The Step Of Palimpsest

The Step Of Palimpsest
#14



Tidak perlu sampai mengalahkannya. Cukup untuk memukulnya mundur atau menakutinya. Lagipula, tidak semua penyihir bisa mengalahkan sihir yang sebesar ini. Sial, keadaan jadi begini karena Cashel terjun ke sungai untuk menyelamatkanku. Lalu, aku tidak pernah dengar apa-apa soal ular ini yang menjadi sekutu ayah. Dan apa alasannya ketika ia melarang untuk mendekati danau ini tetapi membawaku kemari lagi saat Mata Arwah berhasil terbuka?


Biar aku pikirkan lagi. Aku akan mencari jawaban dari ular ini sendiri.


Potongan tubuh ular itu masih hangat dan segar yang berarti ini merupakan bagian dari diri ular tersebut. Darah, daging, dan tulangnya mengandung kekuatan dan ingatan. Elemen yang berkobar yang cocok menjadi komponen tambahan untuk pedangnya Cashel. Mahkluk purba seperti titanoboa, bedanya ular satu ini bergerak sangat lincah dan mampu mengejar kami dari dalam air sampai ke daratan. Predator paling tangguh pada zamannya, kini dia terbangun karena ulah kami


Aku berlutut tepat di depan daging segar dan darah yang mengalir. Aku letakkan telapak tanganku pada permukaan daging hangat berkedut dan lembab itu. Perlahan-lahan kubenamkan ujung-ujung jariku ke dalam daging tersebut. Ah, agak aneh rasanya saat dalam keadaan sadar aku sedang memegang daging ular. Bayangkan saja ini daging ikan yang belum dibersihkan dari sisiknya. Tutup matamu dan jangan bernapas.


"Bercemar kain seputih sutra, kesuciannya ternoda oleh setetes darah. Murup-murup mahkotanya, tatkala tedas kelopaknya, bergairah seperti warna buah saga. Duhai darah liar yang terbangun dari tidurnya, ungkapkan padaku tabiat kulawangsamu. Sanguis lotos."


Aku merasakan telapak tanganku disedot oleh daging yang masih hidup itu. Perlahan-lahan dalam kegelapan, aku menerawang awal mulanya dari sudut pandang pertama ketika ia pertama kali datang ke dunia dan keluar dari cangkang telurnya. Dari kecil ia sudah bergulat dengan saudara-saudaranya. Ah, aku sangat bisa memahami perasaannya. Semakin bertambah usianya, semakin berat persaingannya. Ia hanyalah bagian kecil dari dunia ini, tetapi akhirnya dengan kerja keras ia memiliki kekuatan menduduki hierarki puncak.


Tubuh yang mampu meremukkan ratusan hingga ribuan tulang mahkluk hidup hanya dalam sekali putaran saja. Digambarkan sebagai bentuk kerakusan, karena mampu menelan mangsanya hanya dengan sekali membuka mulut. Menjadi sumber ketakutan, semua orang lari terbirit-birit ketika melihatnya menggeliat dalam keadaan perut kenyang. Walau begitu, ia juga sering disimbolkan sebagai kebijaksanaan, kekekalan, dan ketenangan.


Hidupnya terbakar dengan lambat. Banyak nyawa yang meregang karenanya demi agar ia bisa bertahan hidup. Sampai ketika ribuan tahun yang lalu ia memasuki danau ini demi berlindung dari perubahan iklim. Sungai yang sangat damai dan ada banyak mangsa yang bisa diburu. Hingga tali pembakarnya telah mencapai debu mesiu yang akan menciptakan ledakan besar. Di sanalah ia menemukan sekutu pertamanya dan menjadikan danau itu sebagai rumahnya.


Aku paham. Dia tidak membiarkan mereka menjadi tidak bertuan terlalu lama. Karena kesepian untuk waktu yang lama itu sangatlah menyiksa. Walau membuat kepalaku pusing karena melihat perjalanan hidup panjang ular ini, akhirnya aku bisa mempelajari bahasa serrejopent, bahasa kuno leluhur para ular yang digunakan oleh spesies titanoboa. Dengan begini, kami tidak harus untuk bersusah payah melukainya.


