
Entah sudah berapa lama kami balap kuda sampai langit yang biru berubah menjadi oranye. Sinar matahari terbenam terperangkap oleh awan-awan yang padat dan berat. Namun, sedahsyat apapun angin, sekencang apapun bumi ini berotasi, awan tidak pernah lepas dari pandangan kami. Awan itu adalah selimut yang memiliki bentuk lucu seperti bunga kapas. Sebagaimana halnya air di tanah yang akan menguap menjadi awan, lalu awan akan membentuk hujan, dan mengembalikan air ke tanah semula.
Ada banyak hal di dunia ini yang 'ada' karena memiliki siklus tanpa akhir.
"Casildo, apa Kamu baik-baik saja?"
Derap langkah kuda yang memperlambat jalannya dengan napas terengah-engah mengarahkan kami menuju suatu tempat yang khas di wilayah kekuasaan Kastel Mangata. Baik perjalanan menuju atau dari Kastel Mangata, alasan kastel ini dinamakan demikian baru akan tampak makna sesungguhnya apabila tiba waktunya untuk bulan purnama. Saat gravitasi bulan menarik gelombang air, air danau akan meluber sampai ke jalanan yang membuatku mabuk perjalanan, kemudian pada jalanan itu akan tergenangi air lalu menciptakan pantulan bayangan bulan.
"Aku baik-baik saja dan sangat sehat. Kenapa bertanya begitu?"
Aku tidak tahu, apakah ini perasaanku sendiri? Maksudku, apakah aku masihlah Karmina? Aku terlalu mendalami peranku sampai kehilangan jati diriku yang sebenarnya. Mungkin Theomund menghipnotisku dengan sihir saat ia berkata demikian. Walau begitu, meski seorang Karmina mencurigai semua orang yang ada di dunia ini, seorang Dominique Ginova akan mempercayai mereka semua. Tidak aku sangka, secara moral aku sudah dewasa tapi aku mengalami krisis identitas karena berada dalam tubuh seorang perempuan berusia 19 tahun.
"Aku tidak bisa memahami perasaanku sendiri."
"Aku paham."
Aku berusaha memperoleh pendapat dari Casildo, agar aku bisa memahami bagaimana emosi yang aku rasakan ini bisa muncul? Dan, apa penyebabnya?
Iris yang bagaikan batu permata itu berkilau diterpa sinar matahari terbenam. Lalu, dia menyeringai, kemudian berkata, "tidak ada orang lain yang lebih memahami perasaanmu daripada dirimu sendiri, tapi sama halnya seperti kita butuh hiburan dan istirahat agar bisa mengumpulkan kekuatan lagi untuk beraktivitas kembali. Jadi, bagaimana aku bisa membantumu?"
"Membantu, ya?"
Sejenak, aku mengalihkan pandanganku untuk membelai rambut kuda yang aku tunggangi. Kemudian, aku kembali menatapnya, terutama pada seragam ksatrianya itu. Seragam berwarna putih dengan sedikit sentuhan ornamen berwarna kuning dan merah marun seperti iris matanya. Jika diperhatikan dari dekat, seragamnya itu memiliki bordiran bunga dandelion dan teratai. Aku bisa melihatnya di dalam kepalaku, pertemuan pertama mereka berlangsung di tempat yang tengah kami tuju sekarang.
"Aku sedang tidak bisa memikirkan apa-apa, mungkin Kamu ada saran agar aku bisa menjernihkan pikiran?"
Valera hanyalah sebuah marga pada umumnya yang terdiri dari dua orang laki-laki, yakni diisi ayah dan anak. Namun, sang ayah memiliki nama yang besar sebagai komandan ksatria. Alhasil, sang anak pun ikut terciprat citra itu. Anaknya Cashel Valera, sang komandan ksatria. Akhirnya, banyak perempuan yang ingin mendekati Casildo bukan karena dia Casildo Valera tapi sebagai anak seorang komandan ksatria, terutama setelah terdengar kabar bahwa Casildo dipanggilkan instruktur berpedang oleh ayahnya. Casildo menerima pembelajaran eksklusif dari dua orang pembimbing yang berkualitas tinggi.
Sayangnya, saingan dari para perempuan itu terlalu tinggi. Yakni aku, yang merupakan seorang penyihir dari keluarga besar Ginova. Keturunan langsung dari kepala sang keluarga yang akan menjadi penerus.
"Tentu saja ada, karena itulah kita berada di sini."
...-: ✧ :-...
