
Aku mengingatnya.
Saat aku masih kecil, aku pernah nyaris tenggelam karena kebodohanku sendiri. Aku, orang tuaku, dan keluarga besarku pergi bersama-sama pada suatu wisata air yakni berupa sungai yang terkenal berair jernih dan berhawa sejuk karena bersumber mata air langsung dari pegunungan. Dan, benar saja, airnya seperti air dingin dari kulkas. Namun, saat itu masih tengah hari, jadi aku memberanikan diri untuk masuk ke sungai walau dingin.
Tentunya, ada bagian sungai yang dangkal dan ada yang dalam. Anak-anak kecil seusiaku yang adalah anak kampung sana memang sudah pintar terjun dan segera berenang kembali ke tepian. Arusnya tenang, aku bahkan bisa melihat bebatuan yang aku pijak di bawa kakiku. Hawa di sana sangat menenangkan, uniknya persis seperti hawa di sekitar lingkungan kastel yang tidak terlalu panas atau terlalu dingin. Mandi di sana membuatku agak mengantuk.
Semua keluarga besarku berkumpul pada area yang dangkal, karena sepupu-sepupuku yang usianya tidak jauh dariku bermain di sana. Sementara aku membawa ban pelampung, orang tuaku tidak terlalu khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk padaku. Akupun pergi ke area yang dalam tanpa sepengetahuan mereka, jadi ini murni kesalahanku. Aku terjun bersama dengan ban pelampungku, tapi sialnya pelampungnya justru terpental dan terlepas dari genggaman tanganku.
Aku langsung panik karena tidak bisa menemukan pijakan di mana aku bisa menjaga kepalaku tetap di permukaan, tapi, tidak. Aku tidak begitu dekat dengan sisi sungai manapun, aku berada tepat di tengah-tengah titik terdalam sungai tersebut. Sampai ada suatu anak kampung yang tadinya berenang bersama teman-temannya itu pun mengarahkan pelampungku yang lepas dari tanganku supaya bisa aku pegang.
Aku selamat berkat anak itu.
Aku tidak bisa mengingat wajahnya, tapi aku yakin dia laki-laki. Dia lalu pergi tanpa mengatakan sepatah kata, aku juga tak sempat mengatakan terima kasih karena sibuk bertahan pada pelampung. Aku perlahan menggerakkan kakiku menuju pinggiran sungai yang memiliki pijakan. Begitu aku menemukannya, aku langsung saja naik ke permukaan dan menyudahi berenangku. Aku terlalu kaget untuk bercerita pada orang tuaku, jadi aku kira mereka tidak pernah tahu bahwa aku nyaris mati.
Aku tidak pernah menceritakannya pada orang tuaku, hanya pada teman-teman online saja. Karena insiden hari itu, aku menjauhi olahraga yang sekiranya bisa memberikan resiko amat fatal. Bukannya belajar berenang, justru aku semakin takut untuk menceburkan diri ke kolam, terutama ketika tinggi airnya sampai menutupi dadaku. Ditambah, setiap kali aku diajak liburan ke pantai, aku tidak akan mau naik perahu untuk menikmati angin laut.
Seperti itulah kebebasan. Ada banyak cara untuk hidup bahagia, tapi cara untuk mati konyol juga ada.
Aku membatasi diriku sendiri untuk berkembang karena aku takut menghadapi resikonya. Kata 'bagaimana' adalah pertanyaan yang paling besar dalam hidupku. Aku sangat takut, sehingga aku selalu menghindarinya. Aku takut mengakrabkan diri pada orang lain, aku takut jika aku menganggu mereka secara tidak langsung maka mereka akan balas melukai hatiku. Sekarang ketika aku sudah dewasa, semua rasa penasaranku saat kecil itu sudah terjawab. Semua kemungkinan yang mungkin membuatku tidak nyaman, aku jauhi.
Padahal, di dunia lama, aku tidak suka dengan politik. Akan tetapi, saat di sini aku diajarkan cara untuk menjadi seorang pemimpin, yang kegiatannya berisi perencanaan jauh, persiapan keuangan, strategi pengusaha, dan lainnya. Aku bisa mencernanya memang, tapi semua itu membuatku lelah.
Di sinilah aku terbaring dalam kegelapan. Ada banyak telapak tangan yang menempel di tubuhku. Ini mengerikan, karena inilah aku memiliki thalassophobia. Rasanya ketika nyawa berada di ujung tanduk itu, aku tidak bisa memikirkan apa-apa. Aku ingin berteriak, tapi hanya air sungai yang masuk ke dalam paru-paruku. Jika suatu saat nanti aku bertemu dengan anak laki-laki itu, aku sangat ingin berterima kasih padanya karena sudah menjadi penyelamatku.
"Hei ... Bangunlah ... !!"
Suara siapa? Kenapa aku seperti mengenali suara itu?