"Cashel, pancing dia ke arahku!"


"Hah? Apa yang mau Kau lakukan?!"


"Lakukan saja!"


Cashel menghunuskan satu tebasan terakhir untuk kabur dari cengkraman ular itu. Ia pun berlari menuju ke arahku sampai ia berhenti tepat di belakangku. Ular itupun mengejarnya, kini ia memiliki dua mangsa yang bisa langsung dia santap, mulut lebarnya telah menganga dengan gigi-gigi tajam dan raungan yang memekakkan telinga. Aku melangkah maju untuk menghentikannya, tak kuhiraukan suara teriakan dari Cashel.


Mulutnya sudah hampir di depan wajahku, sampai aku mengucapkan namanya. "Piscinoboa."


Ular itu tidak langsung memakanku, tetapi dia melingkariku seperti tak membiarkanku untuk kabur. Lalu bahasa tubuhnya mengisyaratkan kebingungan dan rasa penasaran. Sepertinya dia masih ingat dengan namanya, bahkan setelah ribuan tahun telah berlalu ketika ia berhibernasi di bawah sana. Aku tahu rasanya diganggu ketika sedang tidur. Momen istirahat itu sangat penting, kalau tidak, aku tidak akan bisa mengerahkan performa utamaku untuk hari esok.


"Maafkan aku karena sudah mengganggu tidur lelapmu." Aku meletakkan tanganku pada sisik kerasnya, sambil tidak mengalihkan pandanganku dari mata tajamnya.


"Apa yang bisa kuberi sebagai ganti ruginya? Aku janji, tidak akan mengganggumu lagi."


"Jadilah ... sekutuku."


"Menurutmu, apakah aku ini?"


"Kau adalah sihir ... yang tidak memiliki rumah ... aku akan memberimu rumah ... dan teman."


Jadi, aku bukan manusia atau penyihir lagi? Begitu, jadi aku sudah melampaui semua orang. Padahal ayah masih tingkat Daylight, tetapi sia sudah melakukan hal yang sebanyak ini. Yah, dia itu memanglah si penyihir jenius dari keluarga Ginova. Dia kebanggaan keluarga sebelum aku atau Dorothy akan menggantikannya. Tingkatan terendah atau tertinggi itu tidak berarti baginya. Dia membuktikan bahwa ia berada di atas, benar-benar menunjukkan dirinya bahwa ia unggul.


"Aku tidak bisa menjadi temanmu, tapi Kamu bisa menjadi teman orang lain."


"Apa maksudmu?"


"Aku tidak suka berbasa-basi, aku hanya menginginkan mereka yang memiliki tujuan jelas. Dia pasti akan banyak meminta dariku."


"Dia sangat menjunjung kekuatan, jadi dia tidak akan pikir panjang untuk menjadikanmu sekutunya."


Dia terus mendesis sembari mengelilingiku, memperhatikan segala lekuk tubuhku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Lalu, ia memejamkan matanya dengan meneruskan desisannya. Sementara itu Cashel hendak mendekatiku, tetapi aku memintanya untuk tetap di tempatnya saja. Aku sedang dalam proses negosiasi penting. Apapun yang terjadi di masa depan, semuanya berada dalam genggamanku.


Semuanya tergantung padaku.


"Aku paham ... Dengan mengirimmu ke masa lalu seperti ini, dia akan membayar mahal padaku."


"Apa yang akan Kau minta padanya?"


"Saudarimu."


Napasku tercekat. Dadaku seperti dihujam oleh paku raksasa. Ah, rasanya seperti menerima teluh oleh dukun jahat. Walau Dorothy mencoba untuk membunuhku, tetapi aku tidak mencoba untuk balas membunuhnya. Aku hanya menginginkan dia dipenjara saja tanpa dieksekusi mati. Pun Casildo setuju padaku, buktinya dia bisa saja mengatur guntur dari pedangnya untuk bisa langsung membakar jantung dan otak Dorothy. Namun, dia hanya coba untuk melumpuhkannya saja. Bukannya tidak bisa membunuh, tapi tidak mau.