Danau yang sangat luas, seakan seperti sedang memandang lautan. Pinggiran danaunya dihiasi oleh bunga teratai yang mengapung di atas air serta bunga dandelion kuning yang bermekaran di bawah pohon pada hamparan rumput. Tempat ini menjadi saksi bisu dari pertemuan pertama Dominique dan Casildo. Tanah ini adalah tanah milik keluarga Ginova, tapi entah bagaimana Casildo bisa ada di sana seorang diri.
Dahulu, bunga teratai di danau tidak sebanyak sekarang. Jadi, banyak kupu-kupu yang berterbangan di sekitar hamparan bunga dandelion daripada hinggap di bunga teratai. Seorang anak kecil berusia empat tahun, rambutnya disanggul untuk menjaga agar rambutnya tidak mengganggu pandangannya. Ia mematuhi larangan orang tuanya untuk tidak mendekati atau menyentuh air danau sedikitpun dengan tanpa adanya orang dewasa. Dominique punya pengendalian diri yang baik, dia terus mengingat perkataan ayahnya padanya untuk tidak menyentuh danau sebelum ia datang.
Dominique sudah bisa puas hanya dengan mengeruk bunga dandelion sampai ke akar-akarnya, ia ingin membawa pulang sejumlah kecil bunga sebagai hadiah untuk Dorothy, Dominique hanya mau bermain bersama Dorothy tanpa perhatian saudarinya itu terpecah oleh bakat Mata Arwah yang tidak dimilikinya. Itu pun ibunya ikut mengabaikannya, perlakuan sang ayah pada masing-masing dari keduanya pun ada jarak yang signifikan. Meski terkadang pesimis, Dominique yakin dia bisa.
Riang gembira ia asik bermain tanah dan cekikikan karena tergelitik oleh belasan kupu-kupu yang berterbangan melewati wajahnya, Casildo memulai pertemuan pertamanya dengan tunangan masa depannya. Setiap ksatria membutuhkan pedoman hidup sesuai dengan Dekret Keksatriaan. Pula setiap ksatria harus mempercayai bahwa suka duka mereka sebagai ksatria telah ditentukan oleh takdir.
"Kamu siapa?" tanya Casildo kecil, saat melihat seorang anak perempuan dengan wajah penuh tanah dan lumpur.
"Kamu sendiri siapa?"
"Aku Casildo. Kamu?"
"Dominique Ginova."
Kilauan cahaya mentari yang terpantul pada permukaan danau menciptakan corak permata pada area sekitarnya yang diteranginya. Batu kecubung dan batu merah delima itu saling mengasah tatapan mata satu sama lain. Yang terindah, yang paling menusuk, dan yang paling mengancam tidak akan mengalihkan pandangannya dari mangsa empuk. Bibit-bibit wanita dominan sudah memiliki insting yang aktif otomatis untuk bisa menegakkan puncak hierarki.
"Kenapa anak perempuan bermain tanah?"
Dominique memiringkan kepala mungilnya. "Kenapa? Karena aku mau mengambil bunga ini untuk adikku."
"Perempuan tidak seharusnya main tanah."
"Tidak boleh? Kenapa?"
Casildo berjalan mendekati Dominique, kemudian duduk berjongkok di sebelahnya. "Karena itu tugasnya ksatria, jadi aku harus membantumu."
"Kamu seorang ksatria? Sungguh?"
Casildo mulai mengkeruk tanah yang sudah digali oleh Dominique. Kini jari-jemari dan kedua telapak tangan mereka kotor dikarenakan tekstur tanah yang lembab dan dingin. Mereka bersama-sama menjaga agar akar dari bunga dandelion tidak rusak sampai di waktu ketika akan diletakkan ke tanah. Casildo dengan ekspresi yang serius dan Dominique dengan ekspresi yang riang gembira. Akhirnya, dia punya teman laki-laki yang baik, tidak seperti Dorothy yang adalah saudarinya sendiri bahkan tidak cukup memahaminya sebanyak apapun ia memberi pengertian.
"Aku harus menjadi ksatria seperti ayahku."
Ketika telah yakin sudah menggali sampai ke semua sisi di mana akar dandelion itu menjalar, bersama mereka berhati-hati mengangkat dandelion kuning yang utuh bersamaan dengan onggokan tanah akar yang mereka lindungi dengan kedua tangan mereka. Dersik angin menggoyangkan tirai takdir yang menutupi panggung takdir, dengan kedua anak kecil sebagai pemainnya. Semuanya sudah diatur dan pasti berjalan sebagaimana mestinya.
"Aku akan memberkatimu, Casildo."
"Memberkatiku ... Kamu penyihir?"
"Iya!"