Ada cahaya. Ah, siapapun keluarkan aku dari kegelapan ini. Aku sangat rela melakukan apapun untuk orang yang menolongku. Aku akan membalas kebaikan seseorang, lebih dari tindakan kecil yang mereka lakukan dengan menyelamatkanku. Ini demi anak laki-laki itu juga yang telah mengarahkan pelampungku kembali kepadaku. Air danau ini amis dan lengket. Di ekor mataku, aku bisa melihat sekelebat bayangan yang berenang begitu cepat. Apakah itu aku tidak mau memikirkannya lebih jauh, yang penting harus ada orang yang mengeluarkanku dari sini!
...»»——⍟——««...
Derap kuda berhentak dengan permukaan tanah, menciptakan suara gagah yang mampu menakuti hewan-hewan kecil maupun orang awam. Setiap langkah kuda antara satu dengan yang lainnya memiliki tempo yang berbeda. Derap langkah kuda yang terdengar gagah ini adalah langkah kaki kuda jantan yang telah dilatih untuk menjadi kuda perang yang tangguh melewati baik dan buruknya medan, termasuk di medan perang yang penuh dengan segala pembunuhannya.
Namun, kuda ini masih dalam masa pelatihan. Karena kuda ini suka mengamuk apabila diajak ke medan perang. Singkatnya, kuda ini sadar dia akan diajak mendekati kematian oleh penunggangnya, dan ia menolak. Akibatnya, kuda ini ditelantarkan, hampir saja disembelih untuk pesta sebagai peringatan memenangkan sebuah pertempuran lain. Semakin banyak kemenangan, semakin sedikit temannya yang pulang, teman-teman kudanya yang berhasil pulang pun tak lama lagi stres lalu mati.
"Hei, hei! Kenes, santai saja. Kita hanya berjalan-jalan, tenanglah."
Kuda muda ini sangat mudah gelisah seperti manusia. Itulah yang menjadikannya spesial oleh penunggangnya yang baru. Seringkali tak mengindahkan arahan dari penunggangnya, tetapi dengan pendekatan akan bisa mendekatkan mereka.
"Nah, begitu. Anak baik. Cobalah untuk lihat sekitarmu, bukankah di sini damai?" kata pria itu.
Ia ramah kepada sesama mahkluk hidup, tangannya menepuk-nepuk leher dari kuda yang ditungganginya. Merasa disayangi, Kenes mengeluarkan suara seperti mendengus seakan ia mengiyakan kata-kata penunggangnya.
Tubuh Kenes berwarna cokelat muda, poninya juga berwarna cokelat muda menjadikannya seolah-olah memiliki rambut emas. Kuda seindah ini tidak seharusnya dibawa ke medan perang. Keputusan Cashel untuk nanti mempertahankan Kenes sudah tepat. Kebaikan hatinya inilah yang kadang-kadang membuat posisinya sebagai letnan diragukan oleh bawahannya sendiri. Padahal, ksatria tidak harus terlalu tegas dan kaku. Kalau iya, tidak akan ada banyak anak laki-laki muda yang mau menjadi ksatria karena tidak memiliki panutan yang baik.
"Aku akan merekomendasikanmu menjadi cobaan pertama bagi anak-anak baru yang belum pernah naik kuda sebelum menjadi ksatria. Kamu hanya takut mati, aku tahu. Kamu tidak akan mati mengenaskan, aku janji." Seolah paham dengan apa yang dikatakan penunggangnya, Kenes meringkik riang.
Berdepak-depak langkah Kenes menggetarkan debuan dan hewan kecil seukuran semut dan rayap di atas tanah. Sampai di depan sana ada cahaya yang menyilaukan, seperti cahaya matahari yang terpantul akan sesuatu. Melalui pantulannya, itu adalah cahaya yang terpantul karena permukaan air. Mereka terus maju sampai menemukan sebuah danau yang sangat besar. Betapa ia ditelan oleh rasa takjub karena tak pernah tahu ada danau sebesar ini di sini.
Kenes kembali meringkik, kali ini mengisyaratkan ketakutan. Kepala Kenes dibelai lagi sampai ke poni rambutnya, untuk menenangkan kuda yang mudah resah itu. Hingga, tibalah hembusan angin lumayan kencang membuat debu di tanah berterbangan menusuk ke mata dan membuat hidung gatal, pohon-pohon pun bergoyang menyebabkan dedaunannya berjatuhan ke tanah. Dari ujung sana tampak awan hujan gelap kelabu yang perlahan tapi pasti menghampiri ke arah mereka.
Kenes memaksa memutar tubuhnya untuk kembali karena instingnya merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Namun, dihentikan oleh penunggangnya. Pria itu memperhatikan sekelilingnya dengan teliti, hatinya merasa ia harus melihat danau itu dengan mata yang jeli. Insting ksatrianya selalu benar, ia merasa harus menunggu sesuatu muncul dan dia akan menghadapi apapun itu.
"Dari pinggir ke tengah, warnanya cokelat lumpur menjadi hijau alga ... Ah, sudah kuduga."
