The Step Of Palimpsest

The Step Of Palimpsest
#2



Aku berjalan santai seraya membawa semua makanan tersebut ke dapur. Sate bebek aku masukkan ke dalam kulkas, sementara itu sate ikan bandeng dan sambal akan kumakan setelah ini. Kuambil sebuah panci yang tergantung di dapur, aku isi dengan air dari kran, kemudian merebusnya untuk memanaskan makanan yang sudah dikirim ibuku. Bungkus vakum ini aman jika dipanaskan sekaligus bersama makanan. Justru untuk kepraktisan, beberapa orang akan langsung memasukkannya ke dalam microwave.


Sembari menunggu airnya mendidih, aku lanjutkan membaca ulasan-ulasan lain dengan mode serius-mengikat rambut panjang sepinggangku dengan gaya ponytail-dan memutar playlist lagu yang murni diisi lagu-lagu berbahasa Jepang. Untuk membaca tulisan-tulisan ringan seperti ini, aku bisa membaca sambil mendengarkan lagu. Akan tetapi, jika aku sedang serius membaca novel untuk mencari referensi atau tengah menulis naskah maka hanya memori lagu di otakku saja yang akan bersenandung.


Aku penulis dengan bernama pena Mikami. Nama asliku Karmina Kama Indurasmi. Novelku yang berjudul 'The Pursuit of Revenge' yang aku tulis itu menceritakan tentang anak dari keluarga penyihir dan anak dari keluarga ksatria yang dijodohkan oleh keluarganya masing-masing. Disebabkan gelar penyihir dan ksatria berada dalam satu kasta yang sama, kelak penerus dari kedua keluarga tersebut akan berpotensi menaikkan derajat kedua keluarga.


Karakter utamanya adalah Dorothy Ginova, ia seorang putri dari keluarga penyihir terpandang. Dorothy memiliki saudari kembar bernama Dominique. Kakak kembarnya dijodohkan dengan putra tunggal seorang duda ksatria hebat, Sir Cashel Valera, yang memiliki anak bernama Casildo Valera yang sekaligus teman masa kecil mereka berdua.


Akan tetapi Dominique meninggal dunia hanya tiga hari setelah kedua keluarga saling sepakat dengan hubungan pertunangannya, di hari itu kematiannya disebabkan ia tenggelam di laut. Mayatnya ditemukan mengambang di tengah laut oleh sekelompok nelayan.


Penyelidikan mengatakan Dominique bunuh diri karena tidak ditemukan luka diakibatkan kekerasan dan lain sebagainya, tapi itu tidak mungkin.


Baik Dorothy dan Dominique sama-sama menyukai Casildo, tapi Casildo menyukai Dominique. Selain karena Dominique adalah kakak, mereka dijodohkan karena hubungan mereka ke depannya sangat mungkin bisa berkembang jauh sebab mereka saling menaruh perasaan pada satu sama lain. Walau begitu, Dorothy tidak pernah membenci kakaknya, malah ia sangat menyayanginya dan sangat tidak terima atas kematian Dominique yang janggal.


Maka dari itu ia dan Casildo yang masih berusia muda bersama-sama berjuang dari balik layar untuk mengungkapkan kebenarannya. Meski itu artinya membutuhkan waktu bertahun-tahun sampai mereka tiba pada usia yang cukup untuk menikah.


Bagaimana kelanjutan hubungan mereka ke depannya?


Itulah yang menjadi pertanyaan. Dari sinopsisnya, ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Antara Casildo akan berganti menyukai Dorothy seiring berjalannya waktu walau itu disebabkan karena Dorothy adalah saudari kembar Dominique-yang berarti Casildo masih belum bisa move on dari cinta lamanya. Atau, Casildo hanya akan menyayangi Dorothy sebagai teman dan menjaganya sebagai saudari Dominique, bukannya sebagai wanita.


Kelak Casildo akan menjadi ksatria juga seperti ayahnya. Maka sejak kecil pun ia sudah diajari tentang sumpah setia ksatria. Seorang ksatria tidak akan menarik kata-katanya begitu sudah bersumpah. Ia telah bersumpah untuk menikahi Dominique saat mereka sudah cukup umur dan bersumpah setia pada istri masa depannya untuk selama-lamanya. Jadi, setelah Dominique meninggal maka Casildo akan melajang seumur hidup karena memegang teguh sumpahnya.


Tidak ada celah bagi Dorothy untuk memenangkan hati Casildo. Lalu, siapakah pelaku dari kematian Dominique? Itu terungkap di penghujung bab kesembilan dari sepuluh bab yang ada, belum termasuk prolog dan epilog.


