, tapi Theomund telah membuka matanya kembali, setelah itu dia menatap lurus ke arahku. Ia menungguku untuk menjadi pemula—mengungkap Nama Takdir kami masing-masing. Akan ada semakin banyak hal yang aku sadari mulai dari sekarang. Malahan, tampaknya aku sudah merasakan instingku merasa tolak ukur dari titik balikku sudah semakin dekat. Aku akan berusaha semampuku, akan kucari celah untuk melaju, aku tidak akan mengada-ada lagi dengan dunia ini.