
"Duhai sekutuku, jiwa-jiwa abadi yang penuh kobaran, Nox Venator."
"Pemburu nan lihai, penjelajah matriarki atas nama terminasi strata, Peritus Venator."
Kerlap-kerlip gemilang warna pertama di alam semesta melawan cahaya kuning keemasan dari perut bumi. Walau hanya secercah saja yang sudah muncul, keduanya masih merupakan sebuah koloni besar yang memiliki konsep teritori. Naluri pemburu mereka adalah mengejar siapapun yang menginjakkan kaki pada daerah kekuasaan dan bisa mengejar penyusup yang berani melukai anggota keluarganya, bahkan jika itu sampai ke ujung bumi.
Mereka tidak akan berhenti sampai mangsanya mati, lalu mereka memakan daging buruannya. Kekuatan ikatan antara satu sama lain menjadi faktor pendukung utama, terutama ketika untuk membuat generasi baru jadi merasa berani karena memiliki dukungan lolongan melengking yang menjadi penanda kasih untuk satu sama lain. Dengan sang pemimpin yang berkuasa menduduki piramida hierarki. Mereka akan bisa selamat apabila memiliki pemimpin yang mengerti arti sesungguhnya dari kepemimpinan.
Baik sekutu serigala Dominique dan sekutu hyena Dorothy, keduanya merupakan kelompok pemburu yang buas. Dari kedua hewan tersebut pun mencerminkan pola pikir pada jati diri sebenarnya dari kedua saudari kembar tersebut. Sang alpha, pemimpin kelompok yang siap tanggap ketik menghadapi ancaman yang lebih besar dari mereka, tapi akan segera memberikan arahan yang bisa untuk menyelamatkan semuanya dengan mengusir musuh-musuh. Sementara itu, hyena memang hewan paling cerdas, tapi mereka adalah hewan culas yang mencuri makanan milik hewan lain.
Keduanya begitu bertolak belakang. Dari habitat hidupnya, konsep kepemimpinan, sifat, cara berpikir, pengambilan keputusan, dan lain-lain. Mereka jadi seperti hanya saudara kembar yang tampak mirip dari fisiknya saja, padahal dalamnya sangat berbeda satu sama lain. Bagaimana Dominique iri karena Dorothy mendapatkan dukungan keluarga lebih besar darinya. Bagaimana Dorothy iri pada Dominique yang akhirnya merebut kenikmatan menjadi bintang kejora yang memainkan peran utama.
"Adorasi rajanya pujangga mensucikan wasana!"
"Ketaksaan sabana mengurai rudira menjadi tetes-tetes sepai!"
Dominique dan Dorothy terus beradu mantra, sementara Casildo disibukkan untuk membantu sekutu Dominique yang kekurangan jumlah. Sejatinya, kawanan hyena bisa terisi sebanyak 80 ekor, sementara itu kawanan serigala hanya diisi 20 ekor saja. Perbedaan jumlahnya jomplang empat kali lipat, membuat Casildo dan para sekutu Dominique berusaha ekstra keras untuk mempertahankan keadaan sembari kedua saudari tersebut menyelesaikan masalahnya.
Cashel yang paling mengerti keadaan putranya, tidak ada salahnya dengan seorang ayah yang hendak membantu anaknya sendiri menghadapi kesulitan bersama-sama. Cashel sudah mantap mengeluarkan pedang dari sarungnya, akan tetapi kemudian sekelebat bayangan menghalanginya untuk bergabung dengan pertempuran tersebut. Itu Theomund, yang tentu saja sama kuatnya dengan dirinya, coba menghunuskan pedangnya membelah jarak antara Cashel dan Casildo. Theomund bisa menjadi orang yang selicik mungkin, seperti pernyataan yang dikatakannya sebelumnya.
"Minggir!" titah Cashel.
"Kau jangan campuri masalah mereka!"
"Apakah hanya Kau yang boleh melibatkan diri, sedangkan aku tidak? Kau yang tadi mengatakan agar aku mengurus Casildo, jadi menyingkir dari hadapanku!"
Tentunya sebuah pedang dari komandan ksatria sangat istimewa dari pedang-pedang biasa lainnya. Pedangnya ditempa dengan bijih tingkat tinggi, yang dipadupadankan dengan berkat dan anugerah yang diberikan oleh Theomund sendiri. Cashel pun telah membuka Mata Arwah, ia tergolong menjadi daya tarik bagi para sihir. Mereka bisa merasa 'damai' hanya dengan berada di samping Cashel karena merasa aman. Tidak sedikit sihir yang menyaksikan hancur bangunnya dunia, hanya seorang diri saja.