Mereka meletakkan bunga dandelion tersebut di atas tanah yang datar. Dominique dengan bahagia berlarian di sekitar kerumunan kupu-kupu, ia kini mencabut beberapa bunga dandelion, sampai ketika ia ragu-ragu untuk mengambil setangkai bunga teratai yang mengapung di atas air danau. Dominique berjalan ke sana ke mari mencari bunga teratai terdekat yang bisa dijangkaunya. Sementara Casildo hanya duduk diam di sebelah bunga dandelion yang mereka ambil bersama-sama, menjaga bunga yang mengandung arti kehidupan dan kebahagiaan, tentunya sambil mengawasi Dominique.
Ketika iris Dominique memaku pada suatu titik, ia mendekati pinggir danau dengan gerakan yang sangat pelan dan berhati-hati. Tangannya sudah terulur, dia hanya perlu menggapai batang bunga teratai kemudian menariknya. Namun, Dominique tampak ragu-ragu, jadi ia melangkah mundur lagi, walau mimik tubuhnya mengatakan dengan jelas bahwa ia ingin mengambil satu saja bunga teratai. Dominique terus teringat dengan kata-kata ayahnya untuk tidak mendekati danau.
Hening. Tidak ada angin atau cuitan burung-burung kecil, kupu-kupu yang berterbangan di atas bunga-bunga pun telah menghilang. Hingga air danau bergerak dan menciptakan gelombang yang terdorong sampai ke tempat Dominique dan Casildo berdiri. Dominique pun memasang ekspresi ketakutan, tetapi Casildo tetap tenang dan berdiri tegap melindungi Dominique. Jauh di tengah danau, tampak sesuatu yang menyembul dari air, akan tetapi hanya Casildo yang bisa melihatnya.
Ya, sesuatu itu adalah sesosok sihir yang menghuni danau tersebut. Alasan kenapa Theomund memperingati Dominique untuk tidak menyentuh air danau adalah karena sihir penghuni danai tersebut tidak akan pandang bulu untuk membunuh siapa saja yang tidak punya Mata Arwah. Casildo adalah seorang anak yang sangat istimewa dan khusus.
"Sebaiknya kita jangan berlama-lama lagi di sini. Aku takut." Anak-anak tetaplah anak-anak meski sudah memahami Dekret Keksatriaan di usia muda.
Begitu Casildo memutar badannya, Dominique segera menyodorkan sebuah buket bunga, tepat sampai ke depan hidung Casildo.
"Terima kasih sudah membantuku. Aku ingin membuat mahkota bunga, tapi aku tidak tahu caranya."
"Aku akan ambil ini saja. Ini juga berkat dari seorang penyihir, kan?"
"Datanglah ke rumahku! Bermainlah bersama aku dan adikku, Kamu tidak akan bosan di sana!"
...-: ✧ :-...
"Takdir itu memang ada-ada saja."
"Penyihir pun tak punya kuasa untuk melawan takdir. Yang ada, apabila penyihir melawan hukum alam, maka sejatinya itu sudah tertulis di dalam takdirnya."
Kami duduk bersebelahan, saling bersandar pada batang pohon dan mendekatkan diri satu sama lain. Meskipun malam telah tiba, kami berdua memiliki Mata Arwah yang berarti kami bisa melihat apa yang orang lain tidak bisa lihat.
"Kamu lebih paham dekret ksatria daripada aku."
"Aku belajar darimu."
"Mana mungkin. Aku masih jauh di bawah ayahku."
"Kamu harus menjadi dirimu sendiri. Dengan begitu, Kamu akan dikenal sebagai Kamu, bukan sebagai anak komandan ksatria. Jadilah terbaik sebisa mungkin saja."
Aku menarik badanku dari posisi bersandar pada pohon. Aku minta Casildo memutar tubuhnya, kemudian aku melepas kancing seragam pada kerahnya yang terpasang rapi. Setelah terbuka, aku bisa melihat ada sebuah kalung yang menggantung di lehernya. Namun, kalau secara sekilas pasti tubuhnya yang penuh dengan bekas luka akan jadi sumber sorotan. Syarat ksatria untuk ikut perang adalah minimal berusia 18 tahun. Casildo sudah pernah terjun ke medan perang didampingi oleh ayahnya, kebetulan juga Cashel memanggil ayah untuk bisa membantu pasukannya dari belakang.
Kalung ini merupakan pemberian ibunya, sebelum akhirnya menghilangkan jejak.
Namun, semakin dalam menelusur, maka akan ditemui warna kulitnya yang berwarna ungu. Tidak, itu bukan lebam. Itu sudah ada jauh saat Casildo pertama kali lahir. Sebenarnya, tidak ada yang pernah tahu siapakah si nyonya Valera. Aku pun tidak berniat untuk menghadirkan sosok seperti itu karena menurutku tidak terlalu berpengaruh pada alur novel. Meski begitu, aku tetap memberi deskripsi yang paling berkesan.