Saat membaca ulasan para pembaca, aku sudah menduga sebagian dari mereka akan menyampaikan kritik seperti apa. Penggambaran karakter masih belum kuat, beberapa bilang begitu. Ide pokok novelnya sudah bagus, tapi pengembangan motif tokoh di dalamnya masih perlu ditingkatkan lagi. Aku paham mereka membicarakan bagian yang mana. Namun, aku hanya ingin memberi kesan realistis. Aku ingin mereka mengerti pesan yang hendak kusampaikan.


Bahwa orang tua rela menjadi apapun demi anaknya. Menjadi monster dan mahkluk paling egois.


Tidak, hubunganku dengan orang tuaku cukup baik. Selain itu, apakah setelah ini aku harus memberikan tafsiran saja di akun media sosialku? Atau justru membiarkan para pembaca menangkap pesannya sesuai pemahaman mereka? Mungkin nanti aku akan tanyakan pada editorku.


"Oh, airnya sudah mendidih."


Kekurangan itu tidak akan pernah habis kalau terus dicari. Dunia ini punya dua sisi, wajar kalau ada yang berbeda pendapat. Tidak apa-apa, jadikan pembelajaran saja.


"Tunggu dulu, setel timer tiga menit."


Sebelum mencemplungkan sate bandeng dan sambal, aku mencari lagu yang memiliki durasi kurang lebih tiga menit sebagai pengingat waktu. Waktu akan terasa lama kalau ditunggu, tetapi begitu melihat ke belakang, rasanya hidup berlalu cepat sekali karena sudah melewati banyak hal. Dengan lagu pop semi-rock yang menjadi temanku menunggu untuk beberapa menit.


Sepertinya membaca ulasan pembaca sudah cukup untuk saat ini. Lain kali akan aku baca setelah beberapa waktu berlalu. Di saat itu, opininya akan lebih beragam. Tentunya dapat membantuku membuat pertimbangan demi novelku yang selanjutnya.


Setelah lagu tersebut habis, aku matikan kompornya lalu tunggu beberapa saat sampai airnya berhenti mengeluarkan buih. Aku ambil capitan untuk mengeluarkan kedua makanan tersebut. Kuletakkan di piring, aku meninggalkan makanan tersebut yang masih sangat panas agar bisa dingin sedikit sementara aku mencuci tanganku terlebih dahulu. Tidak butuh waktu lama untuk menunggunya sedikit dingin, segera setelah itu aku menggunting bungkusnya. Seketika saja aroma sedap penuh rempah menusuk indra penciumanku.


"Ini bukan nikmat yang aku dustakan. Terbaik banget, nih." Belum makan kalau belum makan nasi. Sepiring nasi hangat, sate bandeng, dan sambal lebih dari cukup untuk makan soreku.


Tentu saja, sebagai seseorang yang mencintai negeri ini dan segala keragamannya, makan langsung dengan tangan adalah suatu kewajiban. Orang yang makan makanan tidak berkuah menggunakan sendok tampaknya terlalu memuja kebersihan. Justru dengan makan langsung dengan tangan bisa meningkatkan metabolisme, asalkan cuci tangan terlebih dahulu.


Aku suwir sate bandeng, kucampurkan dengan nasi dan sambal. Mengopernya pada mulutku lalu mengunyahnya. Sungguh, terlalu banyak kata-kata yang bisa digunakan untuk mendeskripsikan kenikmatan duniawi ini sampai aku tidak bisa menyebutkannya satu persatu.


"Sempurna." Hampir sempurna sebenarnya. "Ah, kesunyian itu selalu seperti ini, ya?" Walau di luar terdengar canda tawa ibu-inu tetangga, kesunyian di dalam rumah ini begitu lantang.


Aku tidak punya teman atau kerabat di sini. Kerabat dan kolegaku yang lain juga terpisah ratusan kilometer dariku. Mencari teman alumni sekolahku yang barangkali tinggal di kota ini pun aku mana sudi, yang ada nanti aku keceplosan menyindir kebegoan mereka yang membuatku sakit hati. Aku pun malas keluar kalau tidak ada keperluan penting. Menurutku, yang paling penting adalah mampir ke penerbit untuk urusan buku saja.


Selain itu tidak ada. Aku sudah coba memiliki teman online, tapi beberapa dari mereka bahkan terpisahkan pulau. Aku terlalu kaku untuk bertemu dengan teman online yang satu domisili denganku. Menakutkan.


"Kapan-kapan aku mau beli sekaleng kerupuk bawang, deh."