Ia segera melompat turun dari punggung Kenes, lalu melepaskan seragam atasannya sebelum ia berlari menuju danau. Rambut hitam yang sangat pekat itu berkibar, mata merah marunnya melotot menuju target di tengah danau. Tubuh seorang manusia tengah mengapung di sana. Ia tak sempat berpikir apakah itu jebakan atau bukan, tetapi instingnya mengatakan ia harus menyelamatkan seseorang itu. Berusaha untuk berenang dengan sekuat tenaganya dengan jarak panjang yang memisahkan mereka bukanlah apa-apa. Ksatria ini sudah terlatih dengan mengandalkan adrenalinnya untuk membuat tubuhnya menjadi semakin tangguh.
Walau air danau begitu keruh, bisa dirasakannya danau itu penuh dengan keanehan. Maka dari itu, ia harus bergegas pergi dan kembali dengan secepat mungkin. Butuh waktu beberapa menit untuk bisa menggapai tubuh seorang wanita yang tiba-tiba saja muncul dari dalam air. Jantungnya masih berdetak walau tubuhnya sangat dingin dan lembab sampai kulitnya mulai mengkerut. Entah berapa lama wanita ini sudah di dalam air dan tiba-tiba saja muncul, tapi ia tampak baik-baik saja.
Lantas, mereka segera kembali. Kenes yang ada di pinggir danau berjalan berputar-putar, ia ingin masuk ke danau tapi tak punya keberanian. Kenes seperti meminta tuannya untuk bergegas kembali. Firasatnya semakin buruk, ketika ia menoleh ke belakang dan menyaksikan sendiri permukaan air di tengah danau menciptakan gelombang. Sesuatu tengah mengejar mereka dan cukup cepat, walau begitu mereka berdua sudah hampir sampai.
Ringkikan Kenes semakin kencang, tepat ketika tuannya berhasil meletakkan tubuh wanita tersebut ke tanah yang kering, sihir yang memiliki wujud siren mengerikan pun melompat dari air beserta gigi dan kuku tajam. Tangan yang berlapiskan sarung tangan sudah menggapai pegangan pedang, ia menarik pedang keluar dari sarungnya kemudian menebasnya pada ketiga leher siren yang telah mengejarnya. Tidak ada darah maupun cairan tubuh semacamnya, tetapi mereka lenyap menjadi abu.
Mata merahnya menangkap keberadaan ancaman masih tersisa di depan sana. Maka ia dengan secepatnya mencoba memberikan pertolongan pertama untuk orang yang tenggelam. Bantuan resusitasi dilakukannya selama satu menit, hasilnya nihil.
"Hei, Nona! Buka matamu!"
Kini berganti memberi napas buatan, ia menjepit hidung wanita itu, lalu mempertemukan bibir mereka satu sama lain, memberikan udara tambahan dari mulut ke mulut.
"Bangunlah!"
"Uhuk! Hoek! Uhuk! Uhuk!"
Cara kedua berhasil. Ia memiringkan tubuh wanita itu ke samping, agar membantunya mengeluarkan air berlebih yang masuk ke dalam tubuhnya. Dan memberikan tepukan di punggung untuk membantu paru-parunya agar bisa bernapas kembali.
"Untunglah aku masih sempat, syukurlah. Sepertinya, mereka belum sempat menyentuhmu sama sekali."
"... Mereka?"
"Ya, mereka."
Mereka sama-sama melihat raga sihir yang sudah mati terbunuh itu, terbakar menjadi abu. Asapnya berwarna hitam bergerak menuju ke tengah danau kembali. Sebenarnya, sihir tidak bisa mati. Mereka hanya perlu waktu agar bisa kembali lagi ke wujudnya yang semula.
"Siapa namamu?" Rambutnya hijau toska, warnanya berwarna ungu dan berkilau seperti permata. Wanita muda ini masih coba untuk menelaah keadaan yang sebenarnya sudah terjadi padanya.
"Cashel. Cashel Valera. Aku seorang ksatria berpangkat letnan."
"Usia?"
Deburan air terdengar dari kejauhan. Itu ancaman yang berbeda daripada tadi. Ancaman itu naik satu tingkat. Di antaranya adalah seekor ular raksasa yang berenang dengan sangat cepat. Mereka tidak punya waktu untuk melakukan perkenalan atau basa-basi terima kasih, jika ingin selamat.
"Usiaku 25 tahun. Nona, aku akan memperkenalkan diriku lebih jauh nanti dan sekaligus mengajukan beberapa pertanyaan padamu, tapi kita harus pergi dari sini terlebih dahulu. Mereka marah karena aku melenyapkan teman mereka."
Cashel mengambil seragam yang tadi ia lepaskan untuk digantungkan pada wanita yang diakuinya secantik boneka porselen—pucat, tapi masih cantik dan pemalu. Ia mendecih, meminta Kenes untuk berlutut agar ia bisa memudahkan bagia wanita itu untuk duduk di punggung Kenes. Kemudian Cashel ikut berdiri, dengan tangan kirinya menggenggam erat pedang dan tangan kanannya memegang tali.
"Berpeganganlah. Kenes sangat ahli melarikan diri, ya kan, Kawan?"