The Step Of Palimpsest

The Step Of Palimpsest
#4



The Pursuit of Revenge.


Ide dari buku itu spontan saja datang. Ketika aku sedang tidak melakukan apa-apa, hanya bersantai di pelataran rumah desa saat angin membuat harmoni dedaunan pohon yang bergoyang. Suasana yang seperti itu menenangkan hatiku saat aku sedang mencari-cari lomba menulis online. Di saat itulah ide cerita tersebut datang tiba-tiba, aku sendiri tidak mengerti bagaimana itu bisa terjadi. Pada hari yang sama, aku langsung membuka laptopku kemudian membuat deskripsinya.


Nama tokoh utama dan tokoh pembantu utama, sinopsis, lalu membuat garis plot semalaman meski masih belum selesai. Aku memperkirakan novelku akan bisa tamat setidaknya mendekati jumlah rata-rata halaman novel yakni 300-500 halaman. Nyatanya 457 halaman adalah total tamatnya, sudah termasuk prolog dan epilog. Menerbitkan novel itu sungguh suatu kebanggaan yang tidak akan bisa dipahami oleh orang awam. Hari itu pada tanggal 8 Agustus adalah rekor prestasiku yang tak boleh terlupakan.


Cita-cita yang sudah aku impikan dengan cerewetnya. Aku tidak pernah tutup mulut mengenai cita-citaku sebagai seorang penulis, dan bagaimana aku menjadi orang yang paling ahli dalam pelajaran bahasa Indonesia di sekolah sampai mereka yang menganggapku tidak ada pun mengakui diriku karena mereka memahami kemampuanku. Betapa bahagianya aku bertemu unsur sastra. Berbagai lomba prosa, cerpen, puisi, sudah aku jalani. Aku tidak akan pernah tutup mulut betapa ahlinya aku pada bidang bahasa. Tidak sampai aku menjadi penulis yang telah menerbitkan bukunya.


Namun, kalau sudah begini bagaimana jadinya? Apakah cita-citaku yang akhirnya tercapai itu masih ada artinya?


"Dommy, tolong, lihatlah kami," ucap suara dari seorang ibu yang penuh harap dan belas kasih.


Telapak tangannya yang halus membelai lenganku yang tak sanggup kugerakkan. Dengan rasa perih yang menyiksa menusuk-nusuk otot dan syarafku setiap kali darah di pembuluh mengalir. Ya, sekujur tubuhku berada dalam penderitaan. Rasanya seperti ketika sudah waktunya untuk mati tetapi masih dipaksa untuk hidup. Aku harus membuka mata walau air mata mengalir. Aku harus bernapas walau rasanya seperti paru-paruku tengah menghirup udara penuh racun.


Siapakah yang dia maksud? Namaku itu Karmina. Aku bukan Dominique, lalu tubuh ini sangat kecil. Selama 25 tahun aku hidup, aku tidak pernah merasakan sakit yang sehebat ini. Rasa sakit ini berada di luar toleransiku dan aku tidak bisa mengendalikan tubuh ini sama sekali.


"Dominique, apa yang sekarang sedang Kamu rasakan? Katakanlah." Kali ini suara pria dewasa. Suara seorang ayah yang tengah membelai rambut anaknya yang berharga.


Aku perlu waktu untuk menerima keadaan yang sudah terjadi dan berpikir untuk ke depannya.


"Tinggal ... kan ... aku ... sendiri ..." Tenggorokanku serak dan sakit, seperti menelan duri ikan.


Aku ini bukan anak mereka. Aku tidak perlu merasa berduka untuk mereka. Aku hanya bisa mengasihani diriku sendiri karena sekarang aku memang tengah menderita. Imajinasiku memang tinggi dibandingkan dengan orang lain, tetapi tidak sampai begini juga. Kenapa harus di tubuh Dominique? Bukannya anak ini harusnya sudah meninggal karena tenggelam? Ah, sumpah, dadaku sakit sekali. Apakah karena menelan air laut terlalu banyak?


