The Step Of Palimpsest

The Step Of Palimpsest
#16



"Asal mula Kastel Mangata hanya berasal dari tanah lapang becek, tanpa ada sihir atau hewan, melainkan yang ada hanya cacing."


Di seluruh musim, tanah ini selalu saja becek. Terlebih lagi kalau sudah menginjak musim panas, bukannya menjadi lebih kering tapi justru berubah menjadi tanah liat bahkan tanah hisap. Karena hanya tanah lapang, jadi tak memiliki pohon di sekitarnya untuk menyerap air. Jarak antara Kastel Mangata dengan danau terlarang itu tidak terlalu dekat maupun terlalu jauh. Seharusnya lokasi seperti ini bisa dimanfaatkan sebagai lahan pertanian yang diisi dengan pohon buah daripada membangun kastel.


Ketika orang kaya sudah tenggelam dalam harta, mereka akan menggelontorkannya untuk sesuatu yang seharusnya bisa dijadikan memiliki daya guna. Namun, untuk memuaskan egonya sendiri dan demi menjaga nama keluarga, maka dibangunlah kemegahan yang didamba-dambakan oleh orang biasa. Walau begitu, nyatanya semua orang selalu memiliki masalah. Ada banyak orang yang merasa dirinya paling menderita dan ada juga yang serba bersyukur atas segala nikmat-Nya.


Manusia sudah pada dasarnya selalu menginginkan lebih dan ingin berkembang lebih jauh dari orang lain, karena aku pun begitu. Dibanding-bandingkan dengan penulis besar membuatku besar kepala. Karena seumur hidupku, aku selalu ditunjukkan kekurangan diriku, aku selalu merasa diriku kurang ketika orang lain menunjukkan keunggulanku. Aku agak tidak mempercayainya bahwa aku memiliki kemampuan seperti itu, bahwa aku akhirnya bisa menerbitkan novel.


Meski kini aku terjebak karena ulahku sendiri, tidak ada waktu untuk menyesal atau meringkuk ketakutan. Sebab semuanya memiliki keterkaitan, seolah tidak ada awal ataupun akhir, artinya semua adalah satu dan tidak terhingga. Di mana ada awal melangkah keluar pintu, maka akan berakhir ketika sudah mencapai pintu tujuan. Meski kedengarannya tidak masuk akal, tetapi keduanya adalah benar, hanya saja tergantung persepsi diri masing-masing.


Aku melihat dari dua sisi secara bergantian. Dengan membandingkan satu sisi dengan sisi lainnya, aku mengakui kebenaran dari kedua sisi karena memang tidak ada yang bisa dianggap mana yang benar atau yang salah-keduanya berasal dari satu kesatuan bidang datar. Setiap sisi yang ada memiliki potensinya masing-masing, ada kekurangan dan kelebihan yang bisa bisa dipilih. Begitu sudah memilih, maka harus mengembannya sampai akhir.


Aku memilih untuk mempercayai konsep dua sisi koin. Namun, bagaimana jikalau konsep yang sebenarnya berlaku justru menentukan semesta tak memiliki awal dan tak akan berakhir? Bagaimana jika aku tidak pernah memahami kenyataan? Sebagaimana aku sudah berada di luar jalur dunia, sebenarnya aku hampir putus asa untuk melakukan trobosan hidup.


Manusia berusaha untuk melakukan penelitian dan memajukan dirinya. Orang-orang dengan ego tinggi lebih banyak menginjakkan kaki di bulan daripada menyelam ke dasar palung terdalam di muka bumi. Manusia takut untuk menurunkan egonya yang setinggi langit atau mereka akan kalah dengan orang lain yang memiliki ambisi lebih kuat dari mereka. Mereka adalah kita dan aku pula. Aku adalah manusia biasa yang diberikan mukjizat untuk terlahir kembali, seakan Ia ingin aku memperbaiki diriku sebelum waktunya aku berpulang pada-Nya.


Hanya Yang Maha Melihat yang mengetahui segala sudut alam semesta yang besar ini. Bumi dan seisinya tidak lebih hanya butiran debu bintang dari suatu planet kecil.


"Bahkan tanah mati bisa berubah menjadi bangunan megah, berkilau, dan menawan. Apakah mungkin aku bisa membawa perubahan seperti itu?"


Cengeng. Naif. Sensitif. Mudah termakan emosi. Penyendiri. Individualis. Bagaimana aku bisa memperbaiki kekurangan yang sebanyak itu? Padahal aku sudah menerima diriku sendiri sebagai Karmina, tapi tiba-tiba dilempar ke tubuh ini, yang memaksaku untuk beradaptasi dari nol lagi. Dunia ini lebih tidak memiliki ampun daripada dunia asalku. Kalau sudah begini, yang aku inginkan hanyalah kembali. Ke tubuh Karmina atau ke lintas waktu 'The Pursuit of Revenge' yang semestinya.