Penyihir dan ksatria memiliki alokasi sihir mereka masing-masing. Positif dikali positif, akan menghasilkan nilai negatif. Seperti itulah Casildo dari hasil hubungan ayahnya yang seorang ksatria dan ibunya yang katanya merupakan penyihir hebat. Cashel sangat enggan dan tidak mau mempublikasikan siapa istrinya, alasannya juga tidak mau dia beritahu. Yang jelas, Casildo sudah ditinggalkan oleh ibunya sejak ia sudah cukup usia untuk lepas dari asi
Casildo juga mengaku, dia tidak mengingat wajah ibunya. Sekalipun itu dia tidak pernah diberitahu oleh ayahnya. Sampai Casildo mendapatkan rumor yang tidak-tidak jikalau kebenarannya yakni dia adalah anak haram disembunyikan.
"Menjadi ksatria butuh kerja keras."
"Menjadi penyihir juga kerja keras. Orang-orang seperti kita ini sangat beruntung, jika dibandingkan dengan masyarakat biasa di luar sana yang memiliki cita-cita tinggi. Bercita-cita itu sangat bagus, tapi harus bisa menentukan target, menentukan ingin berjalan pada jalur yang mana, dan tak lupa berusaha."
Kalau harus menunggu sampai aku berada di tingkat Dewfall, dengan pertimbangan kami memutuskan untuk tidak memiliki keturunan, tetap tidak akan sempat untuk menyembuhkan atau memperlambat cacat tubuhnya. Jika cacat ini sampai menyebar ke sebagian besar badannya, maka semua tindakan bisa berhasil percuma. Aku harus bagaimana untuk membantunya?
"Takdir itu seunik ini, ya?" Dia mengambil kedua tanganku lalu menciumnya secara bergantian.
Kemesraan kami hanya sebatas ini saja. Ciuman pertamaku dan kesucianku tidak akan aku lepas sembarangan, hanya bisa diambil oleh orang yang tepat.
Lagi-lagi, ada suara derap kuda yang terdengar dari jauh. Itu bukan suara kuda kami, tetapi suara kuda orang lain. Aku menurunkan kewaspadaanku ketika melihat Casildo yang sangat tenang. Ketika derap kuda itu semakin mendekat, seseorang yang berkuda dengan jubah cokelat dari kulit beruang yang berkibar dengan hebatnya. Tidak heran ia mendapat gelar sebagai komandan. Jiwa kepemimpinannya sangat tampak dari penampilannya, seragamnya itu yang penuh dengan medali penghargaan. Sampai-sampai seorang anak bisa iri pada ayahnya sendiri.
Casildo segera berdiri lalu menghampiri ayahnya yang tengah turun dari kuda perkasanya.
"Ayah, biar aku urus—"
"Tidak, biarkan saja Kenes jalan-jalan. Toh, penunggangnya sedang sibuk sendiri, kan?"
Cashel menepuk-nepuk perut kudanya, seperti isyarat yang menyuruh kuda itu untuk meninggalkan kami. Namun, tampaknya perintah itu tak mempan, karena kuda jantan raksasa bernama Kenes itu justru berjalan menghampiriku. Ia menundukkan kepalanya untuk membelai rambutku dengan kepalanya, sepertinya ia adalah kuda yang ramah. Aku membalas afeksi Kenes dengan belaian tangan, ketika aku melihat ke arah Cashel, dia tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
Kenapa dia mau menangis?
"Kenes, pergilah dahulu!" perintah Casildo.
Kuda ini pun ragu-ragu untuk meninggalkanku, tapi aku segera membujuknya untuk pergi dengan menggaruk-garuk dagunya. Aku menatap matanya dari hati ke hati sampai yakin untuk beberapa saat, barulah ia mau melenggang pergi meninggalkan kami.
Kemudian aku berdiri dan membersihkan pakaianku yang mungkin tertempel kotoran. "Tuan Cashel, maaf membuatmu datang jauh-jauh."
"Tidak masalah, asalkan demi kalian. Maaf, tapi apa keperluanmu memanggilku juga?"
Ini topik yang berat. Sudah lama ini terpendam dalam pikiranku. Aku dan ayah hanya membahas ini beberapa kali di tahun yang sama dengan insiden.
"Setelah tiga tahun saya dan ayah saya merahasiakan hal ini, saya rasa ini waktu yang tepat untuk membicarakannya."
"Tentang apa?"
"Pelaku sebenarnya yang mencoba untuk menenggelamkan saya di laut tiga tahun yang lalu ... adalah Kau."