The Step Of Palimpsest

The Step Of Palimpsest
#20



"Pft— uhuk uhuk!"


Aku merasakan ada sihir yang muncul dari dalam sana, entah apa yang dilakukan Theomund sampai Cashel tersedak begitu.


"Aku sudah tahu Kau akan tertawa."


Kepribadiannya sangat berbanding terbalik dengan di masa depan. Pastinya pernikahan politik. Keluarga Ginova memang penuh dengan sandiwara, tidak ada yang jujur, karena menjadi jujur itu artinya mengekspos kelemahan diri sendiri.


"Uhuk— Kau mencoba membunuhku?!"


"Jangan coba-coba tertawa. Perjodohan itu bukan lelucon, tahu?"


"Hah, kalian—para penyihir—terlalu banyak maunya."


"Kau terlalu banyak bicara."


"Wah, maaf. Apakah aku menyinggungmu, Tuan Muda?"


Dia terdengar kesal, sepertinya aku bisa menebak apa alasannya menjadi demikian. Karena melatih Dominique untuk membuka Mata Arwah, tentu saja dia akan menceritakan pengalamannya supaya Dominique bisa belajar darinya. Tepat ketika Theomund mencapai usia kedewasaannya, ayahnya berkata, jika Theomund ingin menjadi pewaris maka ia harus membuktikan kelayakannya. Caranya adalah dengan menutup Mata Arwah berharga yang terbuka dari lahir, kemudian dia akan berlatih sendiri untuk membukanya kembali. Tidak ada alasan bagi ayahnya untuk membantu anaknya yang sudah dewasa sepenuhnya. Jadi dia benar-benar sendiri untuk membuka Mata Arwahnya kembali.


Kalau begitu, Mata Arwah Theomund baru akan terbuka di tahun ketika Dominique dan Dorothy lahir.


Mungkin, alasan sebenarnya Theomund memilih Dominique sebagai pewaris adalah karena dia memahami kesulitan ketika terlahir dalam keluarga penyihir dengan tanpa memiliki Mata Arwah sebagai patokan bakat. Theomund begitu diuji oleh keluarga besarnya sendiri. Ia diragukan, dicerca, bahwa ia tidak akan berhasil. Sampai rumor yang sengaja disebar untuk membuat Theomund patah semangat adalah bahwa gelar pewaris tidak akan jatuh padanya kalau pada akhirnya dia tidak berhasil membuka Mata Arwahnya kembali.


Mau di manapun, keluarga besar itu mau tahu sekali, selalu saja ikut campur. Bagus kalau ikut membantu, tapi kalau menyusahkan begini, siapa yang tidak kesal?


"Bukankah Kau sudah mendengar cukup banyak? Sayang sekali Kau belum bisa minum dengan kami."


Aku merasakan lonjakan sihir yang meningkat secara drastis dari balik pintu ini. Ini sangat gawat!


"Menguping terlalu lama itu tidak baik. Jadi, bagaimana kalau Kau keluar dan unjuk gigi?"


Pokoknya, jangan sampai dia melihat rambutku!


Sekarang aku mengerti kenapa aku tidak bisa merasakan hawa keberadaannya. Pastinya dia sudah mendengar cerita dari Cashel tentang wanita yang temannya selamatkan itu. Sudah pasti juga, setelah melihat kemampuanku dan warna rambutku yang sangat mirip dengan temannya, tentu saja dia akan menceritakannya pada teman penyihir terdekatnya. Pikiran Theomund itu sangat tajam, dia juga peka, dia bukan tipe orang yang bisa dibodoh-bodohi dengan mudah.


Kadangkala bakat menang melawan kerja keras. Namun, kalau sudah berbakat dari lahir tapi diiringi dengan rasa sombong yang berlebih, maka melawan orang yang berhasil dengan kerja keras adalah suatu kesalahan besar. Ego dari orang sombong akan dibanting sampai ke inti bumi dan tidak punya nyali untuk terbang lagi. Dominique belajar kerja keras dari ayahnya, Dorothy 'belajar' kejayaan dan keistimewaan yang didapatkan oleh seseorang yang terlahir dengan bakat.


Aku yakin, aku yang sekarang sudah tidak dianggap sebagai manusia oleh ular purba agung bisa mengimbangi Theomund. Walau begitu, kami masih dibedakan oleh sebuah Tingkatan. Sebenarnya aku tidak perlu melawannya, atau aku hanya tidak ingin melawannya karena enggan merasa kalah. Aku tidak boleh kalah, aku tidak memilih untuk kalah. Aku dikirim ke masa lalu olehnya, aku merasa bukan ini yang pria itu inginkan. Aku tidak akan kalah semudah itu, muscle memory Dominique akan merespon semuanya.


Pintu yang berada di hadapanku itu terbuka mengarah kepada diriku. Aku cepat-cepat mengambil langkah mundur, lalu merobek dalaman gaun yang berwarna hitam. Dengan sihir, aku bisa melakukan apa saja. Termasuk merubah ukuran sebuah lembaran kain yang disobek menjadi bentangan karpet yang bisa menutupi seluruh lantai observatorium yang beratapkan kaca berisi air di Kastel Manga. Tidak, sebenarnya tidak sebesar itu juga. Yang penting adalah aku menutupi tubuhku sebaik mungkin. Biarlah dia melihat mataku dan menyadarinya suatu saat nanti bahwa warna mataku persis dengan mata istrinya.


