The Step Of Palimpsest

The Step Of Palimpsest
#10



Karena 'The Pursuit of Revenge' mengusung tema fantasi klasik, aku banyak membaca karya-karya fantasi klasik lain yang bisa dengan mudah aku pahami. Di antaranya yang paling mudah aku akses yakni manhwa atau komik korea, biasanya yang populer dari genre kerajaan dan fantasi.


Di sana, tema yang paling populer yang diisi oleh karakter utama wanita adalah transmigrasi atau isekai, reinkarnasi, dan villainess. Villainess dan villain dalam bahasa Inggris sama-sama berarti penjahat, yang berarti mengisahkan tentang kisah dari seorang penjahat wanita. Jika mendapati tema yang seperti ini, maka mayoritasnya pasti berkaitan dengan transmigrasi. Aku banyak membaca komik dengan genre itu, tapi aku juga mengiringinya dengan membaca genre romansa yang normal-normal saja.


Seiring waktu aku membaca, semakin banyak ide yang tertampung. Semakin banyak pikiran jahatku untuk membuat karakter utama wanita menjadi sejahat mungkin, dengan topeng kepolosan yang melindunginya, yang bahkan pembaca sendiri tidak akan sadari terlalu cepat. Karakter jahat lebih berpeluang menarik banyak audiens, daripada karakter baik yang itu-itu saja. Sebab begitu menyenangkan untuk bisa melihat perspektif dari si jahat di dunia novel tersebut.


Mungkin, sekarang aku akan menyesalinya.


Dorothy melepas semua topengnya. Dia tidak lagi meniru model rambut Dominique saat aku masih kecil ketika bertemu dengan Casildo. Namun, justru sekarang lebih parah lagi. Dia ingin membuatku terlihat jahat, dengan rambut tergerai ini tidak mudah untuk membedakan dua saudara kembar jika tidak memiliki hubungan dekat ataupun hubungan biologis. Dia ingin melecehkan kesabaran dan belas kasihan yang sudah Dominique titipkan padaku.


Yang aku sadari—di dunia manapun itu—Dominique tidak akan pernah menjadi orang jahat.


"Apa Kamu butuh kaca? Padahal Kamu juga sama. Kamu merebut milik orang lain, seperti anak kecil yang egois."


Balas dengan bijak, jangan jawab terburu-buru, tapi jangan juga diam terlalu lama. Jangan sampai omonganku sendiri diputar balik olehnya. Dia ini manipulatif, sampai aku sakit kepala menata kebenaran dalam dirinya dahulu.


"Interpretasimu apakah tidak ada yang lebih bagus lagi? Anak kecil itu manusia yang sedang belajar moral, tahu?"


"Jadi, Kamu mengakui bahwa dirimu egois, serakah, dan tamak?" Mulutnya jelek sekali, hiperbola yang keluar dari mulutnya itu dipenuhi delusi.


Ada kalanya pemimpin berjalan beriringan bersama dengan orang-orang. Namun, sudah tugasnya bahwa seseorang akan berdiri di depan semuanya menghadap angin topan yang membawa serta bebatuan atau ranting kering yang mungkin melukainya, sementara punggungnya menampakkan bayangan yang senantiasa mengharapkan keputusan terbaik yang bisa dinikmati semua orang.


"Ya, memang. Kakakmu ini ambisius, berusaha untuk meraih apa yang diinginkannya dan mempertahankan apa yang dimilikinya. Sebab itulah Ayah memilihku sebagai penerus."


"..."


Semoga saja omonganku tidak terpental. Kalau cuma masuk kuping kanan keluar kuping kiri itu pun artinya dia masih mendengarkanku.


"Aku adalah burung yang bebas di alam liar dan jangan salah, ancaman di dunia luar itu bisa dijadikan pedoman tentang seberapa jauhkah kesanggupanku ketika menghadapi tantangan. Hidup di luar begitu sulit sampai-sampai burung yang terlahir dan sekaligus hanya hidup di dalam sangkar bermodalkan cuitan manjanya bisa sampai gemetar ketakutan kalau mendengar erangan dari alam bebas."


Dorothy diam dengan wajah tertunduk, lurus menghadap ke tanah, entah topeng seperti apa lagi yang hendak ia jatuhkan. Dengan dersik angin yang kembali menyanyi, mengacaukan untaian benang yang terhubung di antara kami. Benang merah yang mengikat antara satu individu dengan individu lain sehingga menjadikan manusia sebagai mahkluk yang tidak bisa untuk tidak bersosialisasi. Di antara kami, tentu saja ada yang sakit. Harapannya diberi perkataan ini supaya dia sembuh, tapi kalau sudah terlanjur dongkol, mau bagaimana lagi?