Begitu Pedang Idrak milik Cashel selesai ditempa, semakin banyak sihir yang coba untuk mendekatinya, membujuknya untuk menjadikan salah satu dari mereka sebagai sekutunya. Sampai ia menemukan sihir kuat yang rupanya cocok dan sefrekuensi dengannya, bahkan kategori sihirnya sangat berbeda, seperti hampir menyerupai seorang manusia. Sihir yang kuat itu dipersembahkan oleh sihir tersebut dari sebagian besar bagian dari dirinya untuk disegel di dalam pedang agar bisa dimanfaatkan Cashel. Hingga pedang milik Casildo juga pun, Pedang Swasta, ia mengisi pedang tersebut dengan bagian dari dirinya pula secara sukarela.
"Apa Kamu sudah kelelahan, Kak?!"
Bukan hal mustahil bakat murni bisa mengalahkan kerja keras, bahkan sangat mungkin terjadi. Dominique sudah mulai kelelahan dengan penggunaan sihir yang terlalu berturut-turut. Namun, Dorothy tampak masih cukup kuat untuk melancarkan beberapa serangan lagi. Dominique kini mulai memperbanyak menghindar, daripada menyerang atau bertahan. Telapak tangannya sudah pegal, kebas, sampai ujung-ujung jarinya tampak berubah menjadi lebam ungu.
Meski kawanan serigala bisa menang telak dengan hyena, mereka juga sudah kelelahan. Namun, walau lelah pun Casildo tidak akan menyerah sebelum nyawanya terenggut dengan terhormat di medan pertempuran. Casildo menganalisis keadaan secara cepat, keadaan sudah terkendali dengan kawanan serigala melingkari kawanan hyena menjadi satu. Casildo segera mengambil langkah besar menuju Dominique untuk berganti melindunginya.
"Dommy, pegang tanganku!"
Dominique mengambil langkah mundur yang jauh demi mengindahkan titah dari Casildo. Sepasang tunangan yang saling bahu-membahu mengulurkan tangan demi mempermudah urusan keduanya dan mencapai tujuan yang telah disepakati. Tindakan Dorothy salah, Casildo tak mau Dominique celaka untuk yang kedua kalinya, seorang ksatria harus rela melukai diri sendiri atau orang lain demi melindungi jalan hidup mereka. Ia kemudian tancapkan pedangnya ke tanah lalu merapalkan mantra.
"Madah aku haturkan pada lintang utara dan selatan, tatkala aku bernuraga pada setiap sempena yang berselimutkan payoda! Rahsaku terlelap dalam pilau yang terapung pada cerminan tirta airmata ..."
"Kalau Kamu menyelesaikan mantranya, aku akan memusuhimu!"
"... aku persembahkan daya guna keksatriaanku! Stella Tonitrui!"
Setiap katanya butuh waktu enam bulan untuk ia pikirkan. Untuk satu kalimat butuh waktu bertahun-tahun untuk dipertimbangkan. Satu mantra itu baru lengkap ketika di hari pertunangannya dan Dominique. Mantra yang akhirnya lengkap itu seakan menjadi pertanda, bahwa melengkapi dirinya dengan Dominique adalah jalan yang terbaik.
"Casildo— ARGH!"
Dengan mantra tersebut, Casildo bisa mengendalikan tipe petir apa yang hendak dia lancarkan untuk serangan. Seperti petir dari langit yang turun menyambar tanah, ia membentuk akar seolah akan menumbuhkan jalur dari tanah yang menghubungkan ke langit ke-tujuh. Sebagaimana halnya petir akan melukai apapun yang disentuhnya. Panas yang sangat membakar itu datang secepat kedipan mata. Namun, petir tersebut juga bisa memberikan tenaga tambahan bagi orang-orang yang memegangi Casildo. Pula bagi para sihir, petir tersebut bisa melemahkan mereka, puluhan hyena tersebut pun terkulai lemas di tanah yang mendidih.
Sihir yang amat kuat itu juga melelahkan bagi Casildo. Casildo pun ikut bersimpuh sambil meremas dadanya, pelipis penuh keringatnya dan ekspresi kesakitan itu membuat hati Dominique begitu menggebu-gebu. Casildo memang berhasil melindunginya, tetapi siapa yang akan melindungi Casildo?
"Casildo, bertahanlah!" teriak Cashel, ia masih sibuk untuk mendekatkan dirinya dengan anaknya, tapi terus dihalangi oleh Theomund.
Bola mata yang bergoyang hebat, giginya bergemeretak, kakinya yang kelu membuat Dominique ikut bersimpuh di samping Casildo. "Maaf sudah membuatmu memaksakan diri." Suaranya gemetar dipengaruhi kekhawatiran hebat.
"Yang penting ... kita menang. Ini sudah ... tugasku sebagai ksatria."
"Berbaringlah. Terima kasih sudah memberiku tenaga."
Kedua tangan Dominique menopang tubuh Casildo yang sudah oleng, pelan-pelan ia merebahkannya tidur telentang di tanah. Kemudian ia buka kancing seragam Casildo, ia melihat 'kutukan' ungu itu sudah semakin menyebar walau hanya sedikit. Ia letakkan telapak tangannya tepat di atas jantung Casildo bersemayam. Dengan Cashel yang mulai tidak bisa menahan diri, Theomund pun menanggapi serangan demi serangan logam pedang yang berdenting, mereka saling menambah kekuatan serangan satu sama lain. Walau begitu, Pedang Swasta melindungi Casildo dan Dominique.