"Kau sudah cukup apa adanya, Nona."


Sepertinya karena guyuran hujan ke tanah yang berisik, aku jadi tidak bisa mendengar langkah kuda yang juga teredam dengan lumpur basah. Rambut hitamnya yang basah diguyur hujan seperti perwarna rambut hitam yang luntur. Poninya yang tegak pun turun ke dahi, tetapi dia segera memperbaiki penampilannya. Di masa depan ia akan menjadi seorang komandan dan seorang duda. Sudah jelas menjadi incaran banyak wanita. Namun, memang dia sudah sangat setia meski Casildo setengah menuntutnya mencarikannya ibu baru.


"Bagaimana Kau bisa menemukanku?"


"Setiap penyihir yang sudah memberkati pedangku, aku bisa merasakan posisi mereka beserta keadaannya. Selain itu, Kau meneteskan banyak darah, apa lukanya sudah Kau obati?"


"Sudah."


Lukaku bisa disembuhkan dengan sihir, itu sudah pasti. Akan tetapi sama seperti pengobatan luka yang biasanya, luka harus dijaga untuk tetap kering. Kalau tidak, lukanya akan semakin memburuk sehingga menciptakan danau. Walau begitu, aku mengabaikan rasa sakit di tanganku ini. Aku hanya ingin waktu sendiri untuk memikirkan langkah seperti apa untuk melewati jalanan setapak yang tidak aku kenal. Rasanya perih dan gatal, aku merasa ingin menggaruknya atau mencengkram lukaku sendiri sampai hasrat yang mengganggu itu bisa hilang.


"Menyayat dirimu sendiri dengan mata pedang yang mampu memenggal leher sihir akan membuat lukamu lama sembuh," katanya, sembari menunjukkan gestur menggaruk telapak tangannya.


"A-aku baik-baik saja." Padahal hanya luka kecil, tapi dia menyadarinya.


"Jika Kau berkenan, aku sangat ingin tahu namamu, Nona. Bisakah Kau katakan namamu?"


"Namaku Mikami."


"Nona Mikami, terima kasih karena sudah memberkati pedangku. Darahmu akan terus membara dalam setiap tebasan yang penuh dengan gelora api dari semangat pertempuranku." Cashel menundukkan kepalanya dengan tangannya diletakkan di atas jantungnya.


"Sama-sama. Sekarang, biarkan aku sendiri."


"Tidak di sini."


"Apa?"


"Mana mungkin aku membiarkan seorang wanita berdiri di tengah lapangan saat hujan, bisa-bisa Kau disambar petir. Tidakkah Kau dengar gemuruh di atas kepalamu?"


Awan kelabu di atas sana mengamuk tak karuan karena airnya tak sampai pada akar-akar dan dedaunan pohon. Ayah benar, Cashel terlalu baik, dia tidak segan terjun ke danau, dia tidak pikir panjang jika keberadaanku adalah jebakan dan tetap menyelamatkanku. Dia begitu gegabah. Menaruh nyawa orang lain di atas nyawanya dengan moral penuh rela berkorban.


DOMINIIIIQUE!


"Aku percaya guntur dan api tidak akan menerpaku jatuh."


Ayah dan anak sama saja.


Cashel berdecak dengan disertai gelak tawa. Ia melangkah mendekat padaku sementara Kenes mengekor di belakangnya. Senyumnya lebar sekali, seperti seseorang yang baru saja mencatatkan prestasi dan menerima kata-kata apresiasi dari orang-orang baik dekat atau asing. Tentunya itu bisa dianggap sebagai suatu penghormatan. Lagu-lagu pujian sang pahlawan yang dilafalkan oleh anak-anak yang mengidolakannya sebagai panduan untuk menciptakan identitas di masa yang akan datang.


Semilir angin menerpa kulitku yang mengkerut sebab kedinginan. Ah. Aku masih memakai jaket seragam miliknya. Tanpa sadar aku membawanya pergi dan membuat seragam seindah ini jadi kotor. Nyatanya, punggungku kering dan tidak merinding karena kedinginan.


Ketika aku hendak menanggalkannya dari pundakku, ia berkata, "simpanlah saja dahulu." Cashel pun mengulurkan tangannya padaku dan memberi isyarat untuk memintaku naik ke punggung Kenes.


Entah kenapa aku suka diperhatikan.


Semata-mata demi menjaga martabatnya, aku menerima uluran tangannya, seraya aku memijaki pelana untuk kemudian menyesuaikan diri di atas pelana kulit yang juga tak kalah dinginnya. Dari atas punggung kuda gagah ini aku menatapnya lurus dan tak aku mengalihkan sedikit pandanganku. Dia pria yang sempurna.


"Jangan terlalu berpasrah diri begitu. Aku lihat tadi Kau pandai menunggang kuda."


"Bagaimana denganmu?"


"Aku bisa berjalan di sampingmu. Lagipula, aku hanya menjalankan tugasku sebagai ksatria."