Dia diam saja, tak lagi bisa menjawab kata-kataku sama sekali. Memanglah, dia itu seperti seekor kucing yang takut dengan dunia luar, tapi akan melakukan apa saja demi dirinya sendiri dengan naik ke atas pohon meski tak tahu caranya untuk turun. Pada akhirnya, dia selalu dibantu oleh orang lain karena tidak bisa memikirkan solusinya sendiri.


"Aku ingin mengonfirmasi satu hal lagi."


Akhirnya Dorothy menengahkan kepalanya, tetapi di mataku, derajatnya itu sudah kalah begitu ia menundukkan kepala. Dia baru diam ketika aku membahas tentang alasan kenapa ayah memilihku, dan bukannya dia.


"Itu tidak mengubah kemungkinan bahwa aku lebih spesial darimu."


"Kau itu sangat spesial, lebih dari siapapun. Coba saja Kau minta untuk dibantu menemukan jawaban, bukan dengan minta untuk dicarikan jawaban dan membuat orang lain menyelesaikan masalahmu itu. Kita pasti bisa setara dan dapat bersaing dengan adil, semua orang akan tanpa ragu mendukungmu sampai membuatku bisa terbawa perasaan."


Dorothy masih belum cukup licik. Yah, dia belum resmi menjadi orang dewasa denganku ini yang sebenarnya berusia 28 tahun—ditambah tiga tahun lamanya aku sudah tinggal di sini.


"Dorothy, jika ingin menyelesaikannya sekarang, maka selesaikanlah."


Pria itu—Theomund Ginova—memiliki sorot mata yang sangat menusuk sambil mensejajarkan diri berdampingan dengan Dorothy. Gawat, hanya dari tatapan matanya saja sudah membuatku goyah. Aku tidak tahu seperti apakah sekutunya, tetapi aku merasa takut. Walau ia menatapku dari depan, tapi terasa ada yang melihatku dari belakang juga. Jika sorot mata ayah terasa seperti ditusuk oleh benda tajam, maka sorot mata yang ada di belakangku ini penuh dorongan dan tekanan.


Tidak mungkin danau sebesar ini tidak ada mahkluk supernatural yang menghuninya. Sekalipun itu di dunia asalku, selalu dikait-kaitkan dengan mistis atau keramat dan segala macamnya.


"Bangkai pasti akan tercium juga, dan aku tidak mau jadi orang yang paling dekat terlibat dengan sumber bangkai," katanya.


Kini tidak hanya Casildo yang tersulut emosi, tapi Cashel pun ikut terpercik api juga. "Theomund, mereka berdua sama-sama darah dagingmu! Jika Kau sangat sayang pada anak-anakmu, maka tegakkan keadilan untuk mereka!"


Wajahnya tetap datar, kini ditambah dengan tangan kanannya merangkul pundak Dorothy. "Penyihir tidak melihat dari sisi keadilan, tetapi dari sisi peluang. Kami tidak mengenal konsep keadilan. Untuk itulah tahun lalu Kau memanggilku ke medan perang, kan?"


"Tapi ini bukan medan perang! Mereka berdua adalah anakmu, keturunanmu sendiri yang harusnya bisa Kau jaga dan rawat!"


"Kau tidak tahu apa-apa, rawatlah saja anakmu sendiri. Ini adalah masalah keluarga kami. Apa Kau memanggil Cashel, Dominique?"


Setelah kuperhatikan lagi, sepasang matanya berkilau, seolah-olah irisnya diterangi langsung oleh sinar putih rembulan. Ada aura kebiru-biruan yang beresonansi dengan warna matanya. Rasa gelisah di dadaku semakin menggebu-gebu setiap kali aku memperhatikan bagaimana bola matanya berkilau. Aku juga bisa lakukan hal yang sama, meski aku tak yakin akan bisa mengimbangi besaran sihir yang dia keluarkan. Namun, aku akan coba untuk mengurangi efek hipnotisnya.


Sugestikan dirimu dengan optimisme.


Mantranya panjang seperti mantra lainnya, tapi ada cara untuk mempersingkatnya. Yakni dengan memberi kata kunci, seperti nama untuk memanggil sekutu, atau kalimat yang tidak lebih dari lima kata yang mencakup keseluruhan makna mantra. Aku tutup mataku dan melafalkan mantra dalam hati.


Secercah cahaya morrow melapangkan indraku.


Aku bisa melihat cahaya yang menembus dari kelopak mataku, saking terangnya cahaya sihir sampai bisa menerangi lembaran kulit tipis. Tatkala aku membuka mata, Dorothy bersama dengan sekutu hyena bertubuh raksasa sudah tiba di tengah-tengah antara aku dan Casildo. Pas sekali dia langsung menyerangku setelah aku mengaktifkan sihir. Dengan begini, duel kami dimulai.


"Mari kita lihat bersama, siapa yang lebih berusaha untuk menundukkan salah satu di antara kita?"