Aku ... bisa melihat semua memori Dominique. Masa kecil, kecelakaan latihan sihir, pesta anak bangsawan, dan sampai insiden tenggelam ini aku bisa mengingatnya. Ya, pelaku dari kematian Dominique sama seperti di novelku. Ingatan 25 tahunku campur aduk dengan ingatan 16 tahun Dominique. Kepalaku pusing, ingatan gadis ini carut marut dengan ingatanku dari balita sampai 16 tahun pula.


"Kau bukan Dominique Ginova, apa aku benar?" Suara pria dewasa itu mengandung kata-kata yang penuh perhitungan, terasa juga tidak ada nada kasih sayang seperti tadi.


Kilau warna putih kebiruan bersinar di atas kepalaku. Aku penasaran, lantas aku melihat ke arah mereka mencari tahu apa yang sedang terjadi. Pria itu-mata dan rambutnya berwarna hijau toska—komat-kamit menuturkan mantra sihir dengan mulutnya. Sementara itu telapak tangannya mengambang di atas kepalaku dengan cahaya yang menyilaukan mata. Cahaya yang lebih membutakan daripada kegelapan pada ujung palung. Cahaya sihir yang suci dibacakan lantang-lantang yang sudah dihapalnya di luar kepala, membuatku tidak bisa memikirkan hal lain lagi selain mantra yang memukau daya imajinasiku.


Lafalan itu berbunyi, "di bawah bibirku aku mengucapkan hal baik. Di dalam pikiranku terpatri Harkat Meraki dan untuk selalu bermurah hati memberi uluran tangan. Di refleksi mataku terpantul nabastala penuh gugusan bintang yang gemerlap. Jamanika pada atma anakku akan kubuka, supaya aku tak punya ketaksaan pada darah dagingku sendiri!"


Tubuhku lemah, aku pun begitu lengah mendengar mantra yang menghipnotis alam bawah sadarku. Entah apa yang pria ini lakukan, tapi wanita yang tampaknya adalah istrinya-warna mata dan rambutnya seperti batu kecubung-yang duduk di sebelah pria itu seraya menyatukan kedua tangannya dan menundukkan kepalanya, itu adalah gestur seseorang yang sedang berdoa. Padahal cahaya di atas kepalaku masih terang benderang bahkan membuat kepalaku sakit, tetapi kenapa aku masih bisa memperhatikan yang lain?


Kamar yang luas dan megah. Bahkan pintu dan jendelanya pun juga besar-besar. Termasuk ranjangku memiliki atap di atasnya. Ini seperti kasur impian semua anak kecil di dunia. Bermimpi memiliki kamar dan ranjang seorang putri kerajaan, tapi putri keluarga penyihir pun jadilah. Aku ingat aku mendeskripsikan kamar ini ketika Dorothy mengunjungi kamar Dominique setelah saudarinya itu tiada. Lantai kamarnya sangat halus seperti lantai di aula dansa, baik warna lantai dan temboknya yang berwarna dasar krem kekuningan-ditambah corak-corak lainnya-sehingga kamar ini akan bisa memantulkan panas sinar matahari.


Cahaya sihir ini pun bisa terpantul ke dinding dan kaca jendela saking berkilauan lantai kamar ini. Perlahan-lahan tapi pasti cahaya itu meredup. Mataku berputar-putar dan berkunang-kunang seperti kekurangan darah. Pria itu menarik lagi tangannya mendekati dirinya. Wajahnya tampak kecewa dan dipenuhi rasa sedih. Tentu saja, jiwa anaknya sudah tidak lagi di tubuhnya, melainkan diisi oleh jiwa yang asing. Apakah aku akan diusir seperti roh jahat di film yang memaksa menghuni tubuh yang dirasukinya?


"Selain bukan Dominique, Kau berasal dari dunia lain. Yang pasti, kurasakan jiwamu ini sangat kuat. Kau beruntung menemukan tubuh anakku sebagai wadahmu. Karena kelak dia akan menjadi penerus keluarga Ginova, keluarga penyihir yang mendapat anugerah setelah menyaksikan bagaimana sihir di dunia ini beraksi memutar roda kehidupan."