Hempasan angin penuh sihir nyaris membuat kainku terbang, tapi aku segera kabur menggunakan sihir sampai ke arah pepohonan. Theomund tentunya tidak tinggal diam dan mengejarku. Dirinya adalah contoh yang benar, bakat dari lahir jika tidak diasah maka tidak ada gunanya, tapi kalau diasah sampai seruncing ini maka dia bisa menembus dinding kehidupan. Dia akan melewati batasan-batasan seperti Tingkatan. Tanpa menunggu sampai ia berusia 76 tahun ke atas, kekuatannya tidak diragukan lagi.


Sekian menit kabur, aku yakin kami sudah memasuki belantara hutan. Theomund dengan bebasnya mulai melancarkan serangan-serangan yang mengandung keinginan membunuh. Tidak ada waktu untuk membalas balik, kalau aku balas pun pasti kedokku semakin terbongkar. Menghindar saja, fokuskan sihir pada kecepatan dan daya tahan kalau serangannya tepat mengenaiku.


Beberapa meter di depan, ada sebuah cahaya yang muncul dari tanah. Sekali melihatnya saja aku sudah mengerti itu sihir milik siapa. Aku segera mempercepat langkahku dan meraih langkah besar. Seketika saja muncul Cashel yang melompat dari lubang teleportasi bersama dengan pedangnya. Theomund hendak melancarkan serangan besar, tapi dengan mudah dibelah oleh Cashel. Akibatnya sihir yang terbelah itu meledak menghantam tanah di arah kanan dan kiriku. Tak berlangsung lama, terdengar aduan nyaring kedua logam keras saling memukul satu sama lain.


"AKU TIDAK BISA SABAR DENGAN DUNIA YANG SANGAT KONYOL INI!!"


"Oke, oke, aku minta maaf dari lubuk hatiku yang terdalam, sungguh! Kenapa Kau menyerang dia?"


"Karena Kau bilang dia memiliki rambut yang sama denganku. Melihat dia menyembunyikan kepalanya dengan kain hitam, aku rasa itu benar."


Semudah inikah kedokku terbongkar?


"Hei, jangan termakan emosi! Kalau ingin berbicara, Kau harus tenang dulu. Aku tahu Kau tidak terima dengan perjodohanmu atau apapun yang mengganggumu, tapi tenanglah."


Matanya begitu tajam begitu melihatku. Yah, ini saatnya aku mengungkapkan kekuatan sebenarnya dari jendela jiwa. Lagipula, aku ini sudah melampaui manusia biasa, maupun penyihir.


"Secercah cahaya morrow melapangkan indraku."


Seketika Theomund terkesiap ketika ia mendengarku mengucapkan mantra. Matanya membeku sepenuhnya, sinar dari mataku pun sampai terpantul di matanya. Agaknya aku berhasil menghipnotisnya.


"Baiklah ... Maafkan aku, Nona."


Theomund menurunkan pedangnya, ia mengerang kesal seraya mencengkram rambut di kepalanya. Cashel pun menghela napas lega, ia tersenyum saat menolah kepadaku. Karena keadaan sudah terkendali, bagaimana kalau aku yang lebih dulu membuka suara?


"Theomund Ginova, aku tidak bisa mempercayaimu. Sir Cashel, bisakah Anda dan para pelayanmu berkompromi untuk menjaga kerahasiaanku darinya?"


"Harusnya aku tidak memberikanmu wine."


"Ini salahku, pikiranku carut-marut. Ugh, maaf, tapi aku ingin bertanya beberapa hal."


Kesempatan besar, nih.


Aku tahu sendiri, seberapa sejahtera dan berjayanya keluarga Ginova. Bukan perkara serius bagi Theomund untuk membangun dua kastel sekaligus sebagai bentuk cintanya untuk anak-anaknya. Pendidikan terbaik, makanan, pakaian, semuanya terbaik. Meski yang tidak baik cuma bagaimana sosialita dari keluarga besar memandang kami, terutama ketika satu dari sepasang darah dagingnya tidak menunjukkan tanda-tanda bakat. Kala Theomund dan Lesya terlahir dengan Mata Arwah yang terbuka, cercaan keluarga besar yang membuat Lesya malu sampai pernah memikirkan untuk melenyapkan Dominique saja.


Anggap saja ini sebagai balas dendam, atas bayaran mahal dari semua ketidakadilan yang diterima oleh Dominique. Mungkin aku juga harus meminta maaf karena memilih untuk mengetik nasibnya yang mengenaskan.


"Tidak gratis, ya. Ada harganya."


"Aku setuju. Katakanlah kemauanmu."


Jangan menyerahkan perkara yang tidak bisa ditangani oleh orang yang tidak ahli, atau kehancuran yang akan datang, bukannya manfaat baik. Setiap orang memiliki jalannya sendiri, setiap barang maupun alat memiliki kodrat fungsinya sendiri-sendiri. Seperti perahu nelayan tak akan bisa bergerak di daratan, mau diapakan sebuah cangkir teh yang dibuat langsung dengan tangan di dalam bar kalangan rakyat?


"Barang pemberianmu untuk Lesya, akan dianggapnya sampah belaka. Namun, aku memahami nilai gunanya, jadi berikan semua padaku."


"Ternyata Kau selicik itu, ya?!"


Maafkan aku karena mengecewakanmu, Cashel. Aku tidak mau membuat Theomund malu.