"Aku memohon jalan terbaik atas segala kebajikan dan jalan setapak yang diterangi sinar rembulan. Cinta kasihku kepada sesama mahkluk hidup, aku menagih pamrih untuk kesembuhan raga fana ini. Berpanjang-panjanglah diriku memohon ketulusan-Mu. Tiupkanlah angin suci dari tanah asmaraloka."
Telapak tangan Dominique mengeluarkan cahaya biru bagaikan langit di waktu fajar. Rasa dingin di dada Casildo membuat pemuda itu bisa bernapas lebih tenang, corak berwarna ungu di tubuhnya pun mengerucut menjadi bentuk yang lebih kecil menjadi sebuah lingkaran berwarna ungu pekat yang berada tepat di antara diafragma. Tenaga yang tadi disalurkan dari Pedang Swasta dengan mudah menjadi satu dalam tubuh Dominique. Kini, ia bisa ikut bernapas lega pula.
Di sisi lain, pertarungan antara Cashel dan Theomund yang bertambah hebat. Sampai-sampai sekutu Dominique kebingungan untuk membantu siapa dan melawan siapa. Sementara sekutu Dorothy sudah bangkit kembali, kemudian melingkar di sekitarnya dengan maksud mendapat upah lebih besar apabila mereka melindungi Dorothy sampai Dorothy sadar.
"Dominique sudah menang, hentikanlah!" Cashel kembali memerintah Theomund.
"Aku tahu. Darah dagingku memang sangat hebat. Mau itu Dominique atau Dorothy, mereka sama-sama hebatnya."
"Masalah mereka sudah terselesaikan. Jangan buat aku melumpuhkanmu."
Theomund menyeringai. "Tidak, dari awal Kau sudah terpojok. Kau terlalu baik untuk seorang komandan!"
Tiba-tiba saja Theomund meningkatkan intensitas serangannya. Bertubi-tubi Theomund menyerang, bertubi-tubi Cashel menahan setiap serangan. Mereka saling mengimbangi satu sama lain untuk beberapa saat, sampai Cashel memutuskan untuk melepaskan serangan yang besar yang akan melumpuhkan Theomund. Namun, itulah yang dirinya inginkan.
"Ignis obice."
Tebasan Pedang Idrak menghembuskan api dari mata pedangnya. Dengan segera, Theomund menciptakan sebuah perisai untuk melindungi diri. Walau begitu, perisainya tak kuat menahan gelora api dan perisainya pun pecah. Akibatnya, tubuh Theomund terbakar lalu terlempar beberapa meter ke belakang sampai begitu dekat dengan Casildo dan Dominique yang masih berlindung pada pelindung dari Pedang Swasta.
Serangan yang besar itu membuat Cashel tidak bisa melakukan apa-apa untuk sementara waktu. Akan tetapi, meski Theomund sudah terbakar pun dia segera menyembuhkan dirinya sendiri. Ia menyeringai, tertawa, lalu segera berdiri menghadap ke arah Dominique.
"Aku tahu, Kau bisa lebih kuat dari ini, Cashel. Kau sangat menahan dirimu, kesannya jadi seperti Kau sudah melemah. Tidak, aku tidak mau meremehkan kehebatan seorang komandan sepertimu."
"Apa Kau ingin aku membunuhmu?!"
"Kau bahkan tidak memiliki niat untuk membunuhku. Kau terlalu cepat melunak karena terlalu besar rasa."
"Ayah, apa maksudmu?" Dominique mulai merasakan ada hal yang tidak beres dengan ayahnya. "Apapun yang Ayah pikirkan, jangan lakukan itu."
"Maaf." Kecepatannya lebih cepat dari kedipan mata saja. Theomund sudah melangkahi Casildo yang terbaring lemas, telapak tangannya berada di depan perut Dominique.
Tangannya mendorong tubuh Dominique bersamaan dengan ia mengeluarkan sihir dari tangannya. Akibatnya, tubuh Dominique terpental sampai ke tengah danau, lalu terjatuh. Di dalam danau yang gelap, dingin, dan amis, Dominique masih berusaha untuk berpikir. Ia dan ayahnya sepakat untuk memprovokasi Dorothy agar segera mau melawan Dominique bersama dengan bantuan dari Casildo. Mungkin ayahnya marah karena ia memanggil Cashel, ayahnya hanya memberikannya pelajaran karena dia mengimprovisasi kesepakatan tanpa persetujuan dari Theomund.
Tenggelamlah, terus tenggelam menuju dasar yang tak terlihat ujungnya. Semakin dalam, semakin kencang arusnya. Kedalaman gulita hingga ia tak bisa menyaksikan tangan-tangan yang merangkulnya dari kedalaman danau.
"DOMINIIIIQUE!"