Aku merasa sudah baikan daripada sebelumnya.


Sementara itu, pria tersebut tidak menjawab, melainkan hanya diam. Hawa melankolis dari kedua orang ini berderai ke seluruh penjuru ruangan. Mereka tengah berduka. Anak tersayang mereka sudah tidak ada lagi. Justru dengan keberadaanku di tubuh yang tidak seharusnya ini akan memperburuk tekanan jiwa mereka. Lebih baik jika mereka sendiri yang mengkremasi tubuh Dominique dengan api sihir suci, daripada melihat tubuh anak mereka yang masih bernapas dan berwajah segar tapi hanya sebagai boneka saja.


Akhirnya dia tidak kuasa menahan air matanya. Sang suami hanya bisa merangkulnya untuk menguatkan satu sama lain. Namun, aku yakin kepala keluarga ini juga sama terlukanya. Ah, biarlah aku dilaknat oleh sepasang orang tua yang sakit hati karena kehilangan buah hatinya. Biarlah mereka mengusirku paksa seperti iblis yang suka mengambil apa yang bukan miliknya.


Padahal aku hanya ingin tidur sebentar untuk melanjutkan perjalananku sebagai seorang penulis. Kini aku melupakan inspirasi yang sudah aku gali dari skenario sebelum tidurku. Tidak, itu tidak penting lagi.


"Silakan Kau tinggal di tubuh Dominique."


"Apa?"


"Aku sudah melihat garis besarnya. Kau mengenali situasi di sekitar keluarga Ginova, benar begitu?"


"Benar ... Aku lebih tahu daripada siapapun juga."


"Bagus, kalau begitu bersandiwaralah seperti Dominique yang biasanya sampai saudari kembarmu, yang bernama Dorothy, menyadari sendiri bahwa kakaknya setelah insiden tenggelam di laut itu bukanlah kakaknya lagi," titahnya, dengan dahi yang berkerut.


"Theomund Ginova, apa Kau pikir itu tindakan yang benar?! Kita tidak boleh menyembunyikan hal ini dari Dormy!"


"Tenanglah, Lesya. Dorothy selalu datang padaku membawa pertanyaan dan aku selalu memberinya jawaban yang memuaskan. Aku hanya perlu waktu untuk menyusun jawaban yang pantas jika tiba waktunya Dorothy menyadari perubahan pada Dominique."


"Bagaimana ini bisa terjadi? Siapa pelaku yang bisa mencelakai Dommy?"


Theomund menghembuskan napasnya. "Belum waktunya kita membahas itu, kan? Berikan waktu bagi orang yang sakit untuk menyembuhkan dirinya dahulu."


"Kalau pelakunya sudah kabur jauh?"


"Ada sihir yang menjadi saksi. Jangan khawatir, Lesya. Kita akan mengungkapnya bersama-sama."


Setiap penyihir yang adikuasa pada dunia novel ini terlahir dari keluarga Ginova. Kekuatan sihir Dominique dan Dorothy tidak main-main. Mereka dapat dengan mudah melubangi pohon beringin berusia ratusan tahun yang sudah sangat tebal batangnya. Maka untuk melawan manusia pun mereka pasti unggul, asalkan lawannya masih satu ada dua orang saja, maksimal bisa menangani tiga orang jika memaksakan diri menggunakan sihir yang lebih kuat.


Jika orangnya sebanyak itu, tentu saja akan ditemukan bentuk perlawanan pada tubuh Dominique. Namun, bagaimana jika Dominique menghadapi seseorang yang bisa membuatnya tidak sempat melakukan perlawanan karena memiliki kekuatan lebih dari seratus orang prajurit.


"Aku tahu pelakunya."


Cashel Valera, ayah dari Casildo Valera yang tak lain dan tak bukan merupakan calon ayah mertua Dominique, yang berusaha untuk melenyapkannya.