Aku akan menderita sendiri kalau jadi senaif ini. Aku tidak akan membunuh orang dengan semudah itu. Tidak, aku bisa saja lebih kejam dari mereka. Kematian akan memperingan rasa sakit yang sudah mereka berikan padaku, tetapi kalau mereka dipenjara maka mereka bisa setimpal merasakan penderitaanku. Aku tidak terima ada orang lain yang melukai Dorothy selain diriku.


"Akhir-akhir ini mereka lebih lapar dari biasanya. Karena aku didukung oleh mereka, maka aku harus menuruti keinginan mereka. Aku berjanji, akan memberikanmu keadilan baik di dunia ini atau dunia lain."


Ular difilosofikan sebagai simbol kebijaksanaan dan kecerdikan. Namun, sungguh, apa maksud dari perkataannya itu? Dunia yang lain itu berarti saat aku masih menjadi Karmina? Aku tidak ingat pernah bertemu atau melihat ular besar secara langsung. Atau mungkin, selain keterkaitan antara masa depan dan masa lalu, boleh jadi ada sesuatu yang lebih daripada ini semua? Sesuatu yang berada di luar bayangan manusia, seperti nasib bagi para penyihir Tingkatan Eve yang tidak diketahui.


Mereka langsung 'menghilang' setelah menginjak usia 75 tahun. Karena itulah, aku dan Dorothy tidak pernah melihat kakek dan nenek setelah ulang tahun ke-16 kami.


"Dunia lain? Apa maksudmu?"


"Kau hanya perlu menunggu waktunya, Sang Gerhana."


Ia memutar tubuhnya, tidak lagi mengurungku di dalam lingkaran tubuhnya lagi. Ia kembali bergerak selang-seling pepohonan dengan otot-otot perutnya. Terus bergerak kembali menuju danau, meninggalkan bercak darah dari ekor yang tadi dipotong oleh Cashel. Ia melenggang tanpa memberikan sepatah kata apapun lagi, bahkan ia tak lagi menoleh sedikitpun ke belakang. Meninggalkanku dalam tanda tanya tanpa ada niat untuk membebaskanku dari kebingunganku mendeduksi makna ucapannya.


"Apa yang Kau lihat dariku? Kumohon, beritahu aku! H-hei, Piscinoboa!!"


Lemas. Kakiku terlalu lemas untuk menerima kenyataan bahwa ia akan muncul ke permukaan lagi setelah aku mengganggu tidurnya untuk yang kedua kalinya, untuk memakan Dorothy sebagai ganti rugi. Ah, tidakkah ada cara lain lagi untuk memperbaiki kesalahan anak itu? Tidak, kematiannya akan menjadi salahku. Salah satu dari kami memang harus ada yang mati, agar yang lain bisa bertahan hidup. Sial, simbiosis parasitisme macam apa ini? Harus ada yang menjadi tumbal jika yang satu ingin dipertahankan.


Di dunia novel, Theomund ingin mempertahankan Dorothy, jadi dia tutup mata atas dosa anak itu. Namun, di dunia ini, dia sudah bersekutu dengan Piscinoboa dan kini bersedia mengorbankan Dorothy agar aku bisa melewati batas Tingkatan. Jenius dan gila itu beda tipis.


Langkah kaki berat Cashel mendekatiku, ia berlutut untuk kemudian mengangkat lututku yang mencium tanah. "Apa yang kalian bicarakan?"


Angin berhembus membawa segala aroma yang bercampur menjadi satu. Aroma petrikor yang dapat hidungku sambut dengan ramah. Bau anyir dari darah ular dan amis dari air danau berlumut. Kemudian, satu lagi adalah aroma sihir yang menyengat. Dia dalam perjalanan kemari satu arah dari penjuru di mana hembusan angin ini berasal. Dia melesat dari Kastel Ginova dengan kudanya. Bahkan dengan Mata Arwah yang tertutup, dia sudah menarik seperti ini. Piscinoboa pasti tanpa sadar terhipnotis oleh aura ini.


Ayah—Theomund—sedang menuju kemari. Tak mungkin aku menunjukkan diri dengan surai rambut yang sangat menyerupai miliknya.


"Maaf. Aku